
Kedua orang yang terlihat kuyu itu sellau duduk berdua. Tidak sekalipun terpisah. Mereka menatap satu persatu anaknya dengan senyum manis tersungging di bibirnya.
Sedangkan kelima anak dan menatunya sibuk melihat pada bayi kecil yang masih kemerahan berusia baru beberapa jam itu.
"Dengarkan papi, Nak.."
Deg, deg, deg..
Jantung semuanya berdetak seirama karena mendengar suara lembut dan lemah itu.
Mereka semua menatap sejurus pada kedua orang yang duduk di sofa tunggal itu.
Ppai Lana mendekati keduanya dna duduk dibawah kaki keduanya. Begitu pun dengan Uwak Ira, mami Annisa, Om Algi. Terakhir mmai Kinara yang di duudkkan dihadapan mereka semua.
Semua anak dan emnantunya mengelilingi mereka di kaki.
"Jangan menagis.. Papi sama mami nggak pa-pa kok. Kami sehat loh.." selorohnya.
Tetapi begitu lemah. Malda yang tidak kuasa menahan tangis memeluk Satria lagi dan menumpahkan air mata itu di ceruk lehernya.
Opa Gilang terkekeh melihat Malda dan Satria berpelukan erat seperti itu. "Lama Opa dan Oma dan nggak lihat kakak, sekarang kakak udah dewasa ya? Udah bisa peluk-pelukan sama suami sendiri dihadapan kami semua?" godanya yang disamabut kekehan mereka semua.
Malda tidak menyahut. Ia semaki sesegukan. Satria ahnyabisa mengelus punggungnya dengan lembut demi bisa mengurangi isakan itu. Tetap saja.
Jangankan Malda. Satria, Papi Ali dan mami Kinara pun lebih parah. Keduanya pun berpelukan dan tersedu bersama.
"lah loh.. Kenapa nangis sih nak? Ini kayak kami mau pergi aka sih? Hahahaha.."
__ADS_1
Deg!
Berdenyut jantung mereka semua yang mendnegar ucapan Oma Alisa yang saat ini sedang tertawa.
"Ishh.. Sudahlah sayang! Ngomong dulu hal penting ini. Mana berkasnya?" katanya pada Oma Alisa yang terus tertawa.
"Hahahaha... Oke-oke! Sebentar!" jawabnya sambil mengambil semuaberkas yang ada di dalam tas nya dan ia serahkan kepada Opa Gilang yang kini menatap berkas itu dengsenyum yang begitu tampan.
Papi Lana yang biasanya selalu berdebat dan selalu membuat kesal Opa Gilang, kini terdiam seribu bahasa.
Begitu pun dengan Opa Gilang. Beliau lebih banyak tersenyum saat melihat semua anaknya.
"Papi dan mami ingin menitipkan semua berkas ini untuk aklian. Urus dan kelola dengan baik. Masing-masing dari kalian berlima sudah kami bagi rata."
Deg!
Kelima pasang mata itu menatap terkejut pada kedua paruh baya beda usia itu.
Mereka semua mengangguk dengan dada yang mulai sesak.
"Untuk Kak Ira.. Kamu yang paling tua dianatar semua saudara mu. Jadilah ibu untuk ke emapt adikmu. Selalu dnegarakan keluah kesah mereka.
Bang Lana.. Kamu yang paling tua dianatar saudara mu yang lain. Kamu harus bisa melindungi semua adik-adikmu. Baik itu dalam hal buruk atau apapun itu.
Bang Tama? Kenapa jauh sekali? Mak mau ngomong loh.." katanya pada Papi Tma yang kini berjalan gontai dan bersimpuh di kaki Oma Alisa.
Oma Alisa mengusap surai hitam yang sudah terlihat putihnya satu-satu disana.
__ADS_1
"Abang.."
"Iya Mak.." jawanb Ppai tama dengan kepala bertekuk di lutut Oma Alisa yang tertutup gamis merah muda itu.
"Kamu yang paling tua diantara adikmu yang lain. Jika Ira menjadi Ibu untuk adikmu, maka kamu menjadi ayah untuk mereka semua menggantikan papi kamu. Papi Gilang."
Papi Tama mengangguk, masih dengan menunduk. Oam Alisa tersenyum lagi. Cantik sekali dengan hijab merah mudanya itu.
"kamu harus menjadi ayah untuk mereka semua. Kamu pun kebagian untuk mengurus harta Mak. Bang Raga, Bang Ali, Kak Maura dan Tiara. Kalian bertiga pun ikut andil dalam masalah ini. Mak titip mereka semua untuk kamu tuntun menuju surga Nya Allah. Umur tidak ada yang tahu. Makanya kami seegra mengurus semua ini. Kami berdua menyerahkan semua berkas ini untuk kalian kelola bersama.
Untuk kamu Annisa!"
"Iya mak." Jawab Mami Annisa.
"Kamu memiliki anak kembar yeng berbeda karakater. Yang satu menurun dari sifat mak. Dan yang satu lagi menurun dari sifatmu. Ingat? Kamu danTama harus bisa mengambil keputusan yang bijak jika suatu saat mereka menyebabkan masalah di dalam keluargamu,. Paham?"
Mami Annisa mengangguk. "Paham Mak." jawabnya masih dnegan menunduk.
"Dan kamu Bang Lana!"
"Iya Mak." Jawabnya sendu
"Mak harap, kamu mendnegarkan apa kata Abangmu, Tama. Karena dialah yang kami jadikan pengganti Ppai jika kami sudah tiada kelak."
Deg!
"Mak.."
__ADS_1
"Mami.." lirih mereka semua.
Anak dan menantu itu menangis bersama mendengar ucapan Oma Alisa.