
Satria dan Malda tersenyum. Tidak ada lagi raut wajah dingin dan datar seperti tadi.
"Papi.. Bukan maksud kakak ingin membohongi Papi. Hanya saja.. Waktunya belum tepat. Jika kakak mengatakan hal yang sebenarnya kepada papi saat kami tiba, pastilah papi akan lebih shock lagi. Maulah papi membawa kedua anak kami kesana. Tapi itu tidak mungkin Papi. Papi tahu kan jika kakak belum tamat sekolah?"
Kedua papi itu mengangguk setuju. Papi Ali sangat gemas dengan kedua putra Malda itu. Mami Kinara pun demikian.
Ia menciumi wajah pangeran Salim sampai pangeran Salim kegelian dan tertawa. Malda dan Satria terkekeh melihatnya.
"Terus?" tanya mami Kinara sembari memangku pangeran Salim.
"Kakak dan bang Satria sengaja membawa mereka untuk tinggal disini. Rumah ini merupakan rumah Bang Satria selama hampir tujuh belas tahun disini."
"Hah?"
Satria tertawa. "Iya mami. Rumah ini sudah menajdi rumah Abang sedari Abang berumur lima tahun saat pertama kali menginjakkan kaki kesini. Kami mencari keberadaan Malda yang waktu itu dilarikan ke Indonesia oleh salah satu Prajurit dan sudah mengadopsinya. Kami mencari itu. Dan ya, kami menemukannya. Saat kami menemukan Malda, kami segera membeli rumah ini. Dan Abang sudah tinggal disini hampir delapan belas tahun sih kalau nggak salah."
"Tujuh belas Abang. Satu tahun di Malaya loh.."
"Hahaha.. Betul sekali. Abang lupa. Maka dari itu, kami sengaja menyembunyikan mereka berdua disini. Karena Malda pun belum selesai sekolahnya. Rencananya sih setelah ijazah Malda keluar baru kami memberitahu kalian semua. Itu waktu yang tepat menurut kami."
__ADS_1
Ke empat orang itu terdiam membisu. Wajah keduanya sudah tidak terkejut lagi. Satria terkekeh saat melihat pangeran Salim berulang kali menempelkan telinganya di perut buncit mami Kinara yang saat itu sedang terlihat bergerak.
Mami Kinara tertawa. "Kenapa nak? Adek apa abang nih?"
"Abang mami. Pangeran Salman yang adek. Beda setengah jam saja sih."
"Hoo iyakah? Pangeran tampan ini yang Abang? Hem?" Bayi Malda tertawa karena kegelian sebab diciumi Mami Kinara di ceruk lehernya.
Malda dan Satria tertawa. Bayi kecil itu tetap meletakkan telinganya di perut mami Kinara yang saat ini sedang bergerak dengan lincah hingga membuat wanita cantik itu menegang seketika.
Papi Ali mengusap perut itu yang membuat perut mami Kinara kembali mengendur.
Mami Kinara menghela nafasnya. Pangeran Salim melihat mami Kinara dengan lekat. Ia tersenyum.
"Tak apa Nak. Mami nggak kesakitan kok. Abang mau sama adek?" Bayi Malda tertawa dengan tangan ia pukul-pukul kecil ke perut sebelah kiri mami Kinara.
"Yakin??" tanya nya pada bayi kecil itu. Bayi kecil berusia tujuh bulan itu terus saja menepuk perut mami Kinara hingga dibalas dengan tendangan kecil di perut mami Kinara.
Wanita cantik itu tertawa. "Oke, oke, oke! Abang sama adek. Adek Salman sama kakak ya? Adek nggak punya pilihan lagi!" mami Kinara tertawa saat melihat pangeran Salman juga ingin duduk dipangkuan mami Kinara yang sebelah kanan.
__ADS_1
Mereka semua tersenyum.
"Masyaallah.. Sungguh indah ikatan takdir ini. Siapa sangka jika kedua pangeranku akan berjodoh dengan anak mami Kinara dan Papi Ali? Ya Allah.. Sungguh besar maha kuasa mu. Tapi.." ucapan Satria menggantung.
Malda memegangi tangan Satria yang kini menunduk dengan wajah sendu.
"Tapi apa Bang? Apakah akan terjadi sesuatu??" tanya Mami kinara yang diangguki oleh Satria.
"Apa?" tanya Papi Ali.
Satria menatap sendu kepada mereka semua. Begitu pun dengan Malda yang kini sudah memeluk tubuh Satria yang dibalas peluk olehnya.
"Abang tahu, setiap yang bernyawa pasti akan mati. Dan kematian itu pasti. Salah satunya ya.. Dengan kelahiran bayi mami ini. Maka akan ada yang pergi dan tidak kembali lagi."
"Apa?! Siapa bang?!" tanya mami Kinara pada Satria yang kini matanya mengembun.
"Abang nggak tahu siapa. Tetapi kelahiran kedua anak mami ini sudah menjadi ketetapan. Yang mana setiap yang muda lahir pasti akan ada yang pergi sebagai gantinya.."
Ddduuaarr!!
__ADS_1