
Dua minggu berlalu sejak pertemuan raja tetangga itu. Kini istana kembali seperti biasa.
Dan malam ini ada yang aneh. Semerbak harum mewangi keluar dari telaga biru. Para pengawal yang meraskan keanehan itu sedikit takut. Takut akan raja mereka berpulang.
Begitupun di dalam kamar sang Raja dan ratu saat ini. Dua raga itu sesekali sudah bergerak mulai dari tangan dan kaki keduanya.
Malam ini hawa begitu dingin dan sunyi. Panglima Dani dan dayang As tidur diluar kamar malam ini.
Entah firasat apa, keduanya pun tidak tahu. Yang jelas mereka ingin tidur di luar malam ini.
Sepasang mata sayu nan sipit miliki seorang wanita cantik yang sedang mengandung tujuh bulan lebih itu mengerjab.
Ia membuka matanya dan pertama kalia yangia lihat ialah kamarnya yang dipenuhi dengan tirao cantik berwarna merah dan kuning di setiap sisi jendelanya.
Bahkan ranjangnya kini pun di tutupi kelambu tipis berwarna merah itu. Ia menoleh ke sekitar dan tersenyum.
"Alhamdulillah.. Aku sudah kembali. Abang?" panggilnya pada Satria yang kini sedang melihatnya dengan tatapan yang lembut dan teduh dengan tubuh miring menghadap padanya.
Ia tersenyum melihat sang pujaan hati. "Ya, Abang disini." jawab Satria dengan tangan mengusap perut buncit Malda.
Malda tersenyum. Ia pun mengusap perutnya itu dan dibalas tendangan kecil dari dalam sana.
Keduanya terkekeh. "Hem.. Berarti sudah hampir delapan bulan ya kita memulihkan kekuatan? Hingga kedua anak kita ini hampir keluar?" seloroh Satria yang dibalas tawa oleh Malda.
"Iya dong. Mereka kan anak yang baik. Saat aku mual dulu kan sudah ku bilang sama Abang. Kalau kita sudah di titpkan rejeki. Ini dia rejekinya!"
Satria terkekeh, "Hem.. Abang rindu banget sama kamu." Ucapnya mencium ceruk leher amlda yang terbuka dan berbau harum itu.
__ADS_1
Malda tertawa. "Jiaahh.. Abang rindu katanya? Lupa apa gimana sih? Kita berdua kan selalu bersama selama hampir delapan bulan ini??"
"Hem..bukan rindu itu sayangku. Tetapi rindu yang ini!" jawab Satria yang membuat mata Malda melotot seketika saat putik ranumnya di kecup lembut oleh sang suami.
Malda tidak menolak. Ia pun membalas setiap sentuhan memabukkan dari Satria. Keduanya larut dalam gelora asmara yang baru saja bisa dirasakan kembali.
Jika sebagian orang akan kaku seluruh tubuhnya, maka mereka tidak. Tubuh keduanya sangat lentur saat ini.
Hingga mereka bisa melakukan olahraga yang seharusnya selalu mereka kerjakan itu. Cukup lama keduanya memadu kasih sampai Malda mengingat sesuatu.
"Abang,"
"Hem, mau lagi?"
Plak!
"Lantas?"
"Bangun dan mandi! Aku ingin ke tempat kakek Filips. Sedari tadi aku terus mendengar nama kita berdua dipanggil olehnya. Ayo, sebelum terlambat!" jawabnya dan diangguki oleh Satria.
Tubuh keduanya masih basah dengan keringat tetapi tetap harus mandi di malam yang dingin itu.
Setelah selesai, keduanya segera memakai baju yang Malda yang ambil dari dalam lemari pakaian miliknya.
Ia mengambil pakaian Satria dan juga miliknya. Setelah keduanya berpakaian, mereka segera keluar dan melewati Panglima Dani dan dayang As dengan tidur saling berpelukan di kursi panjang di depan kamar raja dan ratu mereka. Malda dan Satria terkekeh melihat itu. Mereka berdua tidak membangunkan keduanya.
Karena waktu mereka yang sudah mepet. Keduanya melewati dua orang yang terlelap itu dengan tergesa dan meninggalkan aroma wangi khas Malda yang baru saja mandi.
__ADS_1
Begitu pun dengan Satria. Wangi yang mereka hafal. Keduanya sontak terbangun.
"Yang mulia!!" seru dayang As dengan mata baru saja terbuka dan melihat dimana dua orang sedang berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang.
Panglima Dani yang sejenak tertegun melihat kedua orang itu segera berlari mengikuti keduanya yang sudah lebih dulu menjauh.
Sedang dayang As memastikan sendiri apakah pandangan mata atau penciumannya yang salah.
Karena ia sangat mengenal dengan bau harum tubuh Malda dan Satria. Karena dirinyalah yang selama ini mengurus tubuh keduanya.
Untuk Malda dia yang mengurusnya. Sedang Satria, Panglima Dani yang melakukan itu.
Sejenak tatapan mata dayang As berpendar dan tertegun saat melihat di ranjang jika tempat yang Malda dan Satria tidur selama berapa bulan ini kosong.
Selimut dan bantal berjatuhan ke bawah. Dan terlihatlah seprei putih itu sedikit basah di tengah-tengahnya.
Blusshh..
Mendadak pipi itu merona saat memikirkan jika keduanya tadi sempat bermandikan keringat sebelum keduanya mandi dan keluar dengan tergesa.
Dayang As mendekati ranjang itu dan segera memberesinya. Ia menggantinya dengan yang baru.
Ia sibuk menata bantal dan juga selimut yang sudah teronggok di kaki ranjang dan juga di depan kamar mandi.
Ia sampai menggelengkan kepaalnya saat melihat kedua raja dan ratunya itu begitu terburu-buru sampai ranjang pun tidak sempat ia bersihkan sendiri.
Padahal yang dayang As tahu, jika Malda tidak mengizinkan kamarnya dimasuki siapa pun kecuali dirinya. Itu pun hanya untuk mengurus tubuhnya saja.
__ADS_1
Selebihnya tidak. Malda bisa melakukannya sendiri.