Kembalinya Ratu Telaga Biru

Kembalinya Ratu Telaga Biru
Terbongkar


__ADS_3

Satria dan Malda terjingkat kaget saat mendengar pintu kamar keduanya di pukul dengan keras dan di dobrak paksa.


"Siapa itu Bang? Jangan-jangan.." ucapan Malda mengatung ketika terdengar suara diluar sana semakin kuat.


"Papi?" lirih Satria yang membuat Malda membulatkan matanya karena terjkejut.


"Abang-,"


"Ssstt.. Eegghh.. Kita lanjut dulu yang ini! Ck. Ada saja ulah papi kamu itu. Masa iya sedang enak-enak begini disuruh berhenti sih? Nggak enak tahu nggak!" ucap Satria kembali memacukan tubuhnya menjadi kemudi di tubuh Malda.


Malda tidak bisa menolaknya. "Tapi bang, papi-,"


"Sssstt.. Diam sayang! Ishh.. Jangan ganggu konsentrasi Abang napa?!" ketus Satria mendadak kesal.


Malda melipat bibirnya saat mulutnya berkedut lagi ingin bicara.


Malda menikmati kembali puncak nirwana bersama sang suami yang tanpa mereka tahu jika papi Lana sangat marah saat ini.


Ia sedang berusaha membuka kunci pintu kamar Malda dengan kunci serap.


Tak.


Papi Lana tersenyum, tetapi tak lama kemudian surut lagi saat terdengar pintu itu terkunci lagi.


Satria menaikkan satu jarinya.


Tak.


Tak.


Tak.


Pintu itu terkunci kembali membuat Papi Lana keheranan sekaligus marah saat tahu jika Satria yang sengaja menguncinya.


"Satriaaa!!!! Keluar kamu!! Apa yang kamu lakukan terhadap putri saya, huh?!!!" teriak papi Lana diluar pintu kamar Malda.


Satria dan Malda tidak peduli. "Bagaimana ceritanya mau dihentikan, sedang permainanku baru saja di mulai! Enak saja papi seperti itu! Coba kalau dia yang digantung seperti itu. Nyaman nggak untuk pisangnya itu?" kesal Satria lagi yang dibalas tertawa renyah oleh Malda.


Satria tidak menghentikan kegiatan nya bersama Malda. Walau sesekali mengomel dan Malda yang tertawa karena ucapannya kedua orang itu tetap melanjutkan rutinitas mereka.

__ADS_1


Papi Lana sudah seperti orang kebakaran jenggot. Ia jadi panik sendiri. Saking kesalnya dia sengaja menggebrak pintu kamar Malda dengan sebuah batu besar.


Tetapi apa yang terjadi? Batu besar itu malah hampir mengenai wajahnya jika ia tidak segera bergeser. Karena batu itu membal saat akan ia coba melemparnya ke pintu Malda.


Satria terkekeh di dalam aktivitasnya.


Karena pintu tidak bisa terbuka, Papi Lana menghubungi mami Maura untuk pulang. Begitu juga dengan Papi Ali dan Mami Kinara.


Mereka heran kenapa papi Lana berbicara seperti orang sedang kerasukan. Berbicara sambil mengumpati Satria yang tidak mau membuka Pintu.


Papi Ali dan Mami Kinara yang sudah paham apa masalahnya, kedua orang itu terkekeh-kekeh melihat Abang mereka seperti orang kerasukan.


Tetapi keduanya tetap memilih pulang untuk melihat kejadian apa selanjutnya yang akan terjadi. Apakah Satria akan di usir setelah ketahuan meniduri istrinya sendiri?


Ataukah Papi Lana akan setuju dengan pernikahan keduanya.


**


Dua jam kemudian.


Malda dan Satria baru saja selesai dari akvitas berbagi keringat. Keduanya baru saja selesai mandi besar dan segera melaksanakan sholat dhuhur.


Setelah beribadah, keduanya segera bersiap untuk keluar dan menerima kemarahan Papi Lana dan Mami Maura.


Satria segera membuka kunci kamar itu dengan kekuatannya. Ia ingin memegang gagang pintu itu sebelum tangan Malda lebih dulu yang ingin menyentuhnya.


"Abang di belakangku. Kali ini aku sendiri yang akan berhadapan dengan papi!" ucapnya yang membuat Satria mengangguk tapi terkekeh melihat wajah datar Malda.


Ceklek.


Pintu terbuka. Baru saja Malda ingin menyembulkan wajahnya dihadapan papi Lana yang kini sedang menatapnya dengan berang, ia sudah di suguhkan dengan perbuatan Papi Lana yang ingin memukul Satria dengan batu besar.


Splashhh..


Warna kebiruan berpendar di seluruh ruangan. Batu yang Papi Lana lempar mengambang di hadapan Malda yang kini wajahnya sangat dingin terkesan seperti marah pada papi Lana.


Papi Lana terkejut melihat itu. Begitu juga dengan tiga orang yang kini berada di belakang papi Lana saat ini.


Satria maju dan mengambil bongkahan batu besar seukuran buah kelapa itu. Wajah Satria pun tak kalah datarnya dengan Malda saat ini.

__ADS_1


Malda maju kehadapan papi Lana yang kini masih menunjukkan wajah terkejutnya pada Malda.


"Inikah Papiku?? Papi Lana? Papi yang sedari kecil sudah mengurusku hingga aku dewasa? Kenapa Papi ingin memukulnya? Apakah ini cara Papi untuk menyelesaikan masalah? Buat apa pangkat dan gelar papi seorang tentara jika untuk menyelesaikan masalah harus dengan cara kekerasan? Kakak kecewa sama papi! Ayo bang, kita pergi!" ucap Malda yang membuat papi Lana terkesiap saat Malda melewatinya begitu saja di ikuti oleh Satria dibelakangnya masih dengan memegang batu.


Papi Lana mematung melihat kamar keduanya yang saat ini begitu rapi. Seperti tidak terjadi apapun.


Lantas, apa yang ia dengar tadi?


Papi Lana masih berdiri terpaku di tempat saat mengenang batu besar itu melayang dihadapan Malda dengan cahaya biru mengelilinya dan Satria.


Mami Maura dan Mami Kinara segera mengejar mereka berdua. "Tunggu Nak. Mami mau bicara. Kita bisa bicara baik-baik ya sayang?" ucap Mami Maura membuat langkah Satria dan Malda berhenti seketika.


"Jika memang ingin bicara baik-baik dengan kami, kenapa harus memakai kekerasan seperti itu? Jika saja suamiku tidak menahan bongkahan batu itu dengan kekuatannya, pastilah wajah ini sudah hancur dan tidak berbentuk lagi! Inikah cara kalian orang dewasa ingin menyelesaikan masalah? Apa salahnya jika suamiku meniduri diriku? Toh aku ini istri sahnya! Kami tidak berzina seperti yang Papi pikirkan!"


"Kecewa! Kakak benar-benar kecewa sama Papi! Ayo bang, kita pulang kerumah kita! Kedua anak kita sedang menunggu kita saat ini!"


Ddduuaarr!!


"Apa?! Kamu sudah punya anak kak?" tanya Mami Maura begitu terkejut.


Malda tidak menghiraukannya. Ia segera berlalu keluar dari rumah sang papi masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu mereka.


Satria menghela nafas panjang. "Ikuti kami Papi Ali. Kalian akan mendapatkan jawabannya disana nanti!" ucap Satria yang diangguki oleh Papi Ali dan Mami Kinara.


Keduanya segera mengikuti Satria dengan menuntun kedua orang yang begitu terkejut itu. Mereka berempat mengikuti mobil Satria yang sudah melaju lebih dulu.


Cukup tiga puluh menit dari kediamam Papi Lana, kini mereka semua sudah tiba dikediaman Satria.


Dua orang wanita keluar dari rumah itu dengan menggendong dua anak kembar yang begitu mirip dengan Satria.


"Maaf yang mulia.. Pangeran Salman dan pangeran Salim terus menangis sambil menunjuk foto kalian berdua." Ucap dayang as sembari menyerahkan kedua pangeran itu kepada mereka.


Satria dan Malda segera mengambil keduanya. Mereka mendekapnya dengan erat dan mengecup kening keduanya dengan sayang. Seketika itu kedua bayi tampan itu terdiam di pelukan kedua orang tuaya.


"Syukurlah kalau begitu. Mereka seakan tahu jika kalian berdua sedang dalam masalah hingga keduanya terus menangis tiada henti. Eh, maaf. Adu tamu ya. Dayang as!"


"Iya yang mulia!"


"Bawa tamu kita masuk. Ayo, mari silahkan masuk. Saya tahu kalian siapa. Ayo besan!"

__ADS_1


"Hah?"


__ADS_2