
"Maaaakk.. Maaakk.. Papiii.. Papiii.. Haaaa.. Mak kita, Lii!! Mak Kita, Lii!! Papi kita!! Papi kita!!!" serunya dengan tangisan yang terus terdengar di telinga semua orang karena layar laptop itu begitu keras suara nya.
Komandan Prasetya tertegun melihat kedua jasad yang utuh itu. Tidak hangus dan tidak terbakar sedikit pun.
Mata itu mengabur.
Tes.
Tes.
Tes.
Buliran bening menetes di kedua pipi tua nya.
"Masyaallah.. Sungguh besar kuasa-Mu. Kami sangat mengenal dengan dua orang yang sangat, sangat, sangat dermawan ini. Ini kah karomah yang Engkau berikan untuk keduanya yang telah membantu orang yang saat itu sedang kesusahan ekonomi?? Aku pikir karomah itu diberikan ketika mereka sudah di alam kubur. Tetapi nyatanya? Di dunia nyata Engkau sudah menunjukkan nya kepada kami semua. Subhanallah.. Sungguh besar kuasa-Mu ya Robb.." lirihnya dengan air mata yang sudah menganak sungai.
( Ini fakta ya! )
Beliau menangis melihat jasad yang masih utuh itu. "Bawa mereka Lana, Ali! Agar segera kita bawa pulang. Adik dan kakak mu pasti menunggu mereka saat ini," ucapnya lagi pada papi Lana dan papi Ali yang kini tertegun dengan ucapan yang terdengar di telinga kedua nya.
__ADS_1
"Hiks.. Hiks.. Baik Pak! Segera hiks kami laksanakan! Hiks.. Maaakk.. Papiii.." isak papi Lana lagi.
Papi Ali segera membaca bismillah, membaca surah Alfatihah, An nas, An Nashr dan terakhir surah yasin ayat satu sampai sembilan.
Dilanjut dengan sholawat oleh papi Lana. Dengan bibir bergetar ia menyandungkan sholawat yang pernah ia senandung kan dulu saat mereka mengalami kecelakaan.
"Maula ya sholli.. Wassallim daimann.. 'abada. 'alal habibi ka khairi kholqi kulli hibi.."
Senandung yang begitu menyejukkan hati sekaligus menyayat hati kedua orang itu. Para anggota damkar dan juga polisi ikut menyandungkan sholawat itu juga.
Papi Lana dan Papi Ali perlahan-lahan membuka belitan tubuh keduanya. Sebelumnya mereka berdua memijat lengan kekar almarhum Opa Gilang dan juga lengan halus milik Oma Alisa sambil terus menyandungkan sholawat.
Hanya dirinya dan juga papi Ali yang boleh melakukan nya kepada kedua orang itu. Komandan Prasetya yang melihat itu, terharu lagi.
Hanya dua orang itu yang bisa melepaskan belitan tangan keduanya. Semua polisi dan damkar yang menyaksikan hal itu, ikut menangis.
Komandan Prasetya segera membuat rekaman secara live di saluran yutub dan juga saluran tv nasional. Agar mereka tahu seperti apa proses pengangkatan jenazah dua orang pengusaha yang begitu tersohor itu.
Tidak hanya di dalan negeri. Juga diluar negeri sana. Semua yang melihat tayangan itu ikut sedih dan menangis pilu.
__ADS_1
Keluarga di kediaman almarhum pun menyaksikan dua jenazah yang masih utuh itu di layar proyektor besar yang sengaja Satria pasangkan saat ia tahu apa yang terjadi disana.
Mami Kinara, mami Annisa, Papi Algi tersedu-sedu melihat kedua orang tua mereka ternyata jasadnya masih utuh dan tidak tersentuh api sedikit pun.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, saat jenazah keduanya sudah berhasil dipangku dan dibawa ke atas.
Tidak ada kendala sedikitpun ketika mereka semua membawa naik dua kantung jenazah itu. Seolah jalan mereka semua di permudah hingga tiba di daratan.
Saat tiba di atas sana, mereka semua menyambut jenazah itu dan segera memasukkannya ke dalam ambulan. Dimana papi Lana ikut di dalamnya.
Papi Ali mengikuti ambulan itu dari belakang dengan mengendarai mobil Pajero milik papi Lana. Proses demi proses terus mereka saksikan.
Siarana langsung itu tidak terputus saat mobil meninggalkan lokasi kejadian. Tetapi tetap berlanjut hingga jenazah keduanya tiba dirumah duka setelah dua jam perjalanan.
Karena banyak yang menggiring mereka di depan sana. Hingga jalanan begitu padat. Papi Lana tak henti-hentinya mencium wajah Oma Alisa dan juga Opa Gilang yang begitu cantik dan tampan saat mereka menutup mata.
Yang membuat para penonton keheranan ialah, tangan jenazah itu kembali bertaut setelah dipisahkan tadi.
Papi Lana menangis tersedu dihadapan keduanya. Komandan Prasetya pun ikut menangis melihat itu.
__ADS_1
Jangan tanyakan bau harum yang menguar dari tubuh mereka berdua. Bau itu terus mengudara seiring jenazah keduanya sampai tiba di rumah duka.