
"Sayang! Malda!! Tidak!! Jangan lagi!!" teriak Satria sambil berlari mengikuti Malda yang sudah tercebur ke dalam telaga biru.
Sangat terlihat jelas jika Malda semakin turun hingga ke dasar telaga dengan terduduk seperti duduk bersila.
"Tidak! Jangan lagi!" ucap Satria yang semakin panik. Ia juga ingin mengikuti Malda, tetapi ditahan oleh panglima Dani.
"Tunggu dulu yang mulia. Lihat air telaga itu berputar-putar seperti itu!" tunjuknya pada Satria yang kini terdiam dan terpaku di tempat melihat pusaran air yang berputar begitu cepat itu.
Sedangkan Malda di bawah sana, sedang berusaha mengembalikan kekutaannya dengan cara ia menyedot kekuatan yang ada di telaga biru milik ayahanda nya dan Ibunda nya.
"Bismillahi tawakkaltu 'alallahi lauhaula wala quwwata illa billahil 'aliyil 'adhim.. Ayahanda.. Ibunda.. Bantu aku untuk bisa menyelamatkan hutan kita. Bantu aku dengan kekuatan yang tersisa di dalam telaga biru ini. Bukan untuk diriku yang lemah ini. Tetapi untuk makhluk hidup yang selama ini hidup berdampingan dengan telaga biru yang ad adi hutan ilusi.." batin Malda terus memanjatkan doa sambil terus menghirup semua kekuatan yang tersisa di dalam telaga itu.
Bumi tempat mereka berpijak bergetar hebat. Pusaran air yang tadinya tenang kini semakin kencang dan cepat.
Cahaya biru dan putih keluar dari bawah air seiring pusaran air yang semakin kencang dan cepat itu.
Satria menganga melihat telaga itu itu kini seperti diangkat oleh dua orang berpakaian yang sama. Keduanya tersenyum pada Satria, panglima Dani dan dayang As.
"Ya-yang mulia.." lirih Dayang As dengan mulut menganga.
"Kemari nak. Bantu kami!" Imbuhnya pada Satria.
Satria yang masih terkejut dengan mulut menganga spontan saja tersedot hingga dirinya tercebur ke dalam pusaran air itu dimana Malda sedang menunggunya dengan mata terpejam.
Wajah Malda begitu menyeramkan saat ini. Satria bergidik ngeri melihatnya. Ia pun ikut bergabung dengan Malda. Dan terjadilah penyatuan kekuatan yang begitu kuat hingga kekuatan itu meledak dan menimbulkan suara seperti benturan benda keras yang meledak.
Ddduuuaaarrrrr!!!
Seperti sambaran petir, kekuatan keduanya kini melebur di dalam telaga biru dan menyembur mengarah ke arah hutan ilusi.
Duam!
__ADS_1
Tash!
Splashh!
Ddduuuaarrr!!
Byuuur!!!
Suara demi suara hantaman seperti benda keras itu semakin jelas terdengar di utan ilusi. Dalam sekejab mata, hutan itu di guyur air hujan yang begitu derasnya hingga memadamkan api yang saat itu sedang membakar seluruh hutan ilusi itu.
Raja Apilong yang sednag menagmuk itu terdiam di tempat saat menyadari jika kekuatan itu bukan milik Malda.
Tetapi milik dua orang yang begitu di kenalnya.
"Amir? Rani? Mereka kembali?? Hah?" mulut itu menganga tatkala mata itu berpapasan dengan manik mata biru yang kini sedang menyala dan menatap tajam padanya bagaikan anak panah yang siap meluncur kapan saja.
Deg!
Deg!
Aura hitam di tubuhnya lenyap seketika. Tubuh itu bergetar dengan hebat. Malda menyeringai. Mata birunya itu begitu menakutkan saat ini.
"Kamu datang ingin menghancurkan hutan ku, paman Filips??"
Deg!
Deg!
Lagi dan lagi kaki lelaki tua itu bergetar hebat saat mendengar suara Malda yang begitu mirip dengan Puan Maharani.
Deg!
__ADS_1
Lagi, kaki itu semakin tidak berdaya kala tatapan mata dari Satria yang begitu menghunus hingga terasa ke jantungnya.
"Apa kabar Paman? Masih ingat denganku?" imbuhnya masih dengan seringai yang menakutkan.
Panglima Dani dan dayang As tertegun melihat kedua orang itu.
"Ya-yang mulia.." lirih keduanya lagi.
"Ba-bagaimana bisa ka-kalin ke-kembali?? Bu-bukannya ka-kalin sudah mati??!" ucapnya dengan darah yang terasa mendidih karena Malda sudah mengunci setiap pergerakan tubuhnya.
"Aku kembali untuk membalskan segala perbuatan mu kepada kami dulu. Kami sudah menunggu saat-saat ini." seringainya muncul begitu menakutkan saat ini.
Dayang As dan panglima Dani sampai terpaku di tempat mendengar suara itu. Suara yang sangat mereka kenal dan sangat mereka hafal.
Raja Apilong tidak bisa bergerak lagi saat ini. Sungguh terasa sangat menyakitkan saat seluruh aliran darahnya di percepat tetapi pergerakannya di kunci.
Ilmu kanuragan yang hanya Puan Maharani miliki. Dan kini diwarisi oleh Malda.
"Terima pembalasan ku Paman Filips! Sudah cukup selama ini kamu merusak semua kerajaan ku! Kematian saja tidak cukup untukmu! Aku ingin kamu tersiksa dulu baru merasakan mati itu seperti apa! Seperti apa yang kamu lakukan dulu pada kami berdua!"
"Dan ya! Terimalah pembalasanku!" timpal satria yang kini seperti datok Amirullah Syam.
"Terimalah kemarahan dari seorang anak yang kamu bunuh kedua orang tuanya saat ia baru dilahirkan!" ucap malda dengan kemarahan yang begitu terlihat jelas.
Ia segera melempar bola kekuatan itu langsung menuju raja Apilong.
Duaamm!!
Byurr!!!
"Aaaaaaarrrggghhttt..."
__ADS_1