
"Ya sudah, sebaiknya kita masuk dulu. Nggak enak dilihatin oleh semua orang. Banyak hal yang ingin kami tanya. Benar begitu Bang?" ucap Mami Kinara pada Papi Lana yang diangguki olehnya.
"Benar! Malam ini kamu tidur dirumah Papi! Tak ada penolakan!" Tegas papi Lana saat melihat Malda ingin membantahnya.
Ia hanya bisa menghela nafas pasrah. Jika Papi Lana sudah berbicara, maka inilah yang akan terjadi.
Malda melirik Satria yang kini juga menatap padanya dengan wajah datar. Malda menunduk.
"Oke, tapi Panglima Satria ikut bersama kakak! Dia penjaga Setia Kakak selama ini. Kami tidak bisa terpisahkan Papi."
Papi Lana mengangguk, "No Problem sayangku. Kamar dirumah kita banyak kok kalau kamu lupa!" jawab sang Papi yang membuat Satria melototkan matanya.
Kenapa?
Abang nggak mau tidur terpisah dari kamu sayang! Nggak akan bisa! Abang bisa sakit!
Malda mencebik saat melihat tatapan memelas Satria padanya.
"Ayo kita kerumah Papi! Sebentar lagi keluarga besar kita akan berkumpul. Kamu juga kerumah saya!" ketus Papi Lana pada Satria yang dibalas tawa oleh Malda melihat sikap posesif sang Papi padanya.
Satria menghela nafasnya. Papi Ali terkekeh. "Kamu jangan terkejut bang, jika lihat Papi Lana begitu sama kamu. Selama ini Papi Lana sangat ketat menjaga Malda dari para lelaki yang ingin mendekatinya. Jiwa posesifnya itu sangat kentara." Papi Ali tergelak lagi.
Ia merangkul bahu Satria dan membawanya kerumah Papi Lana. Disana sudah menunggu ke empat anak Papi Lana yang begitu senang saat melihat sang kakak sudah kembali.
Salah satunya Zia. Ia memeluk erat tubuh Malda dan menangis disana. Malik, Fania dan Fanya pun demikian.
Mereka berempat memeluk Kakak sulungnya itu dengan erat. Satria terharu melihatnya. Setetes bulir bening mengalir di pipinya yang dengan cepat ia seka.
Mami Kinara tahu itu. Begitu pun dengan Papi Ali. Keduanya pun berbisik lirih.
"Kok Panglima Satria ini yang kayak gimana gitu sama Malda ya? Apa ini perasaan ku aja Bang?"
"Nggak.. Kamu benar kok. Abang pun ngerasain nya. Yang kayak mereka itu seperti kita gitu loh.."
"Maksudnya saling mencintai??"
__ADS_1
"Lebih dari itu! Lihat saja pancaran matanya pada Malda. Sama seperti Abang melihatmu dan juga Bang Lana melihat Kakak Ipar!" bisik Papi Ali di telinga mami Kinara yang membuat ibu hamil itu spontan melihat mata Satria dan Malda.
Mulutnya menganga lebar. "Gimana? Yang kayak pasangan suami istri bukan ya?"
Mami Kinara mengangguk. "Benar Bang. Apakah.. Di Malaya sana Malda sudah menikah dengan nya? Secara kan keduanya sepupu? Sah sah aja kan ya?"
Papi Ali mengangguk. "Benar sekali. Kita tunggu konfir dari Malda saja. Jika keduanya tidak mau jujur, Abang yang akan bertanya secara langsung pada Satria nanti."
"Harus!" jawab Mami kinara terus berbisik bersama Papi Ali.
Satria tahu dan bisa mendengar bisikan keduanya.
Sayang?
Iya suamiku.. aku tahu kok. Kalau mami Kinara dan Papi Ali aku tidak khawatir. Tapi...
Malda melirik pada papi Lana yang membuat Satria pun ikut melirik pemuda tampan itu yang sedang menghubungi semua keluarga dan restorannya karena malam ini mereka akan makan besar disana.
Satria menghela nafasnya dan mengangguk kecil. Malda tersenyum. Semua interaksi keduanya tidak luput dari perhatian Papi Ali dan Mami Kinara.
Mereka tiba disana sudah disambut dengan tangisan Oma Alisa yang kini terharu melihat nya kembali.
Deg, deg, deg..
Jantung Satria berdegup kencang ketika melihat pemuda tampan paruh baya kini mendekat ke arahnya.
Splaasshhh..
Kilatan-kilatan bayangan mengerikan itu terus muncul di ingatannya. Tubuhnya bergetar. Malda pun ikut merasakannya.
Tapi ia pura-pura tersenyum di hadapan Oma Alisa yang kini memeluknya.
"Hiks.. Cucu ku. Kamu kembali Nak?"
"Iya Oma, kakak kembali. Sssttt.. Boleh Kakak kesana dulu?" tunjuknya pada Satria yang kini terpaku dengan mata terpejam erat.
__ADS_1
Oma Alisa menoleh kemana arah tunjuk Malda.
Deg!
Oma Alisa terperanjat melihat Satria begitu juga dengan Opa Gilang yang kini berdiri di belakang Oma Alisa.
"Di-dia.. Bu-bukannya.." ucapan Oma Alisa terputus karena kepalanya mendadak pusing.
Bruukk.
"Oma!"
"Astagfhfirullah! sayang!" seru Opa Gilang yang membuat Satria mengerjabkan matanya saat tangan Malda menggenggan tangannya dengan erat.
Malda menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Satria segera memeluknya. Mereka menangis bersama yang membuat Papi Ali, Mami Kinara, dan Papi Lana terkejut melihat kedua orang itu.
Malda terus menangis seiring air mata Oma Alisa yang pingsan dan Opa Gilang yang kini mengalir deras.
"Hiks.. Oma.. Opa.. Maafkan hiks.. Kakak.." Satria semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Chubby Malda.
Papi Lana yang tidak ingin melihat anak gadisnya di peluk oleh lelaki bukan mahram meradang. Ia ingin kesana dan melepaskan kedua orang itu sebelum tangannya di cekal erat oleh Papi Ali dan Mami Kinara.
Keduanya menggeleng. "Tapi Dek!"
"Jika Satria bukan orang penting di hidup Malda kenapa dia membalas pelukan Panglimanya itu dengan erat?"
Deg!
Papi Lana terkejut. Ia menoleh lagi pada Malda yang kini masih tersedu di pelukan Satria. Bahkan Satria mengecup kening Malda dan mengusap air matanya.
Lagi, papi Lana sangat terkejut melihat itu. Ia semakin membulatkan tekadnya jika malam ini kedua orang itu harus tidur terpisah.
Harus!
Deg!
__ADS_1
Malda dan Satria terkejut dengan suara hati itu. Mereka hanya bisa pasrah saat keduanya dipisahkan saat mereka tidur nanti.