
Sementara dirumah sakit Uwak Ira, kini para keluarga yang baru saja berkumpul disana segera membawa pulang mami Kinara saat kabar kematian kedua orang tua mereka sudah terdengar di telinga semuanya.
Semua anak dan cucu almarhum Opa Gilang dan Oma Alisa, mereka sudah berkumpul dirumah sang Oma dan Opa.
Mami Kinara tidak berbicara sepatah katapun saat tiba dirumah besar itu. Ia meminta Uwak Ira untuk di tidurkan di kamar kedua orang tuanya.
Mami Annisa pun demikian. Tak ada kata yang terucap. Semuanya diam membisu dengan tangan dan kaki terus bergerak menggeser kursi dan juga meja yang ada di ruang tamu itu.
Mami Kinara menatap sayu dan sendu pada figura besar kedua orang tuanya yang saat itu tersenyum manis ketika di bukit berastagi.
Saat usia sang papi masih berusia sembilan belas tahun dan mami Alisa tiga puluh dua tahun waktu itu.
Terpaut usia yang begitu jauh, tetapi kemiripan keduanya tidak diragukan lagi. Ada yang bilang, jika keduanya mirip pastilah berjodoh.
Dan ya, selama enam tahun berada di luar negeri siapa sangka jika Opa Gilang kembali dan melamar sang Oma untuk dijadikan istrinya.
Malda memeluk Satria dengan erat. Berita kematian kedua Opa dan omanya sudah Satria kabarkan pada mereka yang ada diluar negeri sana dan juga Nenek Kinanti yang saat ini pun berada di kamar itu.
__ADS_1
Malda tidak sanggup lagi untuk bicara. Hanya suara sesegukan saja yang terdengar sesekali juga tarikan cairan kental dari hidungnya yang membuat Satria sesekali terkekeh di sela-sela tangisnya.
Kedua anak kembar Malda saat ini berada di dekat keranjang bayi kembar mami Kinara yang sudah terlelap setelah tadi puas menangis ketika dirumah sakit.
Berita kematian Opa Gilang dan Oma Alisa sudah Uwak Raga kabarkan melalui pengeras suara di mesjid komplek perumahan Indah Permai itu.
Yang membuat satu komplek shock bukan main. Para tetangga berlarian kerumah almarhum Oma dan Opa Gilang sambil menangis dan bertanya.
Uwak Ira menceritakan semuanya tentang kejadian kecelakan yang menimpa kedua orang tua mereka.
Semua tetangga menangis pilu mendengar cerita uwak Ira. Mereka tidak menyangka, kedua orang yang terkenal ramah, baik dan dermawan itu kini sudah tiada.
Semua keluarga sudah berkumpul di kediaman sang mami dan papi mereka. Tinggal menunggu kabar kepulangan jenazah keduanya saja dari tempat kecelakaan.
Para pelayat terus berdatangan malam itu. Tiada putusnya. Baik dari tetangga, rekan bisnis dan juga kalangan atas yang mengenal keduanya.
Bahkan dari luar negeri pun sudah tiba. Kediaman kedua orang itu kini dipenuhi para pelayat yang semakin membludak ramainya.
__ADS_1
Mereka sengaja bermalam disana menunggu kepulangan jenazah kedua pengusaha beda usaha yang tersohor dan terkenal begitu romantis dimana pun mereka berada.
Malda bergabung dengan para pelayat yang semakin banyak berdatangan. Begitu pun Satria. Mereka semua berbaur dengan para pelayat semua.
Hanya Urwak Raga, Papi Algi dan juga Satria yang kini menyambut para pelayat datang.
Di kamar mami Kinara yang kini sedang bertatap muka dengan kedua orang tua Om dan Opa mereka yang kini sudah sepuh.
Kedua orang itu sampai shock dan pingsan.
Kakek Yoga jatuh terkena serangan darah tinggi hingga tidak sadar lagi. Sedang nenek Alina, beliau masih sadar tetapi terus menyebut nama Oma Alisa.
Mami Annisa dan Mami Kinara tidak bisa menahan tangisnya. Mereka lagi dan lagi menangis melihat dua orang sepuh yang kini tidak berdaya itu.
Keduanya sudah sadar. Hanya saja mulut keduanya terus memanggil dua orang yang kini sudah terbujur kaku dan masih di bawah jurang sana.
Dimana Papi Lana dan Papi Ali sedang mengusahakan untuk mengeluarkan jenazah yang menurut perkiraan polisi itu sudah hangus terbakar.
__ADS_1
Berita kecelakaan yang menewaskan keduanya, kini begitu membuat shock dua orang sepuh nan jauh disana. Keluarga yang ada disana pun demikian.
Sepupu Oma Alisa saat ini sudah dalam perjalanan menuju ke Medan untuk melihat keduanya.