
Sementara Malda dan Satria saat ini masih terlelap setelah tadi mereka melkukan penyaluran kekuatan yang membuat Malda lemah tak berdaya.
Seperti saat ini, keduanya masih terlelap setelah tadi mereka melakukan penyatuan untuk yang kedua kalinya.
Satria yang bingung harus berbuat apa karena melihat Malda semakin memucat langsung saja melakukan penyatuan itu pada Malda.
Malda tidak menolaknya. Karena ia tahu jika memang itulah yang ia butuhkan saat itu. Jika sebagian orang untuk memulihkan kekuatan memerlukan waktu untuk bersemedi, lain dengan kedua pasangan itu.
Sejak penyatuan pertama kalinya, keduanya merasakan jika tubuh mereka semakin kuat saja. Mereka bisa tahan hingga berbulan-bulan dengan kekuatan yang mereka punya.
Tetapi tidak untuk saat ini. Tubuh Malda yang masih kecil dan masih muda itu sangatlah rentan dari hal yang seperti tadi.
Satria yang sudah tahu seperti apa tubuh Malda tidak segan dan bertanya lagi pada Malda. Karena ia tahu memang itulah yang Malda butuhkan.
Penyaluran kekuatan dengan cara penyatuan. Sama seperti pertama kali mereka melakukannya. Satria yang memiliki kekuatan lebih bisa membagi kekuatan itu pada Malda.
__ADS_1
Dan disinilah keduanya saat ini. Satria tidak puas-puasnya memandangi wajah ayu Malda yang sangat mirip dengan Puan Maharani.
Ia memebelai wajah halus itu dengan sayang. "Entah apa yang akan terjadi setelah ini Abang tidak tahu sayang. Yang jelas, segala sesuatu yang sudah tertulis kita tidak bisa menghindarinya. Semoga nantinya kamu kuat berdiri sendiri tanpa Abang. Abang tidak tahu kemana diri ini dan kenapa. Yang jelas, salah satu syarat agar kamu tetap kuat sampai umur kamu berusia tujuh belas tahun, Abang akan tetap disisi mu. Tetapi setelah itu, Abang harus menghilang dari hadapanmu."
Deg, deg, deg..
Jantung Malda berdetak cepat. Satria bisa merasakannya. "Maafkan Abang, sayang.. Semoga kamu kuat nantinya. Inilah yang aku tidak inginkan sedari dulu. Menikah tetapi harus melepas mu pada saat waktunya tiba.." lirihnya dengan wajah basah air mata.
Malda yang mendengarnya pun ikut menangis. Inilah janji yang harus Satria tunaikan setelah Malda cukup umur untuk diangkat menjadi ratu.
Flahsback.
Setelah selesai menyalurkan kekuatan keduanya, Malda langsung saja istrirahat karena masih mengantuk. Sedangkan Satria, setelah selesai ia kembali ke bawah sebelumnya mengecup kening Malda dengan dada yang sesak.
"Sudah selesai?" tanya penasehat istana pada Satria yang kini baru saja duudk di hadapannya.
__ADS_1
"Sudah. Apakah tidak ada cara lain lagi untuk menyempurnakan kekuatan itu?" tanya Satria sekali lagi dengan wajah yang semakin terlihat sendu.
Penasehat istana menghela nafasnya. "Hanya ini cara satu-satunya nak. Datok Amirullah pun demikian. Maka dari itu ia melepaskan Puan Maharani di dalam hutan perbatasan malaysia dan Indonesia berharap keluarganya bisa menemukannya. Dan sekarang itu berlaku dengan mu juga Satria.." Lirihnya merasa tidak punya pilihan lain.
"Tetapi akan berat bagi kami berdua Paman. Baru saja hidup kembali dan akan berpisah setelah Malda berumur tujuh belas tahun? Dan itu hanya tersisa satu tahun lebih lagi??"
"Maaf nak. Saya tidak bisa melakukan apapun. Memang inilah cara satu-satunya. Kamu tetap diberikan kesempatan untuk bersamanya setelah kamu melepaskan semua yang ada pada dirimu dan kamu menjadi manusia biasa di indonesia. Kembali ke tempat kamu dibesarkan. Karena disanalah hubungan kalian berdua akan tersambung kembali."
"Tapi bagaimana bisa Paman? Aku sangat mencintai Malda. Sedari dulu hingga saat ini bahkan sampai mati sekalipun! Aku tidak bisa meninggalkannya. Itu berat untukku. Dan juga, butuh waktu berapa lama? Sebulan? Dua Bulan? Atau satu tahun? Aku bisa mati tanpa nya!" Lirih Satria dengan wajah yang sudah basah air mata.
Tuan Kasmir hanya bisa menunduk. "Maaf Satria.. Tapi inilah yang harus kamu lakukan agar Malda kuat nantinya. Aku tak berdaya untuk menentang keputusan ini. Semua ini bisa berakhir hanya dengan pengorbanan mu. Cinta dan pengorbanan kamu yang di tuntut disini. Hanya itu caranya. Untuk waktu, saya sendiri tidak tahu. Karena menurut yang tertulis di kitab ini, bahwa penerus kerajaan datok Amirullah harus bisa berdiri sendiri dengan empat kaki, empat tangan dan empat kepala. Yang saya sendiri pun tidak paham maksudnya apa."
Satria hanya bisa menangis dan menangis mendengar serentetan ucapan dari Tuan Kasmir tentang ketentuan yang sudah tertera ketika Datok Amirullah ayahanda Malda pertama kali mendirikan kerajaan Telaga Biru itu.
Entah ada yang bisa mematahkan ketentuan itu, Satria dan Malda pun tidak tahu. Yang jelas ketentuan itu harus segera dilaksanakan ketika Malda sudah berusia genap tujuh belas tahun dan itu tinggal satu tahun lebih lagi.
__ADS_1
Flashback off.