Kembalinya Ratu Telaga Biru

Kembalinya Ratu Telaga Biru
Pembalasan dari Malda


__ADS_3

Malda menyeringai saat melihat mereka dengan gamblang menceritakan rencana mereka yang akan menghancurkan perusahaan sang Opa yang dimulai dari perusahaan keduanya yang kini berada di Kalimantan sana.


Yang di pimpin langsung oleh Opa Gilang dna Oma Alisa. Malda sangat geram, ternyata raja seberang itu memang sengaja melakukan hal ini demi mewujudkan tujuannya.


"Pantas saja dulu mereka sering mengirimi ku banyak bunga, pakaian bayi serta logam mulia dan juga Intan permata. Ternyata inilah tujuannya. Jika waktu itu aku menerimanya, maka kerajaan kita dibawah kuasa dan kendalinya! Dan karena aku menolak, lihatlah apa yang terjadi? Mereka sengaja melakukan ini bang! Bolehkan jika aku menghajar mereka hingga babak belur?? Tangan dan kaki ku sudah gatal untuk menghajar mereka semua!"


Ketus Malda berbicara dengan Satria melalui telepati batin keduanya.


Satria terkekeh, "Tentu ratuku. Lakukanlah sesuai keinginanmu. Lagipula mereka tidak akan tahu jika kita berada disini bukan?" Balas Satria masih dengan telepati batinnya.


Malda menyeringai saat mendengar jawaban Satria. Ia pun segera mengerahkan kekuatannya. Sebelum itu, ia memegangi tangan Satria dan mulai beraksi.


Dalam sekali pejaman mata, semua orang itu jatuh terkapar dan tak berdaya. Malda menggunakan kekuatannya untuk memukuli mereka semua.


Sementara raja Butyan Kunu menjadi sasaran Satria yang kini sedang mencekiknya dengan kekuatan yang ia miliki.


Semakin kuat ia melawan, maka semakin kuat cekikan di lehernya. Ia tidak bisa bernafas sekalipun.

__ADS_1


Semuanya seperti di cekik tetapi tidak ada orang yang mencekik mereka. Malda semakin kuat membuat mereka tidak berdaya.


Satria kasihan melihat mereka itu yang seperti cacing kepanasan. Menggeliat bagai meregang nyawa.


"Cukup sayang. Cukup kamu totok saja urat saraf mereka. Setelahnya kita hubungi Polisi dan menyerahkan semua bukti ini," cegatnya pada Malda yang kini ingin menghanguskan mereka dengan kekuatannya.


Malda menghela napas dengan keras. Ia mendengkus. "Selamat kalian! Jika bukan karena suami saya yang berbaik hati ingin melepaskan kalian semua, maka saat ini juga kalian semua sudah saya musnahkan menjadi abu. Akan tetapi tidak. Penyiksaan yang akan saya berikan ini lebih menyakitkan daripada kematian!" Ucapnya dengan segera melepas pegangan tangannya dari Satria dan mulai mentotok urat saraf pembunuh bayaran itu satu persatu hingga mereka semua mendelik dengan mata melotot saat merasakan aliran darah di tubuh mereka tidak berjalan. Tetapi mereka bisa bernafas dengan baik walau satu-satu.


Malda menyeringai melihat itu. "Giliran Abang, kaku kan seluruh tubuh raja Butyan Kunu sialan itu!" ketus Malda yang di tertawakan sambil mengangguk oleh Satria.


Satria segera mentotok raja Butyan Kunu itu di semua titik. Hingga membuat nya semakin tidak bisa bernafas karena Satria mentotok urat saraf di bagian pernafasannya.


Satria tersenyum, "Selesai! Ayo kita hubungi Polisi. Dan kita tunggu mereka diluar sana. Ayo!" ajaknya pada Malda yang belum puas ingin menyiksa mereka semua.


Malda ditarik paksa oleh Satria untuk menunggu Polisi di luar markas pembunuh itu. Satria langsung membawa Malda ke dalam mobil dan duduk tenang disana setelah ia membujuknya.


Saat ini emosi Malda sangat tidak stabil. Emosinya sangat tidak terkendali. Salah sedikit berbicara, maka semua pembunuh itu akan hangus di tangannya yang membuat Malda menjadi pembunuh nantinya.

__ADS_1


Satria sekuat tenaga membuat Malda tenang. Dan ya, butuh setengah jam untuk membuat Malda sang ratu telaga biru itu untuk kembali tenang.


Dirasa Malda cukup tenang, barulah Satria menghubungi polisi dan mengatakan jika pembunuh dari pasangan Pengusaha Bhaskara Group sudah di temukan lengkap dengan buktinya.


Awalnya polisi tidak percaya. Tetapi setelah Satria menunjukkan baukti rekaman percakapan para pembunuh serta dalang pembunuhan berencana itu barulah polisi percaya.


Mereka pun segera bergegas menuju tempat yang sudah Satria kirimkan. Malda dan Satria tetap menunggu Polisi itu datang.


Setelah polisi itu tiba, kini para pembunuh itu segera dibawa kerumah sakit untuk dirawat. Menurut keterangan yang sengaja Satria palsukan, mereka tiba disana saat semua pembunuh itu sudah demikian.


Polisi yang tidak percaya segera mengecek cctv yang ada di gudang itu. Tepat seperti yang Satria katakan jika mereka jatuh terkapar dengan memegang leher mereka sendiri tanpa ada seorang pun yang melukai mereka.


Polisi akhirnya percaya dengan apa yang mereka lihat. Sementara Malda dan Satria menjadi saksi dari para pembunuh itu.


Malda menyeringai melihat mereka semua menatapnya dengan tatapan permohonan.


Rasakan! Siapa suruh berurusan dengan ku! Kalian belum tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini! Rasakan kalian semua pembalasan ku!

__ADS_1


Batin Malda menatap sinis pada mereka semua. Terutama raja Butyan Kunu yang kini menatapnya dengan mata melotot tajam padanya.


__ADS_2