Kembalinya Ratu Telaga Biru

Kembalinya Ratu Telaga Biru
Pembalasan setimpal


__ADS_3

"Aaarrrggghhttt.. Panas! Tidak! Aaaaa... Hentikaaannn!!! Aaaaaaa... Sialaaaannn!!!!" pekiknya begitu kuat hingga rasanya gendang telinga yang mendengarnya ingin pecah seketika.


Malda menyeringai lagi. Mata itu semakin berkilat amarah. Amarah yang terpendam dan juga amarah yang baru saja ia rasakan kini menyatu di dalam darahnya.


Darah itu semakin mendidih saat melihat orang yang pernah ingin melenyapkannya hingga dirinya diselamatkan oleh Papi Lana dulu di hutan perbtasan antara Indonesia dan Malaysia.


Jika bukan karena Papi Lana dan Papi Ali waktu itu, saat ini pasti Malda sudah tidak hidup lagi. Ia sengaja dibunuh agar penerus dari kerajaan telaga biru tidak ada lagi.


Mengingat itu, Malda semakin mengetatkan rahangnya. Tangan halusnya terus mengerahkan kekuatannya seperti kilat putih dan biru itu menuju pada sang kakek yang kini sedang meraung semakin kesakitan kala jantungnya di remas oleh Malda menggunakan tangannya.


"Aaaaaarrrggghhhtttt..." pekiknya semakin keras saat Malda berulang kali memeras jantung itu saking geramnya.


"Cu-cukup!!!"


Malda menyeringai kejam, "Itu belum sebanding dengan yang telah kakek lakukan kepada ayahanda dan ibundaku hingga keduanya tewas di tanganmu! Yang satu kamu penggal kepalanya kemudian kamu buang ke dasar telaga biru ini! Dan ibundaku? Kamu paksa untuk menenggak racun saat aku masih berada di dalam kandungannya! Sampai-sampai ia keguguran dan membawa ku lari ke hutan dan di selamatkan oleh papi Lana!!!" teriak Malda begitu melengking hingga suara itu menggema di seluruh istana kerajaan telaga biru.


Air mata itu bercucuran di pipinya. Tetapi tangan itu tetap mencengkram kuat jantungnya sampai-sampai sang kakek tidak bergerak lagi.


Satria yang melihat kemarahan Malda, segera memegamg pipi halus itu dan mengusapnya. "Dengar sayang.. Kita bukan Tuhan yang bisa menghukumnya. Lepaskalah dia. Ambil dan cabut semua kekuatannya dan bekukan di dasar telaga ini. Ya? Ini hukuman yang pantas dan setimpal untuknya. Apa yang bisa ia lakukan jika kekuatannya tidak ada lagi?"


Malda yang sedang dikuasai amarah melemah seketika saat mendengar suara bass nan lembut mengalun indah di telinganya.

__ADS_1


Ia menoleh pada Satria, pemuda tampan berkumis tipis berusia dua puluh satu tahun. Tahun depan masuk dua puluh dua tahun itu, tersenyum lembut padanya.


Tangan Malda melemah. Ia terisak. Satria memeluknya segera. Tatapan lembut Satria padanya melemahkan kekuatan Malda. Tetapi tidak melepaskan sang kakek dari cengkramannya.


Malda semakin terisak di pelukan Satria. "Maafkan kakek sayang.. Hukuman terbaik untuknya cabut semua kuasa yang ada pada dirinya, kemudian lepaskan ia di hutan ilusi. Agar ia bisa sadar akan kesalahannya. Jangan balas dendam padanya, bagaimana pun ia orang tua kita satu-satunya. Jangan membalas perlakuan sama sepertinya. Kalau begitu apa bedanya kita dengannya?" Ucap Satria lagi yang membuat malda berhenti dari menangis.


Ia mengurai pelukannya dan melihat pada Satria yang kini menatapnya dengan senyuman teduhnya. Malda mengangguk.


Binar mata biru pada keduanya masih terlihat. Malda beralih pada sang kakek yang terlihat tidak perdaya karena dikunci olehnya.


"Kita turun!"


Deg!


Malda mematung. Ia menoleh pada panglima Dani dan dayang As yang masih terpaku melihatnya dan Satria.


"Sudah sadar? Kayaknya setelah ini kita akan tidur panjang deh!" seloroh Satria yang disambut kekehan Malda padanya.


Satria tersenyum. Ia senang melihat malda sudah kembali seperti sedia kala. "Hemmm.. Baiklah. Bersiaplah Bang. Kita cabut semua kuasanya. Dan benar seperti yang Abang katakan, setelah ini kita akan tidur lama." Balas Malda yang diangguki serta kekehan Satria.


Karena yang Satria katakan memang benar adanya. Kekuatan mereka saat ini sangat terkuras banyak.

__ADS_1


Belum lagi keduanya sangat lelah saat ini. Belum selesai masalah pengorbanan keduanya, disambung dengan hutan ilusi, terakhir akan mencabut kekuatan sang kakek agar kembali seperti manusia biasa.


Malda dan Satria mengarahkan tangan keduanya pada puncak ubun-ubun raja Apilong dan menghisap semua kekuatan jahat itu dan mereka alirkan ke dalam telaga biru dimana mereka melayang saat ini dengan air telaga biru itu sendiri yang menjadi pijakan mereka.


Malda dan Satria merasakan hawa panas yang tiada tara saat kekuatan milik raja Apilong mereka sedot dan dialirkan ke dalam telaga biru yang seketika berubah menjadi hitam.


Namun, itu hanya sekejab. Setelah itu telaga biru kembali jernih lagi. Yang artinya kekuatan bersih dari telaga biru itu bisa menetralisir kekuatan hitam milik Raja Apilong.


Brruuukkk


Tubuh lemah dan renta itu jatuh ke dasar tanah hutan ilusi dengan wajah menghitam dan sangat buruk.


Malda menghela nafas panjang. Ia kembali merasakan sesak lagi di dadanya.


"Kita turun dan bicara dulu dengan panglima Dani dan dayang As. Setelah ini kita boleh tidur. Ayo." Ajak Satria pada Malda yang terlihat sudah sangat lelah.


Mereka meninggalkan raja Apilong yang tergeletak berdaya. Kekuatannya sudah habis tak bersisa. Saat ini, ia hanya orang biasa saja.


Pembalasan itu pantas untuknya daripada kematian. Karena tiada pembalasan setimpal yang lebih menyakitkan dibandingkan dengan kematian.


Bagi seseorang yang memiliki ilmu kesaktian, sangat buruk bila semua kekuatan nya dicabut dan diserap begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2