
Malam harinya di kediaman alamrhum Opa dan Oma kembali diadakan acara tahlilan. Warga sekitar komplek pun ikut hadir.
Segala sesuatunya sudah di urus oleh usaha mereka. Mulai dari kue, nasi untuk para pembaca tahlil dan juga minumannya sudah diurus semua oleh semua usaha mereka.
Acara tahlilan itu berjalan dengan baik. Malda dan Satria pun ikut hadir setelah istirahat sebentar tadi sore.
Sejak kepulangannya dari menangkap pembunuh sang Opa dan Oma, Malda tidak keluar lagi sampai maghrib tiba.
Papi Lana tidak mempermasalahkan hal itu. Ia pun maklum akan keadaan Malda. Putri sulungnya yang ia urus sedari bayi, kini sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik keturunan datok Amirullah Syam dan Puan Maharani itu.
Dan ia pun sudah menikah dengan sepupunya sendiri. Juga sudah memiliki keturunan. Yang berarti Papi Lana kini sudah menjadi Opa muda.
Begitu kata Malda tadi sebelum acara tahlilan berlangsung saat papi Lana menggendong anak Malda dan Satria itu.
Yang digadang-gadang akan menjadi penerus keduanya kelak. Papi Ali dan mami Kinara yang bertugas mendidik keduanya.
Di bawah asuhan keduanya, dua pangeran Malda itu pasti akan sangat berguna nantinya. Karena menurut isi surat almarhum Opa Gilang dan Oma Alisa jika setelah pembunuh mereka di tangkap, maka Malda dan Satria harus kembali ke malaya.
__ADS_1
Tampuk kekuasaan disana sangat membutuhkan keduanya.Tunggu sampai tujuh hari acara tahlilan itu selesai, barulah Malda dan Satria akan berangkat kembali ke Malaya.
*
*
*
*
Malda dan Satria menjelaskan dengan tenang. Mereka tidak hanya berdua. Keduanya di temani oleh papi Lana dan papi Ali yang lengkap membawa bukti tentang kasus pembunuhan berencana itu.
Polisi tentu saja kaget dnegan bukti-bukti yang cepat sekali terkumpul itu. Mereka jadi curiga. Bahwa kedua almarhum itu meninggal, mereka sudah tahu jika ini akan terjadi.
Papi Lana menjawab iya. Karena memang seperti itulah yang tertera di dalam surat itu. Yang menjadi masalahnya saat ini ialah, Malda tidak mau melepaskan totokan urat saraf itu hingga satu bulan lamanya yang membuat Papi Lana dan papi Ali kelimpungan mencari akal untuk mengecoh polisi dengan kelakuan Malda itu.
Katanya, "Biarkan saja mereka merasakan kenikmatan tidak bisa bergerak dan bernapas dalam waktu satu bulan! Itu belum setimpal dengan Opa dan Oma yang mereka coba bu nuh sedari dulu! Cukup Pi! Jangan larang kakak! Urus saja pihak polisi agar tidak banyak bertanya yang membuat kalian berdua kebingungan menjawabnya!"
__ADS_1
"Tunggu sampai kakak kembali dari Malaya, baru kakak lepas totokan itu!" lanjutnya lagi yang membuat kedua orang tuanya itu hanya bisa pasrah.
Malda tidak mau melepaskan totokan itu sampai ia kembali dari Malaya satu bulan lagi. Karena hari itu juga ia harus kembali ke Malaya. Sebab Panglima Dani dan juga kakek Filips kini sudah berulang kali menghubungi mereka untuk segera kembali.
Malda dan Satria pun sudah memutuskan. Mereka akan segera kembali. Raja Butyan Kunu akan menjadi urusan pihak imigran. Ia terbukti melakukan pelanggaran sebagai pendatang ke Indonesia.
Ia sudah dibawa dan di hukum di negaranya. Satria dan Malda belum tenang sebelum tahu keputusan hakim disana.
Untuk sementara, malda harus berdamai dengan keadaan. Ia terpaksa harus kembali ke Malaya dengan dua tugas. Ia terpaksa meninggalkan kedua putranya bersama dayang lain yang ikut serta bersama mereka.
Dayang as dan nenek Kinanti, harus ikut pulang bersamanya ke Malaya. Karena permintaan suami mereka.
Malda tidak bisa menolaknya. Bagaimana pun kedua orang itu sudah menikah dan memiliki tanggung jawab untuk suami mereka.
Hari itu juga Malda dan Satria kembali ke Malaya. Hari aqiqahan yang seharusnya terjadi ketika tujuh hari kelahiran, terpaksa di undur karena masih berkabung.
Aqiqahan itu akan terjadi satu bulan ke depan. Di saat Malda dan Satria sudah kembali dari Malaya nantinya dan berkumpul dengan mereka kembali.
__ADS_1