Kembalinya Ratu Telaga Biru

Kembalinya Ratu Telaga Biru
Terpaksa menjadi Panglima dihadapan mereka


__ADS_3

Malda tertawa begitu pun dengan Ali.


"Tenang dulu, Mi. Panglima Satria memang sama seperti Opa Gilang, Papi Lana dan Papi Ali. Beliau juga sama seperti kalian bertiga. Kakak nggak nyangka juga sih." Malda melirik sekilas pada Satria yang kini berwajah datar pada semua orang untuk menutupi luka hatinya mengingat ia hampir saja kehilangan Malda.


"Pertama kali melihatnya, kakak sempat kaget. Tetapi setelah lama mengenalnya, kakak tau ia pemuda yang baik yang rela menaruhkan nyawanya untuk Kakak. Jika bukan karena nya, mungkin saat ini kakak sudah tiada. Tapi berkat Panglima Satria yang merupakan saudara sepupu kakak, kakak bisa kembali ke dunia ini dan menjadi ratu di pulau Malaya. Ratu kerajaan Telaga biru. Mami lihatlah keluar!" tunjuk Malda pada dua mobil yang berdiri dihadapan rumah Kinara seperti pengawal.


Kinara memicingkan matanya. "Kamu itu yang benar saja Panglima! Masa' iya rumah saya menjadi kayak gitu sih? Kenapa harus banyak pengawal sih berjaga-jaga?? Yang kayak rumah saya ini sarang penjahat saja!" ketus Kinara mendadak kesal melihat para pengawal memakai baju serba hitam diluar sana.


Malda tertawa melihat kejutekan Kinara pada suaminya. Entah apa yang akan terjadi jika sampai mereka tahu jika Satria adalah suami Malda.


Satria terpaksa menutupi identitasnya karena Malda yang saat ini belum lulus sekolah. Bahkan sudah tertinggal satu tahun lamanya.


Satria menghela nafasnya sejenak, "Maaf Nyonya. Saya harus membuat ini. Saya takut akan keselamatan Ratu kami. Tuanku Ratu Maldalya. Semua ini demi keselamatan nya. Sama seperti yang selalu anda lakukan. Berdoa untuk ratu. Begitu juga dengan saya. Bukankah doa dan juga usaha itu harus??" ucap Satria dengan serius tetapi tetap dibalas dengan sikap ketus Mami Kinara padanya.

__ADS_1


"Saya tau itu tanpa kamu mengatakannya ! Tetapi tidak dengan banyak pengawal juga kali. Yang kayak rumah saya ini bandit saja!" ketus Kinara lagi


Malda terkekeh, "Maafkan saya Nyonya. Saya terpaksa melakukan ini. Saya pernah kecolongan saat menjaga Ratu Maldalya. Kami kehilangan jejaknya. Dan saat kami tau, beliau sudah dibuang ke dalam telaga biru yang airnya bisa membekukan seluruh tulang dan jantung dalam waktu lima belas menit!"


Ddddduuuaaarrr..


"Apa?! Kenapa bisa begitu?? Kakak!" seru Kinara dengan emosi naik hampir ke ubun-ubun.


Ali yang melihat itu segera mendekati Kinara dan mengelus tubuhnya dengan lembut. "Sabar sayang.. Ingat? Kamu saat ini sedang apa? Mau, kalau kedua anak kita nantinya keluar sebelum waktunya?" ucap Ali yang membuat Malda pura-pura terkejut walau sebenarnya ia sudah tahu.


Kinara dan Ali saling pandang. "Haha. Nggak sayang. Mami Maura tidak ingin hamil lagi. Sudah cukup katanya dengan kalian berlima saja. Sedangkan Mami?? Mana mau Mami seperti itu? Lah wong Mami masih sanggup kok. Iya kan bang?"


Ali tersenyum dan mengangguk. "Alhamdulillah kalau begitu. Kakak senang mendengar nya." Ucap Malda dengan tersenyum lembut pada Kinara dan Ali. Malda melirik pada sang suami yang kini terus menatap pada sang istri dengan tatapan teduhnya. Ali tahu itu.

__ADS_1


Ia tersenyum, Pasti bukan hanya sekedar Panglima saja. Terlihat jelas di kedua matanya ada pancaran cinta yang begitu besar untuk Malda. Batinnya.


Panglima Satria terus saja menatap Malda. Gadis kecil yang mampu meluluhkan hatinya hanya karena sikap lembutnya itu.


Malda menoleh padanya dan tersenyum, dibalas anggukan oleh Malda. "Mami. Kakak boleh nggak nginap disini sementara waktu?" tanya Malda hati-hati.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu Nak? Ini juga rumah mu. Sebaiknya Mami menghubungi Papi kamu dulu. Agar pria tua itu tidak terus terpuruk karena kepergian mu. Kamu tau nak? Setelah kepergian mu beberapa bulan yang lalu. Papi kamu sempat mengalami drop hingga ia masuk rumah sakit dan berobat hingga sebulan lamanya,"


Deg!


"Apa? Kok bisa gitu Mi?" tanya Malda pada Kinara dengan raut wajah yang begitu terkejut.


"Ya bisalah, nak. Papi kamu shock karena kepergian mu yang salah paham sama kami pada waktu itu. Kami tidak bertengkar karena mu. Tetapi ucapan kedua papi kamu ini yang membuat kami marah. Mereka mengatakan jika mereka berdua akan pergi tetapi belum tentu bisa kembali. Ya marah dong Mami? Nggak salah kan?"

__ADS_1


Malda dan panglima Satria terdiam. Panglima Satria terus saja menatap dalam pada Kinara dan Ali.


"Andai kalian tau apa yang terjadi pada adik sekaligus istriku ini, pastilah kalian lebih memilih mati daripada harus melihatnya seperti itu.." batin Panglima Satria dengan menatap datar pada Malda yang kini tersenyum lembut pada Kinara dan Ali yang menangis karena penjelasan Malda baru saja.


__ADS_2