
Papi Lana masih mengingatnya dengan jelas saat di dalam mimpi itu.
Ia merasa dirinya sedang di taman bunga yang begitu luas. Seperti taman bunga milik Oma Alisa di rumah mereka di kota Medan.
Papi Lana berjalan menyusuri taman itu hingga menemukan Ayah Emil, Mami Kinara dan Papi Ali, begitu juga dengan Oma Alisa dan Opa Gilang.
Mereka menoleh padanya saat melihat papi Lana mendekati mereka semua.
''Ayah?? Ayah kenapa?? Kenapa berdarah seperti ini? Loh, Ali?? Ali kenapa?!'' pekik papi Lana saat melihat papi Ali terkapar tak bernyawa di pelukan mami Kinara yang sedang menangis pilu.
''Dek?? Kamu kenapa? Kok nangis?? Loh, loh? Kamu sedang hamil?! Kok bisa?! Bukannya aku belum lagi menyentuhmu bukan?! Kenapa ini? Ada apa ini?! Mak!'' panggil papi Lana pada Oma Alisa di dalam mimpinya.
Oma Alisa menatap papi Lana dengan wajah berseri dan tersenyum manis padanya.
''Papi??'' panggil papi Lana lagi pada Opa Gilang.
''Jaga kakak dan adikmu Bang.. kami harus pergi. Tempat kami bukan disini. Mungkin ayah yang dulu pergi??''
Deg!
Papi Lana terkejut. ''Nggak! Mak nggak boleh pergi! Ini ada apa sih?! Ada yang bisa jelaskan tidak?! Ini, ini kenapa lagi?! Ali kenapa, Dek?! Ali kenapa?!'' seru papi Lana dengan suara meninggi.
Mami Kinara menoleh padanya. ''Hiks, suami adek, Bang! Ia jatuh ke jurang saat bertugas, tapi tidak bisa pulang karena tubuhnya tersangkut di batu karang. Dan saat di temukan pun, keadaannya jadi seperti ini! Hiks.. bang Ali.. nggak! Abang nggak boleh ninggalin Adek! Abang harus bangun! Bangun Bang! Gimana dengan anak kita?!'' pekik Nara sembari mengguncang tubuh papi Ali yang tidak berdaya.
Papi Lana tertegun. ''A-ali ja-jatuh ke-ke ju-jurang?! Kok bisa?!'' serunya denganmata membulat.
Ia mendekati ayah Emil yang terdiam dengan raut wajah pucat. Ayah Emil menepuk bahu papi Lana dan menunjukkan sesuatu di balik pohon itu.
__ADS_1
''Adek...''
Deg!
''Adek?? adek yang mana??'' tanya papi Lana kebingungan.
Ayah Emil menunjuk Annisa yang sedang menangisi Tama juga. Lagi, Lana tertegun. ''I-ini ada apa sih?! Kok bisa begini semuanya?! Ada apa?! Kenapa kalian seperti ini?! Kenapa ayah, Mak, Papi, adek Annisa dan bang Tama ada disini?! adek Nara juga?! Ada apa ini ya Allah.. ada apa huh?!'' seru papi Lana lagi.
Tak ada yang menyahuti ucapan papi Lana semua nya terdiam seribu bahasa. Papi Lana masih saja tertegun dengan kedua saudara dan juga ketiga orang tuanya.
Entah Kenapa hatinya begitu tidak nyaman dengan yang ia lihat ini. ''Pulanglah nak. Tempat mu bukan disini. Tapi di rumah mu. Jaga Kakak dan adikmu. Terutama Nara dan Annisa. Mereka sangat butuh dirimu saat ini. Kami harus segera pergi. Ayo Bang, Papi! Kita pergi!'' Kata Oma Alisa pada kedua suaminya.
Ayah Emil tersenyum dan mengangguk, begitu juga dengan Opa Gilang. Mereka bertiga bergandengan tangan menuju cahaya putih yang baru saja ada. Entah darimana cahaya itu, papi Lana pun tak tahu.
Yang jelas, kedua orang tuanya pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Wajah ketiganya begitu berseri-seri seperti bulan purnama yang sedang penuhnya.
Ia berdiri menjulang tepat dihadapan kedua orang tuanya yang sedang tersenyum menatap nya sedang Lana menatapnya dengan raut wajah kebingungan.
''Pi??'' panggilnya pada Opa Gilang.
Opa Gilang tersenyum dan mendekati putra sambungnya itu. Ia memeluk putra sulungnya itu dengan sayang.
''Nak.. waktu kami hampir tiba. Maka dari itu, kami harus pergi. Papi harap, kamu bisa menjaga Kakak dan kelima adikmu dengan baik. Jaga dan sayangi mereka seperti kami menyayangi mu. Kamu ayah bagi mereka. Kamu pengganti Papi dan Ayah Emil, hem? Bawa pulang Ali untuk Nara satu tahun lagi. Jika tidak bisa, suruh Ali untuk kabur agar bisa menemui Nara..'' lirihnya dengan wajah tertunduk
Papi Lana semakin kebingungan. ''Ayo GI. Waktu kita tinggal sedikit. Jarak kita dengan dunia mereka itu berbeda sekali. Ayo!'' ajak ayah Emil lagi.
Opa Gilang mengangguk. Opa Gilang melepaskan pelukannya dari tubuhpapi Lana. Kemudian mereka bertiga pergi bersama ke cahaya putih itu.
__ADS_1
''Tunggu Mak! Ayah! Papi! Abang masih bingung! Ini ada apa sih?! Kalian mau kemana?!'' seru papi Lana sambil berlari mengejar letih orang itu yang semakin menghilang dalam cahaya kabut putih itu.
''Nggak! Kalian nggak boleh pergi! Masa' iya Abang baru dapat berita bahagia malah menjadi bencana sih?! Adek!'' serunya saat mengingat mami Kinara dan Annisa.
Ia berlari dengan kencang menuju mami Kinara dan mami Annisa.
Deg!
Papi Lana berhenti di tempat. Ia tidak melihat siapa pun disana. ''Adek! Nara!! Annisa!! Kalian di mana!!! Abang disini!!!'' seru nya sambil berteriak mengelilingi taman itu.
Taman yang sama persis seperti taman bunga Oma Alisa di kota Medan. ''Kalian kemana sih?! Ini ada apa sebenarnya?!'' pekiknya semakin merasa tidak tenang.
Papi Lana berjalan kesana kemari untuk mencari kedua adiknya. Tapi tidak juga ia temukan. Lelah harus mengelilingi seluruh taman, Papi Lana berhenti di sebuah pohon rindang.
Matanya terpejam saat merasakan hembusan angin sepoi-sepoi menyentuh tubuhnya yang lelah karena mengejar kedua orang tuanya dan juga semua adiknya.
...****************...
Udah ingat kan ye?
Mana yang udah baca Muara Cinta Maulana pasti tahu dengn mimpi ini.
Pantengin terus!
Beberapa bab lagi tamat!
Janagn sampai ketinggalan ye?
__ADS_1