
Hari-hari yang keduanya lewati kembali membaik. Sesekali Malda juga memantau perkembangan rumah sakitnya yang terhenti akibat raja Butyan Kunu itu.
Rumah sakit Malda terpaksa berhenti lantaran para pekerja tidak sanggup untuk bekerja disana. Malda yang tahu pun hanya bisa mengangguk.
Ia kembali memulihkan kawasan rumah sakit itu. Dan seketika saja semua pekerja kembali sehat dan bersemangat.
Ternyata raja Butyan Kunu itu tidak kaleng‐kaleng dalam menyalurkan hawa hitam di kerajaan Malda dan Satria. Ia sampai membuat semua kawasan itu di liputi awan hitam yang kini sudah bersih dibersihkan oleh Malda.
Sudah dua minggu berlalu.
Kini kerajaan Malda sudah beroperasi kembali. Ia semakin sibuk dengan tugas barunya memantau perkembangan rumah sakitnya. Sementara Satria disibukkan dengan banyak berkas diruang kerja nya.
Satria sampai menggeleng melihat berkas-berkas yang menumpuk itu. Padahal baru berapa bulan saja mereka tinggalkan.
Tapi sudah banyak berkas yang menumpuk di meja kerjanya.
"Kalau seperti ini mah.. Kamu ajalah sayang yang kembali ke Medan dua minggu lagi untuk mengikuti acara aqiqahan adik kamu?" Ucap Satria yang dijawab helaan napas panjang oleh Malda.
"Jadi.. Abang nyuruh aku pulang sendiri gitu?" ketusnya mendadak kesal pada Satria yang kini meringis mendengar ucapan ketus istrinya.
Kakek Filips tertawa. Nenek Kinanti pun ikut tertawa.
"Bukan apa sih. Lebih baik salah satu 'kan yang hadir? Kamu lebih di butuhkan disana Sayang. Dua pengeran kita saat ini tinggal bersama mereka loh.. Walau kamu sudah meninggalkan stok ASI untuk sebulan. Tetap saja, kamu ibu nya. Bunda nya. Kamu harus kembali kesana. Kamu harus kesana tanpa Abang. Abang izinin kamu pergi kok. Jadi.. Jangan takut kalau Abang nggak ngizinin kamu!" Ujar Satria yang ditanggapi dengan dengkusan keras oleh Malda.
__ADS_1
"Terserah Abang lah. Iya aku pulang sendiri!" ketusnya lagi dengan segera berlalu meninggalakan ruang kerja sang suami dan masuk ke kamarnya untuk menghubungi mami Kinara dan ingin melihat dua pangeran kecilnya yang selalu ia rindukan itu.
Tak bisa di pungkiri jika Malda pun sudah merindukan duo bocah nakal nya itu.
Kakek Filips menyuruh Satria untuk menemui Malda yang sedang merajuk itu.
Satria pun mematuhi ucapan sang kakek dan menuju ke kamarnya. Tiba di kamar, ia segera bergabung dengan Malda yang kini sedang tertawa melihat tingkah lucu putranya yang kini sedang di jaga oleh papi Lana, papi Ali dan Mami Maura.
Ketiga orang itu dibuat kewalahan dengan tingkah aktif kedua putranya yang membuat papi Lana sampai menggerutu saking kesalnya.
"Ini anak manusia atau anak kodok sih Kak?" ketusnya pada Malda melaui sambungan ponselnya.
Satria tertawa begitupun dengan Malda.
Satria kembali tertawa mendengar ucapan Malda pada sang papi yang kini mendengkus keras menanggapi ucapannya.
"Iyalah anak cebong? Kan cebong suami kamu?" ketusnya lagi yang di tertawakan oleh kedua pasangan muda dan saling mencintai itu.
"Hahaha.. Jangan marah atuh Pi. Besok kakak kembali ke Medan. Tetapi hanya sendiri. Bang Satria nggak ikut."
"Kenapa?" tanya mami Kinara yang baru saja bergabung seusai menyusui kedua putri kembarnya yang kelak akan menjadi jodoh pangeran Salman dan Salim.
"Abang nggak bisa ikut Mi. Berkas di kerajaan sangat banyak! Abang pusing untuk membereskannya. Itu aja dibantu kakek sama nenek. Malda juga. Hadeuuhh.. Baru berapa bulan saja kami di Indonesia, tapi berkas yang di tinggal sudah sangat banyak!" keluh Satria pada mami Kinara yang ditertawakan oleh kedua anak kembarnya.
__ADS_1
Satria pun ikut tertawa melihat tingkah absurd putra nya itu.
"Hadeuuhh.. Ini cebong bakalan buat papi rusuh ini kalau besar nanti!"
Hahahaha..
Malda dan Satria tertawa bersama mendengar keluhan sang papi terhadap kedua putranya itu.
"Kalau nakal, masukin pesantren aja pi. Kayak kakak sama Bang Satria dulunya." Imbuh Malda yang diangguki oleh Papi Lana, Papi Ali, Mami Maura dan mami Kinara.
"Kamu benar Kak. Serahkan saja tugasnya pada kami!" jawab mami Kinara yang dibalas dengkusan kuat oleh Papi Lana.
"Iya serahkan sama kamu! Tapi Abang yang kena getahnya! Lihat aja nih bocah! Hadeuuhh.. Haishh.. Ngapain kamu masuk sarung Opa sih, Nak? Bisa kelihatan burung Opa sama kalian berdua! malu ih!" tegurnya pada Putra Malda dan Satria yang sangat suka bermain dibawah sarung papi Lana yang sering ia kenakan.
Bukan sekali dua kali. Tetapi seringkali. Hingga pemuda tampan di usia dewasanya itu sering kali menggerutu kesal karena ulah cucu nya itu.
Malda dan Satria hanya menaggapi nya dengan tertawa saja. Keputusan mereka meninggalkan si kembar disana sangat tepat.
Karena selama tinggal disana, kedua putranya itu selalu senang dan bahagia. Ditambah lagi jodoh kedua pangeran itu berada disana.Yang membuat keduanya selalu ingin bersama calon permaisurinya itu.
Malda akan kembali besok pagi ke Indonesia. Tidak menunggu dua minggu lagi. Lebih cepat, lebih baik menurut Satria. Dan Malda menurutinya.
Keduanya bahagia saat melihat putra mereka selalu senang saat bersama Opa dan Oma mudanya.
__ADS_1