
Satria menatap sendu pada Malda yang kini sudah berlalu mengejar Oma Alisa dan Opa Gilang yang sudah masuk kerumah makan terlebih dahulu.
Papi Lana ingin mendekatinya. Tapi cekalan tangan Kinara menghentikannya. "Mami lebih butuh kita Bang Lana!" tegasnya yang diangguki oleh Papi Lana.
Satria menunduk kala tatapan tajam Papi Lana serasa menguliti tubuhnya. Tetapi bukan itu yang Satria takutkan.
Ada hal lain yang membuatnya takut. Papi Ali mendekatinya.
"Ayo, jangan pikirkan Papi kamu. Nanti Papi yang bantu bicara padanya. Karena Papi dan Mami tahu jika kalian berdua itu saling mencintai tapi lebih dari itu."
Satria menoleh padanya. Papi Ali tersenyum. "Jujur Bang. Papi nggak akan marah kok." lanjutnya lagi yang membuat Satria semakin menunduk.
Papi Ali membawanya ke suatu tempat yang jauh dari mereka semua. "Ceritakan sama Papi. Agar Papi bisa membantu mu saat Papi Lana nanti berusaha memisahkan kalian."
Satria mendongak. "Kamu belum tahu seperti apa tegasnya papi Lana tentang Malda. Malda itu putri sulungnya jauh sebelum ia menikah dengan mami Maura. Karena Malda lah keduanya menikah. Malda sangat istimewa untuknya, bang. Bahkan ia sampai sakit selama satu bulan karena kepergian Malda. Maka dari itu. Katakan yang sebenarnya kepada papi. Agar saat papi kamu tahu kebenaran atau apapun itu yang menyangkut dengan Malda, kamu sudah memiliki tameng."
Satria menghela nafas panjang. Ia menatap lurus ke depan dimana saat ini Oma Alisa sudah sadar berkat bantuan Malda yang menyalurkan tenaga dalam nya.
"Malda segalanya untuk ku papi. Dia hidup dan matiku. Sedari pertama melihatnya ketika aku masih SMP dan Malda masih berusia lima tahun, hati ini sudah memilihnya. Papi benar. Kami bukan hanya saling mencintai. Tetapi juga sepasang suami istri. Kami di nikahkan saat tiba di kerajaan ayahanda Amir. Karena kami berdua memang sudah terikat takdir. Kekuatan kami berdua harus bersatu dengan cara kami menikah. Malda memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi saat ini. Begitu juga denganku. Kami satu. Tidak bisa dipisahkan. Jika dipisahkan, salah satu dari kami akan merasakan sakit. Yang lebih sering sakit itu Malda. Karena umurnya masih sangat muda. Dan ya, kami sudah memiliki keturunan selama setahun ini."
Deg!
__ADS_1
Mata papi Ali membola. "Keturunan? Maksudmu anak?"
Satria mengangguk, "Iya Pi. Mereka pun ada disini kok. Dirumah kami. Untuk sementara keberadaan keduanya harus di sembunyikan dahulu karena status Malda yang masih sekolah. Kami pulang kesini untuk melanjutkan sekolah kami yang tertunda. Aku sendiri belum lulus Pi. Masih tersisa satu tahun lagi untuk lanjut S2."
Lagi, mata papi Ali membola. "S2?" ulangnya yang ditanggapi kekehan oleh Satria.
"Iya pi. S2. Dan Malda harus menyelesaikan sekolah SMA nya sebelum kami kembali ke Malya. Hanya saja.. Sesautu yang baru saja terlihat jelas itu begitu menakutkan pi. Aku dan Malda bisa melihat dan merasakannya bahwa itu akan segera terjadi.." lirih Satria dengan dada yang kembali sesak.
Papi Ali termenung memikirkan ucapan Satria. Ia sedang menerka. Apa dan seperti apa yang akan terjadi di masa depan.
Seolah masa lalu dan masa depan mereka sekeluarga Satria tahu.
Keduanya terkejut saat lambaian tangan Malda memanggil keduanya. Mereka berdua segera berlalu ke dalam dimana semua orang sedang menunggu kedatangan kedua orang itu.
Tiba disana. Satria menyalimi Opa Gilang dan Oma Alisa. Wanita paruh baya itu memeluk Satria dengan erat. Keduanya menangis.
Malda yang melihat itu pun segera mendekati Opa Gilang dan memeluk pria paruh baya kesayangan semua orang itu.
"Nak.."
"Oma.. Maafkan kami.." lirih Satria dengan dada yang begitu sesak.
__ADS_1
"Tidak nak. Kalian tidak salah dalam hal ini. Semua ini sudah menjadi takdir dan ketetapan untuk kami. Bukankah ajal itu sudah ditentukan di lauhul Mahfudh??"
Satria tersedu. Begitu pun dengan Malda. Ia pun semakin erat memeluk tubuh Opa Gilang yang kini juga membalas pelukan Malda.
"Semua itu sudah menjadi takdir kami. Kalian tidak usah khawatir. Mati itu memang harus untuk semua manusia. Kita di hidupkan di dunia untuk meninggal. Bukan untuk tinggal. Kita dilahirkan untuk beramal banyak dan mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita. Kamu tidak salah jika itu terjadi kepada kami berdua. Karena itu memang harus. Semua itu sudah menjadi takdir kami berdua. Tidak masalah asalkan kami selalu berdua. Mati pun kami berdua dan di kuburkan pun kami berdua."
Deg!
Semua yang mendengarnya mendadak terkejut. Mereka menatap nanar pada mereka berempat yang kini saling berpelukan.
"Mami.." lirih mami Kinara mendadak sendu.
Oma Alisa mengurai pelukannya dari Satria dan melihat pada mami Kinara yang kini sudah meneteskan air matanya.
"Sini Nak." pinta nya pada mami Kinara yang kini semakin tersedu ketika tiba dihadapan Oma Alisa.
"Ingat pesan mami, Nak. Semua ini berlaku untuk kalian anak mami juga. Hidup dan mati itu sudah menjadi ketetapan takdir. Kita tidak bisa menolaknya. Cepat atau lambat, suatu saat kita pasti akan menemui ajal kita. Untuk itu.. Jika suatu saat kalian semua mendapatkan kabar tentang berita kematian kami berdua.. Kaliansemua harus kuat. Kalian harus ikhlas. Karena kalian pun akan ikut bersama kami nantinya. Tetapi terlebih dahulu kami lebih dulu yang akan pergi dan kalian akan menyusul."
"Selalu bersama dalam keadaan apapun. Kalian semua harus bersatu dan saling menguatkan ya?"
"Ikhlaskan kepergian kami berdua agar kami tenang disana. Semua pasti akan menyusul kesana. Tak kan ada yang abadi di muka bumi ini. Semuanya pasti akan kembali ke tempat asal kita sebelum dilahirkan ke muka bumi ini." timpal Opa Gilang yang membuat semua anak mereka menangis tersedu.
__ADS_1