
Saat melintasi hutan di sisi kiri telaga biru itu, tak sengaja mata sayu nan lembut Malda menangkap siluet berbulu lembut berwarna putih melihat padanya.
Mata itu bersinar terang berwarna biru sama seperti air yang di telaga di tepi mereka saat ini. Malda terkekeh di atas tunggangannya saat melihat seekor rubah sedang mengikutinya.
"Berhenti sebentar! Ada yang ingin aku lihat!" katanya pada semua pengawal dan dayang istana
Mereka saling pandang tetapi tidak menghentikan laju jalannya kuda mereka. "Maaf yang mulia. Kita dilarang berhenti di hutan ini. Hutan ini memiliki sifat ilusi yang sangat kuat. Hingga siapa saja yang berhenti disini, pastilah akan masuk ke dalamnya dan tidak akan pernah keluar lagi." Jelas salah satu pengawal setia Tuan Kasmir.
Malda tersenyum, "Aku tau Panglima. Tenanglah. Abang?" panggilnya pada Satria yang kini juga sedang melihat dibalik sebuah pohon besar dan rerimbunan daun itu ada sesuatu yang sedang mengikuti mereka.
"Kita turun!" katanya pada mereka semua.
Panglima itu ketakutan. Ingin melawan dan menegur lagi tetapi tidak bisa. Mereka pun semuanya berhenti dan ikut turun dari kuda.
Tiga orang mengikuti Satria dan Malda yang sudah lebih dulu menuju pohon besar yang sangat menyeramkan itu.
Saat mereka semakin mendekat, suara rintihan kesakitan itu semakin terdengar lirih. Malda yang sangat tajam pendengaran nya langsung saja berlari ke balik pohon itu berdua dengan Satria.
Deg!
Deg!
"Astaghfirullah! Siapa yang melakukan ini padamu?! Ya Allah.." lirih Malda dengan segera berjongkok dan mendekati binatang berbulu lembut dan berwarna putih itu.
Kedua tangan itu bersatu dan menimbulkan cahaya biru yang bependar ke seluruh hutan itu.
Duam!
__ADS_1
Terdengar suara ledakan di ujung sana. Semua pengawal mereka terkejut. Mereka ingin kesana, tetapi Satria melarangnya.
"Apa itu?!"
"Jangan! Kalian jangan kesana. Tetap disini. Seperti yang Panglima tadi katakan kalau hutan ini penuh dengan ilusi. Tetap disana. Kekuatan kami berdua akan menjaga kita semua." Katanya pada pengawal dan dayang mereka.
"Baik yang mulia.." jawab mereka pasrah.
Mata itu awas melihat sekitar. Malda terus memegangi kaki binatang seperti rubah itu. Malda merasa iba melihatnya. Ia membelai tubuh itu dengan sangat lembut.
"Maaf sebelumnya. Bolehkah aku mengobati luka mu? Luka mu ini sangat parah?" ucapnya pada rubah yang kini sedang terpejam itu.
Tahu jika pertolongan sudah datang, ia membuka matanya dan melihat Malda serta Satria.
Deg!
Deg!
"Bukan! Saya Rubah bermata biru hewan kesayangan yang mulia Puan Maharani..." lirihnya dengan bibir bergetar.
Malda dan Satria mematung di tempat. "Kamu.. Bisa bicara??" tanya Malda dengan raut wajah terkejut.
Ia tersenyum. "Hanya pada mu yang mulia Ratu Maldalya dan Paduka Raja Satria saja hamba bisa berbicara!"
"Hah?"
Malda dan Satria menganga mendengarnya. Rubah kecil sebesar anak kambing itu terkekeh. "Bantu saya yang mulia. Saat ini anak-anak hamba sedang membutuhkan hamba. Mereka sedang di tawan di tempat yang terdengar suara ledakan tadi." ucapnya masih dengan melihat Malda dan Satria.
__ADS_1
"Maksudnya? Anak kamu sedang ditahan begitu? Bukankah ini kawasan ilusi?? Lantas, kenapa kamu bisa disini?" tanya Malda masih belim paham dengan apa yang dijelaskan olehnya.
Rubah itu tersenyum lirih padanya. "Bisakah anda membantu saya dulu? Baru setelah ini akan saya jelaskan lagi kenapa dan apa."
Malda menoleh pada Satria yang kini juga menoleh padanya. Satria mengangguk. "Baik, kami berdua akan membantu mu. Berikan tangan mu!" pintanya pada rubah betina itu.
Rubah itu memberikan tangannya. Malda segera memegangnya dan mulai melihat ada kejadian apa.
Malda tersentak saat melihatnya. Tanpa melepaskan tangan rubah itu, tangan Malda dan Satria yang bertaut, langsung mengarah dimana ke sembilan anak rubah itu berada yang saat ini sedang di tawan.
Duaaammm!!!
Semua yang ada disana tersentak. Malda tersenyum. Dengan sekali kedipan mata yang terbuka dan terutup lagi, sembilan anak rubah itu sudah berada dihadapan Satria saat ini.
Sembilan anak rubah itu tersenyum melihat Satria yang kini tersenyum melihat mereka semua.
Satria menyentuh salah satunya dan..
Deg!
"Loh? Kenapa mengabur dan hampir menghilang?" tanya Satria begitu terkejut.
Induk rubah itu tersenyum, "Karena mereka tahu tempat mereka kembali sudah ada disini. Lihatlah!" tunjuknya pada sembilan anaknya yang kini berubah menjadi cahaya kebiruan dan membentuk cahaya bulat berwarna kebiruan seperti air telaga biru itu.
Cahaya bulat terang itu mendekati leher Satria, kemudian beralih pada Malda dan berhenti disana. Malda terdiam.
Ia seperti merasakan sesuatu yang hangat sedang mengalir ke tubuhnya. Begitu pun dengan Satria. Cahaya itu perlahan menghilang di leher Malda yang terbalut hijab.
__ADS_1
Induk rubah itu tersenyum. "Mereka sudah berada di tempat yang benar yang mulia ratu. Saat ini, mereka semua sudah bersama mu. Saya tidak memiliki kekuatan lagi setelah saya melahirkan sembilan ekor anak saya yang kini sudah berubah menjadi Batu Mutiara Rubah biru. Kini mereka bersemayan di diri kalian berdua. Silahkan lihat yang mulia Raja. Pastilah saat ini mereka disana." Imbuhnya dengan terkekeh kecil.