Kembalinya Ratu Telaga Biru

Kembalinya Ratu Telaga Biru
Di tangkap Polisi


__ADS_3

Para pembunuh itu harus dibawa kerumah sakit terlebih dahulu. Karena pihak kepolisian melihat mereka semua seperti meregang nyawa.


Polisi takut, jika para pembunuh itu mati pula sebelum mereka ditanyai. Pihak kepolisian berpikir jika mereka saat ini sedang sakit.


Tetapi sakit karena apa, itu yang mereka belum tahu. Oleh karenanya, polisi membawa mereka kerumah sakit untuk memeriksakan penyakit yang mereka alami saat ini disebabklan karena apa.


Malda dan Satria juga ikut kerumah sakit. Mereka menunggu dengan setia saat para pembunuh itu diperiksa oleh dokter satu persatu.


Butuh waktu satu jam untuk dokter mengurus enam belas orang itu dan mendiagnosa penyakit mereka itu karena apa.


Malda dan Satria sesekali terkikik saat dokter menjelaskan jika mereka tidak memiliki penyakit apapun.


Mereka hanya bisa mendiagnosa jika peredaran mereka saat ini sedikit tidak lancar dan tersumbat karena masalah tertentu. Dan juga pernapasan mereka sedikit tersumbat karena suatu hal.


Malda dan Satria hanya terkekeh saja saat dokter menjelaskan tentang diagnosa penyakit para pembunuh itu.

__ADS_1


Untuk sementara mereka itu harus dirawat dulu sampai mereka sadar kembali dan bisa berbicara dengan lancar.


"Jangan harap!" ucap Malda sambil berlalu pergi meninggalkan mereka semua yang saat ini menatapnya dengan tatapan permohonan


Malda melengos pergi. Ia tidak peduli dengan semua tatapan nelangsa dari para pembunuh itu. Satria pun demikian. Mereka berdua memilih pergi dan meninggalkan mereka semua menuju kantor polisi untuk memberikan bukti asli dari ponsel miliknya dan juga banyak dimintai keterangan kepada mereka berdua.


Pukul empat sore barulah keduanya tiba dirumah. Papi Lana sangat khawatir dengan keadaan keduanya. Hingga pada saat mereka berdua pulang, papi Lana langsung saja menemui mereka berdua dan banyak menyakan pertanyaan yang sama seperti polisi tadi saat di kantor polisi.


Malda dan Satria hanya bisa tertawa saja saat pertanyaan demi pertanyaan ditanyai oleh papi Lana pada mereka berdua.


Satria tertawa saja.


"Udah pi. Biarkan Malda istirahat dulu. Ia sangat lelah mengurusi enam belas para pembunuh itu. Salah satunya raja seberang yang papi sebutkan di dalam suratnya itu." Jelas Satria pada papi Lana yang diangguki olehnya.


"Ya sudah. Kalau begitu kamu istirahat juga. Nanti malam kita ada tahlilan yang akan diadakan oleh tetangga sekitar. Papi udah bilang tadi nggak usah aja. Tetapi mereka tetap ingin membuatnya sampai tujuh malam. Untuk mengirim doa pada kedua Opa dan Oma kamu katanya." Ujar Papi Lana yang diangguki oleh Satria.

__ADS_1


"Iya Pi, Abang istirahat dulu ya? Capek juga sih mengurusi enam belas pembunuh itu. Papi tidak usah khawatir lagi. Mereka semua sudah ditangkap polisi. Walau saat ini mereka masih berada dirumah sakit karena ulah kami berdua," Satria tertawa saat melihat mata papi Lana melotot padanya.


"Maksud kamu, mereka semua itu karena kalian berdua begitu??"


Satria tertawa lagi, "Iya pi. Putri sulung papi yang membuat mereka seperti itu. Abang hanya kebagian satu! Katanya, itu pembalasan darinya karena sudah berhasil mengusik ratu telaga biru dari Malaya."


Papi Lana berdecak. "Dasar! Harus sampai berapa lama itu mereka dirumah sakit?"


"Entahlah.Semua itu urusan Malda, Pi. Abang hanya ikut saja." Jawab Satria sesekali terkekeh mengingat kelakuan Malda tadi.


"Ya sudah, istirahatlah."


"Iya, Pi!"


Satria pun segera berlalu meninggalkan papi Lana diruang tamu yang cukup lebar tanpa sofa lagi itu. Beliau hanya bisa merenung mengingat kejadian dimana saat mereka berdua menemukan jenazah kedua orang tuanya dalam keadaan masih utuh dan berbau harum bahkan saat sudah di makamkan.

__ADS_1


Lagi, buliran bening itu mengalir tanpa di pinta. Papi Lana menyusut bulir bening itu. Ia pun seegra masuk ke kamar nya untuk beristirahat sebentar dan mandi sebelum melakukan sholat maghrib berjamaah dirumah besar peninggalan kedua orang tuanya itu.


__ADS_2