
Setelah perdebatan itu, kini Papi Lana memilih diam. Ia ingin membuktikan sendiri jika ucapannya itu memang benar.
Jika Malda dan Satria berani melakukan hal itu dirumahnya, maka keduanya akan ia hukum. Keduanya akan ia pisahkan.
Hari demi hari mereka lewati dengan damai. Tidak ada papi Lana yang mengamuk lagi. Malda masih tetap sekolah.
Ia diberikan keringanan untuk bisa mengikuti pelajaran cukup tiga bulan saja. Setelahnya ia harus ujian akhir seorang diri. Malda senang saat mendengar kabar itu.
Satria pun demikian. Ia tidak pernah meninggalkan Malda sedikit pun. Pemuda tampan berkumis tipis itu selalu menjadi incaran setiap guru yang masih gadis di sekolah Malda.
Mereka mengira jika Satria Abang Malda. Banyak yang mencoba mendekatinya. Tetapi ia tidak peduli. Baginya hanya Malda. Pernah sekali ia di lamar di depan umum yang membuat Malda marah bukan main.
Satria berusaha membujuknya. Agar Malda tidak salah paham padanya. Ia tetap setia dengan pernikahan mereka.
Satria tetap pada pendiriannya. Daripada membuat Malda semakin kesal padanya. Dengan sangat terpaksa ia mengumumkan hubungan keduanya dihadapan mereka semua.
Ia bahkan mengatakan pada semua orang kalau Maldalya Amirullah Syam putri sulung Papi Lana merupakan calon istrinya.
Mereka sudah di jodohkan sedari kecil. Mendengar berita itu membuat mereka kecewa. Tetapi tidak menyurutkan langkah mereka untuk mengambil perhatian Satria.
Ada saja ulah yang dibuat mereka yang seringkali membuat Malda cemburu hingga tidak ingin berbicara sepatah katapun dengan Satria.
__ADS_1
Seperti saat ini. Satria sedang mencoba menjelaskan kepadanya bahwa ia tidak memiliki hubungan apapun dengan guru sekolahnya itu.
"Ayolah sayang.. Abang udah jujur loh.. Abang nggak ada hubungan apapun dengannya. Abang tidak suka padanya."
"Tapi Ibu Kin Kin itu cantik bukan? Hingga Abang terpesona padanya!" ketus Malda begitu kesal saat ini.
Satria terkekeh, "Kan Kan kan? Beneran kan Abang menyukai guru genit itu kan?!" ketusnya lagi semakin kesal padanya.
Bibir Malda maju menjadi dua senti. Satria yang gemas segera mengecupnya.
Kecupan-kecupan singkat berubah menjadi paguutan nik mat untuk keduanya. Satria membawa Malda lagi ke puncak Nirwana.
Mereka akan pulang saat makan siang nanti.
Satria mengambil kesempatan itu untuk bisa mengarungi puncak nirwana bersama Malda. Karena setelah keributan itu terjadi, Satria tidak pernah lagi menyentuh Malda.
Ia di usir dari rumah Papi Lana dan menginap dirumah Papi Ali dan Mami Kinara. Kedua orang itu tidak keberatan. Malahan mereka senang karena Satria bisa menginap dirumahnya.
Satria dan Malda terus mereguk manisnya madu yang telah hampir sebulan ini tidak ia nikmati. Dan hari ini keduanya mengulang lagi.
Tanpa mereka tahu jika sang Papi telah pulang kerumah seorang diri karena mendapat pesan dari sekolah bahwa Malda telah selesai melakukan ujian sekolahnya.
__ADS_1
Mereka sibuk melakukan rutinitas suami istri yang sudah hampir sebulan tidak mereka rasakan.
Papi Lana berjalan cepat menuju kamar Malda. Baru saja ia ingin memegang gagang pintu itu, ia sudah di kejutkan dengan suara-suara aneh yang terdengar dari kamar Malda.
"Euugghh.. Bang!"
"Ya sayang.. Sebentar lagi! Euugghh.."
Dddduuaarr!!
Papi Lana membeku di tempat mendengar suara itu. Suara yang sering ia buat jika bersama istrinya. Mami Maura.
Ah..
Uh..
Suara lenguhan itu terus mengudara dan terdengar jelas dari dalam kamar Malda. Rahang Papi Lana mengetat.
"Satriaa!!!!!"
Deg!
__ADS_1