Kembalinya Ratu Telaga Biru

Kembalinya Ratu Telaga Biru
Papi Lana mengamuk


__ADS_3

Setelah acara makan malam mereka bersama. Malda dan Satria sudah pulang kerumah Papi Lana.


Dan saat ini keduanya sedang duduk di ranjang dengan saling berhadapan. Ada papi Ali yang menemani merekam berdua. Karena papi lana tidak bisa.


Kebetulan sekali beliau tidak pulang kerumah karena restoran miliknya masih ramai pengunjung.


"Sudah kamu putuskan Kak? Kamu akan lanjut di mana?" tanya Papi Ali pada Malda.


"Untuk kelanjutan, kakak belum tahu Pi. Kakak harus meneruskan sekolah kakak yang tertinggal selama setahun ini terlebih dahulu. Tak apa duduk sekelas dengan adik kelas, yang penting bisa sekolah. Dan juga mereka tahunya jika kakak koma kan ya?" Jawabnya disertawai suara tawa renyah.


Satria tersenyum. Ia mengacak kepala Malda yang tertutup hijab. Papi Ali terkekeh, "Ngomong-ngomong kapan Papi bisa ketemu sama cucu kami?" selorohnya


Malda dan Satria tertawa. "Tunggu sampai Papi Lana setuju dulu dengan pernikahan kami." Imbuh Malda dan diangguki ole Satria.


Ia tertawa melihat Papi Ali kesal terhadap mereka berdua. "Ck. Pelit amat sih ingin ketemu cucu juga!" gerutunya pura-pura kesal.


"Sabar atuh Pi.. Nggak lama lagi kok." Balas Malda lagi.


Papi Ali memutar bola mata malas. Ia lantas segera beranjak dari kamarMalda yang sudah di pisah oleh Papi Lana sebelum ia pulang ke rumah itu.


Malda tersenyum melihat tatapan memelas Satria padanya. "Sayang.."


"Nggak bisa Bang. Nanti Papi pulang kita di grebek!" Malda tertawa

__ADS_1


"Biarin aja di grebek! Itu yang Abang mau! May ya?" pintanya dengan memelas.


Malda tertawa lagi.


"Iya kalau kamu di grebek bang! Kalau kamu di buang ke Malaya tanpa Malda kamu mau? Tau sendiri kan kalau Papi kalian itu seperti apa?"


Satria berdecak kesal. "Ck. Papi! Doa nya yang bagus napa! Yang kayak papi nggak aja tuh sama mami!" ketus Satria sembari beranjak dari ranjang Malda.


Sebelum pergi, Satria mengecup kening Malda kemudian putik ranumnya dihadapan Papi Ali.


"Ck. Kamu Bang! Otak suci Malda itu sudah terkontaminasi oleh mu!" kesal Papi Ali karena melihat adegan kedua orang itu.


Malda tertawa renyah. Satria terkikik geli. "Ayo kita keluar Pi. Takutnya di grebek nanti Abang sama Papi Lana!" Satria tergelak.


Ke esokan paginya.


Kediaman Papi Lana sudah di hebohkan dengan suara menggelegar Papi Lana karena melihat Satria sedang bergelung di dalam selimut di ranjang Malda.


Sedang Malda sedang mandi.


Selepas subuh tadi, Satria masuk ke kamar Malda karena tidak bisa tidur satu malaman. Dirinya yang sudah terbiasa tidur memeluk Malda digantikan memeluk guling membuatnya tidak bisa memejamkan mata sama sekali.


Ia menyelinap masuk setelah sholat berjamaah di mesjid tadi pukul enam pagi. Dan kini ia sedang terlelap setelah mendapatkan asupan nutrisinya dari Malda.

__ADS_1


Walau sangat singkat, tapi bisa membuatnya mengantuk. Sungguh, dirinya di buat tersiksa saat berjauhan dari Malda.


Dan saat ini ia sedang di sidang oleh Papi Lana. Pemuda tampan yang tidak lagi tua itu, saat ini sedang memarahi Satria yang ketahuan tidur di kamar Malda.


Malda ingin menyela, tapi Satria menggeleng. Papi Lana terus mengomel hingga Papi Ali dan Mami Kinara datang. Mereka segera menyuruh Malda untuk ke sekolah di temani Satria.


Keduanya menurut.


Kini tinggallah ke empat orang yang kini saling menatap dengan wajah kesal. Terlebih Mami Kinara yang begitu jutek pada Papi Lana.


"Abang itu udah tua! Jaga jantung sama darah tinggi Abang biar nggak kumat! Teriak-teriak dengan suara melengking seperti itu! Abang pikir ini dii hutan apa! Kalau Abang tidak suka dengan Satria, katakan pada Malda! Bilang sama dia untuk mengusir panglima nya itu!" ketus Mami Kinara begitu jutek saat mengetahui jika Papi Lana mengamuk karena Saria yang tidur di ranjang Malda.


Belum lagi tadi, saat Papi Lana masuk. Terlihat jika Malda baru saja mandi dengan handuk membalut kepalanya. Membuat pikiran pemuda itu jadi menerka hal buruk terjadi dirumah itu.


Malda yang ditanya pun gelagapan. Belum lagi Satria yang bergelung di dalam selimut hanya menggunakan celana pendek selutut saja membuat papi Lana berpikir jika keduanya sudah melakukan hubungan terlarang di belakangnya.


Sebenarnya memang iya. Tapi keduanya halal melakukan hubungan suami istri. Yang papi Lana tidak tahu sama sekali. Berbeda dengan mami Kinara dan papi Ali yang sudah mengetahuinya.


"Jangan terlalu memarahi Satria, Bang Lana! Abang tidak tahu yang sebenarnya! Daripada abang terus marah-marah pada keduanya. Lebih baik tanyakan langsung pada mereka berdua di waktu yang tepat. Jangan selalu menuduh semua orang itu buruk bang. Karena diri kamu sendiri belum tentu lebih baik darinya!" ketus Mami Kinara dengan segera berlalu meninggalkan papi Lana dan Mami Maura yang kini tertegun dengan ucapan nya.


Papi Ali hanya bisa menghela nafasnya.


Kayaknya kalian tidak bisa menyembunyikannya lagi, nak! Papi harap, kalian segera jujur! Itu lebih baik untuk hubungan kalian berdua! Batin Papi Ali memikirkan Malda dan Satria.

__ADS_1


__ADS_2