
Papi Lana mematung melihat seseorang mirip dengan Kinara itu. Begitu pun dengan papi Ali dan Mami Kinara.
Mereka menganga melihat itu. Nenek Kinanti terkekeh. "Ayo besan! Ah lebih tepatnya bukan besan. Kita ini sama-sama keluarga Malda dan Satria. Ayo, masuk dulu. Jangan berdiri diluar. Dikira kami ini nggak menghargai kalian sama sekali. Ayo, ayo kita masuk" imbuhnya lagi yang diangguki oleh ke empat orang dewasa itu.
Bukan hanya mami Kinara yang terkejut melihat kembaran dirinya, Mami Maura pun sama. Dayang As juga mirip dengannya.
Terlihat mereka berdua seperti kembar. Tetapi tidak.
"Maura, Kinara? Tidakkah kalian ingin masuk dan mencari jawaban dari pertanyaan di dalam hati kalian saat ini??"
"Hah?" lagi, kedua itu menganga mendengar ucapan Nenek Kinanti yang seakan tahu tentang pikiran keduanya.
__ADS_1
Papi Ali yang sudah lumayan berkurang rasa shocknya, segera menggamit tangan Papi Lana, Mami Maura, Mami Kinara untuk masuk dalam kerumah Malda dan Satria.
Rumah dua lantai yang di sisi kiri dan kanannya memiliki pohon kelapa yang sangat rendah dan sudah berbuah. Belum lagi buah rambutan yang berada di tengah halaman itu menambah kesan sejuk untuk rumah itu.
Mereka berempat masuk dengan langkah kaki yang rasanya sangat lemas. Ke empatnya duduk diruang tamu dimana sudah terpampang foto Malda dan Satria dengan menggendong kedua anaknya yang sangar mirip dengan Satria itu.
"Tampan sekali.." ucap kedua wanita yang kini duduk di sofa itu dengan mata menatap pada figura besar dihadapan mereka kini.
Nenek Kinanti. "Satria memang tampan. Dan itu menurun pada kedua anaknya. Pangeran Salman dan Pangeran Salim. Sebentar ya, saya ke dapur dulu. Santai saja. Jangan terlalu tegang seperti itu!" ucapnya sambil tergelak melihat wajah ke empatnya masih menunjukkan wajah terkejutnya.
Setiap kali Malda pulang sekolah, pastilah kerumah nya lebih dulu. Karena satu hari tidak menyusui kedua putranya membuat pabrik susunya itu mengeras, walau Satria sering memompa Asi itu dan mengantarnya tetap saja sakit.
__ADS_1
Karena masih sangat baru. Masih tujuh bulan. Asi nya sedang deras-deras nya.
Setelah selesai menyusui kedua putranya, Satria dan Malda keluar membawa bocah kembar itu. Mereka berempat duduk berhadapan dengan ke empat orang yang kini sangat shock melihat kemiripan kedua anak kecil yang kini juga sedang menatap mereka.
"Maafkan kami yang terpaksa menyembunyikan ini. Karena Malda sudah selesai ujian akhir tadi, maka inilah waktunya." Ucap Satria yang masih di tatap dengan terkejut oleh ke empat orang itu, "Satu tahun yang lalu saat kami tiba disana, kami menikah secara sah. Cara ini satu-satunya yang harus kami lakukan untuk menyatukan kekuatan kami berdua untuk memberantas kezoliman yng terjadi disana.." lanjut Satria sembari menceritakan awal mereka menikah hingga semua yang terjadi disana.
Yang membuat ke empat orang itu sangat shock saat mendengarnya. Kedua bayi kembar Malda ingin di gendong papi Ali.
Papi Ali mengambilnya. Kedua bayi itu kesenangan. Mereka sesekali menyentuh perut Malda yang membuat Satria dan Malda saling pandang setelahnya tertawa bersama.
"Hahaha.. Ternyata kalian sudah menemukan jodoh kalian berdua, hem?"
__ADS_1
"Hah?"
Lagi, ke empat orang itu menganga mendengar ucapan Satria tentang kedua bayinya dan juga janin yang masih berada di perut mami Kinara saat ini.