
Malda dan Satria turun dari kuda putih yang mereka tunggangi dengan dayang As ikut serta.
Mereka berdua berdiri tegak dihadapan seluruh parajurit yang ikut membungkuk menghormatinya.
"Bangunlah kalian semua. Tidak sepatutnya kalian seperti ini. Saya juga manusia sama seperti kalian. Yang membedakan kita semua amalan kita di hadapan Allah. Bangunlah!" titah Malda dengan suara lembut mendayu nya yang membuat semua prajurit disana saling lirik dan melempar pandangan keraguan.
Satria tersenyum, "tidak usah takut. Apa yang istriku katakan benar adanya. Bangkitlah. Kalian boleh menundukkan kepala ketika berhadapan dengan kami tetapi tidak perlu membungkuk seperti ini. Bangunlah wahai seluruh prajurit istana ratu Telaga biru. Bangunlah." Titah Satria yang membuat semuanya bergerak cepat dan menunduk hormat.
Satria dan Malda tersenyum, Mereka saling pandang. Dalam sekejab mata, cahaya biru berpendar ke seluruh markas dan juga pada tubuh dayang As yang kini Malda letakkan di atas rerumputan hijau yang begitu subur.
Dayang As merasakan perubahan pada tubuhnya. Semua prajurit yang melihat itu takub melihatnya.
"Yang mulai Ratu Maldalya dan Paduka Raja Satria.. Hamba menghadap pada kalian berdua. Terimakasih.. Terimakasih.." ucapnya dengan segera membungkuk sama seperti para prajurit tadi.
Malda membungkuk untuk mengangkatnya.
Deg!
Malda mematung saat melihat wajah dayang As. Begitu pun dengan Satria.
"Mami? Mami ngapain disini??" tanya Malda pada dayang As yang membuat dayang As tersenyum.
"Maafkan Hamba yang mulia. Hamba sudah menebaknya. Yang mulia pasti kaget melihat wajah saya yang sangat mirip dengan sahabat yang mulia ratu Puan maharani. Maura Putri Kartika."
Deg!
Deg!
__ADS_1
Keduanya membeku ditempat saat melihat seorang panglima mendekati mereka dengan postur tubuhnya mirip sekali dengan seseorang yang juga sangat mereka kenali.
"Papi..." lirih Malda dengan bibir bergetar dan dada yang lumayan sesak karena melihat lelaki yang sedang membungkuk memberikan hormat padanya sangat mirip dengan papi Lana, Papi kesayangan Malda.
Mata sayu nan lembut itu berkaca-kaca. Kakinya lemas bagai tak bertulang. Ia mengulurkan tangannya pada panglima yang kini tersenyum padanya.
"Papi.. Kakak kangen Papi.. Bang, papi ada disini. Papi kakak ada disini. Bersama kita.."
Bruukk..
"Astaghfirullah! Sayang! Haishhh.. Ini akibatnya jika ngeyel di bilangin sih!" gerutu Satria sedikit kesal kepada Malda.
Ia segera menggendong Malda dan masuk kedalam rumah yang sudah disediakan untuk mereka tinggal sementara waktu sebelum mengambil alih istana kerajaan miliknya.
Panglima yang mirip Papi Lana itu segera mengikuti dayang As yang mengkode dirinya untuk mengikuti Raja dan ratu mereka.
Ke empatnya berlarian menuju ke dalam rumah berlantai dua yang sangat mirip dengan rumah Malda bersama Papi Lana di Medan sana.
"Jangan ganggu kami sebelum kami yang memintanya. Panglima, dayang As!"
"Kami yang mulia." sahut keduanya.
"Kosongkan rumah ini. Berjagalah diluar saja. Kami butuh waktu berdua,"
Keduanya mengangguk. "Baik yang mulia, segera kami laksanakan."
Satria tersenyum, "terimakasih.." ucapnya tulus yang membuat kedua orang itu tertegun.
__ADS_1
Keduanya terkejut saat pintu kamar Raja dan ratu mereka tertutup sedikit kuat karena tanpa sengaja Satria menendangnya karena melihat tubuh Malda yang sudah berkeringat.
Satria segera membuka seluruh baju yang menempel di tubuh Malda. Ia pun demikian. Saat ini Malda sedang lemah karena kekuatannya terkuras habis saat mengembalikan wujud dayang As.
Dayang setia almarhum Ibunda ratu Puan Maharani yang sangat mirip dengan Mami Maura itu.
Satria segera mengerjakan tugasnya hingga sinar biru kebiruan sebiru telaga biru itu kini bersinar terang di dalam kamar keduanya.
Jangan tanya othor, karena othor tidak tahu apa yang terjadi disana, yang jelas keduanya sedang mengembalikan kekuatan mereka yang sudah terkuras habis saat membantu dayangAs tadi.
Sementara dua orang yang berdiri di depan pintu sontak saja mundur saat caaya kebiruan bercampur putih itu melebur menjadi mutiara yang cantik berterbangan di udara.
Panglima mirip papi Lana yang bernama Dani itu melengos ke arah lain saat dayang As menatapnya dengan dalam.
"Apa kabar suamiku? Tidakkah kamu merindukan ku? Lihatlah diri ku? Masih sama saat dulu aku meninggalkan mu demi melindungi mutiara biru milik ratu kita.." lirihnya dengan membungkuk dihadapan kaki Dani dan menciumnya.
Tes.
Tes.
Tetesan air mata itu menetes di kaki panglima Dani yang kini pun ikut meneteskan air matanya karena melihat sang istri, dayang As sudah kembali sesuai dengan janji yang mulia ratu Puan Maharani katakan dulunya.
Sementara diluar rumah, semua prajurit sedang bersuka cita saat melihat warna bias kebiruan bercampur putih kini berpendar keseluruh sudut halaman tempat mereka saat ini berdiri.
"Akhirnya. Penguasa telaga Biru yang sesungguhnya kini telah kembali."
"Ya, Pewaris sah Datok Amirullah Syam kini sudah kembali bersama kita. Kehancuran raja apilong sudah di depan mata!"
__ADS_1
Yeeeeeaaahh..
Suara sorak sorai menghiasi seluruh halaman rumah Malda dan Satria saat ini karena mereka bahagia pemilik sah istana telaga biru akhirnya sudah kembali dan siap menuas ke angkara murkaan.