
Mami Kinara menatap datar pada bayangan putih keluar dari tubuh Malda dan Satria. Ia tersentak saat melihat jika itu roh Malda dan Satria yang terbang melayang menuju jendela kamar yang terbuka ke arah matahari terbit.
"Kakak.. Abang.." lirih Mami Kinara dengan menunjuk jasad Malda dan Satria kini mengeluarkan warna kebiruan yang begitu cerah. Mami Annisa dan Papi Tama tertegun melihat itu. Begitu pun dengan Uwak Ira dan Uwak Raga.
Cahaya biru itu terus berpendar mengelilingi mereka semua. Di dalam bayangan kebiruan itu terlihat seperti klise dimana Malda dan Satria saat ini berada.
Mereka berada di dalam mobil Opa Gilang dan Oma Alisa yang kini sedang melaju dengan kecepatan tinggi seperti tak ada rem sama sekali di mobil itu.
Kedua orang itu saling berpegangan tangan dan berpelukan sambil tersenyum.
"Assyhaduanla.. Lailahaillah.. Wasyhaduanna muhammadurrasulullah.. Lailahaillallah....."
Keduanya berpelukan dengan mata terpejam.
Brak.
Brak.
Brak.
Krak..
Krak..
Tak ..
Tak..
Tak..
Ddduuaaarrr!!!
"Aaaaaaaa... Tidaaaaaakkkkk!!!!" pekik Malda di dalam mobil itu. Satria memeluknya dengan erat.
Mobil kedua orang itu jatuh berguling ke dasar jurang setelah menabrak gundukan tanah yang tersedia di jalur itu.
Hingga terjungkir dan terbalik dan jatuh ke dalam sana dengan mobil itu berguling-guling hingga menabrak pohon besar dan meledak hingga menimbulkan suara yang begitu keras.
__ADS_1
Uwak ira, Uwak Raga, Papi Tama, Mami Annisa dan mami Kinara menatap pada layar itu dengan air mata yang sudah berjatuhan tetapi mereka semua menangis tanpa suara.
"Oeekk.. Oekk.. Oekk.."
Tiba-tiba saja kedua bayi mami Kinara menangis dengan kuat hingga tersedu-sedu. Seakan tahu jika kedua orang yang tadi menggendong mereka kini sudah tiada.
Terlihat jelas oleh mereka jika Malda meraung-raung disana bersama dengan Satria yang terus memeluknya dengan erat.
Ia pun ikut tersedu. Tetapi mereka tidak bisa menyentuh keduanya. Lantaran terhalang tabir berwarna putih kebiruan pertanda mereka beda alam saat ini.
Splasshh..
Pyaarr!!
Gelas yang ada ditangan Uwak Ira terjatuh ke lantai kala menyadari penglihatan tadi begitu jelas terlihat di matanya.
Bruuk..
"Hunny!"
"Sayang!!" seru Papi Tama pada Mami Annisa yang jatuh terkapar.
"Mami.."
"Mak..." panggila mami maura dan mami Kinara bersamaan dengan tatapan kosongnya
"Papi??" panggil mami Kinara lagi.
Malda dan Satria yang sudah kembali ke raganya menangis tersedu bahkan meraung-raung seiring dengan suara bayi mami Kinara semakin kencang menangis.
Suasana di dalam ruangan itu mendadak suram dan mencekam. Dengan suara Malda yang terus meraung begitu pun dengan Bayi Mami Kinara yang terus menangis tiada hentinya.
Sementara di jalan raya sana saat ini Papi Lana dan Papi Ali merasakan sesak di dada mereka seperti terhimpit batu besar. Mata keduanya berkunang-kunang dan terpejam seiring kesadaran yang semakin menipis.
Mobil itu menepi di tepi jalan dimana dibawah sana sedang terjadi kebakaran hebat akibat kebakaran mobil kedua orang tuanya.
Splashh..
__ADS_1
Keduanya bisa melihat dengan jelas kejadian dimana kedua orang tua mereka mengalami kecelakan tadi.
Splaasshh..
Mereka berdua melihat kabut kebiruan berpendar di seluruh ruangan VVIP mami Kinara yang kini sedang memangku kedua bayinya yang menangis tiada henti.
Terlihat Malda sampai pingsan karena tidak sanggup melihatnya dan menerima kenyataan itu. Begitupun Uwak Ira dan Mami Annisa.
Hanya Mami Kinara dan mami Maura yang bertahan. Tetapi keduanya terdiam mematung melihat ke arah dinding dimana disana terlihat kedua orang tua mereka tersenyum dan melambaikan tangan kepada keduanya.
Satria tersedu melihat kedua orang itu.
"Opa.. Oma.. Maafkan A- hiks Bang.." isak Satria dengan tersedu dan memeluk erat tubuh Malda yang sudah tidak berdaya.
Kedua orang itu tersenyum teduh sekali. Tenang dna berseri wajah keduanya. Mereka berjalan melewatilorng putih bersama ayah em,il yang kini menggandneg tangan Oma Alisa.
Mereka sekali lagi tersenyum melihat semua anaknya. Keduanya pun pergi menuju taman yang begitu indah yang tidak sanggup terbayangkan oleh mereka berdua.
Tok, tok, tok.
Deg!
Deg!
Klep, klep..
"Allahu Akbar!!" seru mereka berdua kala sudah bisa menghirup udara dengan banyak.
Papi Ali menatap di sekeliling dimana banyak mobil berhenti. Ia segera turun dan melihat ada apa.
Semenatra Papi Lana masih tertegun dengan mimpi itu. Ia masih mengingat jelas beberapa tahun yang lalu saat bermimpi tentang hal itu.
Saat pertama kali mami Maura hamil Ziana dan Malik. Ia pingsan saat di papua dan koma selama tiga hari. Dan saat ia sadar, dirinya terkejut melihat kedua oranga tua nya sudah ada disana.
...****************...
...Masih ada yang ingat apa mimpi itu? Ada di Muara Cinta Maulana Ye? Mana yang udah pernah baca pasti tahu ini. Tak apa. Othor ingatkan. Karena cerita ini bagai tali yang sambung menyambung menjadi satu! Eh? ...
__ADS_1