Kembalinya Ratu Telaga Biru

Kembalinya Ratu Telaga Biru
Kelemahan Satria


__ADS_3

Semua dokter yang dipanggil dari kerajaan tetangga kini sudah memenuhi kamar malda dan Satria. Mereka masih menunggu pembukaan Malda hingga penuh.


Satria begitu khawatir hingga ia tanpa sengaja meneriaki semua dokter dan perawat semuanya perempuan itu.


Mereka terkejut bukan main saat melihat raja kerajaan telaga biru begitu garang, pikir mereka. Padahal sebenarnya tidak.


Ia sedang khawatir dan takut sekaligus saat melihat keringat semakin mengalir di seluruh tubuh Malda dan wajahnya.


Semua rakyat dan penghuni istana was was saat mendengar jika ratu mereka akan segera melahirkan.


Panglima Dani dan dayang As yang berada disana segera menenangkan Satria yang terus marah-marah dan mengomel tidak jelas pada dokter dan perawat yang di undangnya untuk menangani Malda yang akan melahirkan.


Satu jam, dua jam hingga beberapa jam Malda belum juga melahirkan hingga membuat Satria mengamuk.


Ia berteriak pada semua orang agar bisa cepat mengeluarkana anak nya itu dari perut Malda mengingat Malda yang masih sangat muda akan berakibat fatal pada nya.

__ADS_1


Panglima Dani lagi dan lagi menenangkannya. Kakek Filips yang baru saja pulang dari pertemuannya dengan kerajaan jauh segera berlari ke kamar cucunya bersama sang istri.


"Astaga! Satria!"


Serunya dengan suara kuat hingga ruangan itu lengang seketika dari suara Satria yang memarahi dokter dan perawat yang akan membantu Malda melahirkan.


Tubuh Satria mematung saat mendengar suara sang kakek ada di dalam kamarnya. Kakek Filips segera mendekatinya dan memeluknya erat.


"Sabar nak.. Yang kuat! Malda butuh kamu! Jangan seperti itu pada mereka. Mereka itu yang akan membantu istrimu, ingat? Siapa yang kemarin membawa mereka kesini??" tanya kakek Filips pada Satria yang kini terdiam dengan air mata terus berlinangan.


"Hampir sempurna Nyonya. Sebentar lagi. Kami sedang melakukan yang terbaik.." jawab dokter wanita berhijab itu dengan lirih.


Nenek Kinanti menghela nafasnya. Ia menoleh pada Satria yang kini sudah terlihat tenang bersama kakek Filips dan melihat ke arah Malda.


"kamu ingin menemani Malda atau tidak? Jika tidak, biar Neknda disini! Sebaiknya kalian keluar!" tegasnya yang membuat Satria menggeleng cepat.

__ADS_1


"Nggak Nek. Aku disini saja.." lirihnya menunduk tidak berani melihat wajah datar nenek Kinanti.


Kakek Filips terkekeh, "Oke! Kalau begitu, kamu jangan panik dan jangan gusar. Seharusnya kamu itu menyemangati Malda. Bukannya mengamuk tidak menentu begitu pada dokter, Satria!" tegurnya pada sang cucu yang kini menunduk dengan bahu berguncang hebat.


"Hiks.. Maaf nek. A-aku takut. Nenek kan tahu? Kalau malda itu kelemahan ku??" jawab Satria yang disamabut helaan nafas panjang oleh nenek Kinanti.


"Nenek tahu, nak. Maka dari itu mengingatkan mu. Malda butuh kamu. Ayo kesini. Sudah waktunya Malda melahirkan. Kayaknya duo bocil kembar ini tahu ya jika neneknya sudah datang?" godanya pada perut Malda yang semakin kencang ingin keluar itu.


Kakek Filips terkekeh. Ia tidak menyangka bisa mendapatkan istri semuda nenek Kinanti. Padahal dirinya saat ini sudah tua.


Ia bersyukur masih diberikan kesempatan untuk memiliki keluarga. Dan sekarang. Seluruh keluarganya berkumpul di istana yang dulu di pimpinnya dengan cara yang salah.


Satria segera mendekati Malda yang mulai berusaha mengeluarkan satu persatu bayinya. Semua orang yang berada diluar ruangan merasa khawatir menunggu kabar dari dalam kamar raja dan ratunya saat ini.


Hingga.. Setelah beberapa saat terdengarlah suara tangisan bayi begitu melengking di seluruh istana itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah.. Sudah keluar. Baru satu! Satu lagi! Berjuanglah nak. Perjuangan akhir mu dalam mengeluarkan buah hatimu!" ucapnya pada Malda yang sedang berusaha untuk yang terakhir kalianya demi mengeluarkan buah cinta nya bersama Satria.


__ADS_2