Kembalinya Ratu Telaga Biru

Kembalinya Ratu Telaga Biru
Mulai bergerak


__ADS_3

Malda dan Satria baru saja selesai sarapan pagi saat salah satu pesuruh penasehat istana yang mengatakan bahwa saat ini mereka sudah bisa masuk kedalam kawasan istana.


"Kita masuk dari sini paduka, Yang mulia ratu bisa ikut bersama kami." ucap salah seorang anggota penasehat istana yang kini sedang berdiri dihadapan keduanya dengan menunduk.


Malda mengangguk. "Benar Bang. Kita harus terpisah saat masuk kesana. Tidak bisa bersama. Kalau bersama pasti akan ketahuan."


Satria menggeleng. "Kamu masih ingat nggak apa yang Abang katakan tadi malam, hem?" ucapnya membuat Malda memikirkan hal itu.


Saat ini keduanya sedang bersiap dan salah satu dayang istana orang kepercayaan penasehat istana yaitu Tuan Kasmir.


Satria melirik pelayan itu dengan mata tajamnya. Mereka pamit undur diri sesaat setelah baju zirah yang dipasangkan di tubuh Malda kini sudah selesai.


Begitu pun dengan para pengawalnya. Mereka tahu arti lirikan dari raja baru mereka. Satria mendekat pada Malda yang kini sedang berdiri dihadapan jendela dan membelakangi dirinya.


Satria melingkarkan tangannya di perut Malda dengan dagu nya ia letakkan di bahu sebelah kanan Malda.

__ADS_1


Malda tersenyum, "Kenapa?"


Satria memejamkan matanya saat tangan Malda mengelus kepalanya. "Kamu melupakan sesuatu yang kita janjikan tadi malam, sayang."


"Hem? Yang mana?"


Satria semakin merapatkan tubuh nya di tubuh kecil Malda tetapi sudah sangat terlihat seperti tubuh gadis berusia tujuh belas tahun karena tingginya saat ini sudah sekitar 158 hampir setara dengan tinggi Satria 165 centi meter itu.


"Bukankah janji kita berdua, jika kita sudah melebur menjadi satu maka kita tidak boleh terpisahkan apapun keadaannya. Kamu harus selalu bersama Abang. Abang pun demikian. Jika tidak, kekuatan kita tidak akan seimbang." Jelas nya pada Malda yang kini tertegun dengan ucapannya.


"Tapi apa? Takut, jika keluarga kita yang di Medan tahu jika kita berdua sudah menikah tanpa sepengetahuan mereka?"


Malda mengangguk setuju. "Lalu dimana salahnya? Lah kita boleh menikah kok. Kamu itu sepupu Abang. Sah sah saja kalau kita menikah bukan?"


"Benar. Tetapi kendala nya di umurku, Abang.."

__ADS_1


Satria terkekeh. "Ya sudah, kalau kita pulang ke Medan lagi nanti Abang akan mengatakan kepada mereka semua kalau Abang ini Panglima kamu. Tangan kanan kamu. Tetapi tidak untuk tidur terpisah! Abang nggak akan mau!"


Malda tertawa. "Tentu saja. Nanti akan aku beri alasan. Bahwa tangan kanan ku ini tidak boleh jauh dariku walau sejengkal saja. Tapi aku tidak yakin dengan Papi Lana. Abang tau lah seperti apa Papi Lana??" goda Malda pada Satria yang kini merengut masam.


Malda tertawa. "Udah ah. Kapan selesainya kita ini? Para pengawal udah menunggu kita loh sedari tadi?"


"Ck! Iya, iya! Kita keluar!" ketus Satria semakin kesal pada tingkah Malda saat ini.


Malda tertawa sambil mengikuti sang suami hingga tiba di halaman luar. Para dayang dan pengawal mereka sudah siap menunggu kedatangan dan keberangkatan keduanya.


Dengan menggunakan kuda putih sepasang, keduanya segera bergerak menuju ke dalam istana melalui tepi telaga biru yang tidak pernah dimasuki oleh orang lain terkecuali para anggota penasehat istana saja.


Dengan kata lain keduanya saat ini sedang melewati jalan rahasia yang hanya di ketahui oleh pengikut setia almarhum Ayah Malda dulunya.


Untuk mencapai tempat itu butuh waktu sekitar empat puluh lima menit dengan berkuda di dalam hutan di tepi telaga biru itu.

__ADS_1


__ADS_2