
"Baik, akan kami lakukan. Ayo sayang kita duduk di bawah saja." Ucap Satria yang diangguki oleh Malda.
Mereka semua duduk di hadapan Malda dan Satria. Keduanya mulai melakukan penerawangan bersama Malda.
Aura kebiruan mengedar ke seluruh ruangan. Tetapi hanya mami Kinara yang bisa melihat itu. Entah kenapa ia bisa melihatnya, Malda dan Satria pun tidak tahu.
Nenek Kinanti tersenyum melihat warna biru itu mengelilingi kedua bayinya dan juga anak Malda sendiri.
Keduanya sudah masuk ke dalam kertas itu. Melalui bukti yang saat ini ada di tangan Papi Lana kini mereka bisa melihat jika pembunuh itu sedang tertawa bersama salah seorang yang sangat keduanya kenal.
"Raja Butyan Kunu??" beo keduanya dengan mata terpejam.
Nenek Kinanti dan Dayang As saling pandang. "Bukankah Raja Butyan itu raja pulau seberang ya yang mulia?" tanya dayang As yang diangguki Nenek Kinanti.
"Benar! Aku rasa.. Selama ini ia sengaja ingin emnolong Malda karena memiliki maksud tertentu. Kamu ingat nggak, ketika Malda hamil dulu? Dia kan ya yang paling banyak mengirimkan hadiah? Salah satunya..." Nenek Kinanti menghentikan ucapannya saat Uwak Lana menatap lekat padanya.
"Ma-maaf besan. Sa-saya tidak bermaksud-,"
"Tak apa Besan! Jelaskan saja. Kita harus tahu tentang masalah ini. Kasus ini bukan kasus biasa. Ini pembunuhan berencana untuk kedua orang tua ku." Potong Papi Lana yang diangguki oleh nenek Kinanti.
"Kita tunggu Malda dan Satria saja. Biar keduanya menjelaskan apa dan kenapa."
Papi Lana mengangguk, begitupun dengan mereka semua. Sementara Malda dan Satria saling berpegangan tangan dengan erat.
__ADS_1
Hawa dingin merasuki tubuh mereka semua. Aura gelap keunguan keluar dari tubuh keduanya. Mami Kinara bisa melihat itu.
Kelp, klep.
Kedua mata pasangan suami istri muda itu terbuka, tetapi terlihat kedua mata orang itu berwarna kebiruan. Tatapan keduanya begitu tajam hingga menusuk ke jantung.
Dengan rahang mengeras dan gigi menggelutuk, keduanya bangkit dan berlari keluar rumah membuat mereka semua terkejut bukan main. Papi Ali yang duduk Di dekat pintu segera mengejar keduanya.
Di ikuti oleh papi Lana di belakangnya. Keduanya mematung saat melihat Satria dan Malda berlalu begitu cepat menuju mobil dan menghilang di balik tikungan jalan.
Keduanya menghela nafas panjang. "Huffhhtt.. Semoga aja tidak terjadi masalah baru kepada dua orang yang sedang marah itu!" Ucap Papi Lana sambil berlalu yang diangguki oleh Papi Ali.
Sedangkan sepasang suami istri yang sedang sangat marah itu langsung menuju ke Lokasi. Dimana para pembunuh bayaran serta bos nya itu berada.
Tiba disana, keduanya melangkah masuk ke dalam rumah itu. Sebelumnya mereka menghilang terlebih dahulu. Mereka ingin mengambil bukti percakapan mereka melalui ponsel yang saat ini Satria miliki.
Mereka semua tidak sadar, jika maut sedang berada di dekat mereka saat ini. Malda ingin sekali menyerang semua orang yang berjumlah enam belas orang itu.
Salah satunya orang yang sangat mereka kenal.
"Hahaha... Mampus kan mereka? Rasain! Rasakan kamu Maldalya! Siapa suruh menolakku dan memilih si cunguk Satria itu! Hahaha.. 'kan mati jadinya?? Hahaha.."
"Benar tuanku! Pengusaha itu masuk dalam jeratan kita! Mereka itu bodoh! Sampai tidak tahu siapa yang teman dan siapa yang lawan! Hahaha!!" timpal salah satu anggota nya.
__ADS_1
"Hem.. Saat ini mereka sedang berduka, kesempatan yang bagus untuk kita bisa melumpuhkan semua perusahaan mereka. Salah satunya yang ada di Kalimantan! Ck! Jika saja mereka mau menjual intan itu kepadaku dengan harga yang murah, pastilah keduanya saat ini tidak masuk liang kubur! Ditambah lagi, Malda yang selalu menolak pinangan ku! Maka rasakan sendiri akibatnya! Padahal jika mau bersamaku, maka kerajaan ku akan semkain jaya dan makmur! Dasar Satria sialaaann!!" umpatnya sangat kesal yang membuat aura di tubuh Malda semakin membara.
Satria melirik pada Malda.
Cup!
"Eh?"
Deg!
Semuanya terkejut mendengar suara yang entah dimana itu. Satria meletakkan satu jarinya di bibir Malda dan menggeleng.
Malda melotot. Satria terkekeh.
Cup, cup, cup!
Malda semakin melototkan matanya saat Satria kembali menghujani wajahnya dengan ciuman bertubi darinya.
Malda kembali melototkan mata nya dan ia ingin berbicara tetapi kalah cepat dengan Satria yng membungkam mulutnya dengan bibirnya membuat Malda terdiam seketika.
Satria menarik sedikit ujung bibirnya dan melepaskan pagutannya itu yang membuat Malda melemah seketika.
Wanitanya itu mendengus keras. Satria terkekeh lagi. Mereka berdua terus menyimak setiap ucapan mereka semua.
__ADS_1
Satu persatu rahasia mereka Satria simpan di dalam ponselnya. Untung saja keduanya bergerak cepat, jika tidak. Keduanya pasti akan bertamabh menyesal saat ini karena rencana pembunuh itu sedang merencanakan membuat semua perusahaan keluarga Bhaskara bangkrut total.