
Panglima Dani berlari sekuat yang ia bisa hingga melihat kedua orang itu semakin cepat berjalan.
Malda dengan perut besarnya masih bisa berjalan cepat. Dani kewalahan mengejar keduanya, Hingga di gerbang istana ia memanggil keduanya yang membuat para pengawal terkejut bukan main.
"Yang mulia!! Tunggu!!! Kalian mau kemana??!" serunya yang membuat berapa orang pengawal berlarian ke arah ketiganya.
Deg!
Sontak saja kaki semua pengawal terpaku di tempat saat melihat jika Malda dan Satria sudah bangun kembali.
"Yang mulia raja! Yang mulia ratu!" seru mereka memberi hormt dengan berlutut.
Malda menghentikan langkah kakinya. Begitu pun dengan Satria. "Bangkit dan berdiri! Sudah saya bilang jika ingin memberi hormat jangan berlutut! Cukup dengan membungkukkan badan kalian saja!" omel Malda tidak suka dengan kelakuan pengawal kerajaannya itu.
Satria terkekeh, "sabar sayang.. Kita kesana dulu. Nanti kita lanjut lagi mengomeli mereka. Akan ada banyak peraturan nanti yang berubah!"
"Oke!" sahut Malda dengan segera berjalan cepat meninggalkan mereka semua yang tertegun.
Mereka berdua melayang bak angin. Seperti berjalan diatas awan. Saking cepatnya semua pengawal gelagapan karena tidak tahu kemana arah kedua orang itu menuju.
Panglima Dani terkekeh, ia segera membawa pengawal dan mengikutiw angi yang ditinggalkan keduanya.
Bibir itu terus tersenyum memikirkan tingkah Malda yang sangat lucu menurutnya. Bisa-bisanya Malda mengomel saat pengawalnya berlutut di hadapannya.
Jika raja dan ratu lain mereka akan sangat senang menerima hormat itu.
Tetapi tidak dengan raja dan ratu mereka. Panglima Dani yakin, jika sebentar lagi kerajaan itu akan berubah seperti yang tertulis di dalam kitab kuno tentang kembalinya sang penguasa yang sesungguhnya.
__ADS_1
Yang akan mengubah takdir hidup semua orang. Panglima Dani dan pengawal berjumlah lima belas orang serta ksatria berjubah hitam berjumlah lima orang mengikuti Malda dan Satria dari wangi tubuh yang mereka tinggalkan.
Dari kejauhan terlihat baju Malda berkibar. Baju khas kerajaan berwarna merah dengan hijab merah juga sangat terlihat jelas di kehgelapan malam yang disinari bulan purnama.
Panglima Dani tahu kemana arah tujuan keduanya.
Hutan ilusi.
Tempat dimana raja Apilong dan istrinya saat ini berada.
Malda terus mengerahkan kekuatannya untuk bisa cepat sampai disana. Begitu pun dengan Saria.
Ia harus membantu Malda yang saat ini sedang hamil anak mereka. Dengan perut yang membesar, baju merah khas kerajaan dan juga hijab senada membuat Satria tidak beralih untuk menatap Malda sedikit pun.
Mata tajam nan sayu terus memandang Malda yang sangat terlihat cantik karena pantulan bulan purnama.
Ia bahkan sangats semangat dalam melakukan perjalanan itu. Bahkan anak-anaknya sangat senang dibawa terbang melayang seperti itu.
Malda terkekeh sambil mengusap perutnya. Satria keheranan. "Kamu kenapa? Ada yang sakit? Atau??"
Malda tersenyum dan menggeleng. "Hehehe.. Anak-anak sangat senang dibawa terbang seperti tadi. Mereka sangat lincah bergerak di dalam. Coba Abang rasakan!" jawabnya sembari membawa tangan Satria dan memegang perutnya.
Satria pun ikut terkekeh.
Ceklek.
Pintu gubuk tua itu terbuka dari dalam.
__ADS_1
"Malda.. Satria.. Kalian datang nak??" terdengar suara lirih dari dalam gubuk itu.
Tiga orang yang membuka pintu itu mematung seketika saat melihat Malda. Begitu pun dengan Malda.
"Ma-mami Kinara???!" seru Malda saat melihat wanita muda sebaya Kinara di Medan sana.
Wanita itu tersenyum.
Satria pun tidak kalah kagetnya. Mulut Malda sampai menganga melihat duo bocah kembar yang sangat mirip dengan anak Kinara di Medan sana.
"Hah??? Kenapa jadi mirip begini sih Bang? Kenapa jadi nenek aku mirip dengan Mami Kinara?! Nggak asik dong kalau Nenek aku muda begini dapat suami tuir kayak kakek Filips??!" gerutu Malda setengah mengomel yang disambaut gelak tawa oleh Satria dan Kakek Filips.
Malda mendekati sang nenek yang mirip mami Kinara itu. "Hiks.. Di Medan sana, Nenek itu Mami aku! Kenapa pula disini jadi nenek aku?! Mana masih muda lagi! Sebaya Mami Kinara!!!" rengeknya manja di pelukan sang Nenek yang membuat Nenek muda itu terkekeh sekaligus membalas pelukan hangat Malda untuknya.
"Masuk dulu yuk. Sedari tadi kakek kamu terus memanggil nama kamu dan Satria." Ucapnya sambil melirik Satria yang kini tersenyum padanya.
"Ck! Aku pingin tahu wajah kakek Filips! Jangan bilang mirip Papi Ali?!" kesalnya lagi yang membuat pria paruh baya di dalam sana tertawa mendengarnya.
"Hahaha.. Kemari saja dulu. Kamu lihat Kakek seperti apa.." lirihnya dengan dada yang begitu sesak.
Malda melangkahkan kakinya masuk. Seketika tubuh itu terpaku di tempatnya berdiri saat melihat sang Kakek kini sangat menyedihkan.
Tubuhnya yang berbulu dan luka borok di penuhi belatung dimana-mana. Satria merangkul bahu Malda yang terpaku di tempat.
"Mari, kita obati kakek dulu. Bukankah ini tujuan kita saat bersemedi??"
Malda tidak menjawab, tetapi gerakan tangan dan juga mata yang terpejam mulai mengeluarkan tenaga dalamnya.
__ADS_1
Satria tersenyum. Mereka berdua akan menyembuhkan sang Kakek yang saat ini terlihat renta dan dipenuhi dengan penyakit kulit yang mematikan.