Kembalinya Ratu Telaga Biru

Kembalinya Ratu Telaga Biru
Bertemu kembali dengan Papi Lana


__ADS_3

Kinara memeluk erat dirinya saat mengetahui jika Malda hampir mati saat di Malaya. Tetapi Tidak dengan Ali.


Ia mengambil ponsel dan menghubungi Lana lebih dulu yang saat ini masih di restoran miliknya.


"Hallo, waalaikum salam. Abang pulang dulu ya? Ada sesuatu yang harus aku katakan sama Abang. Cepat! Sebelum ia pergi lagi!"


Deg!


Lana diseberang sana mematung mendengar ucapan Ali. "Pergi lagi? Apa maksudnya itu? Abang masih-,"


Malda mengambil ponsel dari tangan papi ali dan berbicara dengan sang papi kesayangan nya itu.


"Pulang atau kakak pergi lagi!"


Dddduuuaarrr..


Lana tersentak saat mendengar suara Malda. Saking terkejutnya, ponselnya sampai melompat ke lantai dan terkejut.


Beruntungnya ada ambal dibawahnya. Jika tidak, ponsel mahal miliknya sudah tidak bisa digunakan lagi.


Tangan Lana bergetar saat memungut ponsel miliknya yang masih menyala. "Hallo? Bang Lana! Pulang sekarang! Kalau ingin putri sulungmu tetap bersama kita!" ucap Mami Kinara yang membuat Lana semakin berdebar.


Deg, deg, deg..


Jantung itu berdegup tidak karuan. Lana, lagi dan lagi mematung mendengar suara sang adik yang mengatakan jika Malda putri sulungnya sudah kembali lagi saat ini.

__ADS_1


"I-ini beneran kan Dek? Kamu nggak bohongkan?" tanya Lana pada Kinara yang kini semakin kesal padanya.


Terdengar suara kekehan khas di seberang sana. Khas suara kekehan Malda. Putri sulungnya. Mata Lana berkaca-kaca.


"Hiks.. Nak? Kamu pulang? Beneran? Kamu nggak lagi ngeprank papi kan Nak?? Hiks.." isak Lana yang kini berusaha berdiri walau tubuhnya sudah sangat lemas karena shock saat mendengar suara Malda.


Malda terkekeh lagi. Tiba-tiba saja ponsel Lana berubah menjadi panggilan video. Dengan segera Lana menggesernya.


Deg!


Deg!


Lana bertambah terkejut lagi saat melihat jika putri sulungnya itu ada disana. Lemas sudah kedua tungkainya.


Brruuukk..


"Baru segitu aja Abang udah jatuh. Gimana kalau lihat Malda secara langsung?" katanya sambil menunjukkan wajah Malda yang tersenyum lembut padanya dengan tangan melambai pada Lana.


Lana tertawa tetapi air mata bercucuran. Lagi, Kinara berdecak sebal. "Pulang cepetan! Sebelum Malda pergi dan tidak akan balik lagi! Masih juga sama. Huh! Padahal sudah sekian bulan berlalu. Pulang Bang Lana!" seru Kinara begitu ketus padanya.


Sambungan ponsel itu terputus. Lana tertawa. Tetapi air mata terus beruraian. Ia berusaha bangkit walau terasa sulit.


Kakinya begitu lemas saat ini. Lana berusaha bangkit dan merembet di pinggir dinding. Karyawan yang melihat bos mereka seperti itu, ikut membantunya.


Salah satu karyawan laki-laki membantu Lana. Karena Lana tidak bisa membawa mobil untuk saat ini.

__ADS_1


Ia pulang kerumah bersama pelayan restorannya. Di Perjalanan Lana menghubungi Maura dan mengatakan jika Malda sudah kembali.


Lagi, Maura pun sama sepertinya. Istrinya itu pingsan. Lana hanya bisa tertawa. Ternyata kehadiran Malda memanglah sangat mereka nantikan hingga saat ini.


Cukup tiga puluh menit saja Lana tiba dirumah Kinara. Ia masuk dengan dipapah seorang karyawannya itu.


Para pengawal Malda yang melihat itu pun ikut membantu. Lana semakin lemas saat melihat Malda dan Kinara berdiri di depan pintu rumah Kinara dengan tersenyum menatapnya.


"Papi..." lirih Malda saat berhadapan dengan Lana.


Lana menangis tersedu. Ia mengulurkan tangannya untuk dipegang Malda. Malda menyambutnya.


"Papi..." lirihnya lagi dengan leher tercekat.


Bibirnya bergetar tetapi tetap menyunggingkan senyum manis.


"Iya sayang, ini Papi. Papi Lana.. Papi kamu. Puan Maldalya Al Amirullah Syam! Hiks.. Putriku.. Kamu kembali Nak?" ucap Lana.


Malda mengangguk dengan air mata yang sudah beruraian. "Iya, kakak kembali seperti keinginan kedua Papi dan kedua Mami kakak. Kakak pulang untuk kalian semua.. Kakak sayaaaaanngg sekali sama Papi. Papi segalanya buat kakak!" imbuhnya yang membuat lana semakin terharu sekaligus tersedu.


"Hiks Putriku! Cup, cup, cup!" Lana mengecup seluruh wajah Malda dan memeluknya dengan erat.


Panglima Satria tertegun melihatnya. Inilah yang Malda katakan padanya selalu tentang sang Papi yang begitu menyayanginya.


Wajah nya yang mirip Panglima Dani dan juga setiap kelakuannya itu pun sama. Satria masih menatap pada kedua orang yang kini saling berpelukan dan menagis bersama.

__ADS_1


Malda telah kembali dan berkumpul bersama keluarga nya lagi. Seperti permintaan mereka dulunya.


__ADS_2