
Setelah mengudara selama berapa jam, kini mereka bertiga sudah tiba di bandara Kuala lumpur, Selangor Malaysia.
Turun dari pesawat kaki Malda dan Satria kompak mematung. Mereka menatap sekitar dengan tatapan tajamnya.
Bola mata keduanya membiru. Awan gelap disertai petir menghampiri mereka. Malda menatap tajam pada tga orang berjubah hitam disana.
Tangan keduanya bertaut. Mereka dengan sigap melayang ke udara dan melemparkan serangan pada warna hitam yang saat ini mengitari mereka bertiga.
Splashh..
Dum!
Tuar!!
Suara ledakan di atas langit sana mengejutkan semua orang. Salah satunya Pakcik Burhan yang kini mematung dan mendongak melihat ke atas, dimana terlihat Datok Amirullah dan Puan Maharani sedang diserang oleh orang berjubah hitam.
Mulutnya menganga lebar.
Sementara di atas awan sana kelima orang itu terus berperang saling adu kekuatan. Kekuatan yang tidak seimbang.
Ketiga orang berjubah hitam itu kalah telak dengan kekuatan mereka berdua.
Duum!!
Brraakk.
Splashh..
Awan hitam itu menghilang. Sedang keduanya turun perlahan yang membuat Pakcik Burhan semakin menganga lebar.
Setelah mendarat dengansempurna, malda menjentikkan jarinya. Sekejab mata suasana bandara kembali ramai setelah tadi sunyi sepi dalam sekejab karena jentikan jari Malda.
__ADS_1
Malda dan Satria tersenyum manis padanya. Beliau mengerjabkan mata berualng kali. "I-ini.. Ka-kalian berdua.." ucapannya terhenti saat melihat anggukan Malda dan Satria bersamaan.
"Hah? Bagaiaman bisa? Bukannya kalian itu.."
"Sudahlah Ayahanda. Sebaiknya segera pergi dari sini. Para pengawal dan juga orang suruhan Raja Apilong masih mengikuti kita! Ayo, lakukan Lya!" katanya pada Pakcik Burhan dan juga Malda yang kini mengangguk padanya.
"Pejamkan mata Pakcik. Jangan dibuka sebeum kami yang memintanya!"
"Hah?" lagi Pakcik Burhan menganga.
Satria terkekeh lagi. "Pejamkanmata Ayahanda..." katanya sedikit gemas dengan ayahnya itu.
Malda terkikik geli. Karena Pakcik Burhan tidak juga menutup matanya, Satria menutup kedua matanya dengan telapak tangan nya.
Satria mengangguk pada Malda. Malda memejamkan kedua matanya, begitu pun dengan Satria.
Blam!
Saat ditengah perjalanan, Malda bergumam. "Koper kita Abang! Ponsel ku!"
Satria membuka kedua matanya begitupun dengan malda. Saat ini mereka berada diatas awan yang sednag bergerak melebihi pesawat kencangnya.
Satria terkekeh melihat wajah manyun Malda.
"Tenanglah sayang.. Koper kita sudah ada ditempatnya kok. Lihat aja di belakang kamu?"
Malda menoleh ke belakang, ia melompat-lompat kegirangan. Satria terkekeh lagi.
"Hihihi.. Kirain tadi hilang loh.."
"Hilang kemana sayangku? Lah wong abang yang membawanya sedari tadi?
__ADS_1
"Eh, iyakah?
"Iya sayangku, cintaku yang belum jadi istriku.. Kelak akan menjadi permaisuri dihatiku dan juga Ratu seluruh jagat Malaya ini! "
Blussshh..
Wajah itu merona seketika. Ia menjadi malu.
"Abang gombal!"
Satria terkekeh geli.
"Nggak sayang.. Abang nggak gombal! Kan memang iya kalau kamu itu Ratu dan permaisuri dihati Abang?"
"Sejak kapan?"' tanya Malda dengan mata memicing melihat Satria yang kini tersenyum manis padanya.
"Sejak pertama kali melihatmu Abang sudah jatuh cinta padamu. Tetapi Abang menahan nya karena kamu masihlah kecil. Masih lima belas tahun!"
"Ye.. Mana ada! Sebentar lagi enam belas tahun kok." Malda memutar bola mata malas
"Tahun depan sayangku.." Satria terkekeh
"Nggak! Tahun ini!"
"Tahun depan!"
"Tahun ini! "
Keduanya terus berdebat dengan bahasa batin. Kedua mata saling menatap tetapi mata berbicara.
Tanpa sadar, tempat yang mereka tuju sudah ada di depan mata keduanya. Keduanya berhenti berdebat dan segera turun ke bawah, dimana penasehat Datok Amirullah sednag menunggu mereka bertiga dengan senyum manisnya.
__ADS_1