KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
LELAKI 4N71N9


__ADS_3

Lokasi wisata kota, Pantai Pohon Cinta, Pukul 17.30


Reva mengundang teman-teman se-genk, termasuk Ichi menikmati sajian makanan disalah satu restoran ala carter menu yang banyak bertebaran dilokasi tersebut. Kelompok itu sengaja mengambil tempat di ujung ruangan yang berdekatan dengan pagar balkon agar leluasa menatap taman buatan yang menghampar pada bentang lahan pantai tersebut.


Reva dan sepupunya, Asna ternyata memiliki tanggal lahir yang sama. Itulah sebab mereka merayakannya. Lagipula, saat ini Asna sudah beberapa hari berada di Marisa menikmati cuti sebagai karyawan salah satu perusahaan yang berada di Kota Gorontalo.


"Tenang, hari ini, aku yang traktir kalian semua." ujar Asna dengan senyum terkembang. Tentu saja hal tersebut tak disia-siakan oleh mereka. Nggak baik menolak rejeki.


"Appetizer nya apa-apa saja nih?" tanya Reva menyinggung salah satu kata dalam perbendaharaan istilah didunia restoran.


"Coba lihat saja signature dish dilembaran itu." ujar Ichi yang terprovokasi ikut mengucapkan istilah tataboga itu sambil menunjuk lembaran papan menu.


"Seh, nggak usah pakai-pakai istilah aneh begitu." tegur Sarah dengan wajah cemberut. Ia memang tak paham istilah-istilah yang newist ditelinganya.


"Lha, Reva yang duluan." tukas Ichi menunjuk Reva yang meresponnya dengan ketawa.


"Kenapa? makanya belajar, jangan hanya main tik-tok saja kerjamu." olok Reva kemudian menjulurkan lidah.


"Eh, biarin." tangkis Sarah dengan sengit, "Lagian kalian belum pernah melihat calon artis ternama Indonesia masa depan? Nih. Didepan kalian orangnya." ujar gadis itu menepuk dadanya sekali lalu sedikit bergaya genit didepan teman-temannya. Tentu saja dia langsung disoraki.


Asna melerai, "Sudah sekarang pesan menunya. jangan tanggung-tanggung. Asal masih dibawah sejuta, aku masih bisa bayar kok." ujar Asna lagi.


"Nih traktir pakai limit sih?" tukas Rosna sembari cekikikan.


"Ya, aku kan bawanya cuma segitu." jawab Asna dengan jujur.


"Kalau perutku sih nggak usah dikuatirkan menghabiskan dana. Cukup sebuah Es Kelapa Kopyor, nasi ditambah lalapan dan Ayam bakar, sudah cukup deh." ujar Ichi berpromosi.


"Ye, sama!" tukas Zila, "Aku juga nggak neko-neko."


"Baik. Tulis semua pesanan kalian, biar ku bawa ke kasir!" pungkas Reva dengan semangat.


Semua dari mereka kemudian menulis isi pesanannya pada kertas nota yang disodorkan bergantian. Setelah semuanya selesai memesan, Reva meraih buku nota itu dan membawanya menuju kasir. Sejenak kasir meneliti daftar pesanan yang diinginkan, kuatir jika ada salah satu menu yang tak disajikan pada hari itu disebabkan ketiadaan bahan.


Untunglah, tak ada yang di cancel pada daftar menu pesanan tersebut. Kasir memanggil chef dan menyodorkan nota pesanan tersebut. Chef itu menerimanya, membacanya sejenak lalu mengangguk-angguk sembari menatap Reva.


"Tunggu sejenak." pintanya.


Reva mengangguk dan chef itu melangkah meninggalkan gadis itu. Reva kembali dan duduk bersama-sama teman satu genknya. Ia menatap teman-temannya.


"Menunggu pesanan tiba, marilah kita memanjatkan doa syukuran untuk merayakan hari ulang tahun kami berdua. Siapa yang pimpin doa?" pancing Reva.


Serentak teman-teman menengok ke arah Ichi. Gadis itu menghela napas sejenak.


"Aku... juga..." gumamnya meniru ucapan Mail dalam film Upin-Ipin. Gadis itu kemudian mengangguk dan mengajak teman-temannya menengadahkan tangan dan berdoa.


"Marilah kita berdoa untuk mensyukuri hari ini dan berharap bahwa hari-hari ke depan akan semakin baik." ujar Ichi sembari menatapi teman-temannya termasuk Asna. "Berdoa... mulai!"


Ichi memimpin doa dimulai dari Surah Alfatihah dan disambung dengan sholawat kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam, setelah itu ia berdoa dengan suara jahr:


"Ya Allah... panjangkanlah usia kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami kepada kebaikan dan jauhkan kami dari kejelekan, penuhi kebutuhan kami dalam agama baik didunia maupun di akhirat....sesungguhnya, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu..." seru Ichi dan di aminkan beberapa kali oleh Reva dan Asna sedangkan yang lainnya hanya menggumamkan pernyataan aminnya saja.


"Ya Allah... kami meminta kepada Engkau atas pemberian rizki yang halal, luas dan baik tidak tanpa repot, tanpa kemelaratan, dan tanpa keberatan... sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu..." seru Ichi lagi dan tetap diaminkan oleh mereka. Ichi membaca doa penghasilan dan menutup doa dengan ucapan hamdalah.


"Cocok jadi Syarada'a nih." tukas Rosna menggoda Ichi.


Gadis itu hanya senyum cengengesan saja saat merespon ungkapan dari Rosna tadi. Asna menatap Ichi.


"Terima kasih atas doanya." ujar Asna dengan tulus.


"Itu memang kewajiban para undangan, sebab kami menerima banyak anugerahmu." jawab Ichi dengan tenang.

__ADS_1


Asna mengernyitkan alis dan tersenyum miring. "Anugerah yang mana?"


"Itu..." jawab Ichi menganggukkan kepala ke arah kasir.


mereka menoleh dan muncul dua orang pelayan membawa baki berisi pesanan-pesanan mereka. anak-anak itu bersorak senang melihat pesanannya datang. Para pelayan meletakkan sajian tersebut diatas meja.


"Siapa yang pesan lalapan ayam bakar?" tanya salah satu pelayan.


Ichi mengangkat tangan. Pelayan itu meletakkan pesanannya didepannya. Reva dan yang lainnya juga kebagian pesanannya.


"Saatnya makan." seru Ichi kemudian menatap lagi teman-temannya. "Mau dibacakan doa makannya lagi?" pancing Ichi.


Teman-temannya merespon dengan tertawa. Ichi menarik napas sejenak dan berdoa sendiri. Sementara mereka asyik menikmati makanan mereka, datanglah seorang pemuda menghampiri.


"Asna..." panggilnya.


Asna langsung menoleh dan tak lama senyumnya tersungging.


"Oh, Rusli." sahutnya menyebut nama lelaki itu. Reva dan teman-temannya juga menatapi pemuda tersebut.


Pemuda itu sejenak tersenyum kepada kelompok perempuan itu lalu kembali menatap Asna. "Bisa kita bicara sebentar?" pinta lelaki tersebut.


"Tentu." jawab Asna dengan antusias. Gadis itu berpaling kembali kepada Reva. "Kalian lanjutkan makannya, aku mau bicara empat mata dulu dengan Rusli." ujarnya kemudian tersenyum lagi. "Tenang, aku nggak akan lari nih. Kubayari semua."


Reva dan teman-temannya hanya tertawa saja menanggapi ucapan Asna. Gadis itu bangkit dan mengajak Rusli meninggalkan tempat itu. Dengan tatapan periperal, Ichi menjejaki arah perginya Asna dan teman lelakinya tersebut.


Sementara Reva langsung kembali memperbaiki suasana yang sempat hening dengan kedatangan Rusli. "Ayo! habiskan semuanya." seru gadis itu dengan riang. Sontak, Rosna, Zila, Sarah, Wafiq, Fira, Mutia dan Anggi segera menyerbu kembali santapan mereka.


Gawai disaku celana Ichi bergetar. Entah panggilan dari siapa lagi yang membuatnya terganggu dari kesenangannya. Gadis itu mengelap jemarinya pada tisu kertas lalu merogoh saku mengeluarkan gawainya.


"Dari siapa Chi?" tanya Wafiq.


Ichi hanya mengangkat bahu lalu mengaktifkan layar gawainya. Disana nampak gambar ikon panggilan tak terjawab. Ichi menekan ikon itu dan alisnya terangkat lagi.


Mereka mengangguk-angguk dan Ichi meninggalkan mereka yang kembali sibuk menyantap makanan sambil sesekali saling bercanda dan meledek satu sama lainnya. Gadis itu mengayun langkah keluar dari restoran itu dan menghubungi ibunya. Hanya dalam sekian detik, panggilan itu langsung dijawab.


📲 "Aa... Kenapa Umi?" tanya Ichi sembari menyeberang jalan menuju ke lapangan auditorium terbuka diseberang.


📲 "Cepat pulang, Nunu." perintah Azizah. "Umi tahu kamu jam tujuh sudah ada dirumah."


📲 "Sedikit lagi Umi." pinta Ichi memohon, "Aku baru hendak makan, Umi sudah menghubungi."


📲 "Baiklah..." ujar Azizah, "Umi tunggu ya?"


pembicaraan selular itu diakhir dan Ichi kembali menyimpan gawainya. Gadis itu menegakkan wajah dan sejenak kedua matanya memicing.


Nun disana, ditoilet dekat amphiteater nampaklah Asna dan Rusli yang berhadapan, sedang asyik membicarakan sesuatu. Kelihatannya Rusli agak memaksakan kehendak dan Asna kelihatannya menyanggupinya dengan ekspresi terpaksa meski tetap menebarkan senyum kepada lelaki itu.


Tunggu! Nggak salah nih? Kok keduanya masuk kedalam toilet?... oh,oh,oh,... nggak beres nih.


Ichi melangkah dengan santai meski terus menyamarkan dirinya dikerumunan orang-orang yang memenuhi lapangan tersebut. Ada beberapa penjual cilok yang dikerubuti pelanggannya, penjual sempol ayam yang diminati para penggemarnya dan beberapa penjual yang meniagakan jenis dagangannya sedang beberapa pengunjung lain kelihatannya hanya duduk-duduk atau berdiri santai dengan pasangannya sekedar mengisi hari yang lowong atau menghilangkan stress yang diakibatkan oleh rutinitas kerja.


Ichi sudah tiba di amphiteater yang sekomplek dengan toilet itu. Kedua pasang sejoli itu sudah sejak tadi masuk kedalamnya. Beberapa saat Ichi tiba disana dan berdiri disisi pintu toilet yang tertutup, anak itu langsung mendengar suara-suara unik komplikasi dari ******* dan lenguhan serta jeritan kecil berpadu dengan bunyi kecipak tubuh yang basah dengan keringat entah dengan cairan apa.


Ichi mendesis dan berinisiatif mengintip melalui lubang kunci. ruangan yang sempit dalam toilet membuat kedua orang didalamnya tak punya cara lain selain menuntaskan hajatnya, tak sadar dengan diintip.


Ichi dapat melihat dengan jelas barang tegang milik pemuda itu keluar masuk didalam liang pukas kekasihnya. Asna hahya bisa menyangga tubuhnya pada sisi bak air, membiarkan celana jinsnya melorot bersama cawatnya sedang pinggula Rusli beraksi dengan gagahnya diwilayah pantat wanita oru.


Ichi kembali mendesis dan menegakkan tubuhnya. Ia sebenarnya hendak marah dan hendak melabrak kedua orang itu, namun mengingat posisinya yang tak memiliki hubungan apapun dengan mereka berdua selain pertemanan melalui sisi Reva, membuat gadis itu mengurungkan niatnya dan memilih melangkah meninggalkan tempat itu.


Ichi melangkah dengan cepat bagai melayang. Benaknya dipenuhi oleh suara-suara itu. Sangat mengganggu!

__ADS_1


Teman-temannya heran melihat Ichi yang tiba dengan wajah keruh. Makin heran mereka saat Ichi mengambil ransel kecilnya dan langsung menyandangnya dibahu. Dipandanginya teman-temannya.


"Aku pulang duluan ya?" tanya Ichi hendak pamit.


"Lho? Kenapa?" tanya Reva dengan heran.


"Panggilan dinas." kilah Ichi dengan senyum datar.


"Ah, kayak mamamu nggak pernah muda saja." Sindir Mutia dengan senyum masam. "Jarang kita kumpul begini."


"Sori... benar-benar sori nih." ujar Ichi memelas. "Nanti berikutnya, aku yang traktir dah."


"Janji ya?!" seru Rosna seketika langsung memperlihatkan jari kelingkingnya yang terkait.


Ichi hanya mengangguk-angguk senyum lalu pamit dan melangkah meninggalkan kawanan tersebut. Zila menatap sajian lalapan milik Ichi yang belum sempat disentuhnya.


"Gimana dengan makanannya tuh?" celetuk Zila menganggukkan kepalanya kearah piring lebar berisi lalapan tersebut.


"Dibungkus saja dan di deliv (dikirim pakai kurir) saja ke rumahnya." ujar Reva. "Nanti aku yang kirim."


Zila mengangguk-angguk. Reva kemudian memanggil pelayan. Seorang anak muda datang dan menyapa mereka. "Ada yang bisa dibantu?"


"Ini..." ujar Reva menunjuk piring berisi sajian lalapan. "Tolong dibungkus saja. Nanti bawa kembali ke saya."


Pelayan muda itu mengangguk dan mengambil piring tersebut dan meninggalkan meja. Tak lama kemudian Asna muncul dengan wajah cerah.


"Hai... sudah lama ya?" ujar gadis itu.


Reva dan teman-temannya hanya tertawa. Asna memperhatikan teman-teman sepupunya agak lama. Ia baru sadar dan menatap Reva.


"Va! Teman kamu yang satunya mana?" tanya Asna.


"Oh, sudah dihubungi ibunya." jawab Reva, "Biasa... anak itu kan semata wayang, jadi orang tuanya agak protektif gitu."


Asna tertawa, "Gaya jaman dulu masih dibawa-bawa." sindirnya, "Aku kuatir nantinya dia jadi kuper."


Reva balas tertawa, "Kamu nggak usah kuatir. Orangnya sangat update."


Asna hanya mengangkat alisnya sejenak. Fira memandangnya. "Kenapa tak diajak teman lelakimu itu? Itu pacarmu, kan?"


Asna hanya tersenyum saja menanggapi pertanyaan Fira tersebut.


"Iya... kasihan." sahut Rosna, "Kenapa nggak diajak?" gadis itu tertawa, "Kamu takut dia kepincut diantara kita-kita ini?"


Asna tertawa, "Dia itu setia orangnya." ujarnya menandaskan karakter kekasihnya dihadapan Reva dan teman-temannya. "Nggak bakalan dia berpaling kepada satu diantara kamu."


"Taruhan!" seru Zila dengan antusias. "Kalau ternyata pacarmu itu terpikat sama salah satu diantara kita-kita ini, kamu nggak boleh menuntut atau kesal!"


Asna terdiam sejenak dan itu membuat Zila tertawa dibarengi Rosna dan Fira. Tentu saja Asna terprovokasi. Hatinya panas mendengar sindiran bercampur tantangan tersebut. Ini bicara harga diri dilandasan loyalitas dan komitmen dalam pacaran.


"Oke! Aku ikut tantangan kalian." balas Asna.


"Hus! Nggak usah ikut-ikutan gila." tukas Reva, "Masa pacar sendiri dibikin taruhan? Ini otaknya masih diada ditempurung kepala atau sudah pindah ke dengkul nih?" tegurnya.


"Syukur kalau masih di dengkul." sahut Wafiq. "Coba kalau sudah pindah ke m***k, waaah... bahaya tuh! pikiranya nge s**s melulu."


"Hush! hush! Kok malah bicara begituan sih?" tegur Reva agak keras. "Kita kesini untuk have fun, bukan ngebahas aib orang! Gombrang kamu semua ya?!" umpat Reva.


"Santai Sis... ini cuma taruhan." ujar Zila membelai punggung Reva. Ia kemudian menatap Asna. "Gabung dong. Ini makanan masih mau dihabiskan atau mau di anggurin? nanti mubazir lho. Ingat pesan Ustadz, kan?"


Asna tersenyum lalu ikut bergabung dengan kawanan itu, menikmati makan-makan dan bergembira bersama. Asna tak sadar bahwa arogansinya menyanggupi tantangan akan dibayar dengan sangat mahal.

__ADS_1


jelas, Rusli, bukan tipe yang diharapkan gadis itu. []


__ADS_2