KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
PEMBATAS CINTA


__ADS_3

Aldi baru saja tiba di konter gawainya ketika menemukan seseorang yang begitu dikenalnya. Ia seorang wanita berwajah indo, mengenakan pakaian yang menarik hati. Wanita itu menatapnya dan mendekati pemuda itu saat ia memarkir sepda motornya.


"Hai, Aldi... lama nggak jumpa." sapa perempuan itu. "Aku benar-benar kangen sama kamu."


Aldi mengangkat wajah dan tersenyum. "Sudah lama menunggu, Natasha?" tanya pemuda itu.


"Lama juga..." jawab Natasha, "Aku nyaris bosan, lho." ia tertawa.


Aldi tertawa, "Mari masuk." ajaknya.


Keduanya memasuki konter dan terus ke belakang. Para pegawai melihat mereka sejenak. Mereka memang tahu, siapa perempuan itu. Menurut Aldi, ia adalah teman satu sekolahnya saat tinggal di Manado dulu. Natasha kemudian keluar daerah mengikuti keluarga. Kabar terakhir yang didengarnya, perempuan itu sekarang berdomisili di Surabaya.


"Mau minum apa?" tanya Aldi.


Natasha tersenyum. "Kamu kan tahu apa yang jadi kebiasaan aku sejak kita sekolah?" ungkit gadis itu.


Aldi mengangguk. Pemuda itu melangkah menuju kulkas dan membukanya. Ada sebotol sirup coco pandan disana. Ia dan Natasha menggemari minuman yang sama. Pemuda itu menuangkan sirup itu dan mencampurnya dengan air lalu mengocoknya perlahan. Minuman itu kemudian diberikan kepada Natasha.


"Makasih..." ujar gadis itu dengan lembut.


Aldi kembali tersenyum dan mengangguk. Pemuda itu kemudian duduk dan mengeluarkan bungkusan rokok dari sakunya. Sebatang lintingan tembakau itu dicabutnya dan dilekatkan pada jepitan bibirnya.


"Kamu makin tampan saja kutinggalkan, Aldi." goda Natasha.


Aldi tersenyum lagi sambil menyulut rokoknya. Setelah menghembuskan asap, pemuda itu menatap Natasha dengan pandangan penuh.


"Masih tinggal di Surabaya?" tanya Aldi.


Natasha mengangguk, "Tapi aku lagi ada urusan bisnis. Aku membuka usaha kuliner di Gorontalo. Sementara pengembangan. Lumayan, ternyata prospeknya bagus jugam aku tak menyangka."


Aldi mengangguk-angguk. "Lalu kedatanganmu kemari?"


"Kan sudah kubilang, aku kangen kamu." ujar Natasha kembali menggoda.


Aldi tertawa. "Kangen yang mana?" pancing pemuda itum


"Seperti biasa..." ujarnya dengan lirih dan serak sambil tersenyum nakal.


Aldi kembali tertawa pendek. Setelah itu ia mengucap, "Mulai sekarang kita mengurangi pertemuan kita, Natasha..."


Natasha tersenyum lalu mencibir. "Kamu ini... mentang-mentang dapat daun muda, aku dicueki... begitu riba di Surabaya, aku juga yang dicari..." sindir Natasha.


Aldi tertawa lagi. Natasha menyambung, "Sebenarnya, kamu nggak akan bisa lari dariku."


Aldi mengangguk-angguk. "Kurasa itu masuk akal."


Natasha mengambil gelas dan meminum sirupnya nyaris tandas. Wanita itu kemudian berdiri. "Baiklah Aldi... aku permisi dulu."


"Eh, cepat sekali kau pergi." tukas Aldi langsung berdiri.


"Nanti aku kesini lagi... aku masih lama disini... lagi melakukan survey, apakah aku bisa melebarkan bisnisku disini, atau nggak." jawab Natasha.


Aldi mengangguk lalu tersenyum. "Baiklah... aku tunggu nanti kamu kemari lagi."


Natasha mengangguk dan tiba-tiba menyosorkan wajahnya dan mencium pipi Aldi. Pemuda itu sejenak kaget namun kembali tersenyum.


"Ciuman kangen... boleh, kan?" ujar Natasha.


"Kamu memang penuh kejutan." ujar Aldi membalas dengan mencubiti dagu Natasha.


Keduanya kembali melenggang langkah ke depan. Sesampainya disana, Aldi menatap Natasha. "Aku panggilkan bentor ya?"


"Nggak, nggak usah." tolak Natasha dengan lembut. "Aku tak terbiasa naik kendaraan itu."


"Tapi kulihat kau tak membawa kendaraan." ujar Aldi. "Atau ku antar saja kau. Sebutkan alamatnya." usulnya.


"Nggak usah. Sebentar lagi datang." ujar Natasha.


Aldi mengangguk-angguk lalu menemani Natasha didepan konter itu. Mereka bercakap-cakap hal-hal yang ringan, hingga tak berapa lama sebuah mobil travel muncul. Aldi mengamati logo pada kendaraan itu.


"Ooo... kamu tinggal di hotel itu?" tebak Aldi.


Natasha mengangguk dan tersenyum. Aldi mengangguk pula. "Nanti kapan-kapan aku akan menyambangimu."


"Aku tunggu, ya?" balas Natasha sambil melambaikan tangan kemudian masuk ke dalam mobil itu. Kendaraan tersebut kemudian meninggalkan konter itu.


Aldi mendesah lalu berbalik hendak masuk lagi saat mendengar seseorang memanggilnya. Pemuda itu menoleh dan rahangnya mengencang.


"Ishak..." ujarnya menggeram halus.


orang yang memanggilnya itu memang Ishak. Pemuda itu mengenakan kaos hoodie hitam dan celana panjang jeans. Ia berdiri santai memasukkan kedua tangannya ke kantung kaos itu.


"Mau apa kau?" tanya Aldi.

__ADS_1


"Ketemu kamu." jawab Ishak dengan santai. "Masa mau ketemu pegawaimu?"


Aldi memicingkan mata. "Ishak terkekeh, "Sekalian ingin menggenapi keinginanmu tadi siang saat menjemput Selina. Bukankah kau ingin membunuhku, jika aku muncul dihadapanmu?" sindir pemuda itu dengan senyum dikulum.


Aldi terkejut. "Kau... mengintip kami?" tukasnya.


"Aku bukan stalker, boy..." tangkis Ishak. "Aku kebetulan duduk tak jauh dari kalian berdua. Hanya saja kau tak melihatnya." pemuda itu kemudian mendekat dan berdiri berhadapan bagai petarung yang siap bertanding.


"Kau mencari masalah, datang kemari." ujar Aldi.


"Apakah itu ancaman?" tanya Ishak sekaligus membalas intimidasi yang dibuat Aldi.


"Kau mau membuktikannya?" pancing Aldi dengan sikap mulai bersiaga.


Ishak mengangkat bahu. "Sebutkan dimana kita bertanding. Yang jelas bukan disini."


"Kau takut?" ejek Aldi terkekeh.


"Bukan... aku tak suka jadi pusat perhatian." jawab Ishak dengan santai.


Lama keduanya berdiri kembali saling bertatapan. Namun setajam apapun tatapan Aldi. Dia kalah kompetensi dengan Ishak. Pemuda itu tak tahu bahwa anak yang duduk dibangku kelas X di madrasah aliyah tersebut merupakan pimpinan sebuah organisasi gangster yang ditakuti. Ishak hanya sedang menyamar. Ia tak boleh memperlihatkan sisinya sebagai Skullen.


Ishak tersenyum. "Bisa kita bicara?" tanya pemuda itu.


Aldi menyadari seteru dihadapannya ini berupaya bersikap sopan dan santun bukan karena takut, namun mengambil sikap defensif dalam suasana konflik itu secara halus. Pemuda itu kemudian menunjuk ke dalam.


"Silahkan masuk." ujar Aldi dengan datar.


"Terima kasih." jawab Ishak dengan senyum lalu melangkah memasuki konter.


Pemuda itu banyak juga dicuri-curi pandang oleh pegawai itu. Namun mereka tak berani bertanya, sebab melihat wajah majikan mereka yang kelihatan datar membesi. Kedua pemuda itu terus ke belakang dan tiba di rumah kediaman si pengusaha.


"Wahhh.... mentereng juga kamu." tukas Ishak memperhatikan keadaan rumah lalu menatap Aldi. "Sendirian disini?"


"Ya." jawab Aldi.


Ishak mengangguk-angguk sejenak sambil mengamati ruangan itu. "Aku nggak disuruh duduk nih?" sindirnya.


Langsung saja wajah Aldi memerah. "Maaf... silahkan duduk."


Ishak tersenyum lalu duduk. "Menghormati musuh, juga termasuk dalam adab." tegurnya menyindir Aldi.


Aldi menghela napas berupaya menahan emosinya. "Mau minum apa?" tanya pemuda itu.


"Lalu?" pancing Aldi mengangkat dagunya.


"Aku ingin mengenali sainganku, sepenuhnya." jawabnya dengan santai.


Aldi kembali menggeram halus. Rahangnya mengencang dan kedua tangannya mengepal kuat. Ishak masih saja duduk dengan santai menatap Aldi.


"Tenangkan emosi. Kemarahan yang terlalu... tidak baik untuk kesehatanmu." tegur Ishak.


"Kamu masih sempat-sempatnya menasihati aku?" ujar Aldi dengan kesal. "Disaat yang sama, kau membuat kekasihku menderita!"


Ishak tersenyum. "Kita bicara tentang Kak Selina." ujarnya menyuruh duduk si pemilik rumah.


Aldi akhirnya duduk dan menatap tajam wajah seterunya. Ishak menghela napas sejenak dan melontarkan pertanyaan. "Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?"


"Kau tak pantas mengajukan pertanyaan macam itu. Kau tak berhak." tukas Aldi dengan ketus.


"Ooo... justru sebaliknya, Kak Aldi...aku sangat berhak mengetahui setengah kehidupan calon istriku melalui kekasihnya." balas Ishak menggoyang-goyangkan telunjuknya.


Aldi terkejut. "Apa? Calon istri?"


Ishak mengangguk dengan tenang. "Ya, aku sudah melamarnya kemarin, langsung kepada kedua orang tuanya."


Aldi langsung bangkit dan membuka kakinya bersiaga hendak menyerang. Ishak tersenyum.


"Sebaiknya urungkan niatmu mengagresiku, Kak Aldi." ujar Ishak mengintimidasi lelaki itu. "Kau nggak bakalan menang."


"Setidaknya, aku bisa membunuhmu disini!" seru Aldi yang langsung maju melayangkan pukulan.


Pukulan itu nyaris menyentuh wajah Ishak ketika tiba-tiba ia melesat sedikit ke samping hingga Aldi hanya meninju udara kosong. Disaat yang sama, Ishak menarik tangan Aldi hingga pemuda itu tertarik dan jatuh di sofa dalam posisi menelungkup dan tangannya dilipat, ditindih oleh Ishak.


Aldi meronta-ronta namun tak bisa melepaskan diri. Barulah ia sadar, siapa pemuda itu. Dalam soal berkelahi, mungkin saja Ishak akan unggul melawannya.


"Sudah kubilang untuk tak mengedepankan emosi, Aldi." ujar Ishak menggeram. "Kau harus merelakan Kak Selina untukku, suka ataupun tak suka."


"Sedikitpun... aku tak akan merelakan hal ini!" ujar Aldi dengan nada tinggi.


"Terserah kepadamu, kancing bopang." ujar Ishak mengejek lelaki itu. "Tapi sekali kulihat kau mendekati calon istriku... aku tak segan untuk melakukan tindakan pencegahan... lebih agresif dari ini."


Ishak kemudian menghujamkan tinju hiraken menghantam bagian antara belikat dan tulang punggung membuat Aldi tersentak kaget dan akhirnya jatuh pingsan di sofa itu. Ishak mendengus lalu melepaskan kepitannya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


...******...


Faisal heran saat salah satu santri menemuinya untuk memberitahu bahwa Kyai Hakim mencarinya. Faisal bertanya tentang alasannya, namun santri itu hanya menggeleng pula dengan wajah yang bingung.


Terpaksa Faisal meninggalkan lagi rutinitasnya menyeterika pakaian untuk dikenakan besok pagi. Pemuda itu meninggalkan asrama dan melangkah menyusuri koridor hingga tiba di rumah kediaman Kyai Hakim.


Pemuda itu tiba di beranda. Pintu itu terbuka dan terdengar suara tertawa-tawa. Ia tiba disisi pintu.


"Assalamu..." ujar Faisal namun ucapannya tertahan disebabkan melihat seseorang yang dikenalnya duduk beberapa jarak dari Kyai Hakim dan istrinya.


Kyai Hakim mendehem, menegur Faisal. Pemuda itu terhenyak. Ia langsung mengulang salamnya. "Assalamualaikum."


"Wa alaikum salaam..." jawab Kyai Hakim dan istrinya.


"Masuklah, Faisal." perintah Kyai Hakim.


"Terimakasih, Pak Kyai." jawab Faisal dengan takzim lalu duduk di sisi Kyai Hakim berseberangan dengan Natasha yang duduk diseberang sana.


Faisal menatap Natasha sejenak lalu memandang Kyai Hakim. "Ada apa Pak Kyai?" tanya Faisal dengan takzim.


"Ini... kamu ada tamu." ujar Kyai Hakim menoleh ke arah Natasha sejenak lalu menatap Faisal. "Katanya sahabat lama kamu."


Faisal kembali menoleh menatap Natasha dengan pandangan mencela membuat Natasha mengerutkan alisnya. Faisal kembali menatap Kyai Hakim dan mengangguk dengan takzim.


Kyai Hakim mengangguk-angguk lalu mendehem sejenak, lalu mengucap. "Kalau begitu, berbincang-bincanglah disini." ujarnya kemudian bangkit.


Ketika melewati Faisal, lelaki parobaya itu menepuk-nepuk pelan pundak pemuda tersebut. Faisal sudah paham arti tepukan pelan tersebut. Ia kembali mengangguk dengan takzim dan duduk memperbaiki sikapnya. Kyai Hakim dan istrinya meninggalkan kedua orang itu dalam urusannya.


"Ada apa, Natasha?" tanya Faisal dengan datar namun santun.


"Apa kabar, Faisal?" sapa Natasha dengan lembut dan suaranya dibuat serak menggoda.


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja." ujar Faisal yang sebenarnya sudah mulai bosan berbasa-basi.


Natasha tahu benar gaya pemuda itu. Ia langsung mengujar. "Aku kangen sama kamu, Fais." ujarnya dengan langsung.


"Terima kasih." jawab Faisal sambil tersenyum.


"Hanya terimakasih saja jawabannya?" tanya Natasha dengan heran.


Faisal mengangguk cepat lalu mengangkat alisnya. "Apakah ada sesuatu yang lebih kau harapkan?"


"Tentu saja..." ujar Natasha sembari bangkit dan mengambil tempat duduk dekat Faisal. "Aku sudah bilang, aku kangen sama kamu."


"Ya... terima kasih." jawab Faisal.


"Fais! Nggak lucu!" omel Natasha.


"Kurasa... perbincangan kita selesai sampai disini, Natasha." ujar Faisal.


"Lho? Kok?" protes Natasha.


"Kita tak semestinya bicara disini." ujar Faisal.


"Kalau begitu kita bicara ditempat lain." ujar Natasha mengajak Faisal. Ia menyentuh lengan pemuda itu. Namun betapa terkejutnya Natasha ketika Faisal menyingkirkan tangannya.


"Fais..." ujar Natasha.


"Urusan kita sudah selesai, Natasha." tandas Faisal. "Sejak kau menolakku, memilih lelaki itu, maka aku memutuskan melupakanmu."


"Secepat itu?" tukas Natasha.


"Secepat itu." sahut Faisal. "Selamat tinggal, Natasha."


"Faisal, tidak adakah sedikit saja dalam benakku tentang aku?" selidik Natasha lagi.


Faisal tersenyum. "Dulu... perasaan itu begitu menggebu... tapi sekarang... itu telah berlalu..."


Alis Natasha mengerut. "Kau sudah punya pengganti." tebaknya. Faisal kembali tersenyum.


"Jika memang ada, aku dengan senang hati memperkenalkan dirinya padamu." sahut Faisal. "Kurasa... jam berkunjung telah habis." ujarnya sembari menatap jam dinding, kemudian menatap Natasha. "Pulanglah Natasha... malam sudah larut."


Natasha mendengus. "Kau mengusirku?"


Faisal kembali tersenyum. "Kau salah paham. Aku tak mengusirmu. Namun di pesantren ini, memang jam berkunjung hanya sampai jam delapan."


Natasha bangkit dan menatap Faisal. "Baiklah Faisal. Aku akan meninggalkan tempat ini. Tapi patut kau ingat bahwa aku tak pernah menyingkirkanmu dari hatiku. Tak sedikitpun."


Wanita itu melangkah pergi tanpa pamit. Faisal hanya menghela napas. Tak lama kemudian muncul Kyai Hakim. Faisal menatap pimpinan pesantren itu dan langsung duduk dengan sikap takzim.


"Kyai..." ujar Faisal.


"Bersabarlah Faisal... jika kau bersabar, maka Allah akan memudahkan jalanmu." ujar Kyai Hakim kembali mencondongkan tubuh dan mengulurkan tangannya menepuk-nepuk pundak Faisal dengan pelan setelah itu kembali melangkah meninggalkan Faisal yang duduk termangu di ruangan itu. []

__ADS_1


__ADS_2