KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
MENCARI TUHAN, TAK PERLU PERGI KE LANGIT...


__ADS_3

Hari Sabtu, seperti biasa. Ichi gembira meskipun kegembiraan itu sering terganggu dengan ritual pembelajarannya. Untungnya pihak madrasah sudah mendapat rekomendasi dari Tim Satgas Covid, bahwa sudah boleh melangsungkan pembelajaran tatap muka terbatas. Jam pembelajaran yang semestinya 45 menit per tatap muka, kini sudah dirampingkan menjadi 13 menit per tatap muka. Tidak efektif memang, apalagi jika harus meluruskan pemikiran goblok generasi muda yang sudah teracuni oleh kenyamanan artifisial yang ditawarkan oleh teknologi saat ini. Tapi, semuanya tergantung peserta didik dan pendidik itu sendiri, apakah keduanya bisa saling bersinergi atau justru mengalami diskrepansi standar capaian kompetensi.


Ichi tak pernah mengungkit satu kalipun perdebatannya dengan Ustad Gau kamis kemarin. Bisa-bisa anak itu ditegur keras lagi oleh ayahnya.


"Ada pengetahuan yang bisa disampaikan, jika ia mampu dipahami dan bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Namun ada juga pengetahuan yang tidak boleh diumbar sebab bersifat pribadi dan belum tentu berguna, kecuali oleh pemilik pengetahuan itu sendiri." Ujar sang ayah dalam suatu pembicaraan saat keduanya mendiskusikan konsep pengajaran sebuah pengetahuan dari seorang pendidik kepada peserta didik. "Yang penting, tujuan pendidikan itu sudah tercapai. Tidak perlu merecoki orang dengan pengetahuan, hanya untuk mencari pengakuan bahwa ita lebih mengetahui apapun ketimbang mereka."


Sepulang sekolah, seperti biasanya, Ichi mempelajari teknik-teknik pukulan sesuai dengan pengarahan ayahnya. Yang menjadi dummy, adalah batang-batang pohon pisang yang banyak tumbuh dihalaman belakang rumah mereka.


Ayahnya selalu menekankan pembelajaran dasar yang diambilnya dari kurikulum dasar pengajaran chuanfa Shaolin, entah itu cara memukul dan menendang. Teknik Tate ni Otoshi nagashi , Tate no Otoshi haishu, teknik naiwan shuto uchi dan gaiwan shuto uchi selalu ditekankan saat menghantam permukaan batang pohon pisang itu. Begitu juga teknik haisoku geri dan beberapa teknik tendangan lainnya.


Ichi pernah mengutarakan keinginannya untuk mempelajari Taekwondo. Alasannya sebenarnya hanya karena Ichi sering terpukau dengan atraksi tendangan yang sering dipamerkan para kyongrye dalam berbagai atraksi seninya.


"Menguasai teknik tendangan tidak harus masuk kedalam ilmu tersebut." ujar sang ayah saat kegiatan mondo. "Kamu cukup permantap saja teknik-teknik aliran shorin dalam Karate-do. Aliran shorin sangat mirip dengan Taekwondo karena pada dasarnya keduanya merupakan cabang dari Tote dan Yuan Wu Do. Sedangkan aliran shorei merupakan cabang murni dari chuanfa Shaolin."


Ichi terdiam saat sang ayah menjabarkan hal tersebut. Lelaki itu terus menjabarkan teknik-teknik tendangan juga lompatan.


"Kau latihan ketangkasan yang menitik beratkan pada gaya lompatan dan tendangan. Jika kau mampu menguasainya, maka semua teknik dan gaya tendangan yang selalu diaplikasikan para Kyongrye Taekwondo itu dapat kau kuasai." tandas sang ayah.


"Apakah itu bukan mencuri ilmu namanya, Abi?" pancing Ichi.


"Seni beladiri itu umumnya sama, nak." ujar sang ayah. "Hanya saja, karakteristik tempat dimana beladiri itu diaplikasikan, itulah yang menciptakan perbedaan. Ada beberapa teknik yang berguna disuatu tempat, ada yang tidak berguna disuatu tempat pula."


Sang ayah menarik napas sejenak. "Seperti halnya pedang panjang dan tombak. Senjata itu hanya berguna pada pertarungan jarak sedang. Panah hanya berguna dalam pertempuran skala besar. Belati dan pedang pendek, berguna dalam pertarungan jarak dekat dan kontak fisik. Itu saja. Selebihnya... semua teknik beladiri itu sama. Tak ada yang beda. Yang membedakannya hanyalah falsafah."


"Berarti seni beladiri itu, tak ada yang campuran? seni beladiri itu semuanya murni?" tanya Ichi lagi.


"Seperti yang sudah kubilang dari dulu. Seni beladiri itu sebenarnya sama saja. Tujuannya adalah untuk melindungi diri dari agresi. Ketika beladiri masuk ke ranah falsafah ia menjadi murni karena ditunjang dengan adab etika. Berbeda jika beladiri digunakan dalam skala perang, karena yang ditonjolkan adalah unsur muslihat." ujar sang ayah kemudian melanjutkan. "Ketika Ye Wen (Yip Kai Man / Ip Man) mempelajari Wingchun dari Chan Wah Shun, ia mempelajari wingchun murni karena melalui perguruan resmi, ditambah penanaman moral oleh Ng Chung So. Ketika ia bertemu Leung Bik dan berguru darinya, maka wingchun yang dipelajari Ye Wen menjadi wingchun yang asli, sebab Leung Bik adalah putra dari Dr. Leung Jan yang juga merupakan guru dari Chan Wah Shun."


"Abi...apakah Abi mempelajari Karate-do agar bisa menjadi orang paling kuat?" pancing Ichi.


Sang ayah tertawa sejenak lalu mengangkat alis dan bahunya kemudian menjelaskan lagi, "Memutuskan siapa yang terkuat dan yang lemah dalam sebuah pertarungan, bukanlah tujuan dari Karate-do. Tujuan akhir dari Karate-do sebenarnya adalah pemurnian jiwa. Kuasailah dirimu sendiri sebelum Allah memberimu anugerah untuk menguasai orang lain. Hormatilah dirimu sendiri jika kau ingin dihormati oleh orang lain." ujarnya menatap tajam putrinya. "Anakku...Pelajari teknik-teknik yang sudah Abi ajarkan padamu dengan berkesinambungan. Sebuah pisau jika tak diasah secara berkala, tidak akan bisa digunakan untuk memotong. Gunakan kekuatanmu untuk menegakkan keadilan. Dan kekuatan dipergunakan hanya sebagai piliham terakhir dikala orang dan keadilan tidak dapat lagi mengatasi kemunkaran. Namun jika kau mempergunakan kekuatanmu tanpa pertimbangan-pertimbangan berdasar prinsip kebenaran dan keadilan... maka kau hanya akan kehilangan muka dihadapan orang lain. Paham?!"


Ichi akhirnya mengangguk-angguk. Gadis itu sudah paham inti dari seni beladiri itu sendiri. Karate-do, begitu juga dengan Taekwondo dan berbagai disiplin beladiri itu sendiri hanya sebuah jalan (cara), bukan merupakan tujuan akhir dari seni itu sendiri.


"Baik... kurasa sesi mondo perlu diakhiri." ujar sang ayah sembari melihat pemandangan senja yang sebentar lagi menuju kegelapan yang berangsur-angsur.


"Abi... sedikit lagi boleh?" pinta Ichi dengan lirih. "Aku masih punya satu pertanyaan lagi."


Sang ayah menatap sejenak putrinya lalu terkekeh. "Apa ini ada hubungannya dengan pertanyaan yang kau ajukan pada Ustadz Gau?" pancing lelaki itu.


Ichi terhenyak, "Kok Abi tahu?"


"Ya iyalah, masa iya iya dong?" balas sang ayah sambil tertawa lagi. Setelah puas tertawa, sang ayah kemudian menasihatinya. "Ilmu begituan jangan kau tanyakan dihadapan orang banyak. Tanyakan hal-hal semacam itu jika sendirian saja. Materi jawaban yang kamu cari itu sebenarnya termasuk ilmu hikmah, bukan ilmu syari'at, sebab masuk dalam ranah inti ketauhidan."

__ADS_1


Ichi hanya bisa tersipu-sipu saja. Sang ayah terkekeh. "Ustadz Gau sudah cerita kemarin lewat telpon. Kamu jangan sekali-kali menimbulkan kegemparan. Itu nggak baik. Ilmu hikmah itu adalah peninggalan para nabi dan rasul, sedangkan para rasul nggak pernah mengajarkan ilmu hikmah kepada murid-muridnya jika murid-muridnya beluk memahami benar inti dari ajaran itu. Ilmu hikmah itu adalah hadiah, nggak dicari. Yang dicari dan dipelajari itu adalah ilmu syari'at. Ketika kamu sudah mendalami fiqih dari syari'at itu maka dengan sendirinya kamu akan mengetahui falsafah (tasawuf) dari syari'at itu sendiri. Itulah yang disebut ilmu hikmah." ujar sang ayah.


"Apakah Abi pernah merasai ilmu tersebut?" pancing Ichi.


"Lho? katanya hanya satu pertanyaan? kok malah jadi dua?" protes sang ayah.


"Aku belum puas menemukan jawabannya." tuntut Ichi.


"Sholat maghrib dulu gih." pinta sang ayah, "Nanti lepas itu kita diskusi lagi."


Ichi akhirnya mengangguk lalu sang ayah mengakhiri sesi mondo itu dengan melakukan reishiki sederhana. Hanya prosesi otagai ni rei saja yang dilakukan sebab mereka berdua bukan berada di dojo, melainkan halaman belakang rumah saja.


Lagipula sang ayah tidak mengenakan tegi, sebagaimana adab dalam latihan. Beliau hanya mengenakan kaos ketat warna hitam berlengan panjang dan sejenis zubon (celana panjang agak lebar) hitam dari bahan nylon dan pinggangnya dilapisi karet lebar mirip karet boxer tinju. obi warna coklat gelap melingkar dipinggang gempal lelaki itu. Ujung sabuk bagian kiri terdapat bordiran tulisan kanji mizu no kokoro, sedang diujung sabuk sebelah kanan terdapat bordiran gambar kilin khas Hattori Hanzo dalam film Kill Bill.


Keduanya melangkah meninggalkan halaman belakang dan mendaki landai tiba dibagian dapur. Disisi wastafel dan tempat kompor gas, terdapat keran air yang biasa digunakan untuk berwudhu.


Sang ayah memutuskan untuk mandi, setelah itu berganti pakaian mengenakan jenis gamis koko dan sarung, namun tak pakai songkok. Ichi mandi setelah itu, bergantian dengan sang ayah.


Ichi bersama ibunya, sholat diimami sang ayah dikamar. Sholat maghrib malam itu berlangsung khidmat. Sang ayah memang memiliki suara yang lumayan merdu. Dulu ayahnya pernah cerita kalau semasa muda, ia punya kegemaran nyanyi dan menari, selain mempelajari beladiri. Tariannya jenis disko.


Pengsenk Boys, itu nama genk mereka dulu. Pernah menjuarai tiga kompetisi disko pop, mengalahkan juara-juara dancing yang sudah malang-melintang dijagad tarian Gorontalo tahun 2000-an lalu. Sayangnya, banjir tahun 2007 menghanyutkan semua bukti karya mereka.


Kini masing-masing dari mereka telah meninggalkan dunia itu dan menjalani profesi lain. Temannya yang dulu berangasan, kode namanya Pyro. julukannya playboy cap cecak. Punya cewek sejumlah hitungan hari. Fuckboy pula orangnya. Sekarang ia menjalani profesi seniman. Satunya teman sebantal ayah, sekarang menjalani profesi sebagai Aparatur Sipil Negara di Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Gorontalo. Kode namanya Divine. adiknya, Orchido, sekarang menjalani profesi sebagai seorang arsitek.


...*****...


Ritual salam telah selesai dilakukan. Sang ayah membalikkan tubuhnya menghadap ke arah istrinya dan putri semata wayangnya itu.


"Sekarang apa yang ingin kamu tanyakan? Kalau Abi, mungkin masih bisa menanggapi pertanyaan yang aneh-aneh ataupun nyeleneh. Jangan coba diskusikan hal-hal semacam itu kecuali dengan orang yang berkompeten dibidangnya." ujar sang ayah.


"Apakah Abi termasuk orang yang berkompeten dibidang itu?" pancing Ichi.


"Dibilang berkompeten sih, nggak juga." jawab sang ayah dengan jujur. "Tapi setidaknya, Abi masih berupaya jujur dengan kemampuan Abi sendiri. Kalau pertanyaan itu bisa Abi jawab, ya pasti Abi jawab. Kalau nggak, Abi akan jujur jawab nggak tahu, dan nanti Abi akan cari jawabannya."


Ichi mengangguk-angguk. Sang ayah bertanya lagi. "Apa yang ingin kau diskusikan?"


"Bagaimana cara melihat Allah?" tanya Ichi dengan senyum jail. Sang ayah justru tertawa mendengar pertanyaan itu.


"Gampang sekali pertanyaanmu itu." ujar sang ayah membuat Ichi terhenyak lagi.


"Gampang?" tukas Ichi dengan penuh minat.


"Secara teori sih gampang." jawab sang ayah. "Mempraktekkannya yang susah. Tergantung kemampuan spiritual kamu sendiri."

__ADS_1


"Abi sudah pernah?" tanya Ichi.


"Mau tahu saja atau mau tahu banget?" pancing sang ayah dengan senyum dikulum.


"Mau tahu banget!" tandas Ichi.


"Bi. Jangan recoki anak dengan ujaran nyeleneh itu." tegur Azizah. Suaminya kembali menatap Ichi.


"Umi nggak mau kamu tahu." tukas sang ayah dengan tenang dan senyum tetap saja dikulum sehingga membuat rasa penasaran Ichi tumbuh.


"Ah, Umi ngehalangin saja orang mau tahu." gerutu Ichi.


"Kamu belum sampai pada tahap itu." tegur Azizah lagi, kemudian menatap suaminya. "Bi! Jangan bikin gila anak kita! cukup kamu saja yang gila, aku sudah rela!"


"Kalau aku gila, RSJ. Malalayang bisa penuh, Vadet." balas si lelaki itu menjulurkan lidah memanggil nama olokan istrinya.


"Ya, jangan seret-seret anakku ikut sama kamu kesana!" tukas Azizah lagi dengan ketus.


Lelaki itu tertawa dan mengangkat tangan. "Baiklah. Aku hanya akan mengajarinya teori saja." kilahnya kemudian menatap Ichi.


"Dengarkan baik-baik Nak." tukas lelaki itu menatap tajam putrinya, "Cara untuk menemukan Allah... Kau harus mendaki beberapa tangga dan sekat. Sekat itu terdiri atas tiga. Sekat pertama terdiri atas lima tangga dasar. Sekat kedua terdiri atas enam tangga dasar, sedangkan sekat terakhir hanya memiliki dua tangga saja."


"Jelaskan Abi." pinta Ichi.


"Sekat pertama adalah Syariat. Tapi, biasanya dalam pelajaran Aqidah Akhlak, disebut dengan rukun islam, itu terdiri atas lima dan sering kita lakukan. Katakanlah itu adalah ritual kehidupan kita. Pertama adalah Syahadat... Kamu sudah bersyahadat, kan?" pancing lelaki itu.


Ichi mengangguk. Lelaki itu balas mengangguk lalu menjelaskan lagi. "Tangga kedua adalah sholat. Tangga ketiga adalah Shaum, tangga berikutnya adalah zakat dan tangga yang kelima adalah Haji. Keempatnya sangat berkaitan, sedang yang kelima adalah proses migrasi spiritual untuk menjajaki lagi tangga pada sekat kedua."


"Kalau sekat kedua, apa Abi?" tanya Ichi lagi penuh minat.


"Sekat kedua disebut hakikat." ujar lelaki itu, "Namun kalian lebih gampang menyebutnya rukun iman."


"Aaa... kalau yang itu, Ichi sudah tahu." tukas Ichi menyela. "Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat, Iman kepada Kitab-kitab-Nya, Iman kepada Nabi dan Rasul-Nya, Iman kepada Hari Qiyamah dan terakhir adalah Iman kepada Qadha dan Qadr.... benarkan Abi?"


"Tapi kamu sudah mencapainya secara penuh nggak? Abi yakin seratus persen, kamu... bahkan Abi sendiri belum sepenuhnya memahami dan menyelami inti keimanan itu." ujar lelaki itu dengan senyum. Ia melanjutkan lagi, "Sekat terakhir adalah Ma'rifat, atau disebut juga dengan rukun ihsaan..." lelaki itu menatap putrinya, "Apa yang diajarkan gurumu tentang rukun ihsaan?"


"Beribadahlah kepada Allah, seakan-akan kamu melihat-Nya. dan jika kamu tak melihat-Nya, maka yakin dan percaya bahwa Allah melihatmu." jawab Ichi.


"Nah... untuk mencari Allah... nggak perlu susah payah mendaki langit, kan? selami saja teorinya. kelak, kamu akan merasakannya sendiri." ujar sang ayah.


"Ayah sudah pernah?" pancing Ichi.


Sang ayah hanya tersenyum-senyum saja penuh arti. []

__ADS_1


__ADS_2