KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
KYONGRYE


__ADS_3

*Sulit bagi seorang peserta didik menemukan pendidik yang baik, namun lebih sulit lagi bagi seorang pendidik menemukan peserta didik yang baik...


^^^Yip Kai Man*^^^


...******...


Senyum Ichi terkembang menatap dobok yang dibelikan ibunya. Dibagian dada kiri tercetak logo Taekwondo Indonesia sedang di dada kanan tercetak logo World Taekwondo Federation.


"Sudah paham pesan Abi?" pancing Azizah mengingatkan putrinya.


Ichi mendesah, "Yaaaa...."


"Apa, coba?" todong Azizah.


"Satu, Belajar dengah tekun agar dapat menguasai semua teknik-teknik dalam taekwondo. Dua, tidak boleh tidur larut malam. Tiga, tidak boleh pacaran meski didunia maya." jawab Ichi menirukan perkataan ayahnya yang didengarnya dari gawai.


"Bagus." sahut Azizah mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi Umi ada hak untuk mengkonfrontir, menginterogasi, bahkan memeriksa isi gawaimu. Kedapatan kau mencurangi kesepakatan, karirmu tamat! Mengerti?!"


"Ya..." jawab Ichi dengan pendek.


Ayahnya selalu menekankan untuk jangan pernah membantah orang tua. Adab harus lebih diutamakan daripada ilmu.


"Kamu tahu, nak?" tukas sang ayah, "Bahkan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam diutus Allah hanya untuk menyempurnakan akhlak atau adab. Kepintaran tidak ada artinya jika tidak memiliki etika (akhlak). Sebuah ilmu pengetahuan akan menjadi hal yang berbahaya bagi pemiliknya dan orang lain, jika tidak dihiasi dengan akhlak!" tandas sang ayah berkali-kali menasihati putrinya.


"Aku tak melarangmu mempelajari Taekwondo, sebab itu adalah sebuah pengetahuan. Tapi aku memaksamu mempelajari Al-Qur'an, menghafalkannya, mempelajari hadis dan menerapkannya... itu adalah sebuah keharusan bagi kita sebagai umat islam." sambung sang ayah lagi.


"Jika kau memiliki ilmu, tapi tak memiliki akhlak, maka kau pasti akan melupakan siapa dirimu yang sebenarnya. Maka amalkanlah doa ini setiap kau bercermin." ujar sang ayah.


"Bagaimana doanya Abi?" tanya Ichi.


"Allahumma kamaa hassanta kholqii fahassin khuluqii... terjemahannya, Ya Allah... sebagaimana Engkau membaguskan tubuhku/wajahku, maka baguskanlah akhlakku." jawab sang ayah, "Itu dari hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad."


Ichi mengangguk-angguk. Sang ayah meneruskan lagi wejangannya.


"Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain adalah jika kau berjumpa dengannya maka ucapkan salam, jika ia memanggilmu maka penuhilah panggilannya, jika ia meminta nasihat maka berilah ia nasihat, jika ia bersin dan mengucapkan alhamdulillah, maka balaslah dengan ucapan yarhamukallah, jika ia sakit maka jenguklah ia, dan apabila ia wafat maka antarkanlah jenazahnya ke liang lahat." ujar sang ayah.


Sang ayah akan selalu mengawasinya dan melakukan evaluasi-evaluasi dengan caranya sendiri untuk mengukur tingkat pemahaman Ichi dalam memaknai kehidupan.


...******...


Ichi kini resmi menjadi bagian dari Bumi Panua Taekwondo Training Center (Pusat Pelatihan Taekwondo Bumi Panua) disingkat BTTC. Sebenarnya ada beberapa wadah yang membawahi para kyongrye di Pohuwato, hanya saja sang ayah menginginkan putrinya menimba ilmu beladiri asal korea itu diwilayah dekat tempat tinggalnya.


Lembaga itu di asuh oleh Pak Wisnu dan beberapa anak didiknya yang sudah mencapai tingkatan sabeum. Dalam pengasuhannya, Ichi banyak mempelajari teknik-teknik dasar memukul seperti momtong jireugi, are jireugi dan eolgol jireugi. Sedangkan untuk teknik-teknik dasar tendangan, Ichi diharuskan dapat menguasai teknik ap chagi, dollyo chagi, dan dwi chagi. Untuk teknik dasar tangisan, Ichi wajib melatih teknik aremagi, eolgol ceceumaki, dan an magi. Setidaknya sembilan teknik dasar itu harus ia kuasai sebagai praktisi sabuk putih.


Selain berlatih didepan kantor Satpol PP, para kyongrye BTTC juga berlatih dipantai untuk memperkuat teknik seogi (kuda-kuda)nya. Mereka sering diundang oleh pemilik hotel MER untuk berlatih di lapangan hotel yang terbuka.


...******...


Kelas kembali ramai dengan keberadaan Ichi. Seminggu lagi mereka akan menjalani ujian akhir semester Ganjil. Sebagaimana pesan ibunya, gadis itu harus bisa memenuhi target agar bisa menerbitkan senyum diwajah ibunya yang belakangan ini kaku wajahnya sebab memergoki daftar nama cowok-cowok yang ngantri untuk ngechat Ichi digawainya. Jumlahnya bahkan mencapai kisaran tiga ratusan.


"Sudah Umi bilang, jangan lagi berurusan dengan cowok-cowok itu. Mau dikemanakan otakmu itu? Kamu itu memang benar-benar membagongkan Umi. Sudah tahu dilarang Abi untuk pacaran, masih juga berani ngechat dengan mereka-mereka itu. Apa yang kamu dapatkan dari mereka?" sergah Umi sewaktu memperlihatkan deretan nama-nama para lelaki yang jumlahnya ratusan mampir salam ke gawai putrinya.


"Aku kan hanya sekedar ngechat saja Umi. Selain itu nggak." kilah Ichi berkeras.


"Apa kau bilang? Selain itu nggak? Lalu ini apa?!" todong Azizah memperlihatkan sebuah percakapan antara Ichi dengan seorang pemuda. "Nih, apa ini? Ini lelaki mau suruh kamu kasih lihat itunya! maksudnya apa?!"

__ADS_1


"Aku nggak ngeladeninya!" tandas Ichi.


"Chi, Umi kasih tahu sama kamu! Pacaran itu candu. Sekali kau merasakannya, kau akan terus mencari dan mencari hingga akhirnya kau terjerumus kepada sesuatu yang membuat harga dirimu jatuh!" tandas Azizah lalu bercakak pinggang. "Apa yang kau banggakan dari dirimu? Belum ada! Sama sekali belum ada!" tukas Azizah kemudian menuding-nudingkan telunjuknya. "Kuperingatkan kepadamu. Jangan berani memasuki area yang tak kau pahami! Kau akan menyesal dan disaat itu juga, Umi tak akan bisa menolongmu dari amukan Abi!"


Selesai berkata demikian, Azizah meletakkan gawai putrinya diranjang dan pergi sendirian meninggalkan Ichi yang termenung-menung memikirkan kesalahannya.


...*****...


Rusli tersenyum-senyum saat Asna mengkonfrontir dirinya perihal keberadaabnya di Pohuwato. Keduanya baru saja menjalani aktifitas persebadanan dan masih betah dengan ketelanjangan mereka diatas ranjang.


"Aku sedang punya urusan penting di Marisa waktu itu. Perusahaanku sementara mengakomodir beberapa penambang yang siap mengikat kontrak selama enam bulan dalam eksplorasi bebatuan yang mengandung emas di Gunung Pani." jawab Rusli sekedarnya sembari tetap membelai-belai lembut kedua buah dada Asna yang membulat meski agak mengendur sebab ukurannya lumayan besar untuk gadis seusianya.


"Tapi kok aku malah curiga ya?" tukas Asna yang juga memijat-mijat pelan batang lelanang pria itu yang masih tegak nan tegang.


"Curiga apa?" tantang Rusli, "Curiga kalau aku setor k****l sama m***k lain, gitu?"


"Ya siapa tahu?" balas Asna dengan mempelototkan matanya dan mencengkeram gemas batangan itu. "Pokoknya kutahu, benda ini hanya milikku seorang saja. Berani kamu nembusi k****l kamu ke p***k perempuan lain, kubuntungi terongan kamu ini." ancam Asna.


Rusli tertawa dan tiba-tiba menjambak rambut Asna membuat gadis itu memekik kesakitan.


"Auw, Rusli! Sakit tahu! Lepasin!!" pekik Asna ketakutan.


"Coba ulangi lagi ancamanmu?!" tantang Rusli dengan seringai lebar.


Asna sontak menggeleng-gelengkan kepala. "Nggak! Nggak! Nggak jadi!" pekiknya lagi.


"Eh, itu urusan aku." tukas Rusli makin menjambak rambuy Asna membuat gadis itu hanya bisa meringis kesakitan, takut memekik lagi sebab bisa membuat Rusli malah makin buas.


"Mau aku tempelin dimana k****l aku, itu terserah aku! Kamu nggak ada hak apa-apa didalamnya! Paham?!" sergah Rusli dengan marah.


Asna langsung mengangguk-angguk mengiyakan saja ujaran lelaki itu. Jika ia membantah, menolak atau mempressure segala ucapan Rusli tentu akan lebih sakit ia memperlakukan wanita itu.


"Rus, please...lepaskan dong." ujar Asna memelas. "Aku nggak akan nuntut apapun lagi. Swear dah..."


"Nggak, kau harus terima hukumannya. Jangan pernah mengatur-atur aku, Paham?!" seru Rusli kemudian menunggingkan pinggul wanita itu.


Seketika, Asna memekik kesakitan lagi dan tubuhnya menegang. Pasalnya, Rusli bukan menjebol lubang yanh semestinya harus ia jebol dengan batang kelelakiannya itu, melainkan malah mencoblos ***** milik Asna. Tentu saja wanita itu menggelinjang kesakitan setiap Rusli menghujamkan ujung palkonnya.


"Rus, sudah Rus. Aku nyerah!" pekik Asna kesakitan. "Aku nggak akan nuntut kamu! Terserah kamu saja mau kau tancapi kemana punyamu itu, aku nggak akan permasalahkan lagi. Please... lepasin akuuu..." lolong Asna yang kesakitan.


"Bagus..." ujar Rusli yang kemudian mencabut miliknya membiarkan Asna yang masih menungging itu gemetaran menahan sakit.


"Karena kamu sudah nggak mau mencampuri lagi, aku akish hadiah nih..." ujar Rusli kemudian membenamkan benda panjang miliknya ke liang persenggamaan wanita itu kemudian menyebadaninya.


"Rusliii...." erang Asna.


"Tenanglah... kau akan menikmati hadiahnya." ujar Rusli seraya membelai dan memijat-mijat pelan kedua buah yang menggantung besar itu. Asna kembali menggelinjang kegelian dan kedua tangannya mencengkeram kain sprei.


Tubuh wanita itu terhentak-hentak kedepan saat Rusli mendorong pinggulnya berkali-kali, menghujamkan ujung batang lelanangnya kedalam dasar liang garba wanita itu.


Akhirnya mereka memasuki ******* yang kesekian kalinya, Asna memekik melepaskan hasratnya sedang Rusli melenguh panjang membiarkan saluran prostatnya menyemprotkan cairan semen berkali-kali kedalam uterus wanita tersebut.


Keduanya jatuh saling bertindihan dengan kesepuluh ruas jemari Rusli yang masih betah menggenggam kedua buah dada Asna yang montok itu. Rusli menciumi pundak Asna sambil terus menggerayangi permukaan pundak itu dengan lidahnya, menjilati sisa-sisa keringat Asna yang membasahi permukaan kulitnya.


Setelah puas menyetubuhi Asna untuk yang kesekian kalinya, Rusli mencabut senjata birahinya dari sarung pukas milik Asna. Lelaki itu tanpa basa-basi kembali berpakaian dan melangkah menuju pintu.

__ADS_1


"Rus..." panggil Asna.


Rusli membalik menatap wanita telanjang yang berbaring dikasur itu.


"Kamu mau bertanggung jawab, kan?" tanya Asna dengan memelas.


"Ya..." ujar Rusli mengangkat bahunya, "Aku akan bertanggung jawab."


Asna tersenyum dan melambaikan tangannya. Rusli hanya mengangguk lalu berbalik lagi membuka daun pintu dan keluar meninggalkan Asna yang kemudian bangkit dengan tubuh telanjangnya melangkah santai menuju kamar mandi.


Rusli melangkah dengan semangat dan penuh senyuman yang tersungging. Ia baru saja meninggalkan kost-kostan kaum hawa menuju kendaraannya, sebuah sepeda motor Ninja ZX-25R warna biru.


Namun tanpa disadarinya, segala pergerakannya telah berada dalam intaian. Seseorang baru saja mengamati sambil pura-pura membaca koran. Ia kemudian menghubungi alasannya.


📲 "Bos... pemuda itu sudah pergi. Anda bisa mencegatnya di depan perempatan sana." ujar orang itu.


📲 "Bagus. Tugasmu selesai sampai disini. Kini giliran aku untuk memenuhi tugas." ujar suara lelaki muda diseberang.


Orang itu memutuskan pembicaraan seluler dan menatap langit malam. Rembulan bersembunyi malu-malu dibalik arakan dan gundukan awan kelabu kehitaman.


"Ah, hari ini aku harus segera pulang." gumam orang itu. "Kuharap aku tak akan menjadi saksi buta, pembunuhan berencana..." ujarnya dengan gusar dan cepat-cepat meninggalkan tempat itu.


...******...


Ichi membuka situs-situs tentang pelajaran Taekwondo di youtube dan menyimak setiap pembelajaran dalam jaringan tentang seni beladiri asal korea itu.


Namun jika menegaskan bahwa Korea adalah pemilik Taekwondo, rasanya tidak juga. Dalam artikel itu, Ichi membaca, Taekwondo adalah satu dari sekian seni murni yang tidak menyertakan teknik bantingan. Seni ini muncul pertama kalinya dijaman tiga kerajaan disemenanjung Korea pada tahun 37 tarikh masihiyah, dalam bentuk seni yang dikenal dengan nama Subak di kerajaan Goguryeo dan kerajaan Baekje. Sedangkan kaum hwarang dari Kerajaan Silla menyebut Subak dengan Taekyeon.


Nama Taekwondo menjadi resmi digunakan setelah para praktisi beladiri kerajaan Joseon (Chosun/Chosen) setelah seni ini dipengaruhi oleh aliran Chuanfa Shaolin aliran utara. Sampai sekarang nama ini terus dipertahankan sebagai ikon dari seni beladiri Korea selain Tang So Do yang sangat mirip dengan Karate-do di Jepang.


Ichi menutup artikel itu dan kembali membuka situs tentahg pembelajaran dasar dalam Taekwondo. Istilah aslinya disebut Bugon. Gadis itu menyimak terus penjelasan yang dipaparkan instruktur tersebut. Waktu telah menunjukkan pukul 23.45.


...******...


DUARRR!!!!


Rusli baru saja membelokkan kendaraannya menyusuri jalanan kecil yang sunyi saat knalpot kendaraannya meledak. Lelaki itu kaget dan menghentikan kendaraannya lalu turun memeriksa. Pemuda itu heran menyaksikan knalpot kendaraannya robek besar dibagian ujungnya.


"Apa lagi ini?!" gerutu Rusli dengan gusar sambil berdiri dan bercakak pinggang.


Pemuda itu mengumpat-ngumpat sendirian dijalanan sepi itu. Waktu sudah menunjukkan dini hari. Pagi buta yang gelap.


"Ah, semestinya aku menginap saja semalaman dikost Asna." omel Rusli bermonolog, "Kalau begitu, kan tak perlu susah-susah seperti ini?!"


Sebuah detak langkah mendekat pelan membuat Rusli menoleh. Ia menemukan seorang, kelihatannya lelaki, mengenakan pakaian serba hitam. Bagian atasnya mengenakan jaket hoodie yang dipasangkan dikepalanya. Wajahnya tertutup masker hitam.


Insting Rusli langsung bereaksi. Orang dihadapannya pasti punya niat jelek. Lelaki itu telah duluan pasang sikap. Orang itu berhenti dua meter dihadapan Rusli.


"Eh, mau apa kau?!" sergah Rusli menggertak agar orang itu surut nyalinya dan mengurungkan niat menghadang pemuda itu.


Namun nyatanya, orang dihadapannya tak sama sekali merespon sergahannya. Tatapan orang itu terlihat tajam dan beberapa saat kemudian, orang berjaket tudung itu menjatuhkan sesuatu ke jalanan. Bunyi logam terdengar.


Rantai...


"Eh, mau apa sih kamu?!" sergah Rusli lagi namun kali ini ia telah memasang sikap siaga.

__ADS_1


Orang dihadapannya langsung mengangkat rantai itu dan memutar-mutarkannya diudara. Rusli sudah paham, tak ada gunanya menggertak. Ia saat ini berada dalam posisi mangsa. Orang dihadapannya memang punya niat untuk menaklukkannya.


"Mau menangkapku?!" seru Rusli langsung memasang sikap bertarung. "Langkahi dulu mayatku!!!" serunya sambil maju menerjang orang tersebut.[]


__ADS_2