
Alkisah, ada seorang petani yang tinggal disebuah desa. Ia membeli dua buah kendi untuk mengangkut air dari sungai ke rumahnya. Sialnya, salah satu kendi yang dibelinya memiliki cacat yaitu pecah dibagian bawahnya.
Meski demikian, petani itu tetap saja memakai dua kendi tadi untuk mengangkut air.
Kendi yang bagian bawahnya pecah itu terus menerus bocor ketika dipakai untuk mengangkut air. Akibatnya, kendi itu menjadi minder.
Kendi bocor itu kerap kali mendapat ejekan dari kendi satunya yang tidak bocor. Ejekan itu membuat si Kendi Bocor menjadi tertekan mentalnya.
Seiring waktu, Si Kendi Bocor merasakan ketidak nyamanan dan meminta kepada si petani untuk segera membuangnya saja.
Mendengar keluhan si Kendi Bocor, petani itu berkata sambil tersenyum kepadanya. "Tidakkah kamu melihat ke jalanan menuju rumah yang kita lewati barusan?"
Mereka bergegas melihat jalan yang dimaksud. Ternyata jalanan itu telah ditumbuhi bunga dan tanaman yang indah.
"Lihatlah," ujar si petani, "Air yang kau tumpahkan membuat tanaman-tanaman ini tumjuh subur."
Si Kendi Bocor paham pada akhirnya. Ia memang memiliki kekurangan dan kelemahan. Namun tidak boleh minder dan berkecil hati. Dia bisa memberikan nilai dan manfaat bagi orang lain, justru dari kekurangannya itu...
...******...
__ADS_1
Ichi mendalami hikmah dari kisah yang diceritakan Faisal tadi siang. Sepeninggal pemuda itu, sang gadis tenggelam dalam renungannya. Semua makhluk adalah sama dalam pandangan Allah. Mereka memiliki manfaat, meski manusia yang merasa lebih baik dari Allah memandang sebagian satu dari lainnya dengan tatapan menjijikkan.
Diferensiasi sosial memang membenturkan umat manusia kedalam pengkotak-kotakan. Mereka risih menyebutnya kasta, meski tetap saja mengakuinya sebagai bagian dari kehidupan, berperan sebagai kontrol sosial yang mengatur kemajemukan profesi dan status umat manusia itu sendiri.
Bahkan umat hindu sendiri mulai risih menerapkan kotak-kotak sosial yang mereka anut tersebut namun tetap saja, selama dunia berputar, selama matahari masih terbit dari timur dan terbenam dibarat, maka selama itu pula diferensiasi itu tetap akan tercipta meski dengan nama yang berbeda-beda pula.
Tidak ada manusia yang menolak diferensiasi sosial sebab hal itu merupakan perhiasan diri. Emas dan permata hanya penegas status saja. Orang miskin bahkan bisa membelinya, asalkan mereka bekerja tekun untuk bisa mendapatkan uang yang nominalnya mampu menjangkau harga dari emas dan permata tadi. Tapi penyandangan kata pantas dan tidak pantas tentu akan menghantui benak mereka yang sebenarnya pantas mengenakannya sebab mereka membelinya dengan harga sesuai namun dianggap tak pantas oleh orang-orang yang merasa status sosialnya lebih tinggi tapi tak mampu memiliki benda-benda berharga tersebut.
Ichi sekali lagi menatap jendela yang tirainya terbuka sedikit. Benaknya melayang lagi ke alam khayal.
Rose d' Witt Bukater bergelimang harta. Bahkan Caledon Nathan Hockley menghadiahinya sebuah permata paling fenomenal, Jantung Samudra yang dulunya merupakan kepunyaan Raja Louis ke 14 dari Perancis. Tapi ternyata ini tak membuatnya bahagia. Status sosial itu hanyalah sandangan yang suatu saat bisa dilepaskan kembali. Status sebenarnya adalah kebebasan yang Allah berikan kepada manusia yang disebut dengan ketundukan kepada Tuhan secara absolut, tanpa batas dan tanpa pamrih.
...******...
Kini hari terakhir Ichi menjalani fase penyembuhan fisik maupun psikis di Puskesmas Buntulia, Taluduyunu. Gadia itu diperbolehkan pulang. Azizah membawa pulang putrinya setelah menyelesaikan proses administrasi yang diajukan pihak Puskesmas Buntulia.
Kedua wanita beda generasi itu menyusuri jalan penuh jerawatan dan bopengan sebab lama tisak diperhatikan pemerintahan daerah. Sepeda listrik mereka melompat-lompat sebab terantuk-antuk kerikil yang kadang mencuat dari permukaan jalan.
"Umi sudah pertimbangkan permintaan kamu." ujar Azizah.
__ADS_1
"Benar nih? Aku nggak perlu belajar Karate-do lagi?" tukas Ichi dengan wajah gembira yang ditahan-tahan.
"Ya, Umi sudah menghubungi salah satu pembina kegiatan Taekwondo yang ada di Marisa. Umi sudah mendaftarkan namamu." ujar Azizah saat mengendarai sepeda tersebut, kali ini menjadikan Ichi sebagai pembonceng.
"Bagaimana dengan Abi?" tanya Ichi.
"Bagi beliau nggak ada masalah, meskipun sebenarnya beliau sempat menyesalinya." jawab Azizah. "Bukankah Taekwondo dan Karate-do sebenarnya berasal dari seni beladiri asli Shaolin yang disebut Chuanfa."
"Terus?" pancing Ichi lagi.
"Beliau cuma pesan, harus belajar dengan tekun dan giat. Dan ini yang paling penting." ujar Azizah. "Kurangi main-main gawai sampai semalaman."
"Memang siapa yang main gawai sampai semalaman?" kilah Ichi.
Sang ibu mendengus. "Ingatlah Ichi! Kamu sudah banyak melanggar perjanjian yang kamu teken sendiri dalam kontrak perjanjian dengan Abi. Kali ini Abi nggak akan main-main. Dia akan marah besar jika nilai-nilai kelasmu jeblok! Paham?!"
"Okey, Aku paham deh." ujar Ichi sambil memeluk pinggang ibunya. "Sekarang percepat sepeda ini Umi... Aku sudah lapar sekali." ujar gadis itu merengek.
Azizah kembali hanya mendengus saja.[]
__ADS_1