
Ishak tiba dihalaman RSUD Bumi Panua Pohuwato menumpangi bentor yang dicegatnya dijalanan. Pemuda itu langsung melompat dan hendak berlari ketika teguran abang bentor itu membuatnya nyaris terpeleset jatuh sebab dipanggil.
"Kenapa Bang?" seru Ishak dengan panik.
"Bayarannya bro! Main cabut saja ente..." gerutu abang bentor itu menengadahkan tangannya ke hadapan Ishak.
"Oh, sorry..." ujar Ishak dengan lirih dan langsung merogoh sakunya mengeluarkan kocek selembaran lima puluh ribuan. "Aman toh?" serunya langsung berlari kedalam tak perduli lagi.
"Woooi... kembaliannya, hooooi..." seru abang bentor itu melambai-lambaikan selembaran uang bergambar I Gusti Ngurah Rai itu kepada Ishak yang sudah berlari kedalam ruangan.
"Uhm... ma ti hilaa mu, am." gerutu abang bentor itu sejenak menatap selembaran uang itu. Pikiran jahilnya muncul. Ia hendak memasukkan uang itu ke saku ketika tiba-tiba nuraninya mengusik.
Ey, ja odito uti. Hem monga doi haramu utiye??
Abang bentor itu tersentak dan buru-buru bangkit berlari kedalam ruangan resepsionis.
...*****...
Aldi membonceng Candra melaju meninggalkan Pondok Pesantren Alkhairaat Buntulia dan tiba beberapa menit setelah Ishak tiba tadi. Bergegas kedua lelaki itu turun dari sepeda motornya dan berlari masuk kedalam.
Sementara itu, Ishak yang telah mendapatkan informasi keberadaan Selina berlari menyusuri koridor dan tiba di Instalasi Rawat Inap (IRINA). Pemuda itu menerobos kedalam dan menemukan sesosok tubuh seorang gadis berwajah ayu yang sementara terbaring diam.
Selina kelihatannya sedang beristirahat dan mungkin masih dalam pengaruh obat penenang. Langkah pemuda itu mengayun pelan hingga akhirnya tiba disisi ranjang. Ishak melihat sebuah kursi plastik kemudian meraihnya dan meletakkannya disisi ranjang lalu mendudukinya.
Kedua siku lengannya disangga pada tepi ranjang itu dan ia menyangga dagunya sambil tetap menatap wajah Selina yang tidur tenang.
Maafkan aku... maafkan aku...
Tak lama kemudian muncul Aldi dan Candra. Melihat Ishak yang duduk menyanggakan lengannya pada sisi ranjang menyulut kecemburuannya. Lelaki itu maju dan langsung mencengkeram tengkuk Ishak.
Pemuda itu tak sempat melawan karena Aldi dengan cepat menyeretnya keluar dan mendorong hingga Ishak terjungkal jatuh menimpa lantai koridor rumah sakit.
"Jangan berani duduk disampingnya! Kau najis!" seru Aldi menudingkan telunjuknya ke arah Ishak.
Ishak bangkit dan berdiri lalu menampar lengan Aldi yang menuding ke arahnya. "Kamu jangan nunjuk-nunjuk dong." ujar Ishak kemudian berdiri tegak dengan sikap shizentai. "Kalau mau bicara, ya dengan cara yang baik."
"Kamu penyebab semuanya." tukas Aldi kembali menudingkan telunjuknya ke arah Ishak.
"Bro, jangan nunjuk-nunjuk kubilang." seru Ishak kini agak keras.
Pertengkaran kedua pemuda itu mulai menarik perhatian para pengunjung. Mereka mengamati dua pemuda yang kini saling berhadapan itu.
"Kenapa? Kau mau apa?" tantang Aldi.
Ishak baru saja hendak membalas ketika terdengar suara memanggilnya. Kedua pemuda itu mengamati seorang pengendara bentor yang datang mendekat. Abang bentor itu sejenak membungkuk dengan napas terengah-engah sambil menopangkan kedua tangannya pada lutut.
Setelah agak mereda, abang bentor itu menegakkan tubuh dan menatap Ishak seraya mengulurkan tangannya yang memegang empat lembar uang kertas nominal sepuluh ribuan.
"Bang... apa ini?" tanya Ishak.
"Hei nak. Kau lupa kembaliannya." tukas abang bentor itu dengan kesal.
"Lho? Memangnya ada pengembaliannya?" balas Ishak.
"Kamu belum pernah naik bentor ya?!" sindir abang bentor itu lalu mengangguk-angguk. "Untung aku ini baik dan jujur. Kalau abang-abang lain... uangmu nggak dikembalikan." ujarnya menyerahkan uang itu.
Ishak menerima pemberian abang bentor itu dan menyimpan kembali disakunya. "Makasih ya?" sambutnya.
Abang bentor itu mengangguk dan berbalik meninggalkan mereka berdua. Ishak kembali menatap Aldi.
"Bisa kita lanjutkan?" ejek Ishak dengan senyum sinis.
"Kenapa tidak!" balas Aldi yang baru saja hendak mengangkat tangan, meninju Ishak saat dirinya mendengar deheman dibelakangnya. Aldi mengurungkan niatnya.
"Aldi..." panggil Candra.
Aldi menoleh kepada lelaki parobaya yang berdiri di pintu. Candra melangkah mendekati pemuda itu.
"Biarkan anak ini masuk." ujar Candra.
"Tapi Oom..." protes pemuda itu.
Candra mengencangkan rahang dan menggelengkan kepala mengisyaratkan kepada Aldi bahwa ia tak punya hak untuk memprotes saat itu. Aldi akhirnya hanya mendengus dan melengoskan tatapannya ke arah lain.
__ADS_1
Ishak juga tak memperdulikannya. Pemuda itu melangkah mendekati Candra. Ketika ia tiba didepan lelaki parobaya itu, tiba-tiba lengan kanan Candra terulur dan jemarinya mencengkeram kerah kaos dibagian sisi kanan pemuda itu. Ishak sebenarnya tersinggung. Harga dirinya sebagai seorang samurai tersulut dengan sikap lelaki parobaya dihadapannya. Namun mengingat ia adalah ayah dari gadis yang dirudapaksanya, membuat Ishak harus menahan kepalannya untuk tak membalas perlakuan Candra.
"Selina menunggumu didalam. Mungkin ia ingin membicarakan sesuatu denganmu." ujar Candra dengan pelan.
"Oom..." protes Aldi lagi.
Candra menggeram pelan membuat Aldi terpaksa harus menahan kekesalannya lagi. Candra kembali menatap Ishak. "Aku beri kau kesempatan berbincang-bincang dengan anakku. Ingat! Jangan berbuat sesuatu yang akan memancingku melakukan tindakan biadab terhadapmu!" ujar Candra dengan kesal sambil mendorong Ishak.
Pemuda itu terdorong selangkah saja lalu melangkah masuk dan sejenak menatap Aldi yang memandangnya dengan tatapan sinis. Ishak menghadiahkannya senyum ejekan membuat Aldi nyaris kelepasan emosi dan menantangnya berkelahi lagi.
Candra buru-buru menahan Aldi dan membawanya duduk dideretan bangku dikoridor disisi kamar IRINA yang ditempati Selina.
"Oom... aku ingin masuk juga, Oom." tegur Aldi sekaligus memaksa pria parobaya itu untuk membiarkannya masuk. "Selina membutuhkanku."
"Tapi Selina sendiri yang meminta Oom untuk mengijinkan pemuda itu masuk menemuinya, Aldi." balas Candra mematahkan keinginan Aldi.
Aldi kembali melengos. Lama keduanya terdiam. Setelah hening menyelimuti suasana itu, Aldi akhirnya bicara.
"Oom... saya mencintai Selina sejak lama ketika kami bertemu pertama kalinya di Gorontalo saat ia menghabiskan masa liburannya di Ipilo." tutur Aldi membuka kembali kenangan lamanya. "Sekarang... keberadaan laki-laki itu yang entah darimana tiba-tiba saja membuat Selina memutuskan hubungan kami..."
Candra masih diam dalam pikirannya yang melayang mencari sebab-musabab dari pingsannya putri kesayangannya itu.
Aldi menatap Candra. "Apakah Oom tidak berpikir, kalau ada kejanggalan dalam hal itu?" pancingnya.
Candra membuang napasnya dengan pelan. "Oom juga bingung. Bahkan makin bingung saat Selina bangun, menanyakan ribut-ribut diluar. Oom bilang kalau kamu sama pemuda itu lagi bertengkar diluar. Eh, dia justru minta Oom memanggil pemuda itu kedalam. Katanya ada hal yang perlu dibicarakannya. Oom bersikeras untuk meminta alasannya, namun Selina seakan teguh pula dalam permintaannya." lelaki parobaya itu menatap Aldi. "Kalian mempertengkarkan apa?"
"Nggak ada Oom. Sumpah, Wallahi... mati ngala'a saya kalau himbulo sama Oom." jawab Aldi.
Candra membuang napasnya lagi dan menatap taman didepan koridor itu. Aldi pun pada akhirnya juga ikut menatap tempat yang dipandangi Candra.
...*****...
Ishak duduk menatap Selina yang juga telah duduk bersila diranjangnya. Gadis itu memicingkan mata lama menghujam tatapan netra Ishak yang juga tak kalah tajam. Keduanya masih tak ada minat untuk bicara sama sekali melainkan hanya melakukan agresi dalam pagelaran tatap-menatap itu.
Lama akhirnya, Ishak tak tahan diam. Ia bicara. "Bagaimana keadaan kakak?"
Selina, sebegitupun bencinya, tak pandai pula balas menyerang. Ia menjawab dengan nada biasa. "Alhamdulillah, aku sudah baikan."
Ishak mengangguk-angguk. Ia kembali diam dan keduanya larut lagi dalam keheningan. Selina menghela napas dalam san menghembuskannya kembali.
"Aku tahu." sahut Ishak dengan pendek.
Selina mengangguk lagi. "Aku dan Aldi saling mencintai, dan..."
"Tapi aku yang telah menjamahmu." sela Ishak dengan datar.
Selina terdiam mendengar kata-kata Ishak. Pernyataan yang sangat mengena. Gadis itu menghela napasnya lalu menatap langit-langit ruangan.
"Is..." panggil Selina.
"Ya..." jawab Ishak.
Pemuda itu terkejut saat menatap airmata yang tiba-tiba mengalir dari pipi gadis itu. Selina menangis tanpa suara sejenak lalu menenangkan pikiran dan menghapus bekas-bekas air matanya, kembali menatapi Ishak dengan tatapan datar.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Selina pada akhirnya.
"Karena...aku cinta sama kakak." jawab Ishak dengan datar pula. Selina terdiam dengan perkataan itu. Ia menarik isakannya lalu melengos.
"Sejak kapan?" tanya Selina dengan serak.
"Sejak pertama kali aku melihat kakak." jawab Ishak.
"Dimana?" tanya Selina lagi.
"Pertama kali aku menjadi siswa Madrasah Aliyah." jawab Ishak pula kemudian mendekat. Ia hendak meraih tangan Selina dengan lembut, namun gadis itu mengibaskan tangannya.
Ishak memutuskan membiarkan sikap perempuan itu. Ia kembali menegakkan duduknya. "Aku akan bertanggung jawab, Kak Selina." ujar Ishak.
Selina menatap pemuda itu. "Kau mau bertanggung jawab?"
"Ya... aku akan bertanggung jawab." tandas Ishak.
Selina memicingkan mata. "Kau mau bertanggung jawab... menikahiku?" tanya gadis itu dengan lirih saat mengucapkan kata menikahiku itu.
Ishak mengangguk dengan mantap. Selina mendesah lagi. "Ahhh... Ishak..." gumamnya dengan nada sesal. "Seandainya kau tak melakukannya... kau tak perlu terjebak dalam hal ini."
"Seorang lelaki harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Aku seorang lelaki... jadi... aku mesti bertanggung jawab dengan apapun sebagai ujud konsekuensi dari tindakanku." ujar Ishak.
Selina menarik lagi napasnya dan berkata, "Meski aku tak mencintaimu... apakah kau akan tetap menikahiku?"
__ADS_1
"Jika kita berdua menikah... maka lupakan Aldi dan setialah kepadaku." pinta Ishak.
Selina terkekeh sambil mendengus. "Jadi, karena merasa telah memasuki wilayah terlarangku... kau merasa telah memiliki aku, begitu menurutmu, Ishak?" pancingnya.
Ishak membuang napas dan berdiri. "Kurasa kau masih syok dan belum dapat menerima kenyataan." ujarnya sambil mengangkat dagu. "Aku memberimu waktu tiga hari untuk berpikir dan menjernihkan pikiran."
"Aku nggak mau berpikir." tolak Selina dengan keras.
Sejenak Ishak memicingkan mata. Setelah itu ia kembali bicara. "Terserah... apakah dalam tiga hari itu, kau mau berpikir atau tidak, yang jelas... aku memberimu tenggat tiga hari. Jika dalam tiga hari itu kau tak bisa menjawab dari hatimu yang terdalam, maka kuanggap kau menerimaku dengan sebuah keterpaksaan."
"Kau akan sia-sia memaksakan keinginanmu." ujar Selina.
Ishak tersenyum. "Kau... tak akan berani menolakku!"
Setelah menyatakan kalimatnya, Ishak berbalik meninggalkan ruangan itu. Didepan ia bertemu Candra dan Aldi. Pemuda itu seketika bangkit dan berdiri dengan siaga menatap ke arah Ishak yang memandangnya juga dengan senyum sinis lalu melangkah meninggalkan tempat itu.
Aldi lekas berlari kedalam diikuti oleh Candra. Keduanya masuk ke tempat dimana Selina telah duduk menatap keduanya.
"Papa dan Kak Aldi kenapa?" tanya Selina dengan heran.
"Kupikir... Kupikir kamu di intimidasi oleh lelaki itu." kilah Aldi.
Selina tersenyum. "Cemas amat." oloknya membuat Aldi tersenyum.
"Kamu nggak apa-apa, sayang?" tanya Aldi.
"Nggak." jawab gadis itu.
Candra mendehem sejenak lalu bicara. "Seli..." panggilnya. "Papa sudah dengar keterangannya dari Aldi." lelaki itu kemudian duduk dikursi yang tadinya diduduki Ishak.
"Papa sekarang tanya alasanmu... mengapa kau berniat mengakhiri hubunganmu dengan Aldi?" tanya Candra.
Selina melengos. Aldi mengerutkan alisnya. "Sel... jawab dong. Aku juga ingin dengar." desaknya.
Selina menghela napas dan menatap ayahnya. "Aku akan jujur sama Papa... tapi tidak didepan Kak Aldi."
"Lho? Kok begitu urusannya?" protes Aldi. "Justru aku ingin dengar dari mulutmu sendiri. Mengapa kita harus putus. Jika alasannya masuk akal, okey... aku akan mundur dengan jantan. Tapi... bagaimana jika pernyataanmu merupakan hasil tekanan dari pemuda itu? Aku tak akan menerimanya!"
"Kak Aldi... mengertilah perasaanku." ujar Selina dengan memelas.
"Tidak! Aku tak mau! Aku ingin mendengarnya sekarang!" tuntut Aldi dengan sikap tak sabar.
"Di..." panggil Candra.
"Ya, Oom..." jawab Aldi melunakkan suaranya.
"Ikuti saja maunya Selina..." pinta Candra. "Oom janji... setelah pembicaraan itu... Oom akan suruh dia jujur sama kamu." ujarnya. "Namun untuk saat ini, mengertilah akan dirinya... kau bisa... kan?"
Aldi menghela napas dengan berat. Akhirnya pengusaha muda itu mengangguk-angguk lemah.
"Baiklah Oom... jika itu memang tak bisa dipenuhi..." jawab Aldi dengan lemah. "Tapi... Oom juga harus jelaskan semuanya kepada saya nanti."
"Oom janji..." tandas Candra.
Aldi menghela napas panjang dan menunduk. Dengan langkah lesu, pengusaha muda itu meninggalkan Instalasi Rawat Inap itu. Membiarkan Selina bersama ayahnya disana untuk berdiskusi.
...*******...
Ishak baru saja tiba didepan gerbang ketika Yanto tiba-tiba saja mencegatnya. Lelaki itu mencengkeram kerah kaos pemuda itu dan mengarahkan tinjunya, hendak menggasak wajah Ishak.
"Kamu mau cari-cari masalah denganku?! Hah?!" sergah Yanto.
Ishak tersulut emosinya dan langsung menangkap pergelangan tangan lelaki itu kemudian memuntirnya dengan cepat membuat Yanto seketika meraung kesakitan.
"Aduh! Aduh! Lepaskan!!!" teriak Yanto setengah mengancam.
"Mau apa kau?!" tanya Ishak dengan tenang masih tetap dengan gaya memuntir.
"Kau! Kau! Ihhh... S-S-Sakit sakit sakit sakit...." seru Yanto lagi kemudian mengaduh kesakitan.
"Kau tak terima ku bully, Yanto?" tanya Ishak dengan nada menantang. Yanto tak bisa menjawab sebab pergelangan tangannya terasa sakit saat dipuntir oleh Ishak. "Kau seenaknya merundung teman sekamarmu dan sekarang kau tak menerima saat teman sekamarmu pula yang merundungmu?!"
Yanto makin mengaduh kesakitan. Ishak menggeram dan mendekatkan wajahnya. "Jangan berani melakukan hal-hal yang akan membuatmu menyesalinya...." bisik Ishak dengan ketus lalu melepaskan cekalannya sekalian mendorong Yanto hingga pemuda itu terjungkal ditanah.
Yanto baru saja hendak bangkit saat Ishak mengangkat kakinya hendak menginjak pemuda itu. Yanto sudah pasrah dan hanya bisa menyilangkan tangannya melindungi wajahnya.
Tiba-tiba...
PLAKKK....
EHHH?!
Sebuah serangan kilat mengarah kepada Ishak. Dengan reflek, pemuda itu langsung mengayunkan tangan menangkis ayunan tendangan yang nyaris mematahkan tengkuknya. Ishak menatap si penyerang yang berdiri tegak dengan sikap siaga.
__ADS_1
"Ngapain kamu disini?!" sergah Ishak dengan murka.[]