
Bunyi klentingan lonceng genggam yang digenggam guru piket terdengar jelas memanggil semua awak akademisia, entah itu peserta didik, pendidik maupun tenaga kependidikan.
para peserta didik berbaris rapi sesuai dengan urutan klasifikasi jenis kelamin dan domisili kelasnya. Ichi mengambil posisi berdiri didepan, padahal dia bukan termasuk peserta didik yang ukuran tubuhnya paling dekat dengan permukaan tanah. Tinggi tubuhnya sekitaran160 senti dan berat 58 kilo, nyaris proporsional.
Kepala madrasah, Ibu Vintje Labatjo berdiri ditengah deretan para pendidik dan tenaga kependidikan, menatap ke arah barisan para siswa madrasah.
Pimpinan OSIM Madrasah Tsanawiyah Alkhairaat Buntulia muncul dari deretan siswa. Ia menerapkan aturan kesamaptaan dalam hal itu koordinasi barisan siswa. Setelah itu sang kepala madrasah maju memberikan pengarahan-pengarahan singkat dan mengingatkan para abnaul alkhairaat tingkatan lanjutan itu agar tak lupa dengan visi dan misi Alkhairaat sebagaimana yang pernah dicetuskan oleh pendirinya, Sayyid Idrus bin Salim al-Jufri.
Setelah pemberian nasihat dan doktrinisasi, para peserta didik kemudian dibubarkan untuk memasuki kelasnya masing-masing. Ichi melangkah santai mengikuti serombongan teman-temannya yang menghambur seakan hendak berlomba memasuki gerbang kelas paling pertama.
Ichi tiba ditempat duduknya yang berada didepan itu. Tak lama kemudian, seorang lelaki muda, mengenakan kemeja putih lengan panjang, bercelana panjang hitam dan menenggerkan kupiah dikepalanya masuk ke dalam kelas. sepatunya memperdengarkan detakan suara langkah yang sedikit menggema. Para peserta didik sudah diam dan duduk ditempatnya menatap lelaki itu.
Lelaki itu kemudian duduk ditempatnya. ia adalah Wali kelas 7A, dimana Ichi berdomisili. Pak Surahman Kadai, namanya. wajahnya agak cupu mirip siswa Aliyah tingkatan 12 yang delapan bulan lagi akan lulus.
"Assalamualaikum anak-anak." sapa Pak Surahman dengan senyum sambil menatap anak-anak binaan perwaliannya itu. "Siapa yang absen hari ini?" tanya lelaki itu menyanggakan kedua lengannya pada permukaan meja sambil saling mengaitkan jemari-jemarinya.
Ichi menatap ketua kelasnya, Silawati bangkit dari duduknya dan membeberkan siapa saja siswa yang absen pada hari itu, entah karena alasan sakit atau ijin bahkan tanpa keterangan sekalipun. Pak Surahman mengangguk-angguk mendengar laporan dari ketua kelas tersebut.
"Baik... " ujar Pak Surahman kemudian menegakkan tubuhnya. "Kebetulan hari ini, pengampuh pelajaran Bahasa Indonesia masih dalam keadaan sakit, maka untuk sementara jam nya saya impal." lelaki itu memperhatikan warga binaan kelasnya itu. "Sekarang, saya hanya ingin memastikan... sampai dimana kalian memahami materi paling terakhir yang sempat diajarkan oleh beliau. Ada yang masih ingat?" pancingnya.
Para peserta didik sebagiannya saling berpandangan. memang tak ada yang akan menyangka, perwalian kelas mereka akan mengecek pemahaman mereka hingga sampai ke hal yang agak kurang remeh menurut mereka.
Pak Surahman menatap keseluruhan anak-anak perwaliannya, satu persatu. Ichi sendiri kemudian hanya menengom sedikit menatap Wafik yang juga menatapnya lalu mengangkat bahunya.
Pak Surahman menghela napas dan menghembuskannya agak panjang dan pelan. Pandemi telah merampas semangat anak-anak untuk menikmati pendidikan. Bahkan materi paling terakhir yang diajarkan guru mereka saja sudah hilang tak berbekas dari memori otak mereka....
"Baik...." tukas Pak Surahman kemudian. "Silahkan buka buku catatan umum. Hari ini, kita akan mempelajari Sains terpadu."
Terdengar sedikit suara keluhan yang sayup-sayup terdengar. Mereka memang hanya bisa melakukan sebatas itu saja, sebab jika kedengaran sudah pasti masing-masing penyuara aspirasi itu akan mempersiapkan setiap sebelah daun telinganya untuk dijewer Pak Surahman karena dianggap membangkang perintah guru.
Pak Surahman hanya tersenyum tipis kemudian merogoh kantung celananya mengeluarkan sebatang spidol Snowman tinta hitam dan mulai menuliskan tiga buah kata di papan tripleks. Setelah itu ia menyimpan lagi spidolnya dan menatap anak-anak.
"Ada yang bisa mengejanya?" pancing Pak Surahman.
"Asam dan Basa..." ujar Ichi menatap permukaan whiteboard yang ditulisi tinta spidol tersebut.
Pak Surahman mengangguk. "Ya... Asam dan Basa..." ujarnya menegaskan kalimat yang telah dieja oleh Ichi. "Ada yang bisa menjawab apa itu Asam? atau apa itu Basa?" pancingnya lagi menatap seluruh anak-anak didiknya tersebut.
Beberapa siswa kembali saling pandang, mengharapkan ada diantara mereka yang dapat menjawab pertanyaan lelaki tersebut.
Karena tak ada yang menyahuti pancingannya, Pak Surahman menunjuk salah satu siswa.
"Kamu, berdiri." seru Pak Surahman, "Apa yang dimaksud dengan Asam?" tanya lelaki itu.
"Uhmmmmmmmmm....." gumam siswa tersebut sambil mencubit-cubit dagunya sendiri. "Asam.... asam... ya, asam Pak Guru." tukas siswa itu dengan enteng.
Seketika ruangan kelas itu dipenuhi tawa oleh para siswa. Pak Surahman sendiri hanya bisa menyunggingkan senyum jengkel dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak.
__ADS_1
"Memang dasar parakololo kamu." umpat guru itu kemudian menatap lagi anak-anak. "Ada yang lebih tahu?"
Ichi menarik napas lagi lalu mengangkat tangan. Pak Surahman tersenyum. "Baiklah... Silahkan Adiratna."
Ichi sejenak mendehem lalu menjabarkan, "Asam secara bahasa berasal dari bahasa latin, Acetum, yang berarti cuka. sedang Basa berasal dari kosakata arab, Alkaliy, yang berarti abu."
Pak Surahman langsung mengembangkan kedua tangan dan menampakkan wajah kagum kemudian bertepuk tangan sendirian.
"Good... good... excelent answer..." pujinya.
"Ya... itu secara bahasa..." tukas Pak Surahman, "Bagaimana pengertian Asam dan Basa secara terminologi?" pancingnya. Karena tak ada satupun yang bisa menanggapi pancingan itu, Pak Surahman langsung menyuruh siswa mencatat pengertian dua zat itu.
"Asam adalah senyawa kimia yang menghasilkan larutan dengan pH lebih kecil dari 7, jika dilarutkan dalam air." ujar Pak Surahman.
Maghfirah langsung menyela sembari mengangkat tangan. "Pak.... pH itu apa sih?"
"Kadar keasaman..." jawab Pak Surahman.
Maghfirah mengerutkan alis. Pak Surahman mengangguk lalu menatap Ichi. "Dapatkan kamu menjelaskan kepada temanmu, apa yang dimaksud dengan kadar keasaman?"
Lagi-lagi Ichi menghela napas lalu bangkit melangkah menuju depan kelas. Gadis itu mengulurkan tangan kepada Pak Surahman untuk meminjamkan spidolnya.
Pak Surahman merogoh lagi kantungnya mengeluarkan spidol dan menyerahkannya kepada Ichi. Jilbaber itu kemudian menggambar sebuah skema di whiteboard sementara siswa lain memperhatikannya.
Setelah menggambar skema itu, Ichi berbalik menatap guru mapel sains itu dan teman-temannya bergantian. "Saya sendiri nggak ngerti kenapa satuan pengukurnya dituliskan dengan huruf 'pH'. yang jelas... pH adalah satuan ukur yang digunakan untuk menentukan seberapa asam atau basa sebuah larutan." ujar Ichi.
"Bagus Adiratna..." puji Pak Surahman kemudian mempersilahkan Ichi kembali ke tempatnya semula. Pak Surahman kemudian menatap lagi Maghfirah.
Akmal menunjuk angka tujuh pada skema itu. "Pak... mengapa air murni diletakkan pada angka tujuh?" tanya pemuda itu.
"Hal itu sudah merupakan ketentuan dari persetujuan internasional tentang konsep pH." jawab Pak Surahman. "Apabila larutan diketahui derajatnya dibawah tujuh maka disebut larutan asam, sedangkan apabila melewati angka 7.0, maka ditetapkan sebagai larutan basa... meski..."
"Meski apa pak?" todong Akmal lagi.
"Meski sebenarnya skala pH, bukanlah skala absolut." jawab Pak Surahman dengan suara pelan. "Cara pengukuran pH suatu larutan dapat menggunakan alat semacam kertas lakmus, pH meter atau juga Kertas Indikator Universal."
Pak Surahman menatap lagi sebagian besar siswa yang mempertontonkan raut wajah bingung. Lelaki itu mendesah lalu mengangkat telunjuknya sejenak meminta waktu untuk mempertunjukkan benda tersebut. Lelaki itu beranjak keluar dari kelas. Tujuannya adalah laboratorium.
Ichi kemudian meraba laci meja untuk mengambil tasnya. namun ia merasakan menyentuh sesuatu yang kelihatannya dimasukkan dalam laci itu. Ia menggenggamnya kemudian mengeluarkannya untuk memastikan.
Ditelapak tangan gadis yang terkembang itu, nampak sebuah penjepit rambut dengan hiasan sebuah model salah satu action figure salah satu film terkenal. Alis Ichi mengerut sejenak lalu melayangkan tatapannya kembali ke semua teman-temannya yang larut dalam dialog dengan partner bicaranya.
Siapa yang menyisipkan benda ini disini??????
Mata jilbaber itu memicing tak kentara, mencermati dan mengamati raut semua wajah teman-teman sekelasnya itu. Ichi sementara membaca fisiognomi teman-temannya. penyelidikannya tak berlajut sebab Pak Surahman muncul lagi membawa beberapa kertas berwarna kuning.
Para peserta didik menatap benda yang dibawa dan dibeberkan Pak Surahman di permukaan meja. Lelaki itu kemudian menjelaskan benda yang dibawanya itu.
__ADS_1
"Inilah yang disebut Kertas Indikator Universal." jawab Pak Surahman. "Fungsi ini secara akurat dapat memastikan seberapa asam atau basa sebuah larutan." Lelaki itu menatap lagi anak-anak didiknya. "Selain bentuk karakteristik Asam-Basa, kedua larutan ini juga bersifat korisif, artinya dapat merusak dan menghancurkan benda lain melalui proses kimiawi, juga bersifat kondukta (penghantar listrik)."
Proses pembelajaran selanjutnya dilakukan secara praktek. Masing-masing siswa diberikan kesempatan untuk membuktikan beberapa larutan diketahui sebagai larutan asam atau larutan basa. Ichi tidak tertarik melakukan eksperimen tersebut. Dia sudah pernah melakukannya sesekali bersama sang ayah ketika beliau berkunjung dalam rangka liburnya.
Jam Sembilan, pelajaran itu rampung dan digantikan posisinya oleh Pak Djafar. Beliau adalah guru yang mengampuh mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dan Tarikh al-Islamiyyah.
Pembelajaran saat itu adalah seputar strategi dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam saat beliau berada di Yatrib (Madinah). Setelah pemberian materi singkat mengenai respon orang-orang Quraisy dan beberapa kabilah Nasrani dan Yahudi terhadap gerakan dakwah Islam yang dikembangkan Rasulullah SAW, tiba-tiba Ichi mengangkat tangan.
Pak Djafar menatap gadis itu. Waduh, Si Sesat Kecil ini lagi. Kira-kira apalagi pertanyaan memusingkan yang hendak diutarakannya? Semoga bukan hal yang gawat....
"Ya, Silahkan Adiratna..." ujar Pak Djafar dengan wajah tenang namun perasaan cemas.
Ichi menghela napas sejenak, mengamati sebagian wajah teman-temannya lalu menatap Pak Djafar dan mengajukan pertanyaan.
"Bagaimana pendapat Bapak..." pancing Ichi kemudian mengamati lagi wajah teman-temannya dan kembali mengamati air muka guru sejarahnya itu, "Bagaimana menurut Bapak, jika sebenarnya nabi-nabi hanyalah sekumpulan penderita skizofrenia, sedang yang disebut wahyu itu, sebenarnya hanyalah dampak dari gangguan mental saja?" tukas gadis itu kemudian melipat tangannya didada.
Seketika kegaduhan kembali menggemuruh dikelas itu. Utomo seketika berdiri dan menudingkan telunjuknya ke arah Ichi. wajahnya menyiratkan kemarahan yang segera ingin dilampiaskan.
"Ichi! Kalau hendak mengajukan pertanyaan, yang ringan-ringan saja! mengapa kau menanyakan hal semacam itu? Apa kau pikir Rasulullah SAW hanya seorang penderita penyakit mental?!" tegur Utomo dengan lantang.
Tanpa bangkit dari kursinya, Ichi menatap Utomo. "Sebelum kau melampiaskan kemarahanmu itu, berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda!" balas Ichi.
Utomo hanya bisa menggeram marah sedang Pak Djafar menenangkan pemuda itu. Lama juga Pak Djafar menatap dan berupaya menyelami alam pikiran gadis itu. Akhirnya ia menjawabnya.
"Bapak hanya menjawab seperlunya saja. Rasulullah SAW nggak punya potensi berbohong semacam itu sebab beliau tak punya motivasi semacam itu. Jika tidak, maka tentu agama Islam yang yang kita peluk ini tidak akan bertahan hingga sejauh ini." jawab Pak Djafar. Lelaki itu mendekat dan membungkuk agak dalam ke arah Ichi, ia mendekatkan wajahnya. Kali ini suaranya agak lirih. "Nanti, kita akan diskusikan hal itu lebih spesifik lagi."
Lelaki itu kemudian menegakkan kembali tubuhnya dan mulai menjelaskan lagi strategi dakwah dan tujuan beliau dalam program dakwah di Yatrib. Inti dari materi tersebut adalah bagaimana cara Rasulullah meningkatkan kehidupan ekonomi umat Islam.
"Apa latar didirikannya pasar islamiyyah?" pancing Pak Djafar lagi.
Ichi mengangkat tangannya. Pak Djafar mengangguk. "Ya, Adiratna?"
"Latar belakang berdirinya pasar islam disebabkan oleh pelecehan seksual dua pedagang yahudi terhadap seorang pembeli beragama islam." ungkap Ichi, "Salah satu lelaki islam membela wanita itu dan terjadi perkelahian. Kaum munafik kemudian menghasut menyebarkan sentimen kesukuan yang nyaris membuat perang saudara diantara penduduk Madinah. Dengan dasar itulah Rasulullah SAW mendirikan pasar khusus orang islam."
Pak Djafar menatap Ichi dan tersenyum-senyum sendiri. Boleh juga kamu jadi sejarahwan...
Guru itu menatap penghuni kelas. "Baik... sekarang anda mencari tentang latar belakang terjadinya perang Badar."
Kegiatan selanjutnya diisi dengan eksplorasi. Pak Djafar tidak keberatan anak-anak membawa perangkat gawai, selama tidak digunakan untuk hal-hal yang tidak berguna.
Pembelajaran itu rampung pada jam sebelas. Anak-anak kemudian dipersilahkan untuk bersiap-siap melaksanakan Sholat Dhuhur di masjid pesantren. Letak benda itu berada diarah barat daya dari sisi kelas 7A.
Sebagian peserta didik telah lebih dulu beranjak keluar kelas, menyisakan Ichi dan Fadila. Gadis itu langsung berbalik.
"Dil... kamu merasa melihat seseorang yang menduduki bangkuku sebelumnya?" tanya Ichi.
Fadila mengerutkan alisnya. "Lho? Bukannya kita sama-sama makan dikantin tadi?"
Ichi terhenyak. Ada jeda waktu yang terpampang antara kedatangannya pertama kali di kelas dengan keberadaannya bersama Fadila di kantin depan jalan butas halua SIS al-Jufri (nama jalan khas organisasi Alkhairaat).
berarti ada yang masuk dan menyisipkan benda itu, tepat dalam celah liminal antara kemunculanku dikelas dan keberadaanku bersama Fadila di kantin.
__ADS_1
Fadila telah meninggalkan Ichi sendirian dibangkunya. Alis gadis itu terus mengkerut dan sesekali terangkat-angkat sendiri.
Siapa orang itu???? []