KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
ULAR YANG MENAMPAKKAN DIRI


__ADS_3

Faisal tertawa saat Ichi mengutarakan kekesalannya perihal sikap ibunya terhadap pemuda itu. Jauh dilubuk hatinya, pemuda itu girang bukan main mendapatkan perhatian gadis kecil itu.


Azka memang bertubuh besar sebagaimana gadis-gadis matang lainnya. Pertumbuhan tubuhnya sangat cepat sebab ia mewaris gen ayahnya. Namun hakikatnya, anak itu masih kecil, masih berusia tiga belas tahun... belum saatnya ia mengalami fase yang disebut ketertarikan lawan jenis. Ibu harap kamu paham dan jangan merecoki anak itu dengan harapan yang bukan-bukan... kamu bisa, kan?


Faisal mengenang kembali percakapan singkat dirinya dengan Azizah saat wanita itu mengantarnya sampai ke gerbang. Ia memahami perasaan wanita itu. Ichi adalah putri semata wayangnya, sebagaimana Selina. Tentu orang tua akan sangat protektif terhadapnya.


Faisal menatap gadis kecil itu. "Kamu memprotes ibumu hanya gara-gara aku?" pancingnya.


Ichi mengangguk. "Ya, aku nggak suka sikap Umi terhadap Kakak..."


Dengan hati bahagia yang ditahan-tahan, Faisal berupaya menetralkan suasana. "Itu wajar bagi beliau, Ichi... kalau kamu bukan anaknya, nggak mungkin beliau se-protektif itu sama kamu."


"Bagiku, itu lebih ke arah arogansi seorang ibu." tukasnya dengan alis berkerut. "Kalau Abi nggal begitu."


"Oh ya?" pancing Faisal lagi. Ini kesempatanku mengenal pribadi ayahnya...


Ichi mengangguk. "Iya... Abi memang melarangku pacaran, tapi nggak frontal kayak Umi. Ia hanya minta aku menjaga diri. Itu saja."


"Kata-kata beliau dalam juga ya?" tukas Faisal.


"Dalamnya dimana?" tanya Ichi mengerutkan alisnya.


Faisal menatap pepohonan yang menghiasi taman-taman madrasah.


"Kata menjaga diri, itu bukan sekedar agar kamu menjaga dirimu, Ichi. Namun lebih dari itu... menjaga hati agar tidak terkontaminasi..." Faisal kemudian menatapi Ichi, "Dengan cinta..." jawabnya pelan.


Ichi sejenak tertegun lalu kemudian tersenyum-senyum sendiri. Faisal mengernyitkan alis dengan bibir yang tersenyum.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" pancing pemuda itu.


"Memang.... nggak boleh?" tanya Ichi dengan pipi yang telah bersemu merah.


Faisal langsung tertawa canggung. "Nggak... silahkan saja... "


Ichi tersenyum dan meletakkan jemari tangannya pada bibirnya, untuk mencegah jangan sampai ia mengeluarkan tawa. Faisal sendiri terlihat berupaya menghilangkan kecanggungan dengan menoleh kemana-mana dengan arah yang tak terstruktur.


"Kak..." ujar Ichi pelan.


Faisal gelagapan dan menatap Ichi. "Y-ya?"


Ichi kembali menahan tawa dengan menempelkan jemarinya dibibirnya. Setelah itu ia mengatur napasnya.


"Kakak... suka sama seseorang?" tanya Ichi dengan nada hati-hati.


Faisal tertawa pelan. "Kenapa kamu tanyakan hal itu?"


"Nggak boleh?" balas Ichi dengan mata yang dikerjap-kerjapkannya.


Faisal kembali canggung. "Ya... b-boleh... boleh..."


"Terus?" todong Ichi lagi.


"Apa?" tanya Faisal yang mulai gugup.


"Kakak suka sama seseorang?" tanya Ichi.


"Kamu... kamu kok... nanya begitu?" tukas Faisal lagi.


"Nggak boleh?" todong Ichi lagi dengan tatapan matanya yang sengaja dikerjap-kerjapkannya lagi.

__ADS_1


Faisal mendesah dan menunduk sejenak. Ichi kembali menampakkan senyum yang ditahannya. Faisal mendesah lagi dan mengangkat wajahnya.


"Kamu kan tahu... siapa yang ku sukai." ujar Faisal merendahkan suaranya.


"Aku tahu..." ujar Ichi dengan bahagia yang ditahannya.


"Terus? Kenapa menanyakan hal itu?" tanya Faisal dengan nada kesal.


"Memang nanya hal itu, nggak boleh?" tanya Ichi lagi kembali mempertontonkan kerjap-kerjapan matanya.


"Nggak!" tandas Faisal. "Kau mau menjebakku dengan kata-katamu itu, heh?" omelnya.


Ichi tertawa lepas sambil menepuk-nepuk lututnya. Faisal menatap gadis kecil itu dengan tatapan kesal.


"Senang ya, menjahili aku?" tukasnya.


Ichi menggeleng-gelengkan kepala lalu meredakan tawanya. Setelah tenang kembali, ia menjawab.


"Aku hanya ingin memastikan hati Kakak tidak terkontaminasi." jawab Ichi. "Tapi aku juga nggak memaksa Kakak untuk menetapkan hati terhadapku."


"Kok kamu bilang begitu?" tukas Faisal.


Ichi tertawa pelan. "Maunya Kakak macam apa?" todongnya.


"Ya... kamu setia dong sama aku!" tandas Faisal.


Ichi tersenyum-senyum sementara Faisal makin merasa hatinya bagai digebuk palu godam yang besar.


"Maunya Kakak begitu?" tanya Ichi.


"Iya!" tandas Faisal. "Aku nggak pernah melarikan hatiku kepada wanita lain. Hanya kamu."


Faisal memicingkan matanya. "Apa kau tidak sedang mempermainkan aku?" tukasnya.


Ichi memiringkan kepalanya. "Apakah aku terlihat seperti itu?"


Faisal melengos. "Mana kutahu?" ujarnya dengan kesal membuat Ichi kembali tersenyum.


"Kakak... menginginkan aku harus setia kepada Kakak?" tanya Ichi.


Faisal kembali menatap gadis itu. "Haruskah kutegaskan hal itu kepadamu?"


Ichi kembali tersenyum-senyum dan mengangguk-angguk sambil menatap Faisal membuat pemuda itu mulai dilanda rasa kesal.


"Jadi maumu, aku harus bagaimana?" tanya Faisal lagi.


Ichi sejenak mengangkat bahu lalu mengangguk-angguk lagi. Ia menjebikan bibirnya sejenak membuat Faisal merasa gemas ingin kembali mengecup dan mengulum bibir gadis itu.


"Aku hanya berupaya memurnikan hubungan kita dari virus yang dapat mengotori hubungan itu sendiri." jawabnya dengan tenang.


Faisal tertawa. "Diplomatis sekali." sindirnya.


"Ya... memang begitu." ujar Ichi. "Jujur... aku suka Kakak.... aku jatuh cinta..." ungkapnya membuat Faisal tanpa sadar tersenyum senang.


"Tapi, aku tak mau disuruh untuk menetapkan hati... sebab kita belum terikat pernikahan." sambung Ichi membuat senyum diwajah Faisal langsung lenyap.


"Jadi... kau menuntut aku untuk menikahimu?!" tukas Faisal.


Ichi tersenyum dan mengulurkan jemarinya membelai rambut pemuda itu.

__ADS_1


"Siapa yang menuntut Kakak untuk menikah?" tukasnya. "Kita ini masih sekolah... masa depan kita itu masih panjang... Kakak mau, masa depan Kakak.... impian Kakak yang selama ini Kakak idam-idamkan harus kandas hanya karena cinta?"


Faisal terdiam mendengar kalimat gadis itu. Ichi tersenyum lagi.


"Kak... aku memang cinta sama kamu." ujar Ichi. "Tapi aku nggak mau, cinta itu akan membelenggu kamu dalam menggapai apa yang kau inginkan. Aku nggak ingin memenjarakan kamu dengan cinta." gadis itu kemudian menatap langit. "Cinta itu, membebaskan Kak, bukan memenjarakan. Cinta itu menguatkan, bukan melemahkan." Ichi kemudian menatap Faisal. "Aku ingin.... cintaku padamu akan menjadi kekuatanmu untuk menjajaki masa depanmu... bukan membuat kau terjerembab dalam jurang."


Faisal mendesah. "Jadi... aku harus menahan rasa cinta ini?" ujarnya lirih.


Ichi tertawa. "Kan dalam ajaran islam nggak ada yang namanya pacaran, Kak Faisalku sayang..." oloknya dengan senyum jahil. "Yang ada itu ta'aruf. Nah, kan Kakak sudah ta'arufan sama Umi. Ya, sudah... puas, kan?"


"Puas apanya?!" sergah Faisal tanpa sadar mengeluarkan emosinya. "Aku disuruh menjauhimu!"


Ichi tersenyum lagi. "Memang... kan usiaku, belum boleh untuk itu... aku kan masih tiga belas tahun, Kakak...." ujarnya dengan suara menggoda.


"Heh?! Lama-lama kulumat juga bibirmu itu..." ujar Faisal tiba-tiba.


"Euts.... jangan nafsuan, Kak..." cegah Ichi kemudian beringsut mundur sejarak. "Cinta nggak boleh terkotori oleh nafsu lho."


"Aku hanya nggak mau tergolong dalam lelaki yang memelihara jodoh orang lain!!!" ujarnya dengan datar dan sinis.


"Kalau Kakak menganggapku seperti itu, ya Allah akan membuatnya seperti itu!" tandas Ichi dengan wajah yang serius membuat Faisal terkesiap.


"Aduh! Kok aku yang jadi salah disini ya?" tukas Faisal menggerutu.


"Ya memang salah!" seru Ichi. "Kata-kata itu, doa. Apa yang Kakak katakan, itu selalu didengar oleh Tuhan dan bisa jadi di ijabah-Nya." ujarnya dengan serius dan menggoyang-goyangkan telunjuknya ke depan menuding-nuding Faisal.


Pemuda itu jelas blingsatan bukan main dihakimi Ichi seperti itu. Ia tergagap namun tak lagi bisa menyuarakan pikirannya. Rasa cemas telah merasuki benak pemuda itu.


Sedang asyiknya keduanya bercengkerama di gazebo tersebut, muncullah seorang pria mengenakan pakaian rapi mendekati mereka. Faisal menatapi orang tersebut.


Si lelaki berpakaian rapi itu tiba dihadapan mereka dan menatapi Ichi.


Memang benar ucapan Bos. Anak gadis ini memiliki pesona yang kuat... ah, apakah ini? Apakah aku juga terhanyut?


Lelaki berpakaian rapi itu sontak menggeleng-gelengkan kepala, lalu memandang santun.


"Anda diundang atasan saya. Dia sementara menunggu diluar gerbang." ujarnya dengan sopan.


Ichi menatap lama lelaki itu membuatnya salah tingkah. Ichi kemudian menatap Faisal.


"Kak, aku kesana dulu ya?" ujar Ichi.


"Aku ikut." ujar Faisal.


"Maaf, anda tak diundang." sela lelaki itu.


Faisal memicingkan mata menatapi lelaki berpakaian rapi itu. Ichi kemudian tersenyum.


"Sudah, Kakak disini saja." ujar Ichi kemudian menatap Faisal dengan penuh makna.


Awasi aku....


Seakan paham isi hati gadis itu, Faisal langsung mengangguk. Ichi bangkit dan mempersilahkan lelaki itu menuntunnya menuju orang yang dimaksud. Keduanya berjalan menuju gerbang.


Disana, Ichi sontak berhenti menatap siapa orang yang mengajaknya bertemu. Lelaki dijalan itu melambaikan tangan.


"Hai Ichi... kita ketemu lagi." sapa lelaki itu.


"Rusli..." gumam Ichi. Rupanya Si Ular sudah berani menampakkan dirinya kembali. []

__ADS_1


__ADS_2