KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
TIADA DENDAM WALAKIN MUTUNG


__ADS_3

Dimana gerangan anak perempuan itu? Ketika semua orang mencari-cari keberadaannya, anak itu justru santai-santai saja di rumah sepupunya, Alfres Goi. Pemuda itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat betapa santainya anak itu menikmati makan siangnya.



Bibinya, Rianti sedang menemani suaminya, ke gunung untuk menambang emas. Hanson adalah salah satu dari gurandil yang tidak terikat pada perusahaan-perusahaan pertambangan yang beroperasi di pegunungan Pani. Golongan ini hanya sering melakukan kabilasa, yaitu kegiatan menambang sisa-sisa dari hasil tambang.


"Kakak sudah dengar beritanya itu." ujar Alfres, "Meskipun i'tikadmu baik, tapi kan nyata kalau kamu justru dicurigai oleh mereka."


"Aku dicurigai, juga difitnah..." ujar Ichi dengan datar sambil mengunyah makan siangnya. "Aku tak menyangka, mereka melakukan hal ini padaku."


Alfres hanya mengangkat bahunya. "Memang semuanya itu berlaku sunnatullah..."


"Apanya?" tanya Ichi.


"Seberharga apapun kamu, jika berada ditempat yang mana orang-orang tak menghargaimu... maka kau tidak akan pernah dihargai..." ungkap Alfres.


"Jadi... kesimpulannya... aku harus pindah dari sekolah itu?" pancing Ichi.


Alfres buru-buru menggeleng. "Bukan begitu juga. Dalam komunitas toksik seperti itu, kau tak perlu mengharapkan penghargaan dan pengakuan mereka. Kau melakukan semuanya untuk dirimu sendiri saja." jawabnya.


Ichi mengangguk-angguk.


"Sekarang... haruskah ku telpon Ustadz Gau untuk memberitahukan kamu disini?" pancing Alfres.


"Pesan sama beliau, jangan memberitahu keberadaanku disini kepada orang-orang lain." pinta Ichi. "Aku hanya ingin menenangkan diriku dulu."


"Ya, Kakak tahu." ujar Alfres.


"Makasih, ya Kak." ujar Ichi.


"Kita kan sodara-an... sesama sodara harus saling membantu." ujar Alfres mengedipkan mata sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan Ichi yang asyik menikmati makanannya.


Tinggal beberapa suap ia menghabiskan makanan, terdengar dentingan bel di pintu masuk. Alfres yang baru hendak pergi kemudian membuka pintu.


Dari pintu yang terbuka, masuklah Asraf, adiknya yang baru saja pulang dari PPLP. Pemuda itu heran melihat kakaknya ada dirumah.


"Lho? Bang? Nggak balik ke kota?" tanya Asraf.


"Ini juga mau berangkat." jawab Alfres. "Ada Ichi diruang makan. Temani dia gih."


"Kakak sudah makan?" tanya Asraf.


"Sudah." jawab Alfres. "Okey, aku cabut dulu ya?"


"Okey, Bray..." sahut Asraf.


Pemuda itu masuk dan menemui Ichi yang baru saja membereskan piring. Gadis itu terkekeh. "Kak Asraf, pulangnya nggak bilang-bilang ya?"


"Yeee.... ngapain juga aku bilangin kamu? Nggak penting." ujar Asraf membuat Ichi langsung manyun dan membawa piring sisa makannya untuk dicuci diwastafel.


Asraf duduk di bangku dan mengambil piring. Ia menyendok nasi lalu membuka piring-piring prasmanan berisi sayuran dan ikan-ikan yang digoreng maupun dibakar campur rica-rica. Dengan penuh selera disendoknya sepotong ikan besar dan menyendokkan sambal dabu-dabu sebagai penyedapnya. Pemuda itu kemudian makan.


Ichi muncul membawa piring dan meletakkannya di rak. Gadis itu kemudian duduk didepan Asraf, memandangi pemuda itu makan.


"Kamu kok nggak sekolah?" tanya Asraf tanpa menoleh, sibuk dengan kunyahan makanan dalam mulutnya.


"Sekolah kok." bantah Ichi, "Cuma lagi bolos saja. Boleh, kan?"


"Mabal atau merajuk?" tukas Asraf dengan senyum dan menelan makanannya.


"Kayaknya dua-duanya deh." jawab Ichi seenaknya.


Asraf kembali tersenyum lalu makan kembali. Ichi mendehem. "Kak Ais akan lama disini?" tanya Ichi menyebut nama pendek dari pemuda itu.


"Seminggu. Aku cuti selama seminggu." jawab Asraf sembari menelan kunyahan terakhir, kemudian membereskan piring dan alat makannya kemudian melangkah ke dapur, meletakkan alat-alat makan itu diwastafel.


"Aku sudah dengar berita itu." ujar Asraf yang melenggang keluar. "Juniorku dikelas 12 yang bilang."


"Siapa?" tanya Ichi.


"Selina Candra." jawab Asraf. Pemuda itu kemudian duduk diruang tengah diikuti oleh Ichi. "Saranku, sebaiknya kau kembali saja ke asrama. Nggak baik kabur-kaburan begitu."


"Tapi..." protes Ichi.


"Ya, aku tahu... aku paham bagaimana posisimu. Namun sebagai seorang muslimah, kau tak boleh patah arang dengan hasutnya orang kepadamu." tegur Asraf.


Ichi terdiam.


Asraf melanjutkan. "Kamu tahu? Siti Aisyah saja yang nota bene saja seorang Ummul Mukminin, di gosipin selingkuh. Nah, kamu dituduh sebagai pencuri atau apapun yang menurut kamu keji, ya bersikaplah bijak." ujarnya. "Boleh marah, dan itu wajar. Namun tuntut mereka untuk menyertakan bukti. Jika mereka tak mampu menyertakan itu, maka kamu boleh menuntut mereka dengan pasal pencemaran nama baik."


Ichi mengangguk-angguk mencerna semua perkataan saudara sepupunya. Asraf tersenyum.


"Tenanglah. Nanti aku juga mau hubungi Ustadz Gau, untuk meminta klarifikasi tentang masalah itu." ujar Asraf. "Tapi, ibumu belum tahu hal ini, kan?"


"Kayaknya belum... dan mudah-mudahan belum." ujar Ichi kemudian menghela napas. "Aku tak mau dia kepikiran."


...******...


Faisal jadi uring-uringan sendiri. Pemuda itu sering tidak fokus pada pembelajarannya. Hari ini adalah hari kedua dimana Ichi belum sama sekali menampakkan diri di asrama maupun di sekolah. Dan Faisal benar-benar heran melihat perilaku para guru, bahkan Ibu Vintje selaku kepala madrasah yang terlihat tenang-tenang saja setelah peristiwa itu. Bahkan dilihatnya pula Ishak kembali mengambil sikap tak perduli, kembali kepada gayanya yang biasa.



Pemuda itu tidak tahu bahwa Asraf telah menghubungi mereka-mereka yang berkepentingan dan meminta kepada mereka untuk mengijinkan Ichi untuk tidak masuk sekolah selama seminggu dengan pertimbangan ingin menenangkan diri dari rasa sakit akibat fitnah yang dilontarkan Rahmi kepadanya.


Faisal jadi pendiam dan sering tidak fokus pada pembelajarannya. Ishak mengamatinya namun memilih untuk tidak perduli. Pemuda itu sekarang sedang mempersiapkan diri untuk pernikahannya. Selina telah membuka hati untuknya. Tentunya hal ini harus disegerakan untuk mencegah wanita itu berbalik hati kembali.

__ADS_1


Hati wanita itu sedalam samudera... kamu tidak akan bisa menyelaminya meski kau menggunakan alat bantu pernapasan untuk menjelajahi dasar hatinya...


Selina sendiri menerima kehadiran Ishak dihatinya sebab telah nyata melihat perselingkuhan yang dilakukan Aldi dan Natasha dihotel itu. Penyatuan alat kelamin mereka berdua benar-benar direkam Faisal dan Ichi melalui ventilasi bangunan. Upaya anak-anak itu perlu di apresiasi.


Pelajaran hari itu selesai. Selina hendak bangkit namun ditahan oleh Siska. "Mau kemana kau?"


"Mau ketemu Ishak." jawabnya tenang dan langsung di soraki oleh teman-temannya.


"Sudah ke lain hati nih." sindir salah satu temannya.


Selina hanya tersenyum. "Sudah ah. Nanti saja meledeknya."


"Aldi mau dikemanakan?" olok yang lainnya lagi.


Selina hanya tersenyum saja dan beranjak meninggalkan kelas. Jilbaber itu melangkah santai menyusuri beranda yang sebagiannya digunakan para siswa untuk duduk-duduk, sekedar berdiskusi dengan teman-temannya atau melampiaskan hobi bermain game online disana.


Ia tiba di depan kelas Ishak. Gadis itu melongokkan kepala ke dalam kelas mencari keberadaan Ishak. Ia tak menemukan pemuda itu dikelasnya. Alisnya berkerut.


Kemana laki-laki itu???


"Nyari siapa?!" tanya suara dibelakangnya.


Selina terlonjak dan langsung menoleh ke pemilik suara itu. Ishak berdiri santai memasukkan kedua tangannya dikantong celananya. Selina memukul dada itu.


"Dasar kamu! Aku terkejut tahu?!" sergah Selina dengan wajah galak.


Alis Ishak terangkat. "Kakak ngapain juga lengak-lengok ke dalam? Nyari saya ya?" tanya Ishak kemudian tersenyum.


Selina melipat tangannya didada. "Sudah tahu, malah nanya!"


Ishak tersenyum datar. "Ada apa sih? Biasanya nggak begini juga." sindir Ishak. "Kemarin di panggil ogah-ogahan saja..."


"Oooo.... jadi kamu nggak mau kucari-cari?" tukas Selina dengan marah lalu hendak berlalu.


Ishak langsung mencengkeram pergelangan tangannya. Selina mengibaskan tangan. "Jangan sentuh-sentuh! Najis!" ujarnya marah.


Ishak tertawa. "Yuk..." ajaknya.


Selina masih diam. Ishak tersenyum. "Ayooo..." ajak pemuda itu.


Dengan gaya ogah-ogahan, Selina mengikuti langkah pemuda itu menuju gerbang. Ada beberapa Abang bentor yang memarkir kendaraannya diluaran sekolah.


"Kita mau kemana nih?" tanya Selina.


"Mencari Ichi..." jawab Ishak dengan pelan.


"Oh ya?" seru Selina. "Kamu tahu dimana dia berada?"


Ishak kembali hanya mempertunjukkan senyumnya. Selina menggelengkan kepala. "Setidaknya, beritahukan hal itu kepada Faisal."


"Anak itu, jika dia memang mencintai Ichi... dia akan melakukan hal apapun untuk memenuhi rasa cintanya kepada anak guruku itu." jawab Ishak. "Seorang yang dimabuk cinta, akan mengetahui dengan sendirinya, apa yang harus dilakukannya."


...******...


Ishak, entah karena motif apa sengaja berkata lantang sehingga mengundang keingin tahuan Faisal yang kebetulan duduk didalam kelas. Pemuda itu menajamkan pendengaran ketika Ishak mengatakan kepada Selina, bahwa dia hendak menemui Ichi.



Lelaki itu tahu, dimana Ichi sembunyi....


Ishak dan Selina sudah menumpangi bentor yang membawa mereka ke Desa Taluduyunu. Di Kediaman Goi, anak itu menenangkan dirinya. Hanya dua ratus meter, jarak yang ditempuh untuk mencapai kediaman itu.


Rumah kediaman keluarga Goi berada satu blok dibelakang deretan rumah yang menjajari tepi jalan menuju Gunung Pani. Diperlukan akses, sebuah gang kecil yang menuju ke dalam.



Ishak tersenyum-senyum sendiri sedangkan Selina menatapnya dengan heran.


uzaz,


"Kamu kenapa?" tanya Selina.


Ishak terhenyak sesaat lalu menatap Selina. "Nggak. Nggak apa-apa..." kilahnya lalu tersenyum.


"Tapi, kamu tadi senyum-senyum..." tukas Selina.


"Aku nggak boleh senyum ya?" tanya Ishak dengan datar.


"Ya... nggak sih..." jawab Selina gelagapan dan spontan lalu menatap ke arah lain.


Ishak tersenyum lalu mencolek dagu Selina. Gadis itu sejenak terkejut lalu menepis tangan Ishak dan berlagak marah.


"Isy... apaan sih?" gerutu Selina.


"Kakak kalau marah, makin cantik saja." rayu Ishak.


Selina langsung tertawa. "Gombaaallll..." serunya menyentil pelipis Ishak. "Sudah nggak jaman, tau..."


Ishak hanya mengangkat bahu. "Ya... sudah..."


"Sudah apanya?" tanya Selina.


"Ya sudah... aku nggak akan menggombali Kakak lagi." ujar Ishak dengan santai.


"Lalu?" tanya Selina dengan alis berkerut.

__ADS_1


"Ya...." ujar Ishak tak menyelesaikan ucapannya dan langsung menyetop bentor tersebut. "Kiri, Bang." serunya menyeru kata password untuk berhenti.


Kendaraan roda tiga itu berhenti. Diseberang jalan nampak sebuah gang kecil diapit oleh bangunan-bangunan. Ishak turun diikuti Selina. Pemuda itu membayar ongkos jalan lalu menyeberangi jalan seraya menggandeng tangan kekasihnya.


"Oooo.... rupanya disini anak bandel itu sembunyi." gumam Selina dengan senyum.


"Memang Kakak pikir dia mau sembunyi dimana?" tanya Ishak.


"Ya, dimana kek... yang rada-rada jauh, gitu." ujar Selina.


"Hm... aku Kayaknya curiga nih." ujar Ishak.


"Curiga apa?" tanya Selina lagi.


"Kakak doyan kabur dari rumah, ya?" tukas Ishak.


Selina terdiam. Ia memang sering melakukan itu jika berkonflik dengan salah satu dari kedua orang tuanya, atau kedua-duanya.


Melihat Selina hanya diam, Ishak menyeletuk. "Kalau sudah nikah, nggak boleh lagi ada kabur-kaburan..." tandas Ishak dengan tegas.


"Iyaaa...." jawab Selina dengan pelan.


Mereka telah tiba didepan kediaman. Ishak memencet bel. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan muncullah Ichi yang hanya mengenakan babydoll lengan panjang.


"Kalian?" tukas Ichi dengan heran.


"Ya, memang siapa menurutmu?" balas Ishak langsung melangkah masuk menarik Selina agar masuk pula.


"Ada yang lihat, nggak kalian kemari?" tanya Ichi.


"Memang kamu buronan apa?" sergah Ishak tiba-tiba membuat Selina terkejut. Ichi hanya terdiam. "Kamu pake acara kabur dari sekolah, kamu pikir para ustadz dan kyai nggak nyariin kamu?! Jangan nyusahin orang deh!"


"Kamu nggak tahu, bagaimana sakitnya di fitnah!" tukas Ichi dengan emosi.


"Apakah dengan kabur dari pesantren dapat menyelesaikan masalahmu?!" balas Ishak menyentil kepala Ichi. Gadis itu langsung mengibaskan tangan menepiskan sentilan Ishak.


"Ingat Ichi, kamu berada dibawah pengawasanku! Aku tak mau Sensei menganggap aku tak becus menjagaimu dan akhirnya beliau menyingkirkanku." ujar Ishak. "Kau mau Kak Selina jadi janda?!"


DEG!!!!


Selina langsung merasa dirinya syok mendengar ucapan kekasihnya. Sebegitu tinggikah derajat anak perempuan itu sehingga Ishak merasa nyawanya tiada berharga sedikitpun?


"Ichi...aku mohon kepadamu, berpikirlah dewasa...kau tak ingin membuatku sedih, kan?" ujar Selina setengah merengek.


Ichi tersenyum dan langsung memeluk Selina. "Kakak tenang saja. Abi nggak akan berani melakukan hal itu. Aku jamin."


Ishak hanya diam mendengar ujaran jilbaber itu. Sedangkan Selina kemudian tersenyum mendengarnya. Lega hatinya mendengar jaminan tersebut bagaikan sebuah syafa'at penjamin kehidupan Ishak didunia.


"Aku minta, besok kau segera pulang ke pesantren, Ichi." pinta Ishak.


"Aku masih ingin menyendiri." kilah Ichi.


"Apakah kau dendam kepada mereka?" tanya Selina.


"Aku tak punya rasa dendam... namun aku terlanjur mutung dengan mereka. Kurasa, sebaiknya aku tak boleh terlalu akrab." ujar Ichi.


"Ya... berlakulah biasa... bahkan berlakulah dingin. Setidaknya dengan itu, mereka akan segan kembali kepadamu." ujar Selina.


Ichi mengangguk.


"Kalau begitu, kami permisi pulang." ujar Ishak.


"Lho? Nggak istirahat dulu? Kalian baru saja tiba." protes Ichi.


"Nggak usah." ujar Ishak kembali melangkah menuju beranda. "Aku masih banyak urusan dengan Selina." ujarnya membuat Selina kembali tersenyum malu.


"Ya, sudah kalau begitu." ujar Ichi mengalah.


Mereka bertiga baru saja melangkah menuju tangga. Ishak menatap ke depan dan terkejut, begitu juga dengan Selina, terutama Ichi.


Dihalaman telah berdiri Faisal dengan tatapan tajam. Tangannya mengepal.


"Kau..." seru Ishak.


Selina menggenggam lengan kekasihnya dengan cemas, sedangkan Ichi hanya berdiri diam dibelakang kedua pasangan itu.


"Kau tahu? Aku nyaris putus asa mencarimu." ujar Faisal menudingkan jemarinya ke arah Ichi.


Ichi sejenak menunduk lalu kembali mengangkat wajah dan mengucap, "Maaf, Kak..." ujarnya dengan sendu.


"Dan kau pergi tanpa memberi tahu... membuat semua orang di pesantren kelimpungan...." tukas Faisal seraya maju mendekat. "Kau tak memikirkan perasaan mereka?"


"Aku... aku sudah menghubungi Kyai Hakim dan Ustadz Gau..." ujar Ichi membela diri.


"Ya, dan kau tak memberi tahuku!" tukas Faisal dengan gusar.


Ichi kembali menunduk. "Maaf, Kak..."


"Fais..." tegur Ishak memperisai Ichi.


Faisal yang masih geram mendorong Ishak ke samping lalu menudingnya. "Kau diam disitu! Jangan ikut campur!"


Ichi mengangkat wajahnya, "Aku nggak mau membuat kau repot, Kak." kilahnya.


"Oh ya?" tukas Faisal. "Rupanya... kamu memang harus diberi pelajaran dulu, supaya tahu apa artinya penderitaan."

__ADS_1


"Faisal!" sergah Ishak.


Tiba-tiba Faisal maju tanpa sempat dicegah oleh Ishak. Selina sendiri hanya terpana kaget. Lelaki muda itu berdiri dihadapan Ichi dan langsung meraih pipi gadis itu, mendekatkan wajahnya dan langsung mencium serta mengulum bibir Ichi. Gadis itu terhenyak bukan main dengan perlakuan pemuda tersebut. []


__ADS_2