
"Ngapain kamu disini?!" sergah Ishak dengan kesal.
Si pembokong itu, adalah Ichi yang berdiri dengan sikap siaga. Tatapannya memicing. Ishak mengencangkan rahang dan bersikap shizentai meski siaga.
"Aku tak terbiasa melihat penindasan." tukas gadis itu.
Ishak langsung mengangkat kedua alisnya. "Penindasan? Kau bilang ini penindasan?" pemuda itu kemudian tertawa membuat Ichi makin kesal.
"Hey, kok ketawa?!" sergah Ichi. "Ada yang lucu ya?!"
"Ya!" jawab Ishak, "Kamu yang lucu!"
Yanto memanfaatkan hal itu dengan cepat bangkit dan melangkah berdiri dibelakang Ichi. Ishak menuding pemuda itu. "Kamu tahu siapa dia?"
"Ya, aku tahu." jawab Ichi dengan tenang.
"Berarti kamu paham sebenarnya, untuk apa aku memukulnya?" ujar Ishak.
"Apa kau bilang?! Kau yang harus berpikir! Untuk apa kau pajang wajah tidurku di story sosmed hah?! Kau mau menjatuhkanku?! Atau mau bikin orang tuaku bersedih?!" sergah Yanto bertubi-tubi.
"Oooo... berarti selama ini kau baru sadar bahwa di bully itu rasanya seperti ini, kan?" tukas Ishak membuat Yanto langsung kicep.
Pemuda itu mengembangkan tangannya. "Kalau kau merasa kuat, mengapa menindas orang lain? Apakah kau pikir orang lain tak merasakan seperti yang kau rasa?" pancing Ishak seraya bercakak pinggang.
"Tapi ini berbeda!" kilah Yanto dengan sengit.
"Perbedaannya dimana, bray?" tantang Ishak. "Kamu pikir aku tak tahu apa yang pernah kau lakukan kepada Faisal? Apa harus kubeberkan didepan Ichi segala keculasanmu?"
Yanto tak bisa lagi mengemukakan argumen apapun. Akhirnya ia hanya menudingkan telunjuknya kepada Ishak. "Hari ini, kau menang!" ujarnya, "Tapi roda keberuntunganmu tak selamanya berada diatas. Aku akan menantikan kejatuhanmu!"
"Itu ancaman?" tantang Ishak.
Yanto tak mengomentari ucapan pemuda itu. Ia langsung berbalik dan melangkah kembali masuk kedalam kompleks pondok pesantren. Kini dilapangan itu tersisa Ichi dan Ishak.
"Sekarang tinggal kita berdua." ujar Ishak. "Apa maumu?"
"Ini!!" seru Ichi tiba-tiba maju melayangkan ap chagi mengincar dada Ishak.
PLAKKK
Ishak dengan refleks menampar tendangan gadis itu dengan naiwan ude uke kemudian melayangkan gaiwan tobi shuto uchi mengincar wajah gadis itu. Ichi lekas mengayunkan momtong an maki menangkis shuto uchi dari Ishak yang mengincar wajahnya sekaligus menangkap keempat jemari pemuda itu.
GRAPP...
HMMM...
Ishak tak menyangka serangannya bisa dimentahkan oleh Ichi. Pemuda itu menghentakkan tangan menarik jemarinya yang digenggam gadis itu dan melompat selangkah ke belakang.
"Bagus... kupikir, kau perempuan yang tak memiliki taji." Ishak mulai memasang gaya bertinju. "Sekarang, aku serius... kuharap, kau berhati-hati."
"Hm... lihat saja nanti." ujar Ichi dengan senyum mengejek.
Ishak tersenyum sejenak dan tiba-tiba maju dengan kecepatan tak disangka oleh gadis itu.
HEH?!
Ishak maju menghujamkan jodan tsuki. Untung saja Ichi dengan refleks menangkis dengan eolgol ceceumaki sehingga pukulan tumbukan itu hanya mengenai lengan luarnya saja, namun sudah cukup membuat Ichi meringis kesakitan.
Tanpa memberi jeda, Ishak kembali menghujamkan gedan tsuki mengincar perut lawannya. Ichi lekas menangkis dengan teknik aremagi, namun tanpa disangka dengan kecepatan yang sulit dijajaki gadis itu, Ishak melayangkan ura kizami tsuki dan tepat menghantam dagu gadis itu.
BUAAGHHH...
OOUCCHHH...
Tubuh Ichi tersentak melayang keatas beberapa senti akibat tumbukan itu, dan Ishak menghujamkan kembali chudan tsuki tepat menghantam uluhati gadis itu.
Ichi terlempar dua meter dan terjungkal bergulingan sekali lalu duduk bersimpuh menahan sakit yang mendera uluhatinya. Dihadapannya, Ishak berdiri lagi dengan sikap shizentai. Kepalanya miring menatap Ichi yang kesakitan memegang perutnya yang terasa mulas.
"Aku belum mengeluarkan semua kemampuanku, lho." ujar Ishak dengan senyum. "Masih mau berlagak sok pahlawan nih?"
"Brengsek!!!" seru Ichi dengan jengkel dan menampar tanah kemudian bangkit kembali memasang sikap bertarung.
Ishak tersenyum. "Nah, begitu dong." pujinya, "Nggak sia-sia kalau kamu itu putrinya Golgotha Calvatorch."
"Apa kau bilang? Golgol?" sergah Ichi yang murka merasa Ishak mengejek nama ayahnya.
Pemuda itu mengencangkan rahang dan merutuk. Waduh! Aku kelepasan bicara. Moga-moga dia nggak sadar...
Pemuda itu meralat ucapannya. "Maksudku, nggak sia-sia kau jadi anaknya Si Kartono itu."
"Brengsek kau! Itu nama ayahku, tahu?! Sopan sedikit menyebut namanya!" sergah Ichi tersinggung.
__ADS_1
"Ooo... Si Kartono gigi boneng, urang gudis..." ejek Ishak sengaja memanasi Ichi.
"Sipit Bolor!!!" umpat Ichi seraya maju menghambur kali ini melayangkan tendangan twieo yeop chagi mengincar kepala Ishak.
Pemuda itu hanya tersenyum saja dan menggeser tubuhnya sedikit ke samping menghindari tendangan terbang gadis itu. Ichi yang di amuk amarah mendadak menjadi lincah. Begitu ia menjejak tanah, segera ichi kembali melompat dan menghujamkan tendangan twieo dwi chagi.
Ishak kali ini enggan menghindar. Ia memutar dan melayangkan ushiro gaiwan mawashi geri menampar tendangan gadis itu.
TRAKKK...
Tubuh Ichi berputar di udara. Gadis itu melayangkan tendangan dwi hurigi. Ishak menjatuhkan tubuhnya ke bawah menghindari tendangan tornado itu. Tiba-tiba ia menekukkan lututnya dan melompat ke atas menghujamkan kedua kakinya mengincar wajah Ichi.
Ichi menghujamkan pula kedua tinjunya kearah dua telapak kaki yang mengincar wajahnya itu.
BAMMM...
Terjadi benturan dan tabrakan tenaga dalam. Tubuh keduanya terpental. Ichi terjungkal namun cepat bangkit sedang Ishak terhantam kembali ke tanah dan cepat bangkit pula.
Tanpa mereka sadari, pertarungan mereka disaksikan oleh Indah dan Rahmi. Keduanya kaget menyadari bahwa kemampuan beladiri perempuan itu jauh diatas mereka. Indah menyenggol Rahmi.
"Kamu panggil Ustadz Gau." usul Indah, "Bilang kalau Ichi lagi berkelahi dengan kakak seniornya."
Rahmi melonjak senang. "Ide bagus itu, Kak." pujinya. "Dengan begitu, kita bisa mengusirnya dari asrama."
"Ayo cepat!" seru Indah.
Rahmi mengangguk lalu pergi meninggalkan Indah yang masih menonton pertarungan itu. Sementara dilapangan, keduanya berdiri beberapa tombak saling berhadapan.
"Ichi...sebaiknya hentikan saja pertarungan ini." bujuk Ishak. "Kau sekali-kali tak akan bisa melampaui aku. Kau masih harus banyak belajar."
"Huh..." dengus gadis itu. "Kali ini, aku akan membuatmu menyesal karena menghina ayahku." geram Ichi.
"Menghina? Menghina bagaimana?" tanya Ishak dengan heran.
"Bukankah kau tadi mengatakan kalau aku anaknya si Gol-gol?" tukas Ichi menudingkan telunjuknya kepada Ishak. "Memang siapa kamu berani mengatai ayahku Si Gol-gol?!"
Ishak garuk-garuk kepala. Astagfirullah... dia mengira aku menghina ayahnya.... siapa yang berani menghina Si Sesat Barat Raja Tengkorak? Bisa mampus menyedihkan tak punya kuburan... aku saja nggak berani...
"Aku tak menghina ayahmu." ujar Ishak dengan jujur. Bagaimana mengatakannya? Haruskah kubilang kalau ayahnya adalah salah satu dari empat penguasa dunia bawah tanah di Gorontalo? Bisa mampus aku dihabisi Sensei... aduh... kenapa malah aku yang jadi pesakitan ya?
"Lalu apa itu maksudnya Gol..." tukas Ichi.
"Baiklah, aku minta maaf untuk itu." sela Ishak agar Ichi tak mengungkit-ungkit lagi kalimat tersebut. "Okey? Aku minta maaf..." ujar Ishak tiba-tiba berlutut dengan gaya seiza dan bersiap melakukan rei.
Ishak sudah siap dengan serangan itu. Ia tak akan melawan lagi. Lebih baik pingsan dari pada harus menjawab tantangan gadis yang selalu kehausan itu. Toh, ia memang diperintah gurunya untuk menjagai putrinya, bukan? Kematian ditangan majikan merupakan sesuatu yang terhormat dalam adat shiaijo (kode etik samurai era Edo). Ishak menutup mata, bersiap menerima hukuman.
PLAKK...
EHHH????
Tumit Ichi nyaris menyentuh batok kepala Ishak manakala ada sebuah tangan yang menangkap pergelangan kaki gadis itu dan membuat Ichi tak bisa melanjutkan tekniknya. Gadis itu menatap si penangkap itu.
"Kak Faisal?" gumam Ichi dengan lirih.
Ishak membuka mata dan menoleh menatap Faisal yang berdiri dengan kuda-kuda teguh sedang tangan satunya menangkap pergelangan kaki Ichi.
"Faisal...." gumamnya.
"Kamu mau membunuh orang, Ichi?" tegur Faisal kemudian menatap Ichi dengan tajam.
"Nggak! Nggak kok Kak." ujar Ichi dengan cepat dan menarik kakinya yang dipegang Faisal.
Faisal menegakkan kaki dan tubuhnya lalu menatap Ishak yang masih berlutut. "Kamu ngapain, lagi berdoa gaya Tao, ya?" tegurnya. Ishak lekas berdiri dan menyapu-nyapu debu dilutut celananya.
Faisal menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu memang benar-benar keterlaluan Is." tegur pemuda itu lagi. "Kenapa juga kau upload gaya tidurnya itu di story sosmed? Yanto tadi kulihat berteriak-teriak histeris memukul-mukul pohon pisang dibelakang asrama sambil mengumpat dan menghujatmu."
Ishak tertawa, "Biarkan saja..." ujarnya dengan tenang. "Aku hanya mengajarinya tentang makna hidup. Jika ingin dihormati orang lain... maka hormatilah orang lain." ujar Ishak kemudian menampar-nampar pundak Faisal dengan lembut.
"Tapi nggak begitu juga, Is..." tangkis Faisal.
"Sudah, kamu tenang saja. It's okey, bro. Don't mentioned it." sahut Ishak dengan senyum.
Faisal menatap Ichi. "Kamu dari mana saja? Kok tiba-tiba bisa ketemu dan bertarung dengan Ishak disini?"
Ichi langsung menepuk jidatnya. "Astagfirullah! Hari ini aku latihan Taekwondo! Aku lupa tadi!" buru-buru gadis itu berlari keluar dari gerbang.
"Eeeh... " panggil Faisal.
"Daaah Kakaaaaak..." sahut Ichi dari kejauhan.
Faisal menggeleng-gelengkan kepala sedang Ishak hanya tersenyum-senyum saja menatap Ichi dan Faisal bergantian. Merasa diperhatikan, Faisal memandang pemuda chinnese itu. "Kamu kenapa lagi menatapku?"
__ADS_1
"Nggak..." kilah Ishak, "Aku hanya melihat sepasang kekasih yang saling menyayangi."
Merasa tersindir, Faisal membela diri. "Aku dan Ichi nggak ada hubungan apa-apa."
"Lho? Memang aku tadi sebut namamu dan Ichi?" tukas Ishak dengan senyum menjebak. Faisal mengencangkan rahang sebab ia memang terjebak dengan permainan kata itu.
"Memang disini siapa lagi sih? Sudah pasti kata-katamu itu merujuk kepadaku." kilah Faisal kembali membela diri.
"Baiklah... bagaimana jika yang kusindirkan itu benar, kalau kau memang punya hati kepada Ichi?" pancing Ishak.
Faisal merasakan wajahnya menghangat. Ia hendak menjawab ketika Ustadz Gau yang dikawal oleh Rahmi dan Indah muncul mendekati mereka berdua.
"Mana Azkadiratna?" tanya pengasuh itu.
"Sudah pergi." jawab Faisal. "Katanya dia ada latihan Taekwondo sore ini." ujarnya langsung menebak bahwa Rahmi dan Indah menghasut Ustadz Gau untuk menangkap gadis itu.
"Kenapa sih Ustadz?" tanya Ishak.
"Ikut saya ke ruang pengasuhan." ajak Ustadz Gau.
Ishak dengan heran mengikuti langkah Ustadz Gau meninggalkan lapangan itu. Faisal menatapi Rahmi dan Indah.
"Kalian menghasut Ustadz lagi, kan?" tukas Faisal dengan datar.
"Nggak kok!" tangkis Indah dengan sengit.
"Kalian itu teman sekamarnya." ujar Faisal. "Semestinya membantu dia untuk mengenal kehidupan pondok dan saling mengisi kekurangan. Bukan saling menjatuhkan." tegurnya.
"Siapa yang menjatuhkan Ichi?!" tukas Indah dengan sengit lagi. "Kayaknya Kakak nuduh yang nggak berdasar deh."
Faisal tersenyum. "Indah... aku sudah tahu kamu dari dulu. Dari pertama aku mondok disini, aku mempelajari semua karakter kalian, dari para pengasuh sampai santri entah yang mukim maupun ngalong, semua kuamati dan kupelajari. Kamu jangan membohongi aku."
Indah sejenak tergagap lalu memperbaiki nada bicaranya. "Terserah Kak Faisal mau bicara apa." tandasnya. "Yang jelas, saya melihat dengan mata kepala sendiri kalau Ichi lagi berkelahi dengan Ishak disini. Aku saksi matanya."
"Aku juga saksi mata, Indah." balas Faisal.
Keduanya hanya saling berpandangan dengan kesumat yang mulai menghangat.
...******...
"Benar? Kamu dan Ichi tidak terlibat perkelahian?" tanya Ustadz Gau sekali lagi.
"Ya Allah... Ustadz... kok percaya mulut nyinyir perempuan sih?" tukas balik Ishak dengan kemudian mendesah dengan nada sesal.
"Tapi kan Indah sama Rahmi melihat kalian berdua berkelahi, dengan mata kepala mereka sendiri." tangkis Ustadz Gau.
"Nggak kayaknya tuh." bantah Ishak. "Kalau mereka melihat kami berkelahi, semestinya itu melerai, bukan melaporkan. Berarti itu mengindikasikan mereka yang hendak berbuat makar kepada salah satu diantara kami berdua."
"Kamu jangan menuduh, Ishak." tegur Ustadz Gau.
"Begini saja dah." pungkas Ishak. "Silahkan saja Ustadz tanya kepada Faisal. Dia juga disana menyaksikan kami berdua... bertanding."
"Bertanding? Kau bilang pengerahan teknik tingkat tinggi kepada lawan itu, bertanding?" pancing Ustadz Gau.
"Ya iyalah Ustadz." tandas Ishak. "Kalau Ustadz praktik latihan silat, apakah mukulnya main-main? Ya, pasti sungguhan lah. Kan bukan lagi main drama."
Ustadz Gau menggeleng-gelengkan kepala dan memicingkan mata. "Kau paling pandai bersilat lidah."
"Bukan bersilat lidah, Ustadz." kilah Ishak, "Sekedar meluruskan kekeliruan."
Ustadz Gau menghela napas. "Sudahlah." ujarnya. "Sekarang masalah tentang Selina."
"Kenapa dengan Selina?" tanya Ishak dengan curiga.
"Ayahnya melayangkan protes kepada kamu. Ayahnya menginginkan kamu supaya dikeluarkan dari pondok ini. Bagaimana menurutmu?" pancing Ustadz Gau.
"Kalau saya... harus dikeluarkan dari sini, bagi saya nggak masalah." jawab Ishak dengan tenang. "Apakah saya akan dikeluarkan?" tanya pemuda itu.
"Masih sementara dikaji..." jawab Ustadz Gau.
Ishak hanya manggut-manggut saja. Ustadz Gau kembali memandangnya. "Apa kau mencintai perempuan itu, Ishak?"
Ishak mengangkat bahu dan menatap Ustadz Gau. "Menurut Ustadz?" pancingnya.
Ustadz Gau memicingkan mata. "Katakan pada gurumu. Aku memintanya datang."
"Kapan?" tanya Ishak.
"Secepatnya." tukas Ustadz Gau. "Ini masalah yang nggak main-main. Menyangkut harkat dan martabat seorang perempuan yang ayahnya mengajukan protes keras kepada kami."
"Aku akan menghubunginya nanti." ujar Ishak.
__ADS_1
Ustadz Gau mengangguk-angguk lalu menyuruh Ishak meninggalkan ruangan tersebut. Pemuda itu dengan santai meninggalkan tempat itu, mengayun langkah tanpa beban hati.[]