
Selina, sejak itu kembali muram durjanya. Siska dan yang lainnya langsung bisa menebak, mengapa sahabat mereka tiba-tiba sekelam itu. Wajahnya benar-benar tiada menampakkan gairah maupun kegembiraan sebagaimana biasa.
Mereka tak ada gunanya menyidik masalah itu kepada Selina. Gadis itu dengan serta-merta pasti langsung mempertinggi temboknya, tak memberi kesempatan siapapun memanjati halaman pribadinya.
Cara satu-satunya hanyalah menginterogasi Ishak. Mereka dengan isyarat masing-masing sepakat sama-sama menemui Ishak dan mencari tahu sendiri lewat pemuda itu.
Pelajaran masih berlangsung dan Selina tetap saja pada sikapnya yang mengisolasi hati itu. Siska menetapkan, Listri sebagai santri mukim senior harus mendapatkan informasi terupdate tentang permasalahan antara Selina dan Ishak.
Bel berbunyi. Semua siswa madrasah aliyah membubarkan pertemuan pembelajarannya. Mereka berhamburan keluar dari kelas, disusul guru-guru yang telah pula menyelesaikan jam tatap mukanya. Siswa madrasah yang merangkap sebagai santri mukim bergegas kembali ke asrama, sedangkan yang ngalongan, melanjutkan perjalanannya kembali ke rumah mereka.
Didepan gerbang telah menanti seorang pemuda. Siswa-siswi kelas 12-IPA-A, sudah tahu, siapa pemuda yang menunggu di gerbang itu. Ia mengendarai kendaraan kebanggaannya, sebuah sepeda motor Kawasaki Ninja.
Beberapa siswi menoleh dan sesekali menggoda pemuda itu dengan deheman, sekedar menerbitkan rasa cemburu dihati Selina, setelah itu berlalu dengan tertawa-tawa mengolok keduanya.
Selina menghentikan langkahnya, menatap pemuda itu. Ia adalah Aldi, lelaki yang telah menjalin cinta kasih dengannya sejak Selina duduk dibangku kelas 8 madrasah tsanawiyah ditempat yang sama.
"Hai, Seli..." sapa Aldi.
"Kak Aldi..." balas Selina dengan lirih.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Aldi meletakkan helmnya.
Selina hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu. Basa-basi yang dilontarkan Aldi memang tak pernah berubah. Aldi tersenyum melihat sebaris senyum diwajah gadis yang selalu menghiasi mimpi-mimpinya disetiap tidur. Pemuda itu melangkah mendekat.
"Kupikir... aku tak mampu menyingkirkan bayanganmu barang sekejap, Seli." ungkap Aldi yang telah berdiri dihadapan Selina.
Selina seakan menyadari sesuatu. Ia celigukan kesana-kemari mengamati semua sudut, memastikan seseorang yang ditakutinya itu bersembunyi diantara sudut-sudut yang diperhatikannya. Aldi seakan paham dengan perilaku gadis itu.
"Lelaki itu nggak akan berani kemari." tukas Aldi dengan datar. "Aku akan membunuhnya jika ia berani menampakkan diri dihadapan kita."
"Kak..." sela Selina. "Please kita balik." pinta gadis itu dengan cepat.
Aldi menatap lama wajah gadisnya yang menyimpan ketakutan. Entah apa yang dilakukan Ishak hingga membuat Selina seperti itu. Aldi berniat akan menemui pemuda itu secara pribadi untuk menegaskan cintanya dan mengancam lelaki itu agar mundur dari garis demarkasi kepengasihan mereka.
"Baiklah... ayo." ajak Aldi kemudian melangkah kembali ke sepeda motornya diikuti oleh Selina.
Pemuda itu memberikan helm satunya kepada Selina. Gadis itu menerimanya dan mengepaskannya dikepala. Aldi sendiri langsung menunggangi kendaraannya setelah memakai helm. Selina kemudian naik ke boncengan dan Aldi menengoknya.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Aldi dengan lembut.
Selina mengangguk. Lelaki itu mengangguk pula dan dia menghidupkan mesinnya. Tak lama kemudian, sepeda motor gede yang membawa dua insan berbeda genus itu melaju meninggalkan jalanan Said Al-Jufri.
Sejeli-jelinya tatapan Selina yang mengamati setiap sudut, dia kalah kompetensi dengan Ishak yang pakar dalam penyamaran. Mereka tak sadar, sejak berbincang-bincang tadi hingga mereka meninggalkan tempat itu, Ishak berada sangat dekat diantara mereka. Pemuda itu duduk diantara semak tinggi dengan angle yang tepat sehingga Selina maupun Aldi tak menyadari keberadaannya.
Setelah keduanya tak berada disana lagi, Ishak keluar dari tempat persembunyiannya, dan melangkah lalu berhenti ditengah jalan dengan sikap shizentai dan tangan yang terkepal.
Aldi akan segera mengetahuinya, Selina... akan kulihat, bagaimana pandangannya terhadapmu nanti...
...*****...
Faisal sementara menyapu lantai kelas ketika Ichi tiba-tiba muncul disitu. Pemuda itu menoleh dan melempar senyum. "Hai, Ichi..." sapa Faisal lalu kembali menyapu.
"Hai juga..." balas Ichi.
Gadis itu masuk ke dalam kelas dan duduk disalah satu bangku dekat pintu. Faisal masih sibuk menyapu.
"Lagi piket, ya Kak?" tanya Ichi.
__ADS_1
Faisal mengangguk-angguk sambil terus menyapu. Ichi terus menonton pemuda itu melaksanakan piketnya.
"Ichi bantuin, boleh nggak?" usul gadis itu.
"Nggak usah..." jawab Faisal dengan lembut. "Kamu disitu saja. Kehadiranmu sudah cukup membuat tenagaku yang terkuras kembali lagi sebagaimana biasa."
Ichi tertawa. "Berarti, aku kayak minuman energi dong." celetuk gadis itu.
Faisal tertawa sejenak lalu meletakkan sapu dan berdiri menatap Ichi sambil menepuk-nepuk bagian pantatnya menyingkirkan sisa debu ditelapak tangan.
"Pekerjaan sudah selesai." ujar Faisal dengan senyum. "Terima kasih ya, sudah menemani aku."
Ichi hanya mengangguk dan tersenyum. Faisal mendekatinya lalu bersandar disisi meja.
"Nggak langsung ke asrama, kok malah nyangkut dimari?" tanya Faisal dengan senyum.
"Malas sampe di asrama pasti disuruh kerja ini-kerja itu oleh Kak Indah." ujar Ichi merajuk.
Faisal tertawa. "Indah? Kamu takut sama dia?"
"Secara fisik sih nggak." ujar Ichi. "Secara status sosialnya... dia kan senior. Segala perkataannya akan lebih diterima oleh pengasuh ketimbang saya."
Faisal mengangguk-angguk. "Tapi kayaknya dia nggak berani lagi deh sama kamu." tebak pemuda itu.
"Memang sih, sejak pertandingan itu... keduanya kayak ngejauh benar dari saya. Padahal saya kan nggak ngapa-ngapain mereka berdua." kilah Ichi dengan kesal.
"Kayaknya Rahmi yang bikin ulah supaya kamu dijauhi sama Indah." tebak Faisal.
"Masa sih?" tanya Ichi dengan heran.
Faisal mengangkat bahu. "It's my opinion... don't mentioned..." ujarnya hendak melangkah.
"Ya, balik ke asrama, Ichi." jawab Faisal dengan wajah setengah masam. "Memang aku punya rumah di tempat ini?"
Ichi kembali tertawa sambil mengelus-ngelus jilbabnya. Faisal hendak melangkah namun menahan lagi ayunan langkahnya dan menatap Ichi.
"Mau pulang, nggak?" tanya Faisal.
Ichi bangkit dan melangkah mengiringi pemuda itu keluar dari kelas. Mereka berdua melangkah sejajar menyusuri koridor bangunan. Faisal diam-diam menggaet kelingking gadis itu dan menggenggamnya dengan erat.
Wajah Ichi seketika merona dan menunduk. Namun gadis itu tak melakukan penolakan. Keduanya berjalan dalam posisi bergandengan jari kelingking. Sesekali keduanya saling memandang lalu tertawa bersama dan menunduk kembali memperhatikan lantai.
Sekali lagi, keduanya tak mengetahui, atau tak memperdulikan jika Indah menguntit keduanya melangkah dengan gaya mesra semacam itu. Gadis itu tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mengambil gawai dan memotret keduanya sekalian merekam mereka yang alhirnya menghilang dilekukan bangunan.
Indah mengangguk-angguk lalu menyimpan kembali gawainya.
Lihatlah Ichi... sedikit lagi, aku akan mendepakmu dari sini...
...******...
Kemunculan Aldi di rumah itu membuat Candra dan istrinya salah tingkah. Keduanya kelihatan kikuk menerima kedatangan Aldi.
"Masuk dulu, Kak." ajak Selina berbasa-basi.
"Nggak usah. Aku hanya ingin nganterin kamu sampai dirumah. Ini aku mau balik kerja lagi." kilah Aldi.
__ADS_1
Selina tersenyum dan mengangguk-angguk. Aldi pun mengangguk lalu pamit meninggalkan rumah itu. Selina melambaikan tangan mengiring kepergian pemuda yang dicintainya.
Sepeninggal Aldi, ketiganya masuk kedalam rumah. Ibunya langsung menegur Selina.
"Mulai sekarang, perjarang pertemuan kalian..." ujar ibunya.
"Lho? Ma? Kenapa?" tanya Selina dengan protes.
"Kamu nggak nyadar kalau seminggu lagi, kamu akan menerima pinangan?!" ujar ibunya setengah menyergah.
"Aku nggak mau, Ma." jawab Selina serta-merta membuat Candra terbelalak.
"Apa? Kamu nggak mau?" seru Candra yang seketika kaget sekaligus marah. "Kenapa kamu nggak mau?"
"Selina nggak suka saja sama Ishak, Pa!" jawab Selina dengan tegas.
"Tapi, Selina... Ishak... adalah orang penting dalam perusahaan itu." ujar Candra. "Buktinya, Presdirnya langsung yang datang menegosiasi lamaran pemuda itu. Kamu jangan main-main, Seli."
"Papa? Bukankah Papa tahu kalau aku dan Aldi sudah pacaran lima tahun, lima tahun Pa! Lima tahun bukan waktu yang main-main."
"Tapi Ishak lebih kaya daripada Aldi, nak." ujar ibunya membujuk.
"Apa kalian berdua hanya melihat sisi materi dari laki-laki itu? Jika bicara materi, Aldi juga bisa memberikan apa yang aku mau, Pa...Ma..." tangkis Selina dengan emosi.
"Nak... pikirkan hal ini." ujar Candra. "Sekarang... ini bukan lagi urusanmu secara pribadi... tapi sudah merembet ke karir bisnis Papa." ujarnya. "Apa jadinya kau menolak pinangan anak itu, bisa-bisa kontrak kerja sama kita dengan Buana Asparaga juga berakhir. Mereka punya kekuasaan untuk mengakhiri bisnis Papa... kamu mau, kita bangkrut?!"
"Berarti... saat ini, Papa sama Mama telah menjadikan saya jaminan dari kesepakatan dagang?" tukas Selina. "Akhlak macam apa yang kalian pertunjukkan padaku?!"
PLAKKKK....
Tamparan yang dilayangkan Candra, sukses membungkam mulut Selina yang kaget, tak menyangka jika ayahnya melakukan hal tersebut kepadanya. Sang ibu sendiri hanya terpekik kaget.
"Pa!!!" jerit wanita itu.
Candra mendengus marah sedangkan Selina menunduk mengelus pipinya yang terasa sakit kena tamparan. Candra membuang napas.
"Kalian anak-anak muda masih terlalu naif menjalani kehidupan." ujar Candra menegaskan. "Kalian berdua tidak memahami betapa kehidupan itu dijalankan dengan tiga hal fisik... Beras... kertas... keras!"
"Papa... bagaimana perasaan Papa menikahkan aku dengan lelaki yang sama sekali tak kucintai? Apakah Papa pikir, aku hanyalah robot? Program aplikasi yang gampang di setting ulang?" ujar Selina memelas. Gadis itu menangis lalu pergi meninggalkan Candra dan istrinya.
Lelaki parobaya itu hendak mengejar namun ditahan oleh istrinya. Terpaksa Candra memendam marah dan berdiam saja ditempatnya.
Selina membuka pintu kamar lalu menguncinya. Gadis itu membuang dirinya diranjang dan menangis sejadi-jadinya. Ia menyesalkan peristiwa itu. Peristiwa yang membuatnya kacau hingga saat ini.
"Ishaaaakk... aku benci! Aku benci kamu! Aku benci Kamu! Benci! Benci! Benciiii!!!!" jerit Selina dengan histeris dan melempar bantal ke lemari, setelah itu ia membenamkan dirinya kembali di ranjang dan menangis sejadi-jadinya.
Setelah puas membuang emosinya, entah kenapa gadis itu teringat pesan Azkiya.
Ishak memang lelaki bejat... dengan memperkosamu, ia menunjukkan kebejatannya. Tapi dia berani bertanggung jawab, itulah sebab ia melamarmu...
"Kak Azkiya... aku benar-benar nggak suka lelaki itu." sedu Selina ditengah tangisnya.
Sedang asyiknya melamun, gawai gadis itu tiba-tiba bergetar. Selina mengambil gawainya dan menatapi layar sentuh.
Sebuah emot folder (📁) muncul disertai nomor tak dikenal. Alis Selina berkerut dan menekan emoji itu. Seketika mengalunlah lagu yang dinyanyikan oleh Once, vokalis Dewa 19 yang berjudul Risalah hati.
🎵🎶🎵🎶....
__ADS_1
Alunan nada kembali mengalun. Ritmis dan melodis menyatu merangkai paripurna sebuah tembang. Selina terpaku lama seakan tersihir mendengar lagu itu. Bahkan tak sadar ia pun ikut menembangkan syair itu tepat dikala terdengar vokal seorang wanita mengucap lirik itu.
Dan perlahan senja pun mulai memendar.[]