KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
JUJUR SA SO BILANG KALAU....


__ADS_3

Kandar tertawa keras saat mendengar keterangan yang diucapkan Danang ketika mereka sedang main bareng PUBG didalam kamar pemuda itu.


"Kamu pemberani benar ya?" olok sekaligus sindir Kandar dengan perasaan sedikit jealous sebab berhasil mencuri ciuman dibibir Ichi. "Untung dua kali kamu. Dapat bibirnya tambah dipijatinya dengan lembut diruang kesehatan."


Danang hanya senyum-senyum saja. Iya kalau dia rela, nah aku sampai dipingsankannya... ah, orang macam apa kau Chi?


Kandar masih tetap pada permainannya, menyambung lagi, "Aku saja ditolaknya..." nada lelaki itu terkesan mengeluh. "Aku nggak tahu benar lelaki jenis apa yang disukainya."


Kandar kemudian menatap Danang. "Kau tahu tipe lelaki kesukaannya?"


Danang berdecak sedetik. "Ck... aku nggak tahu. Kalau saja kutahu, tentu aku tak dipingsankannya ditempat."


Kandar terkekeh lagi. "Berarti kita sama dong. Ditolak oleh perempuan yang sama."


Danang sejenak menatap Kandar. "Aku terbiasa dikejar cewek. Baru kali ini aku menemukan cewek yang sebegitu kuat jual mahal kepada setiap lelaki yang mendekatinya."


"Ichi seperti sekuntum mawar ditepi jurang..." tukas Kandar menggambarkan orang yang dipikirkannya dalam bentuk kalimat falsafah. Danang mengangguk-angguk kepalanya, setuju dengan filosofi yang diungkapkan sahabatnya tersebut.


Keduanya kembali tenggelam dalam permainan bersama itu.


...*******...


Seperti biasanya, sang gadis selalu melatih teknik-teknik yang diajarkan ayahnya ke gedebok pisang hidup yang diumpamakannya sebagai makiwara (samsak). Ayunan kaki yang menendang menghantam batang pisang itu dengan mantap.


Seperti arahan ayahnya. Ichi mulai menekuni aliran shorin dalam karate-do untuk menguasai setiap teknik tendangan. Ia mempelajarinya lewat internet, menjelajahi situs-situs karate aliran shorin yang dikatakan ayahnya, mirip dengan Taekwondo.


Memang aliran shorin agak cocok dengan gadis itu. Kakinya jenjang sehingga cocok memainkan teknik-teknik tendangan akrobatik maupun non akrobatik. Meskipun begitu, Ichi tetap mempelajari teknik-teknik tangan sebagaimana aliran karate-do pada umumnya.


Sang ayah pernah bilang kalau Karate-do merupakan pengembangan dari Okinawa-te yang dulunya disebut Tote atau Chinte. Karate-do merupakan pecahan dari chuanfa Shaolin aliran selatan yang masuk melalui Okinawa kemudian terbagi lagi atas dua aliran besar, yaitu Shorin dan Shorei. Aliran Shorei yang menekankan pada keseimbangan tubuh bagian bawah sebab dipengaruhi oleh kondisi geografis persawahan dan rawa-rawa. Adapun aliran Shorin sedikit mengadopsi teknik-teknik chuanfa Shaolin aliran utara yang berkembang di semenanjung Korea dan menjadi awal dari Taekwondo.


Okinawa-te sendiri sebenarnya terdiri atas dua aliran beladiri, yaitu Karate-do dan Kobudo yang menekankan pada penggunaan senjata seperti sabit, nunchaku, tonfa, tongkat dayung, toya, cangkul dan pedang, entah itu pedang jenis jian dari daratan Tiongkok ataupun katana yang merupakan senjata khas kaum Samurai.


Sang ayah sendiri, selain menekuni Karate-do sebagai dasar, beliau juga menekuni iaijutsu dan gulat. Postur tubuh ayahnya yang saat ini lebih nampak bagai pegulat sumo memang cocok juga mempelajari teknik-teknik gulat itu. Tapi sang ayah tidak gemuk, beliau hanya gempal, khususnya bagian perutnya. Selebihnya tubuhnya bersepir, mirip seekor beruang.


Penyakit autoimun membuatnya terpaksa pensiun dari kegemaran dan hobinya. Meskipun begitu, sang ayah tidak pernah lupa akan teknik-teknik yang dipelajarinya entah itu Karate-do, iaijutsu maupun gulat. Khusus untuk gulat, ia adalah penggemar Dwayne Jhonson yang terkenal di WWE sebagai The Rock. Sang ayah sering mempraktekkan teknik-teknik Bottom terhadap Ichi jika keduanya terlibat duel tanding dalam latihan.


Latihan yang digeluti Ichi dengan ayahnya lebih mirip MMA ketimbang seni murni. Menurut ayahnya hal itu penting sebab dalam perkelahian sesungguhnya, para petarung tak pernah menggunakan seni murni, melainkan seni asli dan falsafah yang benar dalam pertarungan sesungguhnya adalah peperangan didasarkan pada tipu muslihat. Jadi, menurut sang ayah, segala teknik entah dari gaya beladiri manapun diperbolehkan selama hal itu bisa digunakan untuk menaklukkan lawan.


Latihan itu berjalan selama dua jam penuh termasuk didalamnya istirahat sejenak setelah melakukan teknik-teknik tersebut dengan sungguh-sungguh. Ichi menyeka peluh yang membanjiri wajahnya dengan handuk kecil. Gadis itu membuka obi dan melingkarkannya dileher. Dibukanya tali pengikat uwagi hitamnya itu. Pakaian itu membuka menampilkan tanktop hitam yang telah basah dan bagian perut yang langsing mengkilap oleh keringatnya.


Ichi menatap celana zubon yang telah tercemari becek tanah dibagian sisi ujungnya. Gadis itu menghembuskan napas panjang. Pengalas kakinya juga sudah berubah warna menjadi kecoklatan bercampur dengan tanah yang basah. Gadis itu memanjati bukit kecil belakang rumahnya yang mengarah ke dapur.


Ia tiba dipintu belakang dan membukanya. Ibunya yang sedang memasak pisang goroho sejenak menatapnya lalu kembali sibuk dengan kegiatannya. Ichi mendekatinya dan menghirup bau harum yang keluar dari olahan makanan itu.


"Uhm... harum... kayaknya enak nih." komentar Ichi memandang beberapa potong pisang goroho matang yang tergeletak dalam loyang besar.

__ADS_1


Ichi tergiur dengan warna dan aroma harum pisang goroho itu seketika menjulurkan tangannya hendak mencomot satu buah pisang yang sudah matang, tergeletak dalam loyang. Azizah serta merta menepis tangan putrinya.


"Woooh... mandi dulu, kek." tegur Azizah dengan mensiniskan tatapannya, "Kamu itu masih bau abuhu. Ayo mandi sana."


Ichi merenggut sejenak menarik tangannya yang sempat ditepis oleh ibunya. Gadis itu melangkah menuju salah satu dinding mengambil piyama handuk. Ichi masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintunya.


Satu persatu pakaian dilepaskannya hingga gadis itu benar-benar polos tanpa sehelai benang. te-gi hitam itu digantungkannya pada pengait dan mulailah ia mengguyuri tubuhnya dengan air.


Azizah sendiri tersenyum melihat betapa sang anak begitu patuh pada perintahnya. Biasanya tak begitu.


Ichi, sama seperti ayahnya, begitu bandel dan keras kepala. Bahasa jawanya, angelan. Keduanya bagai cermin, beda kelamin. Wajah keduanya pun mirip, hanya saja sang ayah dagunya lebih lebar dan kotak.


Tingkah keduanya seringkali kocak, menggemaskan dan kadang juga menjengkelkan. Namun bagi Azizah, semuanya terasa bagai bumbu yang mewarnai kehidupannya. Usia puber harus benar-benar diwaspadai karena Ichi mudah terhanyut oleh keadaan. Jika dia alim, sangat kelihatan alim. jika ia sesat, sangat nampak kesesatannya. Ayah-Anak itu benar-benar menghayati setiap peran mereka sebagai orang alim maupun orang sesat.


Namun Ichi masih muda. Masih harus banyak belajar. Sang suami menekankan pada Azizah agar jangan terlalu ketat dan mengikat Ichi, sebab akan membuat jiwa monsternya yang tidur akan terbangun ketika merasai celah yang bisa dimanfaatkan dari ketatnya aturan yang dikredo oleh ibunya.


Namun satu hal yang sangat disyukuri bahwa kedua orang yang penting dalam kehidupan rumah tangganya itu tidak sampai melenceng begitu jauh.


Ichi keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan piyama handuk yang melekat ditubuhnya. Te-gi miliknya di masukkan kedalam keranjang untuk dapat dicuci nanti. Gadis itu melewati dapur membiarkan sang ibu yang sibuk menggoreng semua pisang goroho yang telah dikupasnya.


Gadis itu menyeberangi ruang makan, ruang tengah hingga ke ruang depan lalu masuk ke kamarnya yang juga merangkap sebagai kamar milik neneknya. Usianya yang sudah menjelang dewasa menuntut Azizah untuk menidurkan sang putri bersama neneknya.


Sering juga terjadi pertengkaran antara dua orang itu hanya karena mempeributkan teritorial mereka yang saling berbatasan begitu ketatnya. Namun Ichi, sebenarnya tak mempermasalahkan hal tersebut. kejombloan merampas kebebasannya untuk menggunakan kamar itu sendirian.


Ichi mengunci pintu kamar itu dan mulai bersalin pakaian. Ia melepaskan piyama handuk dan mulai mengepas satu persatu pakaian ke tubuhnya. Gadis itu bersolek tipis namun tak mengenakan maskara dan lipstik. Sebentar lagi waktu maghrib tiba. Ia harus kembali untuk mengambil air wudhu. Jadi bersolek sebelum maghrib merupakan hal yang sia-sia.


Gadis itu menyalakan televisi dan menyetel channelnya. Ichi menonton beberapa tayangan yang dibeberkan dalam satu paket acara edutainment di salah satu stasiun televisi. Tak lama kemudian Azizah muncul membawa loyang plastik berisi pisang goroho dan semangkuk sambal terasi.


Wanita itu meletakkan penganan itu dimeja lalu duduk dekat putrinya.


"Hm... itu, makanlah..." perintahnya kepada Ichi.


Ichi memajukan tubuhnya membungkuk dan melongokkan wajah sejenak ke loyang tersebut kemudian tangannya terjulur mengambil sebuah pisang, mencelupnya ke dalam sambal dan mencicipinya.


"Bagaimana?" pancing Azizah meminta respon putrinya.


"Alangkah enaknya kalau Abi ada disini." ungkap Ichi membuat Azizah tertegun.


"Ya... seandainya Abi sudah bisa mengurus segala surat-surat kepindahannya kemari. Kita tak akan terpisahkan lagi." ujar Azizah dengan pelan sambil ikut mencomot sebuah potongan pisang kemudian mencelupkannya kedalam sambal terasi dan menggigitnya. Terdengar suara makanan yang dikunyah dengan nikmat.


Ichi masih memusatkan perhatiannya pada tayangan saat Azizah kembali menanyainya tentang pertanyaannya tadi siang.


"Ah... malas ngebahasnya." jawab Ichi ogah-ogahan.


"Tapi Umi kuatir. Sampai sekarang perasaan itu belum hilang. Sekarang coba kau jujurlah. Mengapa kau bertanya hal semacam itu?" tuntut Azizah.

__ADS_1


Ichi mencomot lagi sepotong pisang, mencelupkannya beberapa kali kedalam sambal lalu memakannya lagi.


"Banyak dari teman-teman yang cerita bagaimana perasaan mereka saat dicium pacarnya, dan..." ujar Ichi berkilah.


"Dan kau juga ingin merasakannya?" sela Azizah.


Ichi tersenyum miring, "Boro-boro mau rasain, mau nerima ucapan suka dari cowok, Umi melarangku." tukasnya.


"Ya. Karena kamu belum cukup dewasa untuk memanggul beban itu, Ichi." tandas Azizah. "Kamu tahu? Cinta itu memiliki sisi kelam yang jika kau tak mampu meredam gejolaknya, kau akan terhanyut begitu dalam dan sangat sulit untuk bisa keluar darinya."


"Sisi kelam cinta?" gumam Ichi dengan alis mengerut.


"Cinta itu ada berbagai jenis, Ichi." ujar Azizah. "Umi hanya membahas menurut pendapat Robert Jeffry Stenberg saja." Wanita itu diam sejenak mengumpulkan napasnya lalu kembali berujar, "Pada umumnya, cinta terdiri atas tiga komponen utama, yaitu kedekatan, hasrat dan komitmen. Ketiga komponen ini akan mendominasi kadang berlebih dan kadang saling menguasai."


"Terus?" pancing Ichi.


"Liking, adalah perasaan cinta berdasarkan kedekatan yang menimbulkan rasa suka. Namun perasaan ini tidak terlalu mendalam antara dua insan. Kedua adalah Infatuated love, yaitu perasaan cinta yang muncul dikarenakan adanya hasrat bersifat fisik. Ketiga adalah empty love, yaitu perasaan cinta yang muncul dikarenakan sebuah komitmen tanpa hasrat maupun kedekatan. Kasus ini biasanya terjadi karena perjodohan. Kemudian yang keempat adalah romantic love, yaitu perasaan cinta yang didasari hasrat dan kedekatan. Sehingga dalam kasus ini, kedua insan memiliki hubungan emosional yang kuat meski belum adanya komitmen yang terbentuk diantara mereka berdua." ujar Azizah menjeda penuturannya dan kembali mencomot sepotong pisang goroho, mencelupkannya ke sambal dan memakannya kemudian melanjutkan lagi penuturannya.


"Kelima adalah companionate love, yang terbentuk dari tiga unsur tadi, namun dari ketiganya, unsur hasrat sudah tak lagi menjadi hal yang utama." ujar Azizah kemudian tersenyum, "Kau menemukan kasus itu pada hubungan antara Umi dan Abi."


Ichi mengangguk-angguk lalu meminta ibunya meneruskan penuturannya lagi.


"Keenam adalah fatuous love, yang muncul didasari oleh komitmen dan ketertarikan fisik antar pasangan namun tidak didasari kedekatan emosional. Dan yang ketujuh adalah yang paling ideal yaitu Consummate love dimana ketiga unsur itu berpadu dan kedua pasangan benar-benar menjalani kehidupan percintaan mereka dengan sempurna didunia ini." ujar Azizah mengakhiri penuturannya.


Ichi mengangkat alisnya lalu mengangguk-angguk lagi, mencomot sepotong pisang dan mencelupkannya pada sambal kemudian memakannya lagi.


Azizah memajukan tubuhnya, mengintimidasi putrinya dengan pertanyaan, "Sekarang katakan padaku, Bolonji.... apakah kau mulai merasakan salah satu diantara tujuh jenis perasaan cinta itu?"


Ichi mendecap-decapkan lidah menikmati rasa terbakar zat capcaisin yang melumer dipermukaan lidahnya bercampur dengan rasa udang rebon yang menjadi bahan terasi tersebut. Gadis itu kemudian menjawab.


"Kalau aku kayaknya mulai merasai hal semacam liking itu sih.... tapi..." gumam Ichi dengan bimbang.


"Tapi apa?" tuntut Azizah, "Umi sudah bilang padamu. Jangan berani mendekati suatu wilayah yang kau belum mengetahui dengan benar karakteristiknya. Apalagi wilayah yang disebut cinta. Wilayah itu penuh labirin, nak."


Ichi hanya diam. Tak ada gunanya membicarakan hal tentang itu dihadapan ibunya. Azizah sangat konservatif tentang cinta.


Untunglah suara adzan yang menggema di langit menyelamatkan Ichi dari tekanan harus menjawab pertanyaan yang menyulitkan itu. Gadis itu bangkit.


"Mau kemana kamu? Ini sudah mau maghrib." tegur Azizah.


"Ini juga mau ngewudhu untuk maghrib." jawab Ichi setengah menggerutu kemudian melangkah meninggalkan tempat itu.


Azizah hanya menatap punggung putrinya yang membungkuk, mengharapkan wajah dan bagian depannya pada selang air, mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat maghrib.


Mendesah wanita itu, kuatir memikirkan gaya hidup putrinya. Namun saat ini Azizah belum bisa melakukan apapun kecuali hanya bisa melakukan pengontrolan ketat pada penggunaan gawai putrinya agar Ichi tidak sampai terjerumus pada hal-hal yang tak diinginkan.

__ADS_1


Jaman sekarang, jaring-jaring dajjal konseptual sangat membanjiri dunia diabad mutakhir ini. []


__ADS_2