KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
LELAKI YANG TAK SURUT BIRAHI


__ADS_3

Ichi sejenak menarik napas panjang dan menoleh sejenak ke arah Faisal yang juga sementara menatap Rusli dengan tajam dari tempatnya. Riswan mendehem.


"Nona..." ujarnya memperingatkan.


Ichi menghembuskan napas dengan pelan dan mulai bersikap santai. Dengan langkah tenang, jilbaber itu melangkah menuju jalanan dimana Rusli memijakkan kakinya.


"Assalamualaikum, Ichi..." sapa Rusli dengan suara dilembutkan.


"Wah, tahu juga memberi salam ya?" sindir jilbaber itu. "Wa alaikum... salam..." sambungnya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Rusli lagi dengan tingkah yang dibuat sesantun mungkin.


"Wah, mendadak perasaanku menjadi tak enak melihat kemunculanmu." jawab Ichi membuat Riswan menahan tawanya.


Rusli sejenak melirik kepada asisten pribadinya. Riswan langsung memperbaiki sikapnya saat ditatapi oleh atasannya itu.


"Maaf, Bos." jawabnya dengan isyarat bibir.


Rusli kembali menatap Ichi. "Terlalu jujur..." komentarnya, "Tapi... aku suka."


Ichi terkekeh. "Suka apanya?" tantang Ichi.


"Aku menyukai gaya dan sikapmu itu." ujar Rusli.


"Kok aku nggak suka kamu ya?" tukas Ichi dengan nada olokan.


Rusli tertawa. "Apakah gara-gara kuremas payudaramu sewaktu itu?"


Riswan terperangah mendengar penuturan atasannya tersebut. Wah... Si Bos... kayak nggak ada perempuan lain saja...


"Salah satunya itu." jawab Ichi.


"Maafkan aku... sebab, aku terlanjur suka kepadamu." jawab Rusli juga tanpa ragu.


Ichi tertawa sejenak melengos ke arah lain lalu kembali menatap Rusli. "Pak... kalau bicara, lihat umur dong."


Riswan kembali menahan tawa mendengar olokan Ichi. Rusli kembali menatap asisten pribadinya dan Riswan kembali diam memperbaiki sikapnya.


"Mengapa?" tanya Rusli.


Ini adalah perang urat syaraf. Aku akan melihat sejauh mana kamu bisa unggul terhadapku.


"Ya, tahu dirilah dengan umur Pak." olok Ichi sambil senyum. "Anda itu, kelihatannya seusia ayah saya... kok malah bilang suka ke anak-anak. Nggak ada perempuan lain? Asna dikemanakan?"


Rusli terkekeh. "Asna sudah nggak berharga bagiku."


"Karena kau sudah berapa kali mengisap madunya." tukas Ichi. "Asna sudah tidak menggairahkan lagi... bunganya telah layu dilembah madu..."


Rusli tertawa pelan. "Bagiku... kamu sekarang yang menjadi tujuanku."


"Aku nggak suka sama anda." ujar Ichi. "Anda nyaris memperkosa saya di jalanan sepi."

__ADS_1


Riswan kembali terperangah dan menatap Rusli. Lelaki itu tetap santai dan tersenyum.


"Karena aku menyukaimu." jawab Rusli.


"Rasa suka yang dilandasi birahi... itu bukan menandakan sifat seorang lelaki sejati." tukas Ichi.


"Wah... hebat." puji Rusli. "Dari mana kau mendapatkan kata-kata itu?" tanya lelaki itu.


"Dari ayahku... memangnya dari ayahmu?" olok Ichi kembali bercakak pinggang.


Rusli tertawa sejenak. "Yang kau olok itu sebentar akan jadi mertuamu."


Ichi kembali tertawa. "Ih, kepedean..." oloknya. "Wah... anda ini mesti dirukyah nampaknya."


Riswan kembali menahan senyumnya, dan...


PLAKKK!!!!


Rusli seketika menampar tengkuknya membuat Riswan sejenak doyong ke samping akibat tenaga tamparan itu. Kini lelaki itu benar-benar menundukkan wajahnya, tak berani menatap lagi.


Ichi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Pak, kalau mau menegur bawahan, bukan begitu caranya... dia bukan anjing, Pak." tegur gadis itu.


"Kau sudah berani mengkhotbahiku?!" tukas Rusli dengan nada marah.


"Terserah Bapak menganggap ini khotbah atau bukan." elak Ichi, "Lagian ini juga bukan hari Jum'at."


"Kau..." ujar Rusli terpancing emosinya.


"Jadi kau mau mengetes kelelakianku?" ujarnya kemudian tersenyum.


"Wahhhh... pikiran mesum nih..." sindir Ichi. "Mendengar kata kelelakian, sontak kelihatan membenjol bagian itunya." gadis itu lalu terkekeh. "Anda nafsuan ya?!"


Rusli terpaksa harus mengakui jika jilbaber dihadapannya merupakan orang yang pandai bicara.


"Kalau bapak nafsuan, banyak kok betina-betina di Pohon Cinta. Cari saja... uang anda banyak, kan?" tambah Ichi lagi memprovokasi.


Rusli sejenak menggeram lalu mendehem memperbaiki suaranya dan akhirnya tersenyum.


"Kau pandai memojokkan aku." pujinya.


"Tentu dong... kalau soal begitu, aku ahlinya." balas Ichi sembari menepuk-nepuk pelan dadanya.


"Bolehkah aku mengajakmu makan malam?" tanya Rusli.


"Nggak boleh." jawab Ichi langsung.


"Kenapa nggak boleh?" tanya Rusli.


"Pertama, aku tinggal di asrama. Aku hanya diizinkan keluar jika mendapat ijin dari pengasuh asrama dan itu waktunya terbatas." jawab Ichi. "Yang kedua... aku nggak bakalan mau, anda mengundangku makan. Kalau soal makan, aku punya uang dan akan makan sesuka keinginanku."


"Kalau begitu, aku akan memaksa pengasuhmu mengijinkan aku membawamu semalam saja." ujar Rusli dengan senyum.

__ADS_1


"Anda melupakan hal kedua." ujar Ichi mengingatkan.


"Kau tak akan bisa membantah keinginanku. Aku tak perduli, kau menerima atau menolak." ujar Rusli. "Tunggulah sebentar. Aku yakin, kau akan jalan bersamaku malam nanti."


Ichi memicingkan matanya sejenak sedang Rusli lalu mengisyaratkan Riswan untuk mengikutinya. Keduanya meninggalkan tempat itu sedang Ichi kembali melangkah memasuki madrasah.


"Bagaimana?!" tanya Faisal saat gadis itu duduk lagi di gazebo.


"Dia mengajak makan malam." jawab Ichi.


Faisal mengencangkan rahangnya. Ichi menatap pemuda itu, lalu tersenyum.


"Kakak marah ya?" tanya Ichi.


"Kamu tak perlu mempertanyakannya." jawab Faisal dengan datar.


"Alhamdulillah..." jawab Ichi kemudian menatap halaman yang dipenuhi oleh siswa-siswa yang bermain sepak bola.


"Lho? Kok jawabnya begitu?" tukas Faisal dengan kesal.


"Aku bersyukur... berarti Kakak memang cinta kepadaku." jawab Ichi membuat wajah Faisal kembali menghangat.


"Memang kamu bersedia kalau dia datang mengajakmu makan malam?" tanya Faisal.


"I' eeee...." jawab Ichi dengan logat daerah*)


(I'eee... istilah itu merujuk pada bahasa Gorontalo logat Pohuwato yang artinya entahlah. Biasanya di ejaan eeee.... itu dilagukan melengking mengisyaratkan ketidaktahuan atas apa yang akan terjadi kelak.)


Faisal menatap lapangan yang masih dijubel oleh anak-anak pemain sepak bola amatiran itu. Ichi lalu menatap pemuda tersebut.


"Lelaki itu bilang, dia akan mengunjungi Ustadz Gau, meminta ijinnya agar bisa membawaku pergi malam ini. Kakak bersiap-siaplah." ujar Ichi kembali memandang halaman tersebut.


"Bersiap untuk apa?" tanya Faisal dengan malas seban dirasuk rasa cemburu.


Ichi menatap pemuda itu dengan tatapan aneh lalu melengos. "Kalau Kakak memang mau memelihara jodoh orang lain, ya nggak apa-apa."


Faisal langsung menatap gadis itu. "Aku tak akan membiarkan dia memilikimu!"


"Good... itu yang mau kudengar dari Kakak." seru Ichi sembari bertepuk tangan. Gadis itu kemudian mencondongkan wajahnya kepada Faisal. "Jadi? Mau mengawalku, nggak?" tanya jilbaber itu dengan lirih sambil tersenyum.


Faisal hanya mendengus.


Ichi melanjutkan. "Lelaki buaya itu nggak akan berhenti sampai niatnya terpenuhi. Jadi Kakak juga harus selalu waskita. Kecuali kalau Kakak memang..."


"Ya, aku akan mengawalmu! Terserah Ustadz Gau mau setuju atau nggak!" sela Faisal dengan kesal.


"Naah... gitu dong." puji Ichi. "Makasih ya..."


Gadis itu beranjak dari Gazebo dan melangkah santai menuju kelasnya. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi bel pertanda masuk untuk memulai kembali kegiatan pembelajaran.


Faisal mengekori punggung Ichi yang masuk kedalam kelas lalu menggerutu panjang-pendek sembari beranjak dari gazebo dan melangkah menuju kawasan sekolahnya. []

__ADS_1


__ADS_2