
"Ulangi sekali lagi kata-katamu itu!" tekan Rusli dengan wajah membesi.
Ichi mengulangi dengan gaya mengejek, "Dasar Hipokrit! Kamu itu ternyata penjahat cinta bertopeng dewa... apa kau pikir kebusukanmu tak akan kusampaikan kepada Asna? Ingat Rusli. Saat kau menggauli seorang wanita, ingatlah ibumu!"
"Perlu disumpal juga mulutmu ya?!" seru Rusli maju hendak menampar Ichi. Tiba-tiba Faisal maju memperisai tepat disaat telapak tangan lelaki itu terayun.
PLAKKK.... ADUHHH...
Faisal terbanting terkena tamparan itu. Rusli rupanya telah dirasuk amarah saat melakukan hal itu. Ichi kaget sejenak dan amarahnya kembali tersulut melihat pemuda itu terbaring ditanah mengaduh kesakitan.
Ditatapnya Rusli, "Kamu sudah gila ya? Pagi-pagi sudah buat keributan?!" sergah Ichi.
Rusli mengencangkan rahangnya. Pertengkaran mereka telah mengundang perhatian beberapa murid dan beberapa penduduk. Rusli sejenak mengamati keadaan. Ini tak menguntungkan baginya. Lebih baik mundur sejenak daripada memaksakan diri dan menjumpai suasana yang tak akan pernah memihaknya.
"Azka... kau telah menabuh genderang perang padaku..." ujar Rusli dengan datar.
"Genderang, genderang, memangnya kau mau menari saronde, pake genderang segala?" ejek Ichi sembari membantu Faisal berdiri.
Rusli mendengus keras lalu melangkah menuju kendaraannya. Setelah menyalakan mesinnya, lelaki itu sejenak memicingkan mata menatap Ichi dan Faisal bergantian lalu akhirnya memegang setang membelokkan kendaraannya berbalik meninggalkan jalan SIS al-Jufri itu.
Ichi mendesah lega lalu menatap Faisal, "Kakak nggak apa-apa?"
Faisal tersenyum, "Hari ini aku banyak menerima perhatian orang." ujarnya lalu tersenyum kembali. "Semoga ke depannya akan lebih banyak yang memperhatikanku."
Ichi menaikkan alisnya sebelah mendengar nada ungkapan sarkastis tersebut.
"Aku nggak jadi keluar deh." tukas Ichi.
Faisal menatapnya. "Kenapa? Kamu belum sarapan kan?"
"Sudah nggak minat." tandas Ichi. "Kalau Kakak mau sarapan ya, sarapan saja. Aku mau balik ke kelas."
Ichi berbalik melangkah meninggalkan Faisal yang masih termangu-mangu ditempatnya
"Hari ini kok aku ketiban masalah terus ya?" gerutu Ichi dengan kesal sedang langkahnya telah terayun menyeberangi lapangan sekolah menuju kelasnya.
...*******...
Azizah hanya bisa duduk dengan gugup yang berupaya disembunyikannya dalam sikap tenang yang palsu. Ibu Vintje, mantan gurunya yang juga saat ini menjabat sebagai kepala madrasah tsanawiyah dilembaga pendidikan Alkhairaat kota Marisa itu hanya bisa menatap penuh empati ketika membeberkan beberapa tindakan yang dilakukan Ichi pada hari itu.
Sementara Ichi yang berada disisinya juga diam menunduk, menekur memainkan pikiran, bagaimana bisa berkilah jika suatu saat nanti diinterogasi oleh sang ibu.
"Jadi begitu masalah, Ibu Azizah." ujar Ibu Vintje menyudahi pemaparannya.
"Saya sebagai ibunya hanya bisa memohon maaf sebesar-besarnya kepada Ibu dan Kepala Pondok Pesantren. Kedepan, saya akan lebih membimbing diri putri saya agar lebih bersikap baik ke depan." jawab Azizah dengan pelan.
"Syukurnya, Faisal Husain memberikan keterangan yang mampu melepaskan anakda Azkadiratna dari jeratan aturan baku dalam lembaga ini. Kedua anak yang melakukan perundungan kepada Faisal sekarang sementara diproses oleh badan keamanan kampus." sahut Ibu Vintje kemudian menatap Ichi.
"Untuk sementara, anakda Azkadiratna Ardhanareswari saya skor selama seminggu terhitung dari hari diberlakukan pertemuan kita ini. Saya harap ibu bisa menerima keputusan saya ini dengan kepala dingin." ujar Ibu Vintje.
Azizah tersenyum lalu bangkit dan menyalami mantan gurunya itu kemudian pamit keluar dan melangkah tanpa berkata sedikitpun. Ichi bangkit mengikuti ibunya dari belakang. Ia gugup sebab sudah memprediksi apa yang akan diterimanya sesampainya dirumah.
Azizah menaiki bentor meninggalkan Ichi yang mengendarai sepedanya, merubahnya ke mode sepeda motor listrik agar segera tiba dirumah. Mode itu hanya ia pakai jika dalam posisi yang darurat seperti mengejar waktu yang tertinggal misalnya.
Namun kali ini bukan hal tersebut, melainkan bersiap menghadapi penghakiman ibunya sebab kasus pemukulan terhadap dua anak senior pesantren telah dilaporkan pihak pondok kepada kepala madrasahnya.
__ADS_1
Bentor tiba didepan rumah. Azizah keluar dan membayar ongkos lalu melangkah masuk tanpa bicara sedikitpun. Tak berapa lama, Ichi dengan kendaraannya tiba. Gadis itu memarkir sepedanya disisi samping dekat pintu bagian samping rumah lalu masuk kedalam.
Gadis itu melangkah ke kamar ibunya dan masuk kedalamnya. Namun sang ibu tak berada disana. Ichi keluar lagi mencari ibunya. Sang ibu ternyata berada didapur sedang melanjutkan lagi pekerjaannya yang tertunda.
Ichi berdiri dibelakang Azizah yang menyibukkan dirinya dengan pekerjaan rumah tangga itu.
"Umi..." panggil Ichi dengan pelan.
Azizah tak menyahut. Wanita itu memang melakukan hal demikian untuk mengalihkan emosinya. Ichi kembali hendak memanggil ketika Azizah langsung mendahului, "Umi belum mau meladenimu. Pergilah ke kamarmu dan beristirahatlah sejenak. Jangan memancing Umi disini supaya wajahmu tidak akan terkena kuah masakan ini." ujar Azizah dengan nada ancaman yang halus.
Ichi paham perkataan ibunya dan memilih mengikuti perintah sang ibu. Azizah jika marah sangat mirip dengan perangai singa betina. Yang menahan tangannya agar tidak gatal langsung menghajar sang putri, hanyalah permintaan suaminya yang meminta Azizah untuk tidak sembarangan mengumbar kemarahannya.
Sementara Ichi yang telah berada dikamar, bersalin pakaian dan hendak tidur. Getaran gawai membuatnya menangguhkan keinginannya untuk merebahkan diri tersebut. Ichi mengambil gawai itu dan melihat layarnya.
Abi... apakah dia sudah tahu?
Perasaan gugup kembali melanda gadis itu. Sang ayah memang periang dan pecinta damai, namun jangan dipancing kemarahannya. Lelaki itu akan sangat nampak seperti Bhairawa yang akan siap merampas nyawa siapapun. Ujud artifisial sang malaikat dzabaniyah melekat kepada pembawaan sang ayah jika dalam mode marah. Sangat mengerikan.
Ichi mengaktifkan penjawab panggilan.
📲 "Assalamualaikum, Abi." sapa Ichi.
📲 "Wa alaikum salam, Nunu. Umi ada?" tanya sang ayah.
📲 "Ada... sebentar saya bawakan ke Umi." jawab Ichi kemudian bangkit lagi dan melangkah sambil membawa gawai itu tanpa memutuskan panggilan.
Gadis itu tiba di dapur. Azizah sedang sibuk memasak kuah santan terong.
"Umi, ada Abi mau bicara." ujar Ichi menyodorkan gawainya.
Azizah sejenak menoleh dan menghentikan kegiatan memasaknya lalu meraih gawai tersebut dan mengisyaratkan Ichi agar kembali ke kamarnya. Gadis itu berbalik dan melangkah meninggalkan dapur. Azizah mengekori punggung Ichi yang menjauh lalu mendekatkan speaker gawai itu ke telinganya.
📲 "Halo, Sayang cantikku." balas sang suami dengan nada genit. Azizah tersenyum sejenak.
📲 "Tumben menelpon siang." tukas Azizah dengan manja, "Ada apa gerangan? nggak biasanya."
Terdengar suara tawa pelan disana.
📲 "Cuma mau bilang kalau Abi akan ke Marisa lagi." ujar sang suami dengan nada suara hangat.
📲 "Nggak takut ditegur sama kepala madrasah nih? Tiap minggu kerjanya pulang melulu." olok Azizah.
Terdengar lagi tawa diseberang.
📲 "Ini lagi dimana? Disekolah ya?" tebak Azizah.
📲 "Nggak, seperti biasanya... aku di kost, istirahat sejenak." ujar sang suami. "Baiklah. Ada yang ingin disampaikan?"
📲 "Ibu Vintje nggak memberitahu Abi?" tanya Azizah.
lama agak hening hingga sang suami menanyakannya. Azizah menghela napas sejenak lalu mengujar.
📲 "Ichi di skor selama seminggu karena memukuli kakak kelasnya." ujar Azizah.
📲 "Wah, hebat dong." celetuk sang suami kemudian tertawa.
__ADS_1
📲 "Abi gimana sih? Bangga ya anaknya jadi preman?!" sergah Azizah dengan kesal namun ternyata tawa sang suami makin lantang diseberang.
📲 "Bukan begitu." tangkis sang suami. "Itu hal yang baru buatku. Seingatku selama aku masih sekolah, nggak pernah cari masalah dengan kakak-kakak kelasku."
📲 "Ah, yang benar saja." ujar Azizah tak percaya, "Jangan-jangan ini gaya kelakuan Abi waktu masih gabung dengan Pengsen'k nih... ya kan?!" tuduhnya.
📲 "Abi yang paling alim kalau soal berantaman kok." tangkis sang suami. "Teman Abi yang satunya saja yang berangasan dan agak temperamental. Zodiaknya sama dengan Umi, tuh."
📲 "Lalu bagaimana nih? Masa Ichi nggak sekolah seminggu?" tukas Azizah.
📲 "Sudah. Nanti aku yang urus. Besok aku balik ke Marisa." ujar sang suami dengan mantap.
📲 "Ya sudah deh. Umi tunggu ya?" tuntut Azizah.
📲 "Oke... Assalamualaikum..." sapa sang suami.
Azizah membalas salam suaminya dan mengakhiri pembicaraan selular tersebut. Wanita itu membereskan wajan dan mematikan kompor gas lalu melangkah keluar menuju sisi ******. Disana ada sebuah loyang plastik berisi tumpukan kain yang sudah direndam memakai sabun cair.
Wanita itu mendesah lemah melihat tumpukan pakaian milik ibunya. Kedua jemari tangannya masih sakit untuk mengucek dan meremas kain-kain rendaman itu. Efek vaksinasi kedua masih terasa dilengannya.
Tak lama salah satu adiknya, Syamsu muncul dengan muka awut-awutan, seharian tidur akibat main game online semalaman. Lelaki itu hendak buang air kecil saat Azizah memanggilnya.
"Syam, tolong remasin pakaian Mama dong." pinta Azizah.
"Kenapa nggak kamu saja?" balas Syamsu dengan cuek.
Emosi wanita kembali tersulut mendengar ucapan adiknya tersebut.
"Eh, kamu itu dimintakan tolong kok begitu?" tegur Azizah dengan wajah kaku. "Aku nggak minta kamu mengucek pakaianku. Ini pakaian Mama lho. Kok segitu jawabanmu?"
"Lalu kenapa? Cuma segitu saja kok minta tolong ke aku?" balas Syamsu lagi mulai sengit.
"Eh, Syam! Kalau jadi lelaki itu berdaya sedikit dong." tukas Azizah dengan emosi. "Kalau kamu pulang kerja, aku nggak bakal nyuruh kamu. Aku tahu diri! Tapi ini kamu sudah nggak kerja, main game online sehari-semalam, disuruh mencuci bajunya mama kok nggak mau?!"
"Aku sibuk!" ujar Syamsu dengan singkat langsung masuk ke dalam ******.
Azizah yang emosi langsung mengumpat-ngumpat penuh marah. Pertengkaran itu mengundang Jumria muncul.
"Sudah, jangan kau tegur mereka. Jangan kau suruh mereka. Biarkan saja." pinta Jumria.
"Lho, Ma? Kok begitu sih? Kalau dibiarkan begitu mereka justru malah nambah malasnya, Ma!" jawab Azizah dengan suara mulai meninggi. "Mama kok kayak memanjakan anak laki-laki sih?!"
"Lalu kau memaksa mereka untuk bekerja? Justru malah akan makin menambah kebencian mereka kepadamu." sahut Jumria tak mau kalah.
"Ma, aku begini juga untuk kebaikan mereka.? Mereka itu laki-laki, Ma. Bukan Perempuan! Kalau seharian di rumah nggak ngapa-ngapain, buat apa jadi laki-laki?" tukas Qzizah makin sengit.
"Pokoknya Mama nggak mau mereka ditegur-tegur." tandas Jumria.
"Oke, jika itu mau Mama." ujar Azizah yang sudah memuncak emosinya. "Mereka nggak boleh lagi tinggal disini!"
"Lho? Kenapa mereka tak diperbolehkan tinggal disini? Ini kan rumah Mama?" tukas Jumria juga sudah sengit.
"Ma, rumah ini berdiri sebagian diatas tanah yang dibeli suamiku. Aku nggak akan nuntut tanah milik Mama. Aku punya milik suamiku. Cuma patut Mama tahu. Aku perempuan satu-satunya dikeluarga ini. Semua harta yang berhubungan dengan rumah, itu dibawah pengurusan aku, dan itulah yang dicamkan Papa saat menasihati Kak Ucan paska perkelahiannya dengan suamiku! Kalau Mama mau mengklaim tanah milik Mama, silahkan! Aku juga mengklaim tanah milik suamiku!" sergah Azizah dengan berang.
"Kau ini mentang-mentang sudah bersuami, sudah nampak arogan." tukas Jumria.
__ADS_1
"Ma, aku bukan arogan." tangkis Azizah berapi-api. "Tapi aku berupaya menempatkan mereka pada tempat mereka semestinya! Mereka itu laki-laki! Lagipula jika Mama hanya tahu mengungkit nostalgia jaman dulu dimana rumah kita masih gubuk dan belum punya apa-apa, sekarang Mama semestinya bersyukur bahwa sekarang hidup kita berkecukupan. Mantu Mama itu sekarang kerja di Gorontalo Utara untuk memenuhi kebutuhan kita. Dia sudah memenuhi kewajibannya. Sekarang saya tanya, mana kewajiban yang ditunjukkan anak-anak laki-laki Mama? Mana? Berumah tangga saja mereka nggak becus! Dua anak Mama itu sekarang sudah duda. Syukurnya Kakak sudah mulai menyadari tanggung jawabnya sebagai putra tertua. Itupun Kakak kalau nggak becus kerja disawah, pasti diusir Papa. ini Syamsu enak-enakan tinggal dalam rumah mirip lelaki pingitan, kerjanya ngegame seharian-semalam kayak nggak ingat hari esok saja. Apa Mama mau menanggung dosa diakhirat karena tak mampu mendidik anak?!"
Jumria terdiam dan tak berkata lagi. Nenek itu hanya bisa membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan Azizah sendirian didapur. Dengan jengkel, Azizah melempar spatula dalam genggamannya ke sudut tembok lalu melangkah meninggalkan dapur dan memilih mengistirahatkan otaknya yang sudah mumet ke bilik tidurnya. Hari itu, entah kenapa kejadian jelek menimpa keluarganya. []