
Ishak benar-benar tak menyangka jika seorang sepertinya harus menghadapi kepungan lima perempuan yang seakan tak memberinya celah untuk sekedar menyusup lalu melarikan diri. Ia tak terbiasa menghadapi wanita yang sesungguhnya.
"Ada apa ini ya?" tanya Ishak dengan gugup dan wajahnya mengeluarkan keringat dingin.
Siska mencondongkan wajah hingga dekat dengan Ishak lalu memicingkan mata membuat pemuda itu semakin kikuk.
"Kak Siska..." tegur Ishak.
"Ada hubungan apa kamu dengan Selina?" selidik Siska.
Ishak menghembuskan napas lalu tersenyum canggung. "Nggak ada. Kami bersahabat." kilah pemuda itu. "Ada yang salah?"
"Tentu saja, Ishak." ujar Listri. "Sangat mencurigakan."
"Sikap Selina terhadapmu, itu bukan seperti sikap seorang sahabat kepada sahabatnya... tapi lebih kearah sikap seorang wanita kepada kekasihnya..." tukas Intan.
Ishak menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tapi swear... kami nggak ada hubungan apa-apa. Keakraban itu lebih nampak seperti kakak beradik, bukan?" ujarnya kembali membela diri.
"Huh... kentara sekali bohongnya." tukas Siska.
Ishak nyaris tak bisa lagi menghindar. Untung saja, Faisal muncul dan menegur perempuan-perempuan itu.
"Apa-apaan ini? Kok teman saya dikepung begini?" seru Faisal dengan suara galak. Kelima wanita itu kaget dan langsung mundur.
"Teman saya ini punya masalah apa sama kakak-kakak berlima?" selidik Faisal mengerutkan alisnya, namun tak menuntut jawaban. Sebaliknya ia menatap Ishak. "Kamu mau bolos ya? Dicari Pak Najamudin tuh! Aku disuruh nyari kamu." sergah Faisal dengan kesal.
"Ayo ke kelas!" seru pemuda itu.
Ishak benar-benar tertolong dengan sandiwara yang digelar oleh Faisal dengan begitu meyakinkan. Pemuda itu menyusul Faisal yang melangkah lebih dulu meninggalkan kawanan perempuan yang kesal sebab investigasi mereka terganggu.
"Makasih, Fais." ucap Ishak dengan tulus.
Faisal menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Ishak. "Kamu ada masalah apa sih dengan mereka? Kayaknya mereka penasaran benar dengan kamu."
"Nanti aku ceritakan di tempat lain." ujar Ishak.
"Hari ini juga." ujar Faisal menuntut.
Ishak mengangguk. "Hari ini juga, nanti malam."
...*****...
Selina duduk memeluk bantal. Ia masih muntab dengan keputusan kedua orang tuanya yang mengabulkan permohonan khitbah tersebut meskipun permintaan tangguh seminggu dari Selina kepada Azkiya menjadi pertimbangan lain. Tapi gadis itu sudah yakin benar kalau mereka berdua akan lebih mempercayakan dirinya kepada Ishak ketimbang Aldi yang dikasihinya selama lima tahun percintaan mereka.
Terdengar ketukan di pintu. Kelihatannya salah satu dari mereka hendak bicara lagi dengan Selina. Gadis itu memutuskan untuk bungkam.
"Seli... waktunya makan, nak. Keluarlah." pinta ibunya.
Selina tetap bergeming di ranjangnya. Pintu membuka dan masuklah sang ibu. Ia kemudian melangkah dan duduk disisi ranjang.
"Sampai kapan kamu mau begini terus Selina?" tanya ibunya dengan nada sedikit mengeluh.
Selina mengerling ke arah ibunya, lalu kembali menatap ke depan. Sang ibu mendesah lalu menunduk. "Ibu pribadi tak memikirkan apapun, kecuali kebahagiaanmu. Kamu anak kami semata wayang. Itulah kenapa papamu sebegitunya terhadapmu."
"Tapi bukan dengan menjualku kepada orang-orang itu, Mama." tukas Selina dengan datar.
Ibunya mengangkat wajah menatap putrinya. "Kau pikir kami menjualmu? Tega benar tuduhanmu kepada kami, nak."
"Ma, lalu apa istilahnya yang sebanding dengan itu? Apakah karena Ishak itu dilindungi oleh orang-orang itu, dan Papa juga merupakan relasi kerja mereka... lalu kalian tidak memikirkan perasaanku?" tukas Selina. "Cobalah posisikan diri Mama dalam posisiku!"
Wanita parobaya itu menarik napas lalu mengangguk. "Ya... Mama paham perasaanmu... Mama juga mengalaminya."
Selina mengerutkan alisnya. "Mengalami bagaimana?"
"Apakah kau pikir, kehadiranmu adalah buah daripada cinta kasih?" pancing wanita itu.
Selina terkejut. "Maksud Mama? Kalian berdua dijodohkan?"
Wanita itu mengangguk dengan senyum yang layu. Selina mendesah pula sambil melengos. Matanya mulai basah. Wanita itu mengulurkan jemarinya menyapu pundak Selina dengan lembut.
"Selina... kamu boleh saja bersikeras untuk mempertahankan Aldi. Tapi, Ishak... adik kelasmu itulah yang duluan datang meminangmu." ujar wanita itu berupaya memberikan pemahaman kepada putrinya. "Mama tahu, kau meminta penangguhan selama seminggu lewat Nyonya Azkiya, hanya untuk berharap agar Aldi cepat-cepat meminangmu dimasa penangguhan itu. Tapi tahukah kamu bahwa hal itu melanggar adab etika dan syariat agama kita? Bukankah kau seorang santri yang telah diberikan pemahaman untuk itu bukan?"
Selina terdiam mendengar ucapan itu. Tak ada yang salah. Hanya hatinya saja yang tak menerima. Ibunya mendesah.
"Ayahmu mengabulkan pinangan orang-orang Buana Asparaga, bukan hanya untuk kepentingan bisnisnya. Tapi juga untuk kepentingan kamu ke depannya. Yakinlah atas keputusan ayahmu, Selina. Jika kau ragu, apapun kebaikan yang ditampakkan oleh kami tetap akan terlihat jelek dimatamu." ujar wanita itu kemudian bangkit dan melangkah meninggalkan Selina sendirian.
Selina mendengus kesal lalu menatap gawainya. Ia meraihnya dan mencari nomor dari Aldi lalu menghubunginya. Tak lama kemudian terdengarlah suara.
📲 "Hai, Selina." sapa Aldi duluan.
📲 "Hai Kak. Ada waktu, nggak?" tanya Selina.
__ADS_1
📲 "Kenapa Selina?" tanya Aldi mengerutkan alisnya.
📲 "Kakak bisa menjemputku? Aku bosan dirumah." ujar Selina dengan merajuk.
Terdengar sejenak ******* napas panjang.
📲 "Maaf, Selina... malam ini, aku tak bisa." ujar Aldi dengan nada menyesal.
Selina langsung terlihat muram wajahnya, namun kemudian berupaya dihilangkannya. Gadis itu tersenyum kaku. Senyum yang dipaksa.
📲 "Ya sudahlah, Kak." ujar Selina dengan nada pelan. "Aku istirahat dulu ya. Daaahhh..." ujarnya memutuskan pembicaraan seluler itu lalu melempar gawai itu ke sisi bantal. Dengan memberenggut, gadis itu berbaring berupaya untuk tidur.
...******...
Aldi meletakkan gawai itu dan menatap wanita disisinya. "Maaf... ada gangguan sedikit." ujarnya kemudian membelai rambut wanita itu.
"Pacarmu, kah?" tanya Natasha yang masih tersenyum-senyum menikmati belaian pada rambutnya. Aldi mengangguk pelan.
"Tapi sudah kutolak tadi kemauannya." ujar Aldi. "Malam ini, aku hanya ingin menemanimu. Mumpung kamu masih ada di Marisa. Momen ini nggak akan ada setiap kali, lho."
Natasha tertawa sejenak lalu menatap Aldi. "Kalau begitu, kemana kita pergi malam ini? Suasana romantis tentu akan lebih kuinginkan saat ini."
"Gimana kalau aku menyewa semalam salah satu kamar di Marina Beach Resort?" usul Aldi. "Sekalian menikmati pemandangan indah disana."
Natasha langsung melebarkan matanya, tersenyum dan mengangguk. Aldi berdiri dan mengulurkan tangannya kemudian diraih wanita itu. Mereka berdua kemudian melangkah meninggalkan kamar tersebut.
...*****...
Kesendirian Selina kembali terganggu ketika pintu diketuk sejenak lalu dikuakkan. Ibunya muncul dan melangkah tergesa-gesa tiba disisi ranjang. Selina bangun dengan ayal-ayalan.
"Apa lagi sih, Mam?" tanya Selina dengan malas.
"Ishak datang..." ujar wanita itu menggoncangkan hati gadis itu. Ia terkejut.
"Apa Ma? Ishak muncul disini?" seru Selina dengan kaget.
Wanita itu mengangguk. "Datang dengan pemuda satunya. Sekarang keduanya lagi berbincang-bincang dengan Papamu."
Selina mengencangkan rahangnya. Ibunya mencoleknya. "Papa suruh kamu menemuinya."
"Eh, nggak baik begitu." tegur ibunya. "Ayo turun, dandan yang sepantasnya dan temui anak itu."
"Malas, Maaa..." rajuk Selina dengan enggan.
Wanita itu hanya memelototkan matanya sejenak lalu beralih dan pergi meninggalkan Selina. Dengan jengkel, gadis itu turun dari ranjang dan melangkah mendekati lemari sambil berpikir cara apa yang digunakan agar bisa mengusir pemuda yang dibencinya itu.
...******...
Faisal benar-benar tak menyangka setelah menyimak pembicaraan Ishak dengan pria parobaya tersebut. Lebih syok dia saat mengetahui bahwa Ishak telah melamar kakak tingkatnya sendiri. Pernikahan keduanya tinggal dihitung hari.
"Saya memohon ijin kepada Oom, agar saya bisa membawa Selina jalan-jalan dalam rangka saling menjajaki perasaan kami masing-masing." ujar Ishak mengakhiri percakapannya.
"Oooo... silahkan, silahkan Nak Ishak." ujar Candra merestui. "Oom percaya sama Anak. Tolong dijaga Selina, ya?" pesannya.
"Pasti, Oom..." tandas Ishak dengan senyum datar saja.
Candra mengangguk-angguk. Tak lama kemudian muncul seorang wanita. Faisal mendongak dan langsung berseru.
"Astagfirullah!!!!" pekiknya dengan kaget nyaris jatuh dari kursi.
Candra menoleh dan ikut pula beristghfar, sedangkan Ishak hanya melongo melihat penampilan gadis itu. Selina sengaja mengenakan piyama dengan wajah yang ditebalkan dengan bedak ditambah hiasan mirip pola harlequin.
"Nak! Kamu lagi buat apa?!" sergah Candra dengan marah bercampur malu.
Ishak langsung tertawa dan bangkit. "Jadi... ini Kak Selina?" tukasnya mendekat lalu tertawa lagi kemudian mengamati lagi wajah calon istrinya itu dan kembali tertawa.
"Maaf, Nak Ishak..." ujar Candra dengan sangat malu.
"Nggak. Nggak kok Oom..." ujarnya kemudian tertawa. "Kak Selina, cocok memang dengan dandanan itu. Mau show dimana?"
"Sialan!" gerutu Selina.
Mulanya, sengaja ia membuat penampilan seperti itu agar membuat Ishak berang dan menganggap dirinya tak pantas. Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Ishak justru makin terhibur. Pemuda itu mengambil gawai dan memotretnya.
Candra bangkit. "Ya, sudah Nak Ishak. Oom kebelakang dulu ya? Silahkan kamu bermain-main dengan badut ini." ujar lelaki itu kemudian pergi cepat-cepat meninggalkan ruangan itu, saking malu dengan kelakuan putrinya.
Selina menunggu ayahnya pergi lalu gadis itu duduk lagi ditempat bekas duduk ayahnya. "Mau apa kemari?"
__ADS_1
"Ya mau ajak Kakak jalan-jalan." jawab Ishak.
"Nggak." tolak Selina. "Aku ingin tidur."
"Nggak boleh." ujar Ishak dengan datar dan dingin lagi. "Sekarang Kakak ganti baju dan ikut denganku."
Selina mengerling sinis kearah Ishak. Faisal sendiri hanya diam dan canggung, namun tak ingin mencampuri urusan kedua calon pengantin itu.
"Kalau aku nggak mau ganti pakaian, kamu mau apa?!" tantang Selina.
Ishak akhirnya hanya menarik napas panjang lalu mengangguk. "Baiklah. Tetaplah dengan penampilan seperti itu. Asalkan Kakak ikut denganku." ujarnya mengalah.
Selina sempat melongo mendengar ucapan pemuda itu. Ia tak menyangka semua rencananya langsung hancur dengan sikap mengalah pemuda tersebut. Tapi Selina tetap saja pada pendiriannya. Ia mengangguk.
"Aaayo!" tantangnya.
Ishak kembali menghela napas lalu mengangguk dan bangkit. Faisal sendiri sudah dari tadi ngacir ke depan. Ishak mengulurkan tangannya kepada Selina, namun perempuan itu menepisnya.
Sekali lagi, Ishak menghela napas dan mengalah sedangkan Selina tersenyam-senyum merasa memenangkan sebuah pertandingan. Keduanya tiba didepan.
"Bro, aku pulang saja ya?" pinta Faisal dengan mimik memelas. "Aku nggak suka jadi pengusir nyamuk."
"Nggak." tolak Ishak. "Ente tetap bersama kami. Nanti kita jemput Ichi. Kebetulan dia ada dirumahnya, soalnya setiap jadwal latihan Taekwondo, dia pasti minta ijin berlibur dirumahnya."
Faisal tak bisa lagi menolak dan membantah. Terpaksa ia mengangguk saja dengan lesu. Selina menatap ke jalanan.
"Kita naik apa?" tanya Selina.
Faisal langsung berlari ke jalan dan Selina melihat sebuah kendaraan. Selina menunjuk kendaraan tersebut. "Kita naik kendaraan itu?" tanya gadis itu.
Ishak mengangguk. "Iya. Aku menyewa kendaraan tersebut selama dua hari penuh."
"Kita akan jalan-jalan selama dua hari?" ujar Selina dengan wajah keruh. Ishak menggeleng dan tersenyum datar.
"Nggak... semalam ini saja." jawab Ishak dengan pelan dan mengajak Selina ke jalanan dan menaiki kendaraan tersebut. Faisal yang menjadi supirnya.
Kendaraan itu melaju menyusuri jalanan Trans Dua Arah menuju selatan. Ishak menyentil pundak Faisal.
"Kita masuk ke lorong itu." perintah Ishak.
"Ooo... nyari jalan pintas ya?" tukas Faisal.
"Nggak... ke rumahnya Ichi. Bukannya sudah kubilang tadi?" jawab Ishak dengan kesal. "Kelak kalau kau sudah hafal jalan ini, aku nggak perlu lagi jadi tukang antar, toh?"
Faisal tertawa dan membelokkan kendaraan ke lorong itu. Mereka menyusuri lorong yang dipenuhi pemukiman padat dan terus menyusuri jalanan beraspal itu sesuai arahan Ishak.
Kendaraan itu berhenti di sebuah kediaman bercat hijau lumut. Ishak menatap Faisal dan Selina. "Tunggu disini. Aku hendak menjemput Ichi." ujarnya lalu keluar.
Lelaki itu melangkah memasuki kediaman dan mengetuk pintu rumah. Tak lama kemudian muncul Ichi yang mengenakan pakaian kasual yang modis. Keduanya kemudian melangkah ke jalan dan masuk kedalam mobil.
"Nyokap lagi ikut arisan keluarga di Botubilotahu." ujar Ichi. "Beliau pulang, kemungkinannya jam sepuluh. Kita masih punya waktu tiga jam dari sekarang."
Kendaraan itu kembali meluncur meninggalkan kediaman itu, menyusuri jalanan aspal yang tembus ke jalan Trans lain yang dikenal dengan istilah Hulude Bunggu.
Faisal mengendalikan laju kendaraan saat melintasi wilayah Hulude Bunggu itu hingga menaiki jembatan dan membawa mereka ke kompleks pasar sentral. Kendaraan kembali melaju ke selatan dengan tujuan Pantai Pohon Cinta.
Mereka tiba kemudian dan memarkir kendaraan lalu satu persatu turun. Penampilan Selina yang norak menjadi perhatian pengunjung. Mereka bahkan ada yang mendokumentasikan penampilan Selena.
Ishak hanya menghela napas sebab menahan malu dengan kelakuan Selina dan Ichi susah payah menahan tawa. Selina hanya tersenyum kepada Ichi dan menatap sinis ke arah Ishak yang selalu melengos.
"Kenapa? Malu ya?" todong Selina.
"Sudahlah." ujarnya lalu menatap Ichi. "Dek. Pesan menu sudah." pintanya.
"Siiip..." ujar Ichi. "Kak Selina pesan apa?" tanya gadis itu.
Selina memesan makanan dan minuman kesukaannya. Faisal juga begitu.
"Aku yang traktir." ujar Ishak.
"Hm...songong..." ejek Selina.
Ishak benar-benar tersinggung dengan ejekan itu. Namun sebisa mungkin ditahannya. Tangannya mengepal dan wajahnya memerah. Pemuda itu melengos agar tak terpancing emosi saat menatap Selina.
Ichi memilih pergi cepat-cepat menyeberangi jalan dan memesan menu. Faisal hanya bisa mendesah lalu tersenyum.
"Bagus juga kalian marah-marahan begitu." komentar Faisal. "Insya Allah nantinya akan makin mesra."
Ishak menatap pemuda itu dengan sinis sedang Faisal tertawa. Namun tawa pemuda itu mendadak lenyap ketika melihat seseorang yang dikenalnya duduk beberapa blok dari tempat duduk mereka.
"Natasha...." ujar Faisal tanpa sadar. []
__ADS_1