KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
MONDOK???


__ADS_3

Beberapa lelaki mengenakan jaket hoodie hitam berkumpul disalah satu bekas bangunan. Ada yang duduk-duduk berbincang-bincang, ada yang berdiri mengamati kawasan sekitarnya dan ada yang merokok dan sebagainya.


Tak lama kemudian muncul lagi seorang yang mengenakan jaket hoodie. Wajahnya ditopengi dengan topeng silikon yang menampakkan wajah goblin yang menyeringai memamerkan taringnya.


Gerombolan anak-anak berjaket hoodie itu serentak langsung berdiri dan berkumpul sedangkan Si goblin itu berada ditengah-tengah rombongan itu.


"Darkest..." seru Si goblin tersebut.


Gerombolan anak-anak berjaket hoodie itu memasang sikap tegap. Si goblin menatapi mereka.


"Aku akan meninggalkan kalian beberapa waktu ini." ujar Si goblin tersebut.


"Hendak kemana kau?" tanya salah satu lelaki berjaket hoodie.


Si goblin tak merespon pertanyaan si penanya itu. Ia hanya menghela napas. "Aku mendapat tugas khusus yang tak bisa melibatkan kalian. Aku akan pergi setelah ini." ujar Si goblin kemudian mengangkat telunjuknya. "Tapi ingat! Jangan bermain-main api dibelakangku. Untuk sementara, kalian berada dibawah tanggung jawab Endi."


"Endrawan Sulingo Ali?" terka salah satu lelaki berjaket hoodie lainnya.


Si goblin menatap si lelaki berjaket hoodie itu. "Kenapa? Apa kau punya pemikiran lain?"


"Bukankah dia bekas preman pasar sentral yang sudah pensiun itu?" tebak si jaket hoodie itu.


"Iya. Memangnya kenapa?" tanya Si goblin.


"Kami tidak mau diperintahkan olehnya." ujar lelaki berjaket hoodie itu.


"Suaramu itu mewakili mereka atau hanya aspirasi pribadimu saja?" todong Si goblin.


Si jaket hoodie itu terdiam. Si goblin menatapi satu persayu rombongan anggota Darkest itu.


"Mumpung aku masih disini, katakan mau kalian." ujar Si goblin itu.

__ADS_1


Mereka hanya diam saling berbisik-bisik. Sementara si penyungkap aspirasi itu memandangi kawan-kawannya. "Kami hanya mau diperintah olehmu. Bukan oleh orang diluar kawanan."


Si goblin mengangguk-angguk. "Baik. Kalau begitu, sementara ini Darkest berada dalam tanggung jawabmu."


"Kenapa aku?" protes si jaket Hoodie.


"Kau ini bagaimana?" balas Si goblin, "Aku menawarkan Endrawan, kalian tidak mau. Giliran aku menunjukmu, kau pun menolak? Mau kalian apa?" sergah si goblin.


Kawanan itu hanya diam menunduk. Si goblin mendengus. "Aku tak mau mendengar protes lagi." pungkas Si goblin. "Kau bertanggung jawab sementara atas Darkest." ujar Si Goblin menunjuk kembali si lelaki yang protes itu. "Dan ingat! Jangan pernah sekalipun menampakkan eksistensi kalian secara terang-terangan. Aku tak mau Bubu dan kawanannya merasa terusik dengan itu."


"Bukankah itu bagus?" pancing si ajudan itu. "Kita akan memperluas kekuasaan kita sampai ke wilayah barat."


"Bubu tidak akan begitu saja menyerahkan daerah kekuasaannya kepada orang lain." bantah Si goblin. "Kita masih baru malang-melintang dijagad dunia bawah tanah. Jangan terlalu memancing perhatian."


"Bukankah kita disponsori oleh Apocalyps?!" tuntut si ajudan itu.


Si Goblin menyergah, "Goblok! justru karena salah satu Apocalyps ada dipihak kita, sehingga kita dilarang untuk mempertegas eksistensi." tandasnya, "Kita berada di area antara ada dan tiada. Kita tiada tetapi kita eksis. Kita ada tetapi mereka tak bisa menemukan kita seakan kita tiada. Itu falsafah kelompok kita. Itulah kenapa kita bernama Darkest... orang-orang kegelapan! Paham?!"


"Aku akan menghilang sementara. Kalian tak akan menemukan aku karena aku sementara dalam misi lain yang diembankan Apocalyps." ujar Si Goblin.


"Kenapa kau tak mengajakku atau sekalian kami saja?" protes si ajudan itu.


"Sudah kubilang! Aku tak mau melibatkan kalian! Ini misi yang bukan sembarangan!" tandas Si goblin. "Ketiadaanku sementara akan digantikan oleh Jensen. Kalian semua patuh kepadanya. Paham?"


Anggota-anggota Darkest itu mengangguk-angguk. Si goblin ikut mengangguk.


"Bagus." jawab Si goblin. "Aku pergi dulu."


Setelah bicara begitu, lelaki bertopeng goblin tersebut berbalik meninggalkan kawanan tersebut. Sepeninggal Si goblin, si lelaki berjaket hoodie itu tersenyum datar. Ia kembali menatap kawanannya.


"Kalian dengar apa yang dikatakan Skullen? Kembalilah kalian ke tempat masing-masing. Kita akan berkumpul jika aku memanggil kalian." ujar Jensen. "Sekarang, kembalilah."

__ADS_1


Kawanan itu membubarkan diri. Sepeninggal mereka, Jensen mengambil gawai dari sakunya dan mulai menekan nomor, menghubungi seseorang.


📲 "Disini Jensen." ujar lelaki berjaket hoodie itu. "Sekarang Darkest berada dalam kekuasaanku. Katakan apa yang kau inginkan?"


📲 "Bagus..." puji suara lelaki diseberang. "Sementara tunggu perintahku. Aku akan menghubungimu nanti."


Lelaki itu mengakhiri percakapan selulernya. Jansen memasukkan kembali gawai ke sakunya dan melangkah meninggalkan tempat itu.


...******...


Ichi mondar-mandir dikamar. Pernyataan sang ibu yang memutuskan untuk memondokkannya membuat Ichi gelisah. Ibunya saat ini sedang menemui pimpinan pondok pesantren Alkhairaat untuk berdiskusi bagaimana tata cara mondok di lembaga tersebut.


Ichi menghubungi ayahnya, berharap sang ayah akan membantunya agar tidak mondok dalam pesantren.


📲 "Nggak nak." tolak ayahnya. "Kamu harus tetap mondok.


Ichi menggigit bibir. Kenyataannya jauh dari ekspektasinya selama ini bahwa sang ayah akan selalu ada menyelamatkannya dari sang ibu yang dianggap diktatoris itu.


📲 "Tapi, Bi." kilah Ichi berupaya membela diri, "Bagaimana dengan latihan Taekwondo yang Nunu geluti selama ini? Kan rugi jadinya kalau nanti akan mondok, jadi nggak bisa ikut sesi latihannya." rajuk anak itu.


📲 "Nanti Umi akan diskusi langsung dengan kyai tentang sesi latihanmu itu. Yang jelas, bagaimanapun, kau tetap sudah harus mondok." ujar sang ayah dengan lembut namun Ichi menangkap ketegasan dibalik nada suaranya.


📲 "Abi sudah nggak sayang lagi sama Nunu, kan?" rajuk Ichi lagi, "Kalau Abi dan Umi sayang sama Nunu, nggak mungkin membuang Ichi ke pesantren." tukas gadis itu dengan suara serak yang dibuatnya seakan-akan hendak menangis.


📲 "Justru karena kami menyayangimu, makanya kamu dimondokkan." balas sang ayah. "Dengan mondok, kamu akan belajar mandiri dan mengurus segala keperluanmu sendiri. Kamu akan belajar mengandalkan dirimu tanpa bantuan orang lain. Kau harus meyakini bahwa kau bisa melakukan apapun sendirian."


Ichi terdiam dengan argumen yang dipaparkan ayahnya. Gadis itu tak bisa mengajukan alasan apapun yang dapat menguatkan petisinya untuk tidak mondok.


📲 "Percaya pada Abi, nak." ujar sang ayah. "Suatu saat kau akan mensyukuri manfaat dari mondok itu sendiri. Doa Abi selalu bersamamu."


Percakapan seluler itu berakhir dan Ichi hanya bisa memendam kekecewaannya. Dengan lemas, gadis itu terduduk lalu melipat kakinya dan membenamkan wajahnya sendiri pada kakinya dan menumpahkan tangis disana.[]

__ADS_1


__ADS_2