
Rusli mengemudikan kendaraannya. Semestinya ia gembira bisa mendapatkan ijin dari pengasuh untuk membawa Ichi dalam acara makan malam itu. Tapi tidak. Wajah lelaki itu begitu terlihat menahan kesal yang nyaris meledakkan pori-pori wajahnya.
Dibelakangnya, Ichi hanya duduk sambil menahan tawa yang seakan ingin menjebol dinding ketenangan palsunya. Bagaimana tidak? Ustadz Gau memang memberikan ijin kepada pengusaha itu meski ia tahu Rusli mengemukakan berbagai dalih agar pengasuh pondok pesantren itu percaya kepadanya. Ustadz Gau kemudian mengemukakan opsi jika Rusli ingin mengajak Ichi bersamanya. Ia harus merelakan Faisal ikut serta dalam hal itu. Jika tidak, maka lelaki sepuh itu tidak akan mengijinkannya sama sekali.
Mau tak mau, demi sebuah hasrat yang ditahannya, lelaki itu begitu terpaksa menyanggupi persyaratan yang sangat dibencinya. Jika dia menolaknya, maka kesempatan untuk merebut hati anak gadis itu tidak akan bisa terwujud.
Disisi kirinya, duduk Faisal dengan gelaran senyum kemenangan sebab diijinkan Ustadz Gau mengawal Ichi yang akan menghadiri acara makan malam tersebut.
Rusli mengemudikan kendaraannya melaju menuju tempat wisata lokal Pohon Cinta. Tempat itu memang selalu menjadi tempat favorit warga kota Marisa sebab hanya satu-satunya tempat wisata yang berada ditengah kota. Berada ditepian Teluk Tomini membuat kawasan itu sangat strategis.
Rusli menghentikan kendaraannya, memarkirnya disalah satu hamparan tepian jalan. Ia menatap Ichi melalui kaca spion.
"Turunlah..." ajaknya dengan datar.
Ichi tersenyum dan mengangguk. Dengan mendengus-dengus pelan, Rusli keluar dari kendaraannya diikuti oleh Faisal.
Lelaki itu buru-buru menuju pintu kedua dan hendak membukanya ketika tiba-tiba Faisal mencekal pergelangan tangannya.
"Eh, kamu mau apa?!" sergah Rusli dengan jengkel.
"Biar aku yang membukanya, Pak." ujar Faisal menawarkan diri.
"Nggak usah." tolak Rusli dengan gigih. "Aku saja yang membukanya.
"Saya ini pengawalnya, Pak." tandas Faisal pula dengan alot. "Jadi saya yang akan membuka pintu ini, memastikan Ichi keluar tidak ada suatu apapun yang terjadi."
"Te Huma'apa ti, sejak kapan kamu jadi pengawalnya?!" sergah Rusli berupaya melepas cekalan tangan Faisal dipergelangan tangannya sendiri.
"Sejak saya diperintahkan Ustadz Gau untuk menemani Ichi." jawab Faisal dengan tenang.
"Lo buta ambunguma! Ngana nya ada urusan disini!" sergah Rusli dengan sengit. "Ichi akan makan malam denganku, longola yi'o ma ikut nimbrung, tingga yi'o tilandahu liyo?!"
Faisal mengangkat bahu dan menjebikan sejenak bibirnya kemudian tersenyum menatap Rusli. "Bisa dikatakan begitu." ujarnya sontak membuat Rusli meradang.
"Lepas! Ngana nya mo lepas?!" ancam Rusli lagi.
Pintu kedua diseberang membuka dan Ichi keluar dari sana. Ditatapinya keduanya dengan sorot jengkel.
"Mayilongola ti mongoli dulota ma hemo huluwa teto?!" tegurnya dengan ketus. "Kalau masih mau berkelahi, aku pulang saja!"
Faisal langsung mengangkat tangan dan melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Rusli. Lelaki itu benar-benar muntab diperlakukan sedemikian rupa. Sambil memperbaiki jas, ia memelototi sejenak Faisal yang tersenyum kepadanya lalu menatap Ichi dan tersenyum.
"Mari..." ajaknya.
Ichi mengangguk. Ia melangkah santai namun anggun terlihat. Rusli langsung menempatkan diri disisi anak gadis itu sebelum Faisal bisa menjangkaunya. Dengan geram, akhirnya Faisal menempatkan dirinya disisi Ichi berseberangan dengan Rusli.
"Kamu kenapa jalan dengan kami? Tempatmu dibelakang sana! Tugasmu kan pengawal?!" sergah Rusli dengan jengkel.
"Wah, nggak bisa begitu, bro." bantah Faisal. "Secara teknis, karena saya pengawalnya, jadi tugas saya mendampinginya dong."
"Ngana mo cari hale deng kita?!" ancam Rusli yang mulai emosi. "Tan hila mo tapu ba'alo poli yi'o ti uamu he?!"
"Kalau Ente jual, ana pasti beli!" sambut Faisal dengan sikap berdiri waspada.
"Sudah-sudah!" seru Ichi. "Jangan bertengkar disini!" ujarnya menatap kedua lelaki. "Malu sama orang-orang!" serunya sambil menganggukkan kepala kearah pengunjung yang sejenak tersita perhatian dengan pertengkaran dua lelaki tersebut.
__ADS_1
Faisal terhenyak menyadari betapa banyak tatap mata pengunjung yang memandang kearah mereka. Bahkan ada yang terkesan mendiskusikan apa yang mereka lakukan dengan cara bisik-bisik.
Rusli menghela napas dan kembali memperbaiki jasnya. Ichi melangkah duluan dan memilih rumah makan mana yang ia suka.
Kedua lelaki itu menatapi Ichi yang sudah masuk ke dalam rumah makan. Mereka berdua buru-buru menyusul Ichi. Mereka masuk, mendapati Ichi sudah duduk lesehan disalah satu sudut ruang rumah makan tersebut.
Rusli kemudian duduk diseberang meja menghadap kearah Ichi, sedang Faisal duduk disisi kiri menghadap kearah mereka berdua.
"Pesanlah Ichi." ujar Rusli dengan lembut.
Faisal langsung berlagak mau muntah membuat Rusli langsung memandang kesal. Ichi hanya tersenyum.
"Bapak saja yang pesan." ujar Ichi.
Rusli tersenyum dan mengangguk. "Kalau itu keinginanmu." Lelaki itu kemudian bangkit dan melangkah menuju kasir. Ia sementara memesan.
Faisal menatap Ichi. "Kau yakin dengan hal ini?" ujarnya dengan lirih.
Ichi mengangguk. "Aku akan menginterogasinya tentang beberapa hal."
"Kau tidak takut, ia akan melakukan hal-hal yang tak terpuji lagi kepadamu?" bisik Faisal.
"Kan ada Kak Fais yang akan melindungiku." jawab Ichi dengan tenang. Jawaban itu sukses menerbitkan senyum dibibir pemuda keturunan arab tersebut.
Tak lama kemudian Rusli datang lagi dan duduk ditempatnya. Ia menatap Ichi sambil menyangga kedua sikunya pada permukaan meja dan menopang dagu dengan pergelangan tangannya yang tertekuk.
"Aku sudah memesan yang terenak untuk kita berdua." ujar Rusli dengan senyum simpatiknya.
"Untuk saya, mana?" protes Faisal.
"Koen iku yo' opo seh?! Yang namanya bersama-sama, ya mesannya juga yang sama-sama. Masa aku di diskriminasi begini? Dasar laki-laki primordialis nih!" protes Faisal setengah mengejek.
"Dimataku, kamu bukan apa-apanya. Kamu hanya lelaki beruntung yang diberi ijin untuk menemani gadis ini." tandas Rusli. "Jadi, silahkan pesan makananmu sendiri."
Faisal langsung mencak-mencak dan berdiri lalu mengumpati Rusli, "Jancuok matamu asu!" umpatnya setelah itu meninggalkan meja makan tersebut.
Ichi menahan tawa melihat Faisal melangkah lebar menuju tempat kasir dan memesan makanan. Ia baru hendak berbalik ketika menatap Ichi yang seakan mengisyaratkan dirinya untuk menahan diri.
Pemuda itu kini paham. Ia mengangguk dan tetap berdiri disisi meja kasir. Sementara Rusli yang merasa menang kemudian memulai pembicaraan.
"Kamu senang?" tanya Rusli.
"Nggak." jawab Ichi. "Aku sebenarnya lagi badmood. Hanya gara-gara Ustadz Gau mengijinkan anda, terpaksa saya harus mengiyakan."
"Kau terlalu jujur mengungkapkan ketidak sukaanmu terhadapku." rajuk Rusli.
"Tentu saja!" seru Ichi. "Mana ada perempuan yang mau duduk sama-sama dengan lelaki yang hendak memperkosanya?" ungkitnya.
Rusli mendengus dan melengos.
"Katakan padaku... mengapa Bapak meninggalkan Asna?" tanya Ichi.
"Dia itu hanya tambi'o, Ichi." jawab Rusli dengan datar, "Hanya seorang perempuan gatal yang menginginkan sesuatu yang tidak bisa diraihnya. Perempuan itu pemimpi."
"Dia wajar bermimpi, Pak." ujar Ichi. "Bapak sudah memberinya janji. Apakah anda tidak berpikir? Setiap kali anda melolosi benda milik anda kedalam liang peranakannya, Asna pasti mengharapkan sesuatu yang bisa dijadikannya jaminan."
__ADS_1
"Aku sudah membuatnya melepas mimpi itu." tandas Rusli kemudian tersenyum menatap Ichi. "Tapi, kamu beda dengan dirinya."
"Ya memang beda lah Pak." tandas Ichi. "Aku nggak seperti itu. Aku terlihat bebas, hal itu benar. Tapi aku mengendalikan diriku sendiri."
"Itu yang ku suka dari kamu." ujar Rusli, "Dan itu makin menerbitkan hasratku untuk memiliki kamu."
"Kalau bicara itu, intropeksi diri dulu Pak!" tegur Ichi. "Nggak ingat sama umur ya? Usia Bapak sekarang berapa sih?"
"Kenapa menanyakan hal itu?" tanya Rusli.
"Ya harus tahu. Aku nggak mau pacaran." ujar Ichi.
"Berarti, kamu mau langsung nikah?" tanya Rusli dengan semangat.
"i? Mayilongola mam bisala persoalan odito? Kok kita bicara hal itu? Nggak ada pembicaraan lain yang lebih seru?" protes Ichi.
"Pernikahan adalah hal paling seru untuk dibahas." ujar Rusli.
"Kalau seumuran anda memang iya! Dan anda memang sudah sangat layak untuk itu." jawab Ichi. "Tapi bukan untuk anak sekolahan macam saya! gimana ye? Bicara hal-hal berkisar soal dua puluh satuan keatas dengan anak sekolahan? Garing tau!"
Rusli tertawa.
"Apanya yang anda tertawakan?" tanya Ichi.
"Kamu terlihat lebih dewasa dari usiamu... begiru juga tubuhmu." ujar Rusli.
"Ini pujian atau hinaan?" tanya Ichi lagi dengan senyum yang agak sinis.
"Aku memujimu, bukan menghinamu." ujar Rusli.
"Tapi anda memuji tubuhku, maksudnya apa? Anda mau mengeksploitasinya?" tukas Ichi dengan kesal.
"Apa kau bersedia?" tanya Rusli dengan senyum nakal.
"Tan bo biongo yio ti uamu." umpat Ichi lalu tertawa. "Kalau anda mau mengeksploitasi tubuh seorang perempuan, nggak usah jauh-jauh... itu tubuh ibumu bisa kau eksploitasi sendiri."
Mendengar penuturan Ichi, wajah Rusli langsung merah padam. "Jangan bawa-bawa ibuku dalam percakapan kita." geramnya.
"Anda juga jangan bawa-bawa tubuh perempuan dalam pembicaraan ini, dasar fuckman!" balas Ichi.
Rusli menggebrak meja.
BRAKKKK....
"Rupanya kamu mau dihajar ya?" ujar Rusli dengan geram.
"Coba saja kalau berani." tantang Ichi dengan senyum.
"Kau!!!" sergah Rusli.
"Sebaiknya jangan menyentuh secuil dari diri Ichi... bahkan kulitnya..." ujar seseorang dibelakang Rusli. "Kau akan menyesalinya..."
Ichi seketika menatap pemuda dibelakang Rusli.
"Ishak...." gumamnya terperangah. []
__ADS_1