
Ichi masih menjalani masa penyembuhan selama dua hari lagi. Teman-temannya kadang datang menjenguknya. Yang paling sering menjenguk hanya Reva, Wafiq dan Salwa.
Dua gadis itu paling senang jika Wafiq ikut dalam rombongan. Dia adalah kerabat dekat petinggi-petinggi Alkhairaat, jadi gampang memohon sesuatu dan mudah juga mendapatkan ijin dari mereka.
Sekali lagi, Reva selalu membawa buah-buahan. Untungnya karena hanya mereka bertiga yang muncul jadi buah-buahan itu tidak cepat habis. Gadis itu tahu juga buah kesukaan Ichi. Ada beberapa buah apel merah dan pir disana, selain anggur dan semangka yang langsung dibelah dan dibagi-bagi.
"Jangan kuatir," ujar Salwa, ketika menanyakan kedatangan mereka sebab ketiga orang ini lebih sering muncul menemaninya ketimbang teman-teman yang lainnya. "Wafiq punya koneksi tak terbatas dengan pemegang kebijakan di Alkhairaat... lagipula, kita kan jenguk kamu bukan lagi lauka kemana-mana, kan?" tukas gadis tersebut.
Ichi hanya mengangguk-angguk saja dan tak lagi menanyakan apapun.
"Kelas jadi sunyi kalau tidak ada kamu." tukas Reva lalu tertawa, "Nggak ada kegaduhan, Nggak rame."
Ichi tertawa, "Ya, sudahlah. Hitung-hitung lagi mempuasakan diri untuk nggak teriak-teriak dalam kelas." sahut Ichi.
Reva mengambil sebuah apel dan melangkah ke sudut ruangan. Disana ada sebuah wastafel kecil. Ia mencuci buah itu, menyingkirkan lapisan lilin yang digunakan untuk mengawetkan buah agar tidak cepat lanut. Setelah memastikan tak ada lagi lapisan lilin yang tersisa, Reva kembali menuju ranjang dan duduk disisi Ichi, menyerahkan apel yang bersih itu kepada sahabatnya.
"Kamu tahu Rahmi?" pancing Wafiq.
Ichi mengangguk, "Ada apa lagi dengan dia?"
"Dia bikin ilfill aku sama Salwa kemarin. Kalau bukan Reva yang menengahi, sudah kujitak kepalanya itu." omel Wafiq.
"Memang apa lagi yang dilakukannya sampai-sampai menerbitkan kemarahanmu?" tanya Ichi dengan penasaran.
"Dia bilang langsung dikelas, bahwa dia bersyukur kamu sakit dan berdoa agar kamu nggak pernah sembuh supaya nggak ada keributan dalam kelas." jawab Wafiq.
Ichi menggeram, "Memang brengsek itu orang." ujarnya dengan jengkel. "Kurasa, aku harus menghadiahkan sebuah kepalan ke kepalanya supaya otaknya kembali berjalan normal."
Wafiq tertawa, "Eh, sudahlah. Sembuhkan dulu dirimu." ujar gadis itu. "Nanti kalau sudah sembuh, barulah kau bisa membuat hitung-hitungan dengannya."
"Aku sudah tak sabar untuk menyembuhkan diriku." sahut Ichi dengan semangat.
Ketukan dipintu membuat empat gadis itu menengok. Ketiga temannya langsung senyum-senyum melihat wajah Ichi yang merona merah melihat seorang pemuda berdiri disana. Kelihatannya ia membawa bungkusan.
"Waaahhhh... ada kunjungan nih yeee..." goda Wafiq menatap Ichi yang makin merasa uap panas menyelubungi wajahnya.
"Wafiq, nggak lucu ah." ujar Ichi dengan cemberut.
"Boleh aku masuk?" tanya pemuda itu.
"Silahkan masuk Kak Faisal." panggil Reva, "Kami juga mau cepat-cepat pergi. Kuatir nanti mengganggu." tukasnya melirik kearah Ichi dengan senyum nakal.
"Kalian ini apa-apaan sih?" ujar Ichi mulai berlagak marah.
"Nggak usah marah, Cesss... kami ngerti kok." sahut Salwa yang mulai menggamit lengan Reva dan Wafiq, mengisyaratkan mereka untuk segera menyingkir.
"Eh, eh... kalian mau kemana?" tanya Ichi mulai panik.
"Alaah... nggak usah pura-pura deeehh..." goda Reva, "Kami ngerti kok kalau Kak Fais..."
__ADS_1
"Eh, aku dan Kak Fais nggak ada hubungan apa-apa!" tandas Ichi dengan gelagapan sedang Faisal hanya tersenyum saja.
"Kalian boleh kok tetap disini." sahut Faisal, "Itu untuk menjaga supaya tidak ada fitnah. Kami berdua kan memang bukan mahram."
"Nggak kok." tangkis Wafiq, "Kami percaya kalau Kak Faisal nggak akan ngapa-ngapain Ichi kok."
"Oke Kak Faisal, Ichi, kami pergi dulu ya?" sahut Reva.
"Selamat bersenang-senang..." tambah Salwa.
"Kalian bertiga, brengsek memang ya?!" sergah Ichi namun ketiganya buru-buru pergi meninggalkan ruangan sambil tertawa-tawa.
Sepeninggal mereka, Faisal memberanikan masuk lebih kedalam ruangan itu. Ia masih berdiri dengan jarak aman dari ranjang yang ditempati Ichi. Pemuda itu meletakkan bungkusan tersebut di nakas dekat ranjang.
"Itu apaan Kak?" tanya Ichi. "Ini aku sudah dibawakan buah-buahan sama Reva."
"Ini bukan buah-buahan." sahut Faisal. "Tapi makanan sarat vitamin dan energi."
Pemuda itu membuka bungkusan itu dan mengeluarkan beberapa bungkus biskuit. Ia menghitungnya.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sepuluh satu... se.." ujar Faisal memilah bungkusan itu.
"Tunggu." sela Ichi.
Faisal menghentikan hitungannya lalu menatap Ichi, "Kenapa?" tanya pemuda itu.
"Salahnya dimana?" tanya Faisal mengangkat alisnya.
"Mestinya hitungan ke sepuluh itu, ya sebelas... bukan sepuluh satu, sepuluh dua... apaan tuh? lucu deh." tukas Ichi kemudian tertawa.
Faisal tersenyum lalu menerangkan, "Kata belas itu sebenarnya merupakan keteledoran alias salah pengucapan dari kata balas, yaitu melawani perbuatan ketika orang menghitung dari satu sampai sepuluh." ujar Faisal seraya mengatupkan kedua belah tangannya dihadapan Ichi. "Kemudian dihitung lagi secara berturut satu demi satu." sambung Faisal seraya membuka jemari-jemarinya satu persatu hingga melepas kembali. Pemuda itu tersenyum.
"Tapi ada juga kok didaerah lain yang menghitung sepulhh satu, sepuluh dua dan seterusnya. Nggak ada yang salah dengan itu." ujar Faisal.
"Tapi kedengarannya lucu." tukas Ichi merasa geli, "Memang pengetahuan itu Kak Fais dapat darimana lagi sih?"
Faisal tersenyum, "Kamus Moderen Bahasa Indonesia karya Sutan Mohammad Zain. Kau akan menemukan istilah tersebut dihalaman sembilan puluh sembilan." jawabnya dengan tenang.
Ichi mengangguk-angguk dengan paham. Faisal tersenyum lalu membuka salah satu pembungkus biskuit dan mengeluarkan isinya, menyerahkannya kepada Ichi.
"Makanlah... dan cepatlah sembuh." ujar Faisal dengan senyum.
Ichi menerima biskuit itu dan ikut tersenyum. "Terima kasih." ujarnya dengan lirih.
Faisal mengangguk dan menonton Ichi yang memakan biskuit itu pelan-pelan. Faisal kemudian melangkah menuju jendela dan menyibak tirai sedikit.
"Kak." panggil Ichi.
Faisal membalik menatap Ichi yang duduk menatapnya. Alis pemuda itu terangkat. "Ada apa, Chi?"
__ADS_1
"Apakah dua orang yang sering membully kakak, sudah kapok?" tanya Ichi.
Faisal mengembangkan senyum, "Alhamdulilah, sudah." jawabnya sambil mengangguk.
Ichi mengangguk-angguk. Ia kemudian bertanya lagi. "Bagaimana menghadapi orang yang tak suka dengan keberadaan kita?" tanya Ichi.
"Maksudmu?" pancing Faisal.
"Aku memiliki banyak seteru. Kakak kan tahu, aku orangnya seperti apa?" ujar Ichi.
"Kamu tampangnya kayak preman." ledek Faisal lalu tertawa. "Tapi nggak usah kuatir.... kamu tuh... preman budiman."
"Ih, Kakak apaan sih? Memangnya ada ya, preman budiman?" tukas Ichi dengan cemberut.
"Nggak tahu. Tapi kalau melihat kisah-kisah seperti Berandal Lokajaya, Robin dari Sherwood, Veraapan dari India, bahkan sang legendaris nyata bernama Frank William Abagnale Junior.... kamu masih lebih mendingan dari mereka, sebab kamu bukan pencuri... kamu cuma..."
"Cuma apa?" todong Ichi.
"Cuma terlalu menarik perhatian." ujar Faisal dengan senyum. "Jarang ada lho, preman berwajah cantik." goda Faisal.
"Aku bukan preman kak." tukas Ichi dengan cepat. "Aku paling nggak suka berkelahi, tetapi selalu saja jatuh dalam keadaan dimana aku harus menggunakan tinju dan tendanganku." kilahnya.
Faisal mengangguk-angguk lalu tersenyum-senyum sambil menunduk.
"Kakak nggak percaya?" tukas Ichi.
"Aku percaya... Tadi kau ingin mencari penyelesaian menghadapi orang-orang yang tak suka dengan keberadaanmu." tukas Faisal membalas penegasan Ichi tadi, "Kamu mau tahu jawabannya?" pancing Faisal.
Ichi mengangguk-angguk cepat.
"Hadapi saja dengan senyuman." jawab Faisal dengan senyum.
"Hadapi dengan senyuman? Kakak nggak suruh aku nyanyi lagunya Once Dewa 19, kan?" tukas Ichi dengan memicingkan mata.
"Nggak." jawab Faisal, "Intinya sebenarnya gampang saja. Hidup itu rumusnya mudah. Dalam interaksi sosial, kalau kamu mendapati dirimu di omongin orang, sebenarnya mengibaratkan bahwa kamu itu sebenarnya populer dikalangan mereka. Kalau kamu mendapati dirimu direndahkan oleh orang lain, sebenarnya hal itu mengidentifikasikan kamu lebih tinggi dari dia. Kalau kamu dijelek-jelekkan oleh orang itu, hakikatnya kamu itu lebih keren..."
"Jadi?..." tanya Ichi.
"Bersikap biasalah dalam hidup. jangan terombang-ambing oleh pendapat diri sendiri, bahkan pendapat orang lain." jawab Faisal, "Dalam menghadapi persoalan hidup, turuti saja hati nuranimu."
"Berarti menuruti perasaan dong." sela Ichi.
"Bukan..." jawab Faisal sambil menggeleng lalu menjelaskan kembali. "Hati nurani itu bukan sebuah perasaan, sebab perasaan masih bisa mengecoh ataupun dikecoh." ujarnya kemudian mendekat dan duduk disisi ranjang dekat Ichi dan menyambung lagi. "Hati nurani itu adalah sesuatu dalam dirimu, yang bahkan tahu kalau kau tidak tulus." ujar Faisal menunjuk dada kiri Ichi.
Ichi tercenung mendengar penuturan Faisal. Pemuda itu bangkit dan tersenyum.
"Kalau ada yang melemparmu dengan batu, lemparlah balik dengan bunga." ujar Faisal sejenak kemudian mengurut dagunya menatap Ichi, lalu menyambung. "Jangan lupakan potnya."
Ichi tertawa mendengar ungkapan yang dilontarkan Faisal. Pemuda itu tersenyum melihat gadis itu tertawa.[]
__ADS_1