KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
BLETAK!!!!


__ADS_3

Hanya sedetik Danang merasai dua bongkah bibir Ichi yang ranum setelah itu ia tak ingat apa-apa lagi. Tubuhnya menggeloyor jatuh dan menggeletak dilantai dalam posisi pingsan sebab Ichi dengan cepat menggunakan teknik ippon nukite tsuki menghantam bagian sisi antara telinga dan lehernya menggencet urat disitu membuat kesadaran Danang langsung menguap dan sensor motoriknya langsung berhenti berfungsi.


Ichi mengusap-usap bibirnya yang baru saja terkena polusi kecupan itu dengan kesal dan menepuk-nepuk seragam sekolahnya. Sambil menggerutu panjang-pendek, Ichi mengangkat tubuh lembek pemuda yang pingsan itu kemudian mendudukkannya di kursi dan membuat posisi Danang seakan-akan sedang menelungkup tidur. Gadis itu kembali menegakkan tubuhnya dan bercakak pinggang.


Tidurlah yang enak dan bermimpilah yang indah. Kau sudah merasai bibirku tanpa permisi dan gagah berani menerima hadiahnya.... Danang, Danang... dasar otak mesum kamu...


Ichi melenggangkan langkahnya keluar meninggalkan kelas. Sebelumnya dia menggenggamkan kotak hadiah itu kembali ke tangan Danang. Suasana pagi itu sudah tercemar oleh peristiwa tersebut.


...******...


Danang memijit-mijit lehernya yang kebas. Sudah setengah jam sejak ia siuman, bagian yang ditotok Ichi mengalami mati rasa. Saat itu Ibu Zainun sedang membawakan materi pelajaran. Teman sebangkunya, Kandar mendekat.


"Kamu nyenyak benar tidurnya? Bergadang Mabar PUBG ya?" bisiknya agar guru tidak mendengar.


Danang hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu meringis lagi. Pemuda itu kuatir jika hipesthesia yang menjalari wilayah antara bagian belakang telinga dan tengkuk dibagian sisi telinga yang terkena teknik ippon nukite tsuki yang dilayangkan Ichi saat ia dengan beraninya mencuri ciuman disaat gadis itu lengah, dapat mengakibatkan anesthesia menyeluruh diwilayah leher dan torso. Itu bisa mengakibatkan efek paralysis secara permanen.


Danang melirik ke arah Ichi. Merasa ditatapi, Ichi menengok ke arah Danang. Keduanya bertatapan dan Ichi memelototkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya dengan wajah jengkel. Danang hanya melengos pelan lalu meringis lagi sambil mengelus-elus tengkuknya.


Kandar melihat kearah tatapan Danang. Pemuda itu menatap Danang.


"Kamu kenapa? Nyari masalah kamu sama dia?" bisik Kandar lagi.


Danang kembali menggelengkan kepala berkali-kali. Pemuda itu kemudian bangkit dan mengangkat telunjuknya. Ibu Zainun menatap pemuda tersebut.


"Ya, Danang?" sahut Ibu Zainun.


"Bu, saya minta ijin ke UKS." pinta Danang. "Dari tadi, leher saya sakit bu."


Ibu Zainun mengangguk. "Ya. Pergilah..." ujar guru tersebut.


Danang bangkit dan melangkah meninggalkan kelas. Langkahnya terayun lesu. Serambi disusurinya hingga akhirnya menemukan ruang UKS.


Teman sekelasnya, Sabila sedang menjalankan piket sebagai petugas UKS. Jilbaber itu mengenakan seragam PMR lengkap dengan hasduk warna kuning, terlihat begitu berwibawa.


Danang muncul diruangan itu, membuat Sabila yang sedang mencatat materi pelajaran yang diajarkan Ibu Zainun melalui aplikasi zoom, sejenak menghentikan kegiatannya dan menatap Danang yang langsung duduk ditepi ranjang.


"Kenapa kamu?" tanya Sabila.


"Sudah tahu, nanya!" omel Danang kembali meringis mengelus-elus tengkuknya.


"Ya, jelas aku nanya lah." tukas Sabila. "Mana aku tahu kau sakit apa, tiba-tiba muncul disini."


"Leherku... nih tengkuk, sakit." ujar Danang.


"Kenapa sakit?" tukas Sabila lagi. "Kamu nggak sedang terkena penyakit hipertensi kan?"


"Sembarangan kamu!" sembur Danang dengan kesal. "Ambilkan saja aku minyak kayu putih." pintanya lagi dengan suara agak tinggi.


Sabila hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu bangkit dan melangkah menuju lemari. Jilbaber itu membuka lemari mencari-cari benda yang diminta Danang. Botol minyak layu putih bermerk Lang, ditemukannya dan diambilnya. Gadis itu menutup lagi lemari dan melangkah mendekati Danang.


"Nih...." ujarnya menyodorkan botol hijau merek Lang merah itu. Danang mengambil botol itu, menuangkan sedikit isinya ke telapak tangan dan mengoleskannya di tengkuk. Sensasi aroma terapi sejenak kemudian menyeruak ke udara saat Danang mengoleskan minyak kayu putih ke tengkuknya.


Sabila kembali ke meja kerjanya dan mengikuti kembali kegiatan pembelajaran yang dilakukan Ibu Zainun melalui aplikasi Zoom Meeting, sebab sebagai petugas piket, Sabila tak bisa mengikuti pembelajaran secara langsung.


Danang merebahkan diri di ranjang. Sabila sesekali melirik teman sekelasnya tersebut. Tak lama kemudian terdengar suara bel. Sabila tersenyum sebab jam piketnya sudah berakhir. Gadis itu merapikan perkakas di meja dan menyimpan gawainya.


"Nang, aku duluan ya?" ujar Sabila beranjak pamit.


Danang tak merespon sebab sudah keburu tidur lagi. Sabila melangkah meninggalkan ruangan dan tak lama kemudian Ichi masuk mengenakan pakaian yang seragam dengan yang dikenakan Sabila tadi.


Rupanya Ichi termasuk juga dalam UK-PMR di madrasah tersebut. Danang tak mengetahui bahwa jam piket Sabila telah berakhir dan digantikan oleh Ichi.


Gadis itu melihat sejenak kearah Danang yang tertidur nyenyak. Dengkuran halusnya terdengar. Ichi pun tak punya niat membangunkannya. Gadis itu kemudian menuju meja kerja, duduk dikursi dan mengeluarkan buku catatan sambil mengeluarkan gawai dari sakunya.


Gadis itu memencet tombol-tombol pada layar sentuh gawai tersebut. Ia menghubungi ibunya. Tak lama kemudian terdengar nada jawab.


📲 "Assalamualaikum..." sapa Ichi.

__ADS_1


🎧 "Wa alaikum salam." jawab Azizah yang saat itu sementara memasak. Wanita itu menggunakan minset bluetooth agar tak perlu susah payah memegang gawai.


📲 "Umi, lagi ngapain?" tanya Ichi.


🎧 "Lagi memasak." jawab Azizah, "Kenapa? Sudah lapar ya? Sabaaarrr... toh pulang nanti, kamu bisa habiskan segantang itu... semuanya."


Ichi tertawa kecil.


🎧 "Tumben kamu hubungi Umi... biasanya langsung nyari sama Abi." sindir Azizah.


📲 "Kalau Umi nggak mau dihubungi, ya sudah. Aku tutup telponnya." ancam Ichi dengan senyum menantang.


🎧 "Kenapa sih nelpon Umi?" tanya Azizah.


📲 "Umi... pernah nggak dicium Abi?" tanya Ichi sesekali melirik Danang yang masih tidur.


🎧 "Kenapa kamu tanya begituan?" tanya Azizah sembari menegur. Alisnya langsung berkerut. "Kamu sudah melakukannya?!" tukas Azizah dengan suara agak tinggi.


Ichi meringis merasai telinganya berdenging akibat sergahan yang disuarakan ibunya menimbulkan ledakan elektromagnetik yang menyebabkan ketidakstabilan sound system pada gawai tersebut.


📲 "Memang siapa yang lagi ciuman, Umi?" bantah Ichi dengan kesal. "Umi, gitu-gitu langsung parnoan... masa aku nggak boleh tahu sih... pelit amat. Amat saja nggak pelit." gerutu gadis itu.


🎧 "Ichi, patut kamu camkan dalam otakmu itu hah?!" sergah Azizah, "Kamu belum boleh bertanya hal semacam itu. Kamu belum dewasa! Apa kamu nonton video b***p lagi, heh?!" tukas Azizah. "Awas kau ya?! kulaporkan sama Abi, kelakuanmu itu!" tukas Azizah.


📲 "Nih Umi kok langsung nuduh begituan sama anaknya sendiri?!" omel Ichi, "Umi nggak seru ah, nggak kayak Abi." ujar Ichi, "Abi nggak langsung ngegas kalau aku tanya soal itu." omelnya lagi.


🎧 "Eh, Abi kamu itu beda gaya pemikirannya. Itu orang, Umi saja nggak ngerti kenapa dia nggak melarang kamu bergaul terlalu bebas. Itu di gawai kamu, Umi banyak temukan akun-akun laki-laki. Itu siapa saja Ichi?! Kamu mulai main-main dibelakang Umi heh?!" omel Azizah.


📲 "Waaah... nyesal aku nanya tentang ciuman sama Umi." keluh Ichi, "Tau begini, mending aku nggak nanya." ujarnya langsung memutuskan pembicaraan selular.


Ichi bersungut-sungut menggerutu panjang-pendek tentang sikap ibunya yang begitu protektif. Gadis itu tak menyalahkan ibunya. Itu memang resiko dari anak tunggal. Perlindungan keluarga amat ketat sebab penyambung nama keluarga hanyalah dia seorang. Ichi mendesah lesu. Tak lama kemudian terdengar nada dering dari gawainya. Gadis itu sejenak melihat siapa penghubung itu.


Aduuuhhh... Abi... hm, pasti Umi sudah ngadu lagi sama Si Sesat dari Barat nih... ah, dasar tukang ngadu...


Ichi ogah-ogahan memencet tombol jawab. Terdengar suara ayahnya.


📲 "Wa alaikum salam wa rahmatullah wa baraqatuh..." jawab Ichi dengan kalimat yang sama lengkapnya.


📲 "Abi dengar kamu bertengkar lagi sama Umi." ujar sang ayah. "Kok sepagi ini sudah mau gelar perang tanding sih?"


📲 "Ye, Umi provokasi Abi lagi tuh. Padahal Nunu nggak nanya macam-macam." kilah Ichi.


📲 "Ya nanya tentang ciuman sama Umi, sama saja kamu nyari macam-macam, Ichi." balas Sang Ayah. "Kamu kayak nggak kenal ibumu saja."


📲 "Masa nanya tentang ciuman saja nggak boleh?! Apa Umi itu wanita kurang kasih sayang?!" tantang Ichi.


📲 "Bukan begitu. Umi wajar marah, Ichi. Usiamu masih 13 tahun... masih juga kelas 7, kok nanyanya sudah merembet ke pertanyaan level 18 tahun keatas?" tukas Sang Ayah.


📲 "Sekarang aku nanya sama Abi. Apa Abi pernah mencium Umi?" tanya Ichi.


📲 "Ya... iyalah... namanya juga suami-istri." jawab sang ayah.


📲 "Waktu pacaran!" tegas Ichi.


📲 "Wah, wah, wah, waaaah... kamu sudah melanggar lampu kuning nih." tegur sang ayah, "Begini saja. Sekarang Abi nanya ke kamu. Apakah kamu sudah pernah ciuman?!" tukas sang ayah.


📲 "Abi nggak marah kalau Ichi jujur kan?" pancing Ichi dengan pelan.


Lama tak terdengar jawaban. Ichi mulai dihinggapi rasa cemas.


📲 "Bi, Abi... Abi nggak marah?" tanya Ichi lagi.


📲 "Apa kamu sudah pernah melakukan ciuman?" tanya sang ayah dengan hati-hati.


📲 "Dibilang pernah sih nggak," ujar Ichi, "Tapi lelaki itu mencuri ciumanku."


Ichi kemudian menceritakan semuanya, tanpa sembunyi-sembunyi. Ia tahu, dibanding sang ibu, sang ayah lebih terbuka dan memahami dirinya. Bukankah zodiak dirinya dan sang ayah itu sama? minimal sifat liar dan bandel keduanya berbanding sama ketimbang sang ibu yang sangat menjaga tata krama itu.

__ADS_1


📲 "Dan kau menyarangkan totokan ke lehernya?" tanya sang ayah sekali lagi sambil terkekeh.


Ichi ikut terkekeh mendengar sekehan tawa ayahnya yang muncul dari loud speaker gawai tersebut.


📲 "Hati-hati menyarangkan serangan ke arah leher, Chi." tegur sang ayah. "Kau bisa membuat saluran eustacius dilehernya pecah dan bisa membuat lelaki itu tuli permanen. Kenapa tidak kau tampar saja dia? jangan melakukan hal itu lagi. Sebaiknya perdalamlah ilmu anatomi tubuh sebelum kau menggampangkan serangan kearah lokasi itu." sambungnya, "Itu termasuk satu dari tujuh wilayah kematian, Ichi."


Ichi terdiam mendengar teguran sang ayah.


📲 "Lakukan teknik kuatsu pada wilayah yang kau totok itu. Lakukan dengan pelan dan lembut. Pijatan itu akan melemaskan urat-urat disekitar wilayah itu dan membebaskannya dari efek mati rasa." perintah sang ayah.


📲 "Akan saya lakukan, ayah. Terima kasih." ujar Ichi.


percakapan itu berakhir dan Ichi menutup aplikasi telpon. Tepat disaat itu ia melihat Danang menggeliat dan kelihatan lelaki itu mulai sadar dari tidurnya. Ichi bangkit, melangkah memutari meja dan berdiri menyandarkan pinggulnya pada bagian pinggiran meja sambil bercakak pinggang.


Danang menguap lebar lalu menggeliat kembali kemudian perlahan bangun. Sedetik kemudian dia terperanjat melihat keberadaan Ichi di ruangan itu.


"Kenapa?" todong Ichi membelalakkan matanya.


Danang kikuk bukan main. Hendak menyingkir, pasti langsung ditahan.


"Nggak... kupikir, Sabila masih disini." kilah Danang.


"Kamu nggak lihat ini sudah jam berapa?" ujar Ichi menganggukkan kepala ke arah jam dinding yang bertengger di atas pintu masuk. Danang mengikuti arah anggukan gadis itu.


Danang menghembuskan napas panjang. Ichi melangkah mendekat. Danang sudah langsung memasang sikap waspada.


"Kenapa kamu? Aku bukan mau nyerang kamu!" tukas Ichi dengan ketus membuat Danang langsung malu.


"Maaf..." ujarnya pendek.


"Simpan maafmu untuk ayahku." ujar Ichi kemudian duduk ditepi ranjang. "Aku sudah laporin kelakuanmu sama dia."


Danang langsung pias mendengar keterangan gadis itu. Namun kelihatannya, Ichi tak perduli.


"Duduk... bersila..." pinta Ichi.


"Kamu mau ngapain?" tanya Danang dengan khawatir.


"Yang jelas, aku bukan mau perkosa kamu, ******!" umpat Ichi dengan ketus lagi dan kembali meminta Danang duduk bersila dan memunggunginya.


Jemari lentik gadis itu terulur dan menjamah pundak kemudian melakukan pijatan-pijatan dengan lembut hingga ke wilayah leher dan belakang telinga. Danang seketika merasakan dria peraba dipermukaan kulit sekitaran leher bekas totokan itu mulai berfungsi. Wilayah itu tak kebas lagi.


"Kamu itu memang punya watak pencuri ya?" sindir Ichi masih terus memijat.


"Maaf..." ujar Danang dengan pelan. "Tapi aku tak mampu menahan diri... aku sudah ungkapkan kejujuran hatiku padamu..."


"Kita ini masih sama-sama sekolah, Danang." tegur Ichi. "Okelah... memang banyak laki-laki yang mengunjungi akun mesenger dan whatsapp ku. Tapi, aku tak menseriusi ucapan mereka. Aku nggak mau dianggap melanggar kesepakatan antara aku dan Abi."


"Tapi... apakah kau tak menyadari bahwa kau memiliki aura yang begitu memikat laki-laki?" pancing Danang.


"Aku sadar..." jawab Ichi. "Mungkin itulah sebab ia menamaiku Adiratna Ardhanareswari... kamu tahu? Ardhanareswari adalah salah satu gelar dari Ken Dedes, istri dari Tunggul Ametung yang kemudian diperistri oleh Ken Arok. Dari dirinyalah, para raja-raja Jawa lahir dan memerintah hingga sekarang."


"Kau pikir aku nggak menyelidiki itu?" ujar Danang kemudian terkekeh, "Setahuku, saat ku ketik namamu di aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, muncul arti nama kamu. Mau kubeberkan?" pancingnya.


"Coba!" tantang Ichi yang masih tetap memijat pundak Danang dengan lembut untuk menghilangkan efek hipesthesia diwilayah tengkuknya.


"Adiratna artinya permata yang mulia, sedang Ardhanareswari artinya adalah seorang pendoa yang taat." jawab Danang.


"Wah... makasih ya, sudah susah payah mencari-cari arti namaku di KBBI online." ujar Ichi kemudian tertawa. "Nah, sudah selesai. Bagaimana? sudah merasa mendingan?"


"Sangat nyaman." jawab Danang.


"Bagus. Sekarang pergilah dari sini!" seru Ichi sambil menunjuk pintu ruangan.


"Sadis benar kamu." gerutu Danang. "Padahal aku mau cium kamu sekali lagi."


Ichi baru saja hendak mengangkat tinjunya ketika Danang dengan refleks langsung melompat dari ranjang dan berlari keluar dari ruangan kesehatan itu. []

__ADS_1


__ADS_2