
Buntulia Tengah, pukul 15.46 WITA
Ichi berbaring tiarap sedang kedua tangannya menggenggam jepitan rambut yang dihias tokoh kartun Doraemon itu. action figure kucing bercat biru tanpa kuping itu memang hingga saat ini menjadi salah satu brand paling ikonik dari deretan manga Jepang yang disiarkan di kancah anime yang mewabah Indonesia pula.
Matanya memicing. Siapa yang mengirim benda ini? kayak siluman saja nggak mau ketahuan. aku paling benci surprise, kecuali jika kedua orangtuaku yang melakukannya...
Ichi menarik napasnya. Gadis itu kembali memutar, kali ini telentang menghadap ke langit-langit ruangan kamarnya yang juga merangkap sebagai kamar tidur neneknya. memang dikamar itu, terdapat sebuah ranjang empuk dan sebuah permadani yang dihampar dilantai. Ichi paling doyan tidur dipermadani ketimbang di ranjang.
Senyum gadis itu terkembang. Memang mau dipakai bagaimana jepitan rambut ini? rambutku kan potongannya pendek. Ah, dasar si pengirim nggak melakukan observasi dulu kek. Ini kan jadi sia-sia kelihatannya... Alis gadis itu terangkat, Ah... ngapain juga dia mau melakukan observasi? bisa kena timpuk palang pintu dari Umi...
Ichi tanpa sadar terkekeh sendiri lalu bangkit dan duduk bersila. Tatapan gadis itu tetap terarah ke jepitan rambut yang berada dalam jepitan dua batang jemarinya itu.
Bagaimanapun... ini sebuah hadiah... aku akan menyimpannya.
Ichi bangkit lalu melangkah keluar dari kamar. Langkahnya terayun menyeberangi ruang tamu, ruang tengah hingga ke ruang santai dimana terlihat lemari drawer miliknya teronggok disisi meja pendek berbahan high pressure laminate yang berfungsi rangkap sebagai bufet karena menyimpan pula konsol Playstation 5 yang dimainkan ayahnya jika sedang liburan dirumah. Sebuah tivi Polytron model tabung bertengger sombong diatas meja itu.
Sang ibu sedang asyik menonton tayangan acara infotainment berbau gosip selebriti. Ichi menyeberang melintasi permadani yang menghampar didepan meja itu. Sang ibu memperhatikan sesekali putri tunggalnya itu dengan lirikan langsung maupun lirikan periperal.
Diatas lemari drawer itu teronggok tas sekolah anak itu. Ichi membuka tas itu dan memasukkan jepitan rambut itu kedalamnya, setelah itu menutupnya kembali. Anak itu kemudian beralih mendekati sofa rotan dimana ibunya duduk dan dengan santainya ia duduk disisi Azizah kemudian perlahan nan pasti langsung berbaring menggunakan paha ibunya sebagai bantal. Kedua matanya menatap tayangan acara itu.
"Bagaimana pembelajarannya? berjalan baik?" tanya Azizah tanpa menoleh kearah putrinya.
"Bagus." jawab Ichi, "Hanya saja tadi siang pembelajaran Bahasa Indonesia ditangguhkan sebab guru mapelnya punya hajatan lain. Perwalian kelas yang mengimpal jamnya dengan mapelnya sendiri." ujarnya.
"Pertanyaannya bisa dijawab?" tanya Azizah.
"Syukurnya sih bisa." jawab Ichi, "Umi kan tahu kalau aku agak kalah di pelajaran sains dan eksakta?"
"Kayak Abimu tuh." tukas Azizah. "Abi juga kalau ditanya soal eksakta pasti langsung pakai jurus lahi no jutsu..."
Ichi hanya mengangkat alisnya sejenak, menarik napas sejenak dan melanyakkan bibirnya sendiri. Azizah kembali tenggelam dalam perhatiannya menonton tayangan tersebut.
"Umi..." panggil Ichi.
Azizah mengalihkan tatapannya kearah putrinya. Ichi menggerakkan kepalanya menatap wajah sang ibu yang menunduk menentang tatapan anak itu.
"Kapan sih Abi pindah ke Marisa?" tanya Ichi.
"Masih sementara dicari caranya, sayang." jawab Azizah sembari mengelus rambut pendek gadis itu yang seleher. "Abi itu pegawai negeri. Jadi nggak sembarangan ngurus pindahnya. Banyak administrasi yang harus dipenuhinya. Surat Lolos Butuh dari Badan Kepegawaian juga Surat Analisis Jabatan Guru dari Pihak sekolah dan Dinas Pendidikan juga harus didapatkan. Selain itu masih banyak lagi yang harus dipenuhinya."
"Sebanyak dan serumit itukah yang harus dilakukan oleh seorang pegawai negara?" keluh Ichi.
"Namun Nunu harus bersyukur." tangkis Azizah. "Dulu, waktu Abi masih guru honor kontrak, kita selalu banyak bersabar. Sekarang, pendapatan Abi mampu membuat kita bertahan hidup lebih lama dan memenuhi kebutuhan lebih banyak." wanita itu mengelus poni putrinya, "Sebaiknya kita berdoa, mudah-mudahan, Abi bisa cepat pindah dan kita bisa berkumpul kembali."
"Nunu kasihan lihat Abi yang mencuri-curi waktu untuk pulang. Jum'at malam tiba, hanya bisa beristirahat. Nunu ketemu Abi hanya hari Sabtu saja, itupun nggak banyak sebab waktu tatap muka jatuh hari Sabtu dan Minggu." keluh Ichi lagi. "Sering Nunu berpikir, Abi lebih mirip sapi perah ketimbang seorang ayah."
"Hush!" sergah Azizah, "Nggak baik ngomong macam itu." tegurnya. Wanita itu menghela napas panjang. "Jangankan kamu, Umi saja sering jadi kayak simalakama. Kalau Umi disini, kasihan Abi yang nggak keurus. Kalau Umi bersama Abi di tolinggula, giliran kamu sama Oma yang nggak keurus."
Ichi bangkit dan duduk. "Ngapain ngurus Oma?"
Azizah mengerutkan alisnya. "Lho? Oma sudah tua, Chi. Kamu nggak kasihan sama Oma?" pancingnya.
"Nggak! ngurusi Ichi melulu." protes gadis itu, "Apa-apa di urusi. Seragam kek, gaya rambut kek, asesoris kek, banyak pokoknya... Ichi jadi kayak balita lagi diurus-urus begitu." keluhnya dengan wajah kesal.
"Kamu jangan begitu sama Oma. Umi nggak suka." tegas Azizah. "Orang yang sudah tua, atau lansia nggak melulu sifatnya kayak begitu. Mungkin Oma berada dalam kegamangan sebab menganggap dirinya sudah nggak lagi berharga, kelelahan dan merasa kesepian."
Ichi menatap ibunya dengan cermat. Azizah kembali menjelaskan, "Barangkali Oma nggak mau disebut tua, makanya dia marah dan jadi bersikap negatif sama kamu."
"Lho? Memangnya Nunu pernah bilang beliau sudah tua?" kilah Ichi.
"Pernah... Umi pernah memergoki berapa kali, Nunu kalau bertengkar sama Oma suka bilang : Kalau so tua itu ba diam saja. Nah, masih ingat nggak?" ungkit Azizah.
Ichi terdiam. Azizah tertawa, "Sebenarnya bukan hanya kamu yang sering tanpa sengaja memperlakukan Oma sebagaimana usianya. Umi juga. Dan itu mungkin yang membuat Oma jadi uring-uringan dan menjadi sosok yang terlihat begitu perfeksionis unfair."
Gadis itu diam lagi mencermati penuturan ibunya. Tak lama kemudian, gawai milik Azizah bergetar. Lekas-lekas wanita itu memungut benda yang menggeletak dipermukaan meja depan sofa itu dan melihat layarnya. Segaris sunggingan senyum nampak dibibirnya.
"Dari Abi?" tebak Ichi.
Azizah tak menjawab tebakan putrinya. Wanita itu langsung menekan tombol penjawab panggilan dan mengalihkannya ke loudspeaker.
📲 "Assalamualaikum Bi..." sapa Azizah dengan manja.
🔊 "Wa alaikum salam..." balas lelaki diseberang itu. "Bagaimana kabar istri tercintaku ini?"
📲 "Alhamdulilah... Abi sendiri bagaimana kabarnya?" timpal Azizah lagi.
🔊 "Abi lagi malas masak nasi. Nggak tahu kenapa." ujar lelaki diseberang itu. "Mungkin pengaruh akhir-akhir ini Abi kena sembelit. Buang airnya susah benar. Perih, kayaknya luka tuh..." keluh lelaki diseberang itu.
📲 "Makan Pepaya, Bi." jawab Azizah. "Insya Allah bisa lancar nanti buang airnya."
__ADS_1
🔊 "Nanti aku coba deh." ujar lelaki itu. "Umi lagi ngapain sekarang?"
Azizah sejenak melirik Ichi lalu menjawab pertanyaan suaminya.
📲 "Ini, Ichi kayaknya kesal dengan Mama. Dia ngadu, katanya Mama kayak nyuruh-nyuruh, marah-marah nggak jelas..." ujar Azizah.
🔊"Ya, wajar dong." tukas lelaki itu, "Biasanya kelakuan macam begitu disebabkan oleh adanya gap antara kita dengan Mama. Makanya kita melihat Mama begitu modelnya, Mama juga melihat kita begini modelnya."
📲 "Lalu bagaimana caranya?" pancing Azizah.
🔊 "Mama itu butuh diperhatikan. Sejatinya mereka terkena sindrom post power sehingga sering cerita tentang kenabgan-kenangan masa lalu mereka. Kita dengarkan saja ceritanya, keluhnya, marahnya... kita hanya perlu diam untuk membuat Mama diam sendiri." ujar lelaki itu kemudian tertawa.
Azizah tersenyum. Sang suami kembali melanjutkan.
🔊 "Dan jangan pernah memutus relasi sosial mereka." pesan lelaki tersebut.
Azizah mengerutkan alis.
📲 "Memutus relasi sosial? maksudnya?" tanya Azizah.
🔊 "Ya, kita umpamakan diri kita saja." tukas lelaki itu, "Dulu semasa kecil, lingkar pertemanan kita hanya keluarga. Makin kita mengenal dunia, makin luas lingkar relasi kita, mulai dari teman-teman selingkungan, teman-temannya sekolahan, teman-teman seprofesi.... hingga akhirnya memasuki usia lansia membuat lingkar relasi itu menyempit kembali ke keluarga..." lelaki itu sejenak menarik napas lalu melanjutkan, "Itulah mungkin yang menimbulkan rasa bosan dan depresi. Makanya Abi sarankan, biarkan Mama melebarkan sayap pertemanannya. Dengan begitu, ia akan kembali menjalani kehidupan tuanya dengan bahagia."
Azizah diam sejenak. Ia mengalihkan pembicaraan. Speaker gawai itu disenyapkan.
📲 "Abi kapan pulang lagi?" tanya wanita itu dengan nada merindu. Terdengar tawa sejenak diseberang sana.
📲 "Seperti biasanya, nyuri waktu lagi." jawab sang suami. "Umi kan tahu bagaimana rotasi waktu kerja Aparat Sipil Negara saat ini, kan? Belum lagi kalau ada beberapa aturan yang kadang dipelintir sehingga kita tak bisa menikmati waktu istirahat kita... tapi insya Allah, kalau waktunya lowong, Abi pasti balik kok."
Azizah tersenyum.
📲 "Janji ya?" tuntut Azizah dengan nada manja. Terdengar lagi suara tawa renyah suaminya.
📲 "Iya, Abi janji deh..." ujar suaminya tersebut.
Azizah tersenyum lagi dan mengakhiri pembicaraan selular itu. Wanita itu kemudian menatap putrinya.
"Sudah makan kamu?" tanya Azizah.
"Kalau lauknya enak, ya pasti makan..." jawab Ichi seenaknya.
"Kamu ini beda dengan Abi." tukas Azizah, "Abi itu, segala apa yang ada pasti dimakannya, meskipun itu hanya garam saja. Nah, kamu? harus lauknya telur dadar lah, harus lauknya daging lah, harus...."
Gadis itu bangkit melangkah ke meja makan diikuti oleh lirikan sang ibu yang menampakkan senyum sembunyi-sembunyi. Pasalnya, nanti Azizah mengeluh seperti itu, barulah Ichi akan bersikap legawa terhadap kesederhanaan lauk yang tersedia. Kalau tak di dramatisir begitu, pasti gaya tuan puteri nya selalu nampak.
Mentang-mentang keturunan raja-raja....
Ichi duduk dikursi. dimeja itu ada sebuah tempat menyimpan lauk, sayur dan sambal dari plastik, bakul berisi nasi yang masih hangat dan sebuah tempat sendok dan garpu. Gadis itu membuka tutupan plastik, melongok melihat isinya. Ada gorengan ikan dicampur sambal, sayur bayam hijau, dan kerupuk aroma udang.
Gadis itu mengambil piring, membuka tutup bakul dan menyendok nasi ke piringnya kemudian menyusul memindahkan beberapa ekor ikan goreng dan beberapa sendok sayur bayam hijau tersebut kemudian mencampr dan meratakan makanan agar tercampur rata.
Ichi mulai makan dan menikmati makanan itu. Masakan ibunya selalu yang terenak menurutnya. Tak ada yang bisa menyamai kecuali chef sekelas restoran highclass. Jam makan gadis itu memang tak teratur. Sesuka mau perutnya. Jika lapar, ia akan makan, itupun jika sesuai seleranya. Jika tidak, lebih baik ia membiarkan perutnya kosong dan itulah yang sering memicu Maag dilambungnya kambuh.
...******...
Tolinggula, Pukul 16.50.
Lelaki itu berdiri dihalaman belakang rumah yang menjadi tempat kostnya. Lelaki itu sedang asyik mengasah Peda yang permukaannya telah banyak dihias oleh karat-karat akibat asam-asam dalam partikel udara yang korosif.
Bunyi logam yang berkikisan dengan batu asah terdengar bagai lantunan irama ritmis, ditambah guyuran air yang sesekali membasahi permukaan Peda yang diasah untuk membersihkannya.
Tak berapa lama, pekerjaan itu selesai sudah. Bilahan Peda itu sudah menampakkan kilatan-kilatan pantulan cahaya mentari senja. Memang senjata itu tak memiliki sarung, sehingga rencananya, lelaki itu akan memesankan sarung untuk benda itu.
Lelaki itu membereskan segalanya dan membawa batu asah dan Peda itu kedalam rumah. Ia meletakkan batu asah itu pada meja kecil sedangkan Peda diletakkan pada bagian kedua dari rak sepatu yang kosong.
Ruangan tamu itu tak terdapat perkakas apapun, selain sebuah meja kecil, sebuah bangku, sebuah kas plastik, sebuah kotak kardus berisi berbagai buku. Tak ada yang istimewa disana.
Lelaki itu kemudian masuk kedalam kamar dan duduk di kasur bolsack bekas yang sudah separuh aus. Seprei pembalut kasur itu sudah robek dan dibuang. Kini permukaan kasir itu hanya diselimuti oleh kain tebal yang direlakan lelaki itu menjadi seprai.
Lelaki itu duduk bersila dan mengambil sebuah kipas angin mini berkaki lalu menekan tombol dibelakang piranti itu. Kipas angin itu berputar menghembuskan angin sejuk ke wajah lelaki itu yang sarat dengan keringat deras sebab dua jam sebelumnya berkutat dengan bersih-bersih rumah dan asah-mengasah Peda tersebut. Saatnya ia menikmati kesendiriannya.
Dalam balutan udara yang dihembuskan kipas angin itu, bayangan wajah sang istri kembali membayang, mencetak samar dalam silhoute didinding kamar itu. Lelaki itu berbaring dan mulai menyetel lagu pada gawainya.
Tak lama kemudian melantunlah lagu fenomenal milik Alan Walker....
🎶.......
In the dark of night...
the star light up the sky
__ADS_1
we see them flying free
that's just like you and me
everyone is lonely sometimes
but i would walk a thousand miles to see your eyes
You are not alone, we are family
hold me let's escape all this reality
you are the simphony
by your side we are unity
you are my energy
my guiding light we are unity...
we are... we are... we are unity
we are... we are... we are unity
Although the rain might pour
a thunder starts to roar
the lightning wakes the wave
but throught it, we brave...
everyone is lonely sometimes
but i would walk a thousand miles to see your eyes
you are not alone, we are family
hold me let's escape all this reality
you are the symphony
by your side, we are unity (we are unity)
you are my energy
my guiding light, we are unity
we are... we are... we are unity
we are... we are... we are unity
are you and me... unity
that you are... unity
are you and me... unity
that you are... (unity)
are you and me... unity
that you are... unity
are you and me... unity
we are unity
you are my symphony
by your side, we are unity (unity)
you are my energy
my guiding light... Unity...
We are unity....
Lelaki itu tersenyum. Yes, Babe... we are unity...
__ADS_1
Setelah itu ia menutup matanya dan memulai tidurnya.[]