KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU

KESATUAN YANG TAK BISA MENYATU
WHO ARE YOU???


__ADS_3

Sosok hitam itu berdiri didepan jendela. Disisi bawah jendela itu terdapat sebuah tas kecil yang tersamar dalam rerumputan setinggi betis. Sosok itu mengambilnya dan memasukkan kodachi yang tersarung kedalam tas tersebut. Berturut-turut ia melepaskan masker juga pakaian hitamnya. pakaian itu dijejalkan paksa setelah ia mengeluarkan bungkusan lain dalam tas itu.


Sosok itu mengenakan pakaian yang lain. Sebuah kemeja coklat yang dipadu dengan sarung coklat, membuat penampilannya terlihat begitu tenang dan bersahaja. Wajah itu mengangkat kedepan dan menjinjing tas itu. Ia hendak melangkah ketika terdengar suara menegur.


"Kurasa... ini bukan malam yang tepat untuk menyelinap, Fais..." tegur seseorang yang membuat sosok itu menahan langkahnya. Perlahan, ia berbalik dan menatap si penegur itu.


Ustadz Gau berdiri santai memasukkan kedua tangannya pada saku kemeja. Kopiahnya terlihat sedikit miring saat ia menegakkan wajahnya menatap Faisal yang berdiri canggung sambil menjinjing tas tersebut.


"Dari mana saja kau?" tanya Ustadz Gau menyelidik. "Siang tadi... aku tak melihatmu."


Faisal menghela napas namun bergeming saja dari tempat berpijaknya. Ustadz Gau juga tidak punya niat melangkah mendekatinya.


"Aku mengekori seseorang..." jawab Faisal dengan pelan.


"Seorang wanita..." sela Ustadz Gau menambahkan.


"Ya... seorang wanita, juga... seorang laki-laki... yang mencurigakan." jawab Faisal.


Ustadz Gau mengangguk-angguk dan kali ini ia berani melangkah mendekati Faisal yang masih tetap bergeming dipijakan kakinya. Jarak keduanya kini hanya tinggal sehasta saja.


"Atas dasar apa kau mengekori perempuan itu?" selidik Ustadz Gau.


"Aku mencurigai seseorang yang mengawasinya sejak pagi. Lelaki itu berdiri menyusupkan tubuhnya dipepohonan tolite yang berada diseberang jalan." jawab Faisal. "Instingku benar... lelaki itu memang memiliki niat jelek kepada wanita itu..."


"Jadi... kau mengikuti Adiratna untuk mengetahui apa yang akan lelaki itu lakukan kepadanya?" tebak Ustadz Gau.


Mata Faisal melebar, "Ustadz... antum tahu dari mana ana mengikuti Ichi?" ujarnya dengan nada tertahan.


Ustadz Gau tertawa pelan dan tangannya terulur menepuk-nepuk pundak Faisal.


"Bro.... bukan cuma kamu yang pandai memata-matai orang." tukas Ustadz Gau memerahkan wajah Faisal yang malu ketahuan melakukan tindakan stalking.


"Ustadz... nggak marah... kan?" tanya Faisal dengan lirih.


"Sebenarnya sih aku mau marah." ujar Ustadz Gau melebarkan matanya dan bersikap galak. Namun kemudian dia meredupkan tatapannya menyejukkan wajah dan menyunggingkan senyumnya. "Tapi... aku tak mau menghalangi seorang pemuda yang punya niat... entah tukus atau tidak..." ujar Ustadz Gau menjebikan bibirnya dan sedikit mengangkat bahu, "Menolong perempuan itu, dan membayar seluruh biaya pengobatannya."


"Ustadz...." ujar Faisal terperangah.


"Kamu belum bisa melepaskan diri dari pengamatanku nak." jawab Ustadz Gau kemudian tertawa pelan dan melangkah meninggalkan Faisal berdiri sendirian ditempat itu.


...******...


Azizah mondar-mandir dengan wajah membesi. Sesekali ia melirik kearah Ichi yang masih diam mengamati gerak-geriknya. Wanita itu sesekali mendesah lalu menatap lagi putrinya.


"Benar kamu nggak melihat pelaku itu?" tanya Azizah memicingkan mata.


Ichi tahu, siapa predator seksual tersebut, namun ia memilih menyembunyikannya dari sang ibu. Lelaki itu akan menemukan balasannya kelak, itu yang disumpahkan si gadis dalam kalimatnya tersebut. Biarlah sang ibu tidak mengetahui siapa sebenarnya pelaku pelecehan tersebut.


Ichi menggeleng pelan dan Azizah kembali mendesah panjang.


"Ichi.... Umi tahu kau bohong!" tukas Azizah. "Apa kau pikir Umi nggak bisa membaca fisiognomi kamu? Jangan sembunyikan hal itu dariku!" ujar Azizah dengan berang.


Namun Ichi tetap saja bungkam. Azizah yang hanya bisa kebingungan dan memendam marah lalu berbalik meninggalkan gadis itu sendirian diruangan itu.


Wanita itu menghubungi suaminya. Agak kesulitan memang disababkan kondisi geografis wilayah Taluduyunu yang terkepung oleh pegunungan menyebabkan sinyal seluler agak susah untuk menjangkau. Namun akhirnya hubungan seluler si wanita dengan suaminya terkoneksi.


📲 "Assalamualaikum Umi ku sayang." sapa lelaki diseberang dengan suara yang dilembutkan.


📲 "Wa alaikum salam." jawab Azizah sekedarnya menyebabkan sang lelaki tertegun. Tak biasanya sang istri menjawab sedemikian singkatnya, datar dan penuh emosi pula.


📲 "Ada apa?" tanya sang suami.

__ADS_1


📲 "Ichi..." ujar Azizah.


📲 "Ada apa dengan Bolonji?" tanya sang suami yang mulai berubah nada suaranya, menjadi datar, tegas dan kaku.


Azizah menghela napas sejenak lalu melanjutkan ucapannya.


📲 "Ia dibegal orang ditengah jalan." ujar Azizah.


Sontak dikamarnya, si lelaki langsung bangkit dari tidurnya dan duduk bersila.


📲 "Siapa yang membegalnya?" tanya lelaki itu.


📲 "Dia nggak mau bilang." tukas Azizah dengan kesal.


Lama tak terdengar suara. Terdengar suara napas ditarik dengan berat. Suara sang lelaki terdengar lagi.


📲 "Panggil dia bicara denganku." pinta lelaki itu.


📲 "Baiklah..." ujar Azizah kembali melangkah masuk kedalam ruangan sambil menenteng gawai yang masih aktif, mendekati Ichi dan menyerahkan benda tersebut.


"Abi mau bicara..." tukas Azizah dengan datar.


Ichi menerima benda itu dan mendekatkannya ke telinganya.


📲 "Halo..." sapa Ichi.


📲 "Kamu baik-baik saja, kan?" tanya lelaki itu dengan lembut.


📲 "Alhamdulilah, nggak ada yang terjadi." jawab Ichi dengan pelan.


📲 "Kau kenal siapa orangnya?" tanya lelaki itu dengan lirih.


Ichi diam dan melirik kepada Azizah yang masih menatapnya dengan tegang. Gadis itu mendehem sekali.


📲 "Kau kenal baik dengannya?" tanya lelaki itu lagi.


Ichi sekali lagi mendehem pelan membuat Azizah mendengus.


"Ada apa lagi dengan tenggorokanmu? Kau haus?" tanya Azizah dengan kesal.


Ichi menggeleng cepat lalu kembali fokus mendengarkan suara ayahnya. Diseberang, si lelaki kembali mengangguk.


📲 "Kau tahu namanya?" tanya lelaki itu sekali lagi.


📲 "Rho, upsilon, sigma, lambda, iota." jawab Ichi menyebut nama pelaku dengan deretan abjad yunani kuno.


Lelaki itu mengangguk-angguk. Ia telah mengantongi nama pelaku predator seksual itu.


📲 "Abi...." panggil Ichi.


Terdengar gumaman pendek bertanda tanya diseberang sana. Ichi sejenak menghela napas dan berujar lagi.


📲 "Abi.... nggak marah, kan?" pancing Ichi dengan lirih.


Terdengar suara tertawa diseberang.


📲 "Tenanglah, Bolonji.... masalahmu sekarang, biar Abi yang urus ya? Pokoknya kamu sekarang fokus untuk menyembuhkan diri saja." ujar sang ayah.


📲 "Abi akan mengurusnya? Maksud Abi bagaimana?" tanya Ichi yang mulai penasaran.


Terdengar lagi suara tawa diseberang.

__ADS_1


📲 "Kan Abi bilang, itu sudah menjadi penanganan Abi sekarang." ujar lelaki itu dengan suara sekehan tawa.


Azizah yang sejak tadi tegang dan penasaran maju dan langsung menyambar gawai dalam genggaman tangan putrinya.


📲 "Abi, apa maksudmu akan menanganinya? Jangan katakan kalau Abi akan bolos kerja dan mengejar pelaku itu?! Benarkah?!" tukas Azizah dengan ketus.


Terdengar lagi suara tawa diseberang.


📲 "Memang siapa sih yang mau bolos kerja? Ada-ada saja pikiranmu." balas lelaki itu kembali terkekeh.


📲 "Abi, jangan macam-macam ya?" ancam Azizah, "Abi itu lagi menderita psoriasis vulgaris, level empat malah! Jangan lagi sok-sokan jadi pahlawan deh!"


📲 "Mana mungkinlah aku bolos? Bisa-bisa aku nggak daoat sertifikasi, tukin dipotong, uang makan dipotong... memang aku mau ngorbanin segalanya hanya untuk mengejar pelaku itu?" tukas lelaki tersebut membuat Azizah terdiam.


📲 "Tapi.... kau kan sudah bilang akan menanganinya. Bukankah itu mengindikasikan kau hendak melakukan sesuatu? Jangan macam-macam, Abi. Aku nggak mau apa-apa terjadi kepadamu!" tandas Azizah dengan kesal.


📲 "Tenang saja Umi sayang." tandas lelaki itu, "Aku nggak akan melakukan apapun. Percayalah padaku."


Azizah mendengus.


📲 "Sekarang tugasmu adalah menjagai putri kita sampai sembuh dan beraktifitas kembali sebagaimana biasanya. Ichi hanya berada dalam keadaan syok. Itulah sebab tubuhnya merespon sebagaimana yang ia rasakan. Tapi... dukungan dan sponsor dari kamu akan cepat menyembuhkan dirinya, baik secara fisik dan secara psikis." ujar lelaki itu.


📲 "Kapan Abi pulang?" tanya Azizah.


Terdengar suara tawa lagi diseberang.


📲 "Masih lama sayang..." jawabnya kemudian menggoda, "Kenapa? rindu ya?"


📲 "Nggak, cuma mau mengingatkan saja!" tandas Azizah, "Lakukan saja tugasmu disana. Aku akan lakukan tugasku disini." ujar Azizah.


📲 "Oke, kalau begitu... aku tutup pembicaraannya ya?" pinta lelaki tersebut.


Azizah hanya menggumam, menjawab permintaan suaminya. Terdengar suara sekehan tawa sang suami lalu disusul dengan pamitan salam. Azizah menjawab salam tersebut lalu menyimpan gawainya.


"Umi akan disini menjagamu." ujar Azizah, "Kamu beristirahatlah dengan baik."


Ichi hanya bisa mengangguk. Azizah sendiri sudah bertekad untuk mencari tahu apa yang terjadi meski tak harus mencari tahu lewat putrinya.


...*******...


Lelaki itu memencet beberapa angka pada layar sentuhnya. Tak lama kemudian nada panggilan terdengar dan langsung balik jawab.


📲 "Halo?" sapa seseorang.


📲 "... Extra Namus.... Nulla Sallus...." ujar lelaki itu mengucapkan sebuah kalimat dalam bahasa latin.


Terdengar suara erangan disana.


📲 "Apocalyps Pallithos.... anda masih hidup?" seru orang itu dengan pekikan gembira.


📲 "Cukup basa-basinya.... aku ingin kamu mencari seseorang..." ujar lelaki itu dengan datar.


📲 "Katakan saja Tuan Tengkorak..." pinta orang diseberang.


📲 "Temukan orang bernama Rusli, di Pohuwato... bawa orang itu menghadapku. Kita akan bertemu ditempat biasanya...." ujar lelaki itu.


📲 "Baiklah Tuan. Aku akan segera menghubungi anda kembali." ujar orang tersebut.


📲 "Aku tunggu beritanya." jawab lelaki itu kemudian memutuskan percakapan seluler. Lelaki itu kemudian melangkah menuju lemari dan menguakkan gantungan-gantungan pakaian.


Diujung dinding lemari nampak sebilah sabit besar. Lengan lelaki itu terulur menjamah bilahan senjata itu.

__ADS_1


Osiris.... kelihatannya kau harus meminum darah lagi...[]


__ADS_2